Respon Raymond

1170 Kata
Bianca kembali ke kantornya lagi dengan suasamna hati yang rumit. Dia telah mengatakan apa yang perlu ia katakan pada Raymond, dan sekarang terserah Raymond akan memercayainya atau tidak. Dia sendiri tak yakin dengan apa yang ia lihat. Apakah itu akan terjadi seperti yang terakhir kali seperti Fay, atau mungkin hanya ilusinya sesaat. Hanya saja, sebagai bentuk kepedulian, Bianca telah berjaga-jaga dan menyampaikan kabar terburuk pada Raymond. Hitung saja itu sebagai bentuk kewaspadaan diri. Bianca tahu mungkin apa yang ia sampaikan pada Raymond terkesan tak masuk akal. Sekarang, terserah Raymond akan merespon seperti apa. Mendengarkan, itu lebih baik. Mengabaikan, silakan saja. Kemungkinan yang terburuk jika Raymond kecelakaan, jika tidak cacat, mungkin meninggal dunia. Jika dia menjadi janda, Bianca perlu menguatkan diri untuk membentuk jaringan kekuatan baru tanpa Raymond. Apa pun itu, Bianca harus siap. Setelah menyelesaikan beberapa urusan, Bianca pulang dengan membawa beberapa berkas untuk dipelajari. Sore ini, setelah ia kembali dari membujuk Raymond, Bianca disibukkan dengan banyak hal sehingga ia baru bisa pulang malam hari. Bianca terkejut saat ia melihat Raymond duduk di ruang tengah, menyesap brendi ditemani berita TV yang tengah menayangkan sesuatu. "Raymond!" Bianca menunjuk lelaki itu seperti menunjuk hantu. Jadi dia memilih mendengarkan kata-katanya dan membatalkan penerbangan? "Kau benar!" Raymond menatap Bianca dalam-dalam, seolah-olah ingin menjelajahi setiap misteri yang Bianca pendam. Mata Bianca berwarna gelap, sebuah warna retina normal paling banyak dimiliki orang di dunia. Tapi malam ini, Raymond menyadari ada daya magis di dalam mata istrinya, suatu kekuatan yang memiliki riak murni dan penuh sihir. Untuk sejenak, Raymond bahkan melupakan dirinya sendiri, seolah-olah jiwanya masuk ke dalam pusaran mata Bianca yang penuh misteri. Ini mungkin sedikit gila, tapi Raymond sendiri tak bisa mengendalikan hasrat uniknya yang tersedot ke arah Bianca. "Apa maksudmu?" Bianca menarik kerah leher blazernya, berusaha meningkatkan rasa aman psikisnya melalui tindakan sederhana. Selalu saja seperti ini setiap kali berada di dekat Raymond. Seolah-olah ada sumbu dinamit yang siap meledak kapan saja. "Kode dengan penerbangan yang kaukatakan mengalami kecelakaan. Hampir sembilan puluh lima persen diperkirakan meninggal di tempat!" Hanya ada enam orang yang dievakuasi dengan selamat, tetapi itu pun kemungkinan pemulihannya tidak terlalu optimis. Siapa yang bisa tetap baik-baik saja jatuh dari pesawat setinggi itu? Beruntung pesawat tersebut jatuh dalam kawasan perkotaan, sehingga pihak berwenang bisa memanganinya dengan akurat dan tak menghabiskan banyak waktu melakukan pencarian. Untuk pertama kalinya dalam hidup Raymond, dia mempercayai hal-hal tak logis yang Bianca sampaikan. Sebenarnya, ia tetap akan berangkat dan mengabaikan peringatan Bianca. Namun, saat Raymond teringat dengan sepasang mata gelap Bianca yang bersinar istimewa seperti cahaya suci, hatinya entah kenapa merasakan ketertarikan yang unik. Seolah-olah ada suara di dalam kepalanya untuk mendengarkan dan menerima perkataan Bianca. Raymond adalah penjudi ulung, dan dia telah berjudi dengan menaruh kepercayaannya pada Bianca. Pertaruhannya kali ini adalah keselamatannya sendiri, dan ia akhirnya muncul sebagai pemenang. Mendengar penjelasan Raymond, Bianca terguncang untuk sesaat. Dia sibuk dengan banyak hal sehingga belum mendengar dan melihat berita apa pun terkait kecelakaan itu. Meskipun Bianca memiliki antisipasi untuk itu, tetap saja ketika fakta disodorkan di hadapannya, masih mampu membuat Bianca shock. Jadi … ia sungguh-sungguh memiliki kemampuan penglihatan pada hal-hal yang akan terjadi? Bagaimana ia bisa memiliki kemampuan ini? Mungkinkah kemampuan Bianca terkait dengan proses kelahirannya kembali dalam tubuh ini? Mungkin saja saat ruhnya melewati kematian, entah bagaimana memicu kemampuan khisus. Yah … apa pun itu alasannya, Bianca perlu bersyukur untuk ini. Setidaknya di masa depan ia bisa menggunakan hal ini untuk hal-hal yang baik. "Temanku yang memiliki kemampuan untuk memprediksi. Baguslah jika prediksinya bisa menyelamatkanmu!" Tak ingin mengakui kebenaran, Bianca hanya bisa tetap berpegang dengan penjelasan