Nathalie dan Daffin (Pengenalan)
Minggu pagi, keramaian terlihat memenuhi car free day. Banyak orang melakukan olahraga pagi, joging, senam, bersepada dan berkumpul bareng keluarga.
Tak jauh dari pusat keramaian itu, seorang wanita cantik dengan rambut kuncir kuda sedang duduk di batas trotar sambil meluruskan kakinya. Penampilannya sangat memukau dengan atribut joging, hingga tak lupa earphone masih menyala di telinganya.
“Hmm, capek banget. Lumayan juga buat minggu ini,” ucap wanita itu sambil melihat smartwatch di tangan kirinya mencapai 1200 calori.
Wanita cantik ini adalah Nathalie, yang ikut berolahraga pagi di pusat ibukota tersebut. Dengan niat dan tekad kuat, dia telah menargetkan dirinya untuk menurunkan berat badan 3 kg lagi demi tampil langsing.
Tak lama, seorang pria datang menghampirinya sambil melemparkan satu kaleng minuman pocari sweat ke paha Nathalie yang masih engos-ngosan di sana.
“Nih, minum dulu,” ucap pria itu datar. Dia pun mengambil tempat duduk di samping Nathalie.
“Thanks, Daffin.” Nathalie tersenyum, seraya menyikut lengan pria di sampingnya itu.
Banyak orang berlalu lalang di hadapan mereka, minggu ini para pecinta olahraga terlihat lebih ramai dari yang sebelumnya, mulai yang bermain sepeda, senam aerobik, bermain sepatu roda, dan masih banyak lagi.
Nathalie sudah menyerah untuk melanjutkan olahraga larinya, dia melihat Daffin yang masih menikmati minumnya sambil melihat orang-orang berlalu lalang di sana.
“Pinjam punngung kamu bentar ya, Fin. Aku capek banget sumpah, hari ini rekornya aku habisin waktu sampe 1200 kalori,” kata Nathalie langsung menyadarkan punggungnya kepada Daffin.
Daffin merasa risih, sebenarnya dia sudah berusaha mengalihkan matanya dan perasaannya untuk melihat ke sudut lain. Ternyata, ketika Davin datang memberi minuman kaleng tadi, matanya tak sengaja melihat keringat yang merembes di bagian d**a Nathalie hingga menampilkan warna bra-nya.
“Hmm, tapi jangan nempel-nempel banget, nanti keringat kamu nempel ke aku,” sahut Daffin datar.
“What! Jangan lebay gitu ah! Keringatku gini-gini ngak pernah bau loh ya, kamu sembarangan!" tegas Nathalie.
Sedari kecil mereka memang bersahabat dekat, bahkan Nathalie sering makan dan main ke rumah Daffin karena mereka juga merupakan tetanggaan. Nathalie yang sejak SMP sudah terbiasa sendiri, membuat Daffin harus siaga menjaga sahabatnya ini.
Sebenarnya, tanpa Nathalie katakan, Daffin tahu apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu karena dia tahu dampak dari keluarga broken home. Memang keluarga dia dan Nathalie sama-sama kaya. Dan Nathalie bebas memiliki segalanya yang dia sukai, tapi hanya satu yang tidak dimiliki yaitu, hatinya kosong tanpa ada belaian kasih sayang dari orang terdekat, khususnya orang tua.
Kini Daffin menyadari dirinya bukan lagi sahabat yang bisa mandi bareng, makan bareng dalam satu piring, atau teman tidur seranjang Nathalie seperti ketika waktu mereka masih kecil dahulu. Banyak perubahan dan perbedaan yang dirasakan Daffin makin ke sini saat bersama Nathalie.
Dia tahu bahwa Nathalie tidak merasakan hal sedetail itu, apalagi mereka sudah bersahabat sejak lama. Sejak bersekolah, teman-teman juga banyak yang beranggapan jika perhatian Daffin kepada Nathalie bukan sewajarnya, melainkan luar batas biasa, seperti seorang pacar mencintai kekasihnya.
“Fin,… aku lapar deh…”
“Fin? Woy! Bengong aja ni anak,” Nathalie mengguncang lengan Daffin agar sahabatnya itu sadar dari lamunannya.
“Eh, apa? Kamu mau apa?” Daffin sadar dari lamunan dan kaget melihat Nathalie sudah berkacak pinggang di hadapannya.
“Aku lapar, ayok makan,” ajak Nathalie.
Daffin menolah ke kiri dan ke kanan, dia memperhatikan semua mata pria nakal menatap ke tubuh Nathalie, dia buru-buru mengambil jaket di dalam tasnya melemparkan ke Nathalie.
“Pake dulu itu, aku ngak mau mata mereka mengagumi tubuhmu,” ucap Daffin, bangkit dan melewati Nathalie.
Nathalie hanya terpelongo melihat sahabatnya itu cemberut sambil melemparinya jaket. Ini Daffin kenapa sih? Ungkap Nathalie bertanya-tanya. Lalu dia memasang jaket itu agar Daffin tidak ngambek. Biasanya kalau pria itu sudah ngambek bakalan lama dan pasti sulit mengambil hatinya.
“Oke-oke, aku sudah pakai jaket kamu. Puas kan? Jangan tinggalin dong, Fin. Daffin,,,,!” Nathalie mengejarnya dari belakang.
Mereka berjalan ke salah satu penjual makanan di seberang jalan. Tidak terlalu banyak yang berjualan makanan, jadinya mereka hanya memilih beberapa jajanan kue tradisional dan juga minuman.
Mata Nathalie menatap beberapa jajanan yang dia suka, sewaktu kecil dirinya sering dimasakin kue-kue tradisional oleh bibi Lastri. Bahkan dia sudah akrab dengan banyak makanan sehat yang dibuatkan oleh pembantunya itu.
“Fin, kamu mau kue apa aja? Aku pilih beberapa buat kita makan,” kata Nathalie sambil memegang pencapit makanan dan plastik.
“Kamu pilih saja terserah, yuk buruan,” ujar Daffin.
Selepas keduanya membeli makanan, mereka menuju ke parkiran motor. Kebetulan hari ini Daffin membawa motor kesayangannya karena tidak mau ribet membawa mobil.
“Hari ini aku boleh bawa motor kamu ngak, aku pengen menikmati udara angin,” kata Nathalie.
“Aku aja, kamu duduk saja di belakang, aku juga gerah,” jawab Daffin.
Terpaksa Nathalie mengalah, karena jika sudah menyangkut motor kesayangannya, otomatis Daffin tidak akan mau mengalah. Mereka pun berkendara di jalan.
Ketika, mereka berhenti di lampu merah, Nathalie melihat seorang pria yang dia kenal. Dia adalah Bima, si pebasket tampan yang sedang popular saat ini.
Nathalie melambaikan tangannya untuk menyapa Bima, dan pria itu mendekati motor mereka.
“Hai, kok kamu bisa disini? Dari mana?” tanya Bima kepada Nathalie.
“Dari car free day, aku habis joging bareng dia,” tunjuk Nathalie ke helm Daffin. Sedangkan Daffin hanya diam dan terus menatap lurus ke depan.
“Oh, aku sih baru habis pemanasan juga di dekat sana bareng teman. Nanti sore mau main ke tempat latihan ngak? Kalau iya aku jemput,” ajak Bima.
Nathalie memang sering bermain basket di tempat Bima, karena dia punya lapangan khusus untuk club basketnya sendiri. di sana banyak para senior dan timnas yang suka latihan bareng Bima. Namanya juga atlet, jadi dipastikan temannya banyak.
“Hmm oke, aku juga ngak ada jadwal apa-apa hari ini,” sahut Nathalie.
“Sip, sampai ketemu nanti,” mereka pun berpisah dengan jalan yang berbeda.
Daffin sebenarnya kurang suka melihat Nathalie menjalin banyak hubungan dengan para pria-pria di luar sana, tapi dia juga tidak bisa mengekang sahabatnya ini lantaran dari dulu Nathalie paling anti dikekang dan diatur. Sejak orangtuanya bercerai, Nathalie berubah menjadi pribadi yang keras kepala dan suka kebebasan.
Namun, Daffin tetap menegaskan kepada Nathalie agar berhati-hati dan tidak melewati batas. Dia berjanji akan menjaga Nathalie untuk tetap menjadi wanita baik-baik, meski bebas berteman dengan siapa pun.
“Fin, kamu mau ikut aku ngak entar sore. Aku bosan di rumah terus, lagian mama kamu juga ngak ada di rumah kan sekarang,” ucap Nathalie di belakang.
“Aku ngak ikut dulu, kayaknya tugas masih banyak yang harus diselesaikan,” tolak Daffin.
Daffin memang memiliki banyak tugas, selain dia mahasiswa, dia juga bekerja membantu perusahaan orang tuanya.
“Oh gitu, ya sudah, aku pergi sama Bima saja deh,” kata Nathalie sambil memeluk pinggang Daffin dengan kencang.
“Tambahin kecepatannya, aku pengen terbang!!” teriak Nathalie yang meminta Daffin memenuhi kegilaannya.
Jika sudah begini, Daffin pun terangsang karena merasakan dua gunung kembar yang menempel di punggungnya, alhasil dia pun tancap gas agar bisa meredakan hawa panas dari tubuhnya.
“Pegangan yang kecang!” teriak Daffin mengambil kecepatan penuh, lantaran jalan sepi.
Sore harinya, Nathalie telah bersiap dengan seragamnya dan menghampiri Daffin ke rumahnya. Kebetulan pria itu sedang di depan rumah duduk di gazebo.
"Daffin, nanti aku main basket sama Bima, mau ikut?" Nathalie telah siap dengan seragam basketnya. Tapi dibalas gelengan kepala oleh Daffin.
"Mulai sekarang, jangan sering dekat sama banyak cowok," tegas Daffin, dan sukses menghentikan langkah Nathalie.
"Kenapa?"
"Kamu itu perempuan. Aku ngak tahan lihat mata lapar laki-laki di luar sana menatap tubuh kamu," ujar Daffin.
Nathalie memang tipe orang bebas dan suka bergaul dengan siapa saja. Termasuk seorang pebasket populer bernama Bima.
"Tapi aku butuh teman Fin, kamu jangan ngekang aku. aku ngak suka!"
Daffin berdiri, mencegat tangan Nathalie. "Butuh teman apa? teman ranjang?" ujarnya serius.
Mata tajam Daffin sukses membuat jantung Nathalie berlomba-lomba. Pria ini sungguh berubah drastis sekarang.
Seperti itu kedekatan mereka dan kegilaan Nathalie saat bersama Daffin, hingga dia tidak sadar jika hubungan mereka yang semula nyaman malah membuat Daffin berdebar. Dan rahasia Daffin jadi pemimpin dunia gelap akan membahayakan nyawa Nathalie dari banyak musuh.