DITAGIH CUCU

1009 Kata
Mobil yang mereka tumpangi berbelok memasuki area rumah mewah dua lantai dengan nuansa modern. Ini bukan pertama kalinya Luna melihat rumah yang besar, tetapi baginya, rumah Arya seperti istana. Seorang lelaki paruh baya tergopoh-gopoh membukakan pintu untuk mereka. Di depan pintu, ada seorang wanita yang memakai baju kebaya, Luna bisa menebak itu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Arya. "Selamat datang di rumah saya, Luna." Arya memberikan sambutan. "Terima kasih, Pak Arya." "Mbok Inem, tolong antar Luna ke kamar tamu yang tadi saya minta siapkan, ya." Arya berucap ramah kepada asisten rumah tangganya. Tebakan Luna ternyata benar. "Baik, Tuan. Oh iya, itu ... nyonya besar ada di ruang keluarga. Beliau sudah menunggu lama, Tuan. Katanya ada hal penting yang akan dibicarakan," ucap Inem sopan. "Baiklah. Saya akan menemui mama. Luna, kamu ikut mbok Inem, ya. Nanti biar koper kamu diantarkan pak Anton." "Baik, Pak." Luna berucap patuh. "Mari, Non." Inem memberi kode pada Luna untuk mengikutinya. Luna pun menurut. Dia mengikuti langkah wanita itu masuk ke dalam. Mereka tidak sampai ke ruang keluarga, keduanya naik ke lantai atas melalui tangga yang ada di ruang tamu. Luna mengedarkan pandangannya dengan kagum ke setiap sudut rumah Arya. Di dindingnya, tidak ada foto pernikahan Arya dengan Inara. Luna hanya melihat beberapa lukisan, dan juga pahatan indah yang dia yakin harganya cukup fantastis. Gadis itu membayangkan, seandainya dia yang menjadi istri Arya, pasti bahagia sekali. Sesaat kemudian, Luna cepat-cepat menepis bayangan itu. Dia mengingatkan dirinya kalau Arya tidak akan bisa dia gapai. Mengingat lelaki itu sudah memiliki seorang istri. "Rumah pak Arya besar sekali ya, Mbok. Saya berasa sedang keliling istana," ucap Luna mencoba mengajak Inem bicara. "Iya, Non. Memang rumahnya tuan Arya ini sangat besar. Sayang sekali, sering sepi. Soalnya nyonya Inara jarang di rumah, tuan juga sibuk di kantor," sahut Inem yang tetap melanjutkan langkahnya. "Memangnya bu Inara sibuk banget ya, Mbok? Maaf kalau saya banyak tanya." "Iya, Non. Sibuk sekali. Pulang sebentar, berangkat lagi. Begitu terus. Sampai kadang-kadang tuan Arya mengeluh kesepian. Kasihan. Dia butuh perhatian, tetapi istrinya seperti tidak peduli. Jangan