"Surprise! Kalung yang indah untuk wanita yang cantik," ucap Bima saat Inara membuka mata.
Saat ini mereka tengah berada di sebuah restoran bintang lima di Paris. Inara baru saja menyelesaikan beberapa pemotretan, dan Bima sengaja membawa wanita itu ke sana untuk makan makanan ringan, sambil memberikan kejutan untuk wanita yang sangat dicintainya itu.
Inara memandang takjub kalung keluaran terbaru dari brand ternama Paris, Perancis, Cartier, yang kini melingkar di lehernya. Kalung indah dengan permata batu mulia berkualitas tinggi, dan limited edition itu merupakan kalung impiannya. Harganya juga sangat fantastis. Dia tidak menyangka kalau Bima akan membelikan hadiah semahal itu.
"Bima, ini kan ..."
"Bagaimana, Sayang? Kamu suka?" tanya lelaki itu dengan senyum merekah.
"Kamu masih nanya? Tentu saja aku suka, Bima. Ini kalung impian aku. Tapi memangnya istri kamu nggak marah? Harga kalung ini mahal banget, Bim." Luna memandangi kalung indah yang menghiasi lehernya itu dengan tatapan bahagia.
"Aku beli pakai uangku sendiri, Inara. Kamu tidak perlu pusing memikirkan dia. Toh, aku sudah memberinya uang belanja. Jadi dia tidak punya hak untuk menuntut ku. Berani dia menuntut, aku akan menceraikannya."
Bima yang hanya menjalani pernikahannya sebagai formalitas pun seolah tidak peduli dengan reaksi istrinya seandainya mengetahui soal dirinya yang membelikan perhiasan untuk Inara.
"Jangan begitulah, dia istri kamu, Bima. Seharusnya kamu tidak segampang itu melepaskan dia."
"Masalahnya, aku memang tidak pernah mencintainya, Inara. Sudahlah, tidak usah membahasnya lagi. Aku sengaja memesan ruangan VIP seperti ini bukan untuk memperdebatkan dia. Lebih baik kita fokus tentang kita saja. Duduk di sini, Sayang."
Bima menepuk pahanya sendiri. Inara tentu paham apa maksud dari kekasihnya itu. Perlahan, dia meninggalkan kursinya, dan duduk di pangkuan Bima. Sementara lelaki itu menyambutnya dengan langsung mendekap hangat Inara. Seketika, aroma parfum wanita itu menyapa indra penciumannya.
Wanita dengan balutan mini dress berwarna gold itu merasa sangat bahagia. Berada dalam pelukan Bima membuatnya merasa lebih berharga. Dia memang mencintai Arya, tetapi semenjak bertemu kembali dengan Bima, perasaannya terhadap Arya seakan memudar. Tidak sebesar saat awal-awal pernikahan mereka. Mungkin sekarang Inara tengah berada di titik jenuhnya.
"Setelah dari sini, kita jangan ketemu dulu ya, Bim. Aku nggak mau nanti Arya makin curiga. Dalam beberapa bulan ini aku jarang banget lama di rumah. Mertuaku juga nanya terus, kapan aku pulang."
Inara memanfaatkan waktu kebersamaan mereka kali ini untuk membicarakan hal itu dengan Bima. Dia tidak sedang mengada-ada, Sarah memang beberapa kali menghubunginya, dan menanyakan kapan dia akan pulang.
"Kalau aku kangen kamu, gimana? Udahlah, In ... kita cerai aja dari pasangan kita, terus menikah. Aku nggak mau kita backstreet terus-terusan seperti ini. Kalau kita menikah, kita akan memiliki banyak waktu bersama."
Inara memiringkan tubuh supaya bisa menatap Bima. Dia ingin memberikan pengertian pada lelaki itu kalau mereka tidak bisa menikah untuk sekarang. Inara tidak siap menghadapi kemarahan keluarganya, apalagi keluarga Arya bukan dari kalangan biasa. Orang tuanya pasti akan sangat kecewa kalau dia memilih berpisah, dan menjalin hubungan dengan Bima.
"Aku sudah bilang berkali-kali, Bima. Hubungan kita tidak semudah itu. Aku tidak bisa meninggalkan Arya begitu saja. Keluargaku pasti akan marah besar kalau aku melakukan itu."
Inara berusaha bicara lagi dengan Bima. Dia sangat berharap Bima bisa mengerti soal itu. Walaupun sekarang dia bisa melihat bagaimana perubahan raut wajah Bima yang terlihat kecewa.