ini. "Sampaikan terimakasih untuk temanmu!" Raymond mengangguk kecil, memikirkan sesuatu. "Jika di masa depan dia membutuhkan bantuan dariku, katakan saja." Meskipun Raymond dikenal sebagai pebisnis kejam, pada kenyataannya, dia orang yang tahu berterimakasih. Jasa yang baik akan dibalas hal baik. Jasa yang buruk akan dikembalikan lebih buruk lagi. "Ya. Jangan sungkan!" Bianca mengibaskan tangan, tak terlalu peduli dengan janji-janji Raymond. Terimakasih saja cukup. Bianca bukan orang yang tak masuk akal. "Bagaimana pekerjaanmu?" Raymond teringat dengan misi Bianca untuk mengembangkan diri. Mendengar ini, Bianca duduk di hadapan Raymond, meletakkan berkas dokumen di atas meja, dan melaporkan hal-hal dasar yang ia lakukan. "Ini masih terlalu awal untuk ditanyakan. Aku baru saja selesai mengevaluasi kinerja per divisi, menguatkan target mereka, dan mencoba peruntungan proyek. Beberapa hari yang lalu kami berhasil memenangkan proyek pemerintah berskala besar. Keuntungannya lumayan tinggi. Proyek ini juga sebagai promosi awal pada proyek-proyek pemerintah yang rencananya akan aku kejar lagi nantinya!" Lines sebelumnya terlalu berpusat pada bangunan kelas menengah atas dan jarang melakukan proyek pemerintah. Sehingga meskipun Lines cukup beruntung masuk di jajaran perusahaan property dua puluh besar di negara ini, tapi Lines memiliki dukungan terlemah dalam pemerintahan. Perusahaan yang memiliki dukungan lemah dari pemerintah rentan kalah jika berseteru dengan perusahaan lain. Mendengar ini, Raymond langsung memahami maksud Bianca. Dia cukup kagum dengan kecepatan Bianca bertindak dan mengambil keputusan. "Ya." Raymond mengangguk puas. Tidak buruk juga. Setidaknya Bianca saat ini menunjukkan kualitasnya sebagai putri James. "Apalagi yang kaurencanakan?" tanya Raymond kemdian. "Banyak. Aku akan mencoba melakukannya satu per satu. Aku akan mengirim salinan proyekku jika aku berhasil memenangkannya nanti!" Untuk menunjukkan keseriusan, Bianca sama sekali tak menutupi pencapaiannya. Raymond masih perlu diyakinkan dengan kinerja Bianca. "Ya. Kau bisa mengirimkannya pada Aro jika aku kebetulan sibuk!" Mendengar nama Aro disebut, Bianca menggeleng lemah. Mengingat asisten berkarakter dingin dan tajam itu membuat Bianca enggan membayangkan ia perlu berinteraksi dengannya. "Besok James mengundang kita untuk makan malam di rumahnya!" Raymond menyampaikan. Meskipun James memiliki kasih sayang yang kuat pada Bianca selaku ayah pada anaknya, tapi hubungan mereka bisa dikatakan buruk. Sejak Bianca berusia empat belas tahun, James menikah lagi dengan seorang janda bernama Shofia. Shofia membawa Carly, putrinya yang berusia tiga belas tahun ke dalam keluarga James Blackton. Bianca selalu menganggap Shofia dan Carly sebagai pihak ketiga yang mengganggu hubungan keluarga mereka. Di mata Bianca, Shofia tak ubahnya wanita nakal yang hanya peduli pada harta. Sementara Carly, Bianca tak pernah berhenti membully-nya. Sikap inilah yang kemudian memunculkan perselisihan antara James dan Bianca. Di mata James, tindakan Bianca dinilai tak masuk akal. Di mata Bianca, ayahnya sudah dibutakan Shofia dan selalu membela orang luar alih-alih Bianca. Hubungan mereka semakin memburuk dan sulit akur. Untuk menghindari konflik berlebihan, Bianca selalu menghindari makan malam keluarga. Bianca sering mencari-cari alasan yang tak masuk akal, membuat James semakin sedih dan merasa gagal sebagai ayah. Tak jarang, sikap Bianca inilah yang membuat kesehatan James menurun. "Baiklah." Bianca mengangguk kecil, tak memperhatikan reaksi Raymond yang sedikit terkejut. "Kau menerimanya?" Raymond tersenyum penuh arti. "Memang kenapa? Bukankah dia ayahku?" Bianca balik bertanya. "Rencana apalagi yang akan kaugunakan untuk menjatuhkannya?" tanya Raymond lagi. Permusuhan Bianca pada keluarganya sendiri bukan rahasia lagi di mata Raymond. "Aku sudah dewasa sekarang, Raymond. Aku memahami sebagai seorang anak, kita harus memiliki interaksi yang cukup pada orang tua. Tidak buruk punya ayah seperti James!" Untuk seseorang yang pernah kehilangan sosok ayah seperti Bianca, kehadiran James cukup membuat hati Bianca menghangat. Jika memungkinkan, ia ingin memiliki kasih sayang tulus untuknya sebagai penebusan hidupnya di masa lalu. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN