SARAPAN BERSAMA

1020 Kata
"Pagi, Pak Bos." "Pagi, Tuan." Inem, dan Luna yang sama-sama tengah berada di ruang makan menyapa Arya bersamaan. Lelaki itu sudah rapi, lengkap dengan setelan jasnya. "Selamat pagi, semua. Kalian menyiapkan sarapan sama-sama?" tanya Arya sambil memandangi menu makanan yang terhidang di atas meja makan. Lelaki itu juga mencium aroma wangi dari setiap masakan yang ada. Begitu menggugah selera, dan membuatnya ingin segera sarapan. "Saya hanya membantu, Tuan. Semua menu pagi ini disiapkan oleh nona Luna. Selain cantik, ternyata nona Luna ini pandai sekali mengolah bahan makanan." Inem memuji. "Mbok terlalu memuji," ucap Luna tersipu. Inem memang takjub dengan keahlian memasak Luna. Inara yang merupakan majikannya saja tidak pernah menyentuh peralatan dapur. Apalagi sampai memasak berbagai menu seperti yang dilakukan oleh Luna. "Benarkah? Wah, ternyata kamu punya bakat terpendam ya, Lun." Arya ikut memuji seraya menarik kursi makan, dan duduk di sana. Dia tidak sabar untuk mencicipi hasil masakan asistennya. "Bapak jangan memuji dulu. Soalnya belum tentu masakan saya enak. Sejujurnya saya hanya hobi saja kok, Pak." "Nggak mungkin enggak enak. Saya yakin masakan kamu ini luar biasa. Boleh saya cicipi sekarang?" Arya membalikkan piring besar yang ada di hadapannya. "Boleh, Pak. Silakan. Bapak mau coba racikan teh buatan saya?" tawar Luna sopan. "Teh? Boleh. Saya penasaran bagaimana rasanya," sahut Arya setuju. "Sebentar, saya buatkan dulu untuk Pak Bos," ucap Luna sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Arya. "Luna rajin banget ya, Tuan." Inem menyeletuk. "Iya, Mbok. Dia memang sangat rajin. Saya suka cara kerja dia sejak awal masuk ke perusahaan." "Pantesan, tadi dia juga berinisiatif untuk membantu saya di dapur. Padahal saya sama sekali tidak meminta tolong padanya, Tuan." "Dia memang bisa diandalkan, Mbok." "Kalau begitu, saya mau ke depan dulu ya, Tuan. Selamat sarapan." "Terima kasih, Mbok." Inem meninggalkan Arya sendirian di ruang makan. Lelaki itu kemudian menyuap makanan yang ada di piringnya. Arya tertegun sebentar. Rasa makanan yang Luna masak mengingatkan dirinya dengan sang ibu. Dia harus mengakui kalau masakan Luna memang benar-benar nikmat. Lelaki itu menjadi berandai-andai, kalau saja Inara bisa seperti Luna yang memasak untuknya setiap hari. Sayangnya hal itu belum pernah istrinya lakukan. Membuatkan secangkir kopi saja rasanya Inara belum pernah. Tidak berapa lama, Luna kembali ke ruang makan membawa sebuah cangkir keramik dengan isi yang masih mengepulkan asap. Aroma melati tercium dari sana, berpadu dengan wanginya seduhan daun teh. Arya sudah bisa membayangkan, teh buatan Luna juga pasti akan sangat nikmat. "Ini tehnya, Pak. Tadi saya lupa menanyakan takaran gula dalam minuman yang biasa Pak Arya minum, jadi saya mengira-ngira saja. Kalau kemanisan, atau kurang manis, katakan saja ya, Pak. Biar nanti saya ganti." "Saya percaya dengan selera kamu, Luna. Ngomong-ngomong, masakan kamu ini enak sekali. Terima kasih sudah membuatkan menu sarapan buat saya. Ayo sini duduk, kita sarapan bersama," ucap Arya sambil mempersilakan Luna untuk duduk di kursi makan. "Tapi, Pak ..." "Kamu tidak usah sungkan. Anggap saja sekarang ini kita berteman. Tidak ada waktu lagi untuk sarapan, kita harus segera ke Bandara setelah ini. Ayo duduk, Lun." Arya setengah memaksa. Luna akhirnya menurut. Dia kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan Arya. Dengan gerakan sopan, Luna membuka piringnya, dan mulai mengisi dengan makanan. "Sarapan yang banyak, Luna. Jangan malu-malu. Saya tidak mau kamu sampai kelaparan nanti." "Terima kasih banyak, Pak. Ini sudah sesuai dengan porsi saya," sahut Luna sambil tersenyum. Keduanya kemudian fokus menikmati makanan yang ada di atas piring mereka masing-masing. Sesekali Luna melirik ke arah Arya. Momen pagi ini membuatnya seakan-akan tengah mewujudkan impiannya menjadi pasangan Arya. Sayang sekali, itu hanya buah dari halusinasi Luna yang tidak terkendali. "Kamu sudah pastikan tidak ada berkas yang ketinggalan kan, Lun?" tanya Arya saat acara sarapan mereka selesai. "Sudah, Pak. Saya tadi pagi-pagi sekali sudah cek ulang. Itu juga karena saya sempat khawatir kalau ada berkas yang tertinggal. Soalnya jarak antara Jakarta dan Bali tidak bisa ditempuh pakai ojek online," ungkap Luna sambil tertawa kecil. "Kamu bisa saja. Saya sebenarnya juga sudah yakin kamu tidak akan mengecewakan saya, Luna. Berdoa saja nanti pekerjaan saya di sana cepat selesai. Sisa waktunya bisa kita gunakan untuk jalan-jalan." "Bapak mau jalan-jalan sama saya?" tanya Luna dengan ekspresi terkejut. "Kenapa memangnya? Di kantor kita memang atasan, dan bawahan. Tapi kalau sudah di luar kantor, kita bisa jadi teman, bukan? Anggap saja itu reward dari saya karena pekerjaan kamu selalu bagus. Lagian saya tidak mau jalan-jalan sendirian di sana." "Seandainya bu Inara ikut ya, Pak. Pasti Bapak akan senang bisa jalan-jalan di sana bersama beliau," celetuk Luna begitu saja. "Saya dan Inara tidak pernah punya waktu panjang buat family time, Lun. Dia sangat sibuk, begitu juga dengan saya. Bertemu juga jarang, padahal kami satu rumah," curhat Arya dengan raut wajah sedih. "Astaga, maaf ya, Pak. Saya tidak bermaksud membuat Pak Arya sedih. Saya doakan semoga nantinya kalian sama-sama punya waktu luang, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pergi liburan berdua." "Aamiin. Terima kasih banyak, Lun. Sepertinya sudah waktunya kita berangkat, Lun. Ayo bersiap. Mau saya bantu bawa koper kamu?" tanya Arya menawarkan bantuan. "Terima kasih, Pak. Tidak usah repot-repot. Koper saya isinya tidak banyak, kok. Saya bisa bawa sendiri." "Ya sudah, kalau begitu saya tunggu kamu di depan, ya. Sekalian saya mau mengecek apakah pak Anton sudah memanaskan mobil, atau belum." "Baik, Pak." Luna menyempatkan diri membereskan peralatan makan yang mereka gunakan, dan mencucinya. Setelah itu dia segera bergegas ke lantai atas untuk mengambil kopernya. Ada lonjakan rasa bahagia di hatinya ketika membayangkan dirinya akan pergi berdua saja dengan Arya. Rasanya masih seperti mimpi. Arya sendiri sudah memastikan mobilnya siap. Dia menyempatkan diri menghubungi Inara. Lagi-lagi dia harus kecewa karena tidak ada jawaban dari wanita itu. "Sebenarnya apa yang dilakukan Inara di luar sana? Kenapa seolah dia tidak memiliki waktu sedikit pun untukku? Apa aku tidak penting lagi untuknya?" gerutu Arya pelan. Lelaki itu akhirnya memutuskan untuk memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Dia mendengar ketukan sepatu Luna. Mereka berdua lantas masuk ke dalam mobil. Kendaraan roda empat itu kemudian melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan area rumah Arya. Sepanjang perjalanan menuju ke Bandara, Arya tidak banyak bicara. Luna mengerti, ada banyak hal yang tengah dipikirkan lelaki itu. Daripada berinisiatif memulai obrolan, Luna lebih memilih memainkan ponselnya. Sekedar mengisi waktu luang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN