Nathalie terkejut melihat seorang pria yang datang membawa lima orang pengawal mengepung mereka. Bahkan pria itu menodongkan pistol tepat di ujung pelipis Daffin sambil tersenyum licik menatap mereka bergantian.
“Bawa wanita ini,” perintah pria itu kepada anak buahnya.
Mereka menarik Nathalie menjauh dari Daffin, dan membawanya ke sebuah ruangan di lantai bawah. Sedangkan Daffin kembali berhadapan dengan Cakra, si musuh bebuyutannya ini. Dia membuat kesalahan karena telah sedikit lengah saat menemui Nathalie tadi. Dan sekarang Daffin masuk dalam jebakan Cakra.
“Halo Daffin, lama tidak bertemu ya. Aku rasa kekuatanmu mulai melemah sekarang… dan kini terbukti bahwa kau akan berakhir di tanganku, seperti nasib adikku yang kau buat tewas secara mengenaskan beberapa bulan lalu,” kata Cakra dengan emosional di hadapan Daffin.
“Tsk. Mari kita buktikan siapa yang lebih unggul sekarang, aku atau KAU!” Daffin menarik pistol di balik jaketnya dan mengacungkan kepada Cakra.
Keduanya sama-sama memiliki tatapan membunuh. Cakra melayangkan pukulan keras ke wajah Daffin, dan berbalik menghatam bagian perutnya hingga Daffin terseret mundur beberapa langkah ke belakang.
Daffin sedikit meringis kesakitan, karena luka yang dia dapat tadi saat jatuh di tangga kembali cedera untuk yang kedua kalinya. Namun itu tidak melunturkan tekadnya untuk melawan pria licik di depannya ini.
Dengan tawa mengejek, Cakra melompat ke dinding dan menghantam pukulan telak tepat di bagian paha kiri Daffin yang sedang terkilir.
“Akh!” teriaknya kesakitan.
“Gimana? Apa kau masih punya nyali untuk bangkit. Ingatlah Daffin, bahwa wanita itu akan aku jadikan salah satu aset yang akan menghasilkan uang banyak untukku. Dan kau…. Nikmatilah kekalahanmu sekarang. Dasar PECUNDANG!” Ujar Cakra sarkas.
Daffin terus berusaha bangkit, dengan badan terhuyung-huyung, dia meraih pistol di lantai yang sempat terlempar dua meter darinya. Cakra membiarkan pria itu bangkit dengan sempoyongan, dia yakin bahwa kemenangan ini akan membuat kematian adiknya terbalaskan.
“Hmm. Hoho… kau masih sanggup bangkit rupanya. Rasakan ini,” Cakra menendang bahu kakan Daffin dan membuatnya terlempar sampai membentur satu pillar beton.
Tulang punggung Daffin terasa remuk, dan kepalanya terasa pusing. Bahkan pandangannya mulai berputar-putar saat tubuhnya menghantam pillar beton ini. Di saat dirinya berusaha untuk tetap sadar, Daffin mendengar teriakan keras dari Nathalie yang berada di bawah sana.
“Daffiiiin! Tolong aku!” jerit suara Nathalie yang ketakutan.
Daffin mengernyit menahan sakit. Darah di kepalanya kembali menetes dan membasahi jaketnya. Ternyata luka saat jatuh tadi kembali terbuka lebar. Ah sialan, kenapa sampai begini sih. Aku harus bangkit demi Nathalie, ucapnya dengan kuat.
Daffin berdiri. Meski dengan luka yang berdarah-darah, dia bangkit dan berjalan mendekati Cakra yang memandanginya dengan wajah meremehkan. Kali ini Daffin tidak boleh kalah, dia takut jika dirinya kalah maka keselamatan Nathalie menjadi terancam.
Dengan gerakan cepat, dia mengarahkan pistolnya dan menembak bagian kaki Cakra.
Dorr!
Cakra tersentak saat timah panas itu menembus permukaan kakinya. Darah mengalir dan merembes di balik celana cokelatnya. “Akh! b******k! Ternyata kau masih punya nyali ya. Baiklah, aku ngak akan main-main lagi tikus kecil. Jangan salahkan aku untuk membuat kematianmu jadi menyedihkan!” ucapnya menembak bagian d**a Daffin. Namun tembakan itu meleset saat Daffin melompat ke sisi kiri.