"Jangan bilang ini hanya alasanmu saja, In. Kamu sebenarnya sangat mencintai Arya sampai-sampai kamu tidak rela melepaskan dia. Padahal dulu kamu sendiri yang bilang, kalau kamu tidak akan menikah kalau bukan denganku. Kamu juga selalu bilang kalau aku adalah satu-satunya lelaki yang kamu cintai. Apa kamu sudah melupakan semua itu, In?"
Pertanyaan itu membuat Inara tertegun.
Bima benar, dia memang pernah mengatakan itu saat mereka masih pacaran dulu. Tapi waktu sudah berlalu begitu lama, dan perasaan bisa saja berubah, bukan? Keadaan mereka yang sudah sama-sama menikah bukanlah hal sederhana untuk Inara. Apalagi dia juga sempat jatuh cinta pada Arya setelah Bima menghilang.
Inara tidak menyangka, takdir akan mempertemukan dirinya kembali dengan Bima. Juga tentang perasaan mereka yang sampai detik ini belum selesai.
"Tolong, Bim. Tolong sedikit mengerti bagaimana kondisiku sekarang. Keluarga Bima banyak membantu keluargaku. Rasanya aku terlalu kejam kalau harus menghancurkan perasaan mereka, Bim. Aku tidak pernah lupa semua itu, hanya saja, kita sekarang berada di posisi yang berbeda."
Bima menghela napas kasar. Dia tidak bisa memaksa Inara untuk sekarang. Lelaki itu menginginkan Inara seutuhnya menjadi miliknya, tetapi sulit untuk sekarang. Bima akan mencari cara supaya dia bisa menguasai Inara.
"Oke. Oke, kalau kamu minta aku buat kasih kamu pengertian. Sebaliknya, kamu juga harus ngertiin aku, In. Jadi, kapanpun aku butuh kamu, kamu harus meluangkan waktu untuk aku. Kalau enggak, aku akan bilang sama suamimu kalau selama ini kita ada main," ancam Bima.
Dia tidak mau sepenuhnya mengalah. Bagaimana pun caranya, Inara harus tetap memberikan perhatian padanya. Kebetulan, dia juga punya banyak bukti yang bisa dimanfaatkan untuk mengancam wanita itu. Bima sangat yakin, Inara akan menuruti kemauannya.
Inara sedikit terkejut dengan kalimat ancaman yang disampaikan oleh Bima. Tidak ada pilihan selain menuruti keinginan kekasihnya itu. Inara tidak ingin Arya sampai mengetahui perselingkuhannya dengan Bima.
"Setuju. Aku akan menuruti keinginanmu. Tapi ingat, Bima ... jangan sekali-kali kamu muncul di hadapan Arya."
"Iya, Sayang. Kamu nggak usah takut. Aku tidak akan pernah muncul di hadapan suamimu asal kamu menuruti keinginanku. Aku melakukan semuanya karena aku sangat mencintaimu, Inara." Bima berucap lembut seraya membelai rambut Inara yang tergerai.
"Aku juga mencintaimu, Bima." Inara membalas sambil tersenyum.
Keduanya pun mengikis jarak di antara mereka. Hingga mereka dapat merasakan hangat embusan napas masing-masing. Bima langsung membubuhkan ciuman hangat di bibir wanita kesayangannya. Mereka berdua pun terhanyut dalam aliran kenikmatan yang membuai.
"Bima, kamu nakal," cicit Inara saat merasakan tangan kekasihnya mulai bergerilya menjelajahi area tubuhnya.
"Kamu begitu candu, In. Rasanya aku terus ketagihan untuk menjamahmu. Seringkali aku merasa iri dengan suamimu yang bisa menyentuhmu kapan saja."
Bima membelai pipi Inara yang bersemu merah karena pujiannya. Wanita itu tertawa kecil, dan menyembunyikan wajahnya di area bidang sang kekasih.
"Kamu selalu saja bermulut manis, Bima. Tidak bosan-bosannya kamu menggodaku," ucap Inara tanpa mengalihkan wajahnya dari sana.
"Aku tidak sedang membual, In. Kamu memang membuatku ketagihan. Kurasa ... kita bisa mencoba hal baru di sini," bisik Bima tepat di telinga Inara.
"Kamu jangan gila, Bim."
Inara terkikik. Dia menghadiahi Bima dengan sebuah cubitan manja. Keduanya tengah dimabuk cinta. Mereka bahkan tidak peduli dengan akibat yang akan terjadi di masa mendatang.