Dia bersembunyi di balik pilar beton. Dan mengintai posisi Cakra dari jarak 5 meter. Beruntung bantuan datang, Jeffri menembaki semua pengawal Cakra dengan membabi buta. Lalu Daffin kembali menembak satu pengawal Cakra yang berada tak jauh darinya.
Cakra tidak bisa membiarkan dirinya terbunuh saat ini. Dia memilih kabur, dan memerintahkan anak buahnya yang tersisa untuk bergegas mundur.
“Mudur!” teriaknya sambil berlari dengan langkah waspada.
Daffin terduduk lemas karena tangan kirinya yang patah mulai terasa sakit. “Jeff, bantu aku selamatkan Nathalie di ruangan bawah,” ujar Daffin meminta asistennya itu untuk membantunya berdiri.
Jeffri memapah Daffin dengan hati-hati. Mereka pergi ke ruangan tempat Nathalie disekap. Di sana Nathalie terlihat duduk ketakutan. Lalu Daffin menghampirinya dengan langkah pincang.
“Nath... ayo bangun. Kita pulang sekarang,” ucapnya mengulurkan tangan.
Nathalie menatap Daffin dengan wajah syok. Bagaimana tidak, saat ini penampilan Daffin sungguh menakutkan. Ada banyak luka di tubuhnya, dan bekas darah juga menodai pipinya. Nathalie berdiri dengan takut, lalu dia memeluk tubuh Daffin dengan tangis terisak.
“Hiks…. Fiiin. Aku takut. Kamu terluka parah, siapa mereka itu. Kenapa kamu bisa berurusan dengan mereka,” ucap Natahlie menagis ketakutan menggapai-gapai punggung Daffin untuk menghilangkan ketakutannya. Tubuhnya gemetaran dan kakinya terasa lemas saat ini.
Saat mendengar suara tembakan dan baku hantam tadi, Nathalie merasa sangat trauma. Dia tidak bisa membantu sahabatnya ini. Bahkan setelah dua tahun mereka berpisah, kini malah membuat nyawa Daffin nyaris melayang demi menyelamatkan dirinya.
“Shhhttt… udah, jangan banyak pikiran Nath. Sekarang kita pergi dari sini. Kamu tolong lepasin pelukan ini dulu, tubuhku terasa sangat sakit,” ucap Daffin menahan sakit di bagian bahu kakanannya.
“Oh.. maaf. Aku ngak tahu kamu terluka di bagian sini,” kata Nathalie terkejut.
Mereka pun pulang dengan rombongan pengawal Daffin yang masih tersisa. Ada 8 orang pengawalnya yang tewas saat baku tembak dengan pengawal Cakra.
“Kita pergi ke mansion. Hubungi tim dokter untuk mengobati anggota yang terluka,” perintah Daffin pada anak buahnya.
“Baik bos,” sahut Jeffri, lalu memberikan aba-aba kepada penjaga mansion.
Daffin telah mendapatkan fasilitas dari ketua lama berupa mansion, perusahaan dan juga pengawal dengan kemampuan khusus. Semua itu demi memajukan bisnis gelapnya agar bisa berkembang dan membuktikan kelayakannya sebagai pemimpin baru. Dan sekarang dia akan membawa Nathalie ke sana untuk pertama kalinya. Karena dia takut jika anak buah Cakra kembali berulah dan menculik Nathalie lagi.
“Nath, kamu ikut aku dulu sekarang. Di luar sedang berbahaya, jadi jangan jauh dariku untuk saat ini,” ucap Daffin kepada Nathalie.
Nathalie masih bingung dan trauma. Dia tidak terlalu mendengar apa yang disampaikan Daffin barusan, yang jelas dia hanya mengangguk lemah dengan tatapan kosong. Kejadian ini begitu membuatnya syok. Selama ini tak pernah sekalipun dirinya berada di posisi yang sangat menegangkan seperti tadi.
“Nath… Nathalie?” Daffin menepuk punggung Nathalie agar sadar.
“Ah, iya. Kenapa?” tanya linglung.
“Sekarang kamu ikut aku, mengerti?” kata Daffin lagi. Dan dibalas anggukan oleh Nathalie.
Setibanya di mansion mewah Daffin, Nathalie turun dengan langkah pelan. Dia memandangi bagian luar mansion itu, lalu beralih menatap Daffin yang keluar dari mobil. “Daffin, ini mansion siapa?” tanyanya bingung.
“Ini punyaku, ayo kita masuk dulu,” ucapnya sambil berjalan pincang.
Nathalie tak tega melihat kondisi Daffin, lalu dia mengangkat lengan pria itu dan memapahnya masuk. Di sana sudah ada beberapa pengawal berbaris berpakaian rapi berwarna hitam. “Selamat datang bos,” sapa mereka hormat.
“Dokter, sudah berada di dalam bos,” lapor seorang pengawal.
“Baiklah,” sahut Daffin, lalu berjalan masuk dibantu Nathalie.
Nathalie celingak celinguk memandangi tempat baru ini. Di dalam benaknya, dia masih bertanya-tanya apa pekerjaan Daffin sekarang. Kenapa pria ini bisa memiliki banyak pengawal dan mempunyai mansion seluas dan semegah ini.
Belum sempat dia bertanya, seorang dokter pria bertubuh tinggi tegap menghampir Daffin, dan mengambil alih tugas Nathalie. “Kenapa Anda bisa terluka separah ini Pak,” tanya cemas.
Dokter ini adalah salah satu dokter terbaik yang bekerja di bawah kekuasan Daffin. “Bukan masalah besar, ini hanya pergulatan masa lalu,” sahut Daffin duduk di sofa nya.
Nathalie pun duduk di sofa seberangnya sambil memandangi dokter itumembersihkan luka Daffin dengan cekatan. Dia agak ngeri melihat tubuh Daffin yang memar dan berdarah darah. Apalagi bagian leher dan pundak Daffin dipenuhi bekas darah yang hampir mengering.
Nathalie memalingkan pandagannya menatap ke arah lain karena tak tahan melihat semua luka itu. dia merasa tubunya ikut ngilu merasakan luka yang dialami Daffin.
“Hiisst, pelan sedikit!” ucap Daffin menaran sakit, saat dokter membersihkan luka di bagian keningnya. Luka itu mengangga saat dokter membersihkan pakai kapas dan alkohol.
“Daffin, aku mau ke toilet,” ucap Nathalie yang tak tahan melihat dokter mengobati Daffin.
“Hmm. Toilet ada di sebelah sana. Kau lurus saja, dan berbelok ke kiri. Di sana ada toilet,” ucap Daffin menunjukkan jalannya.
“Oke,” Nathalie berjalan buru-buru. Dia merasa mual dan pusing melihat luka Daffin yang mengeluarkan banyak darah.
Di dalam toilet, dia mencuci wajahnya dan menatap pantulan dirinya di cermin. Kejadian menegangkan tadi masih berputar-putar di otaknya. Dia merasa beruntung karena bisa selamat dari orang-orang jahat itu. apakah orangtuanya akan cemas jika mengetahui kejadian yang menimpanya dirinya kini.
Entahlah, Nathalie tak bisa memikirkannya. Apalagi kedua orangtuanya selaluu sibuk di luar negeri dengan urusan dan kehudupan mereka masing-masing. Dan di saat seperti ini, beruntung Daffin berada di sampingnya.
“Makasih Tuhan. Kau telah mengirimkan Daffin untuk menyelamatkanku,” ucap Nathalie bersyukur.
Dia menyeka rambutnya dengan kuat ke belakang kepala, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. waktu telah menujukkan tengah malam, dia harus mengabari orang rumah jika dirinya tidak bisa pulang sekarang.
Nathalie berjalan ke ruangan tempat Daffin diobati tadi. Dia ingin meminjam telepon untuk menghubungi orang rumah, minimal mereka tidak cemas menunggunya kembali.
“Fin, boleh aku pinjam telepon. Aku harus mengabari Bibi Lastri,” ucapnya.
“Boleh, silahkan saja,” sahut Daffin yang masih dibersihkan lukanya. Dan Nathalie menggunakan telepon di sampingnya untuk memberikan kabar kepada pembantunya di rumah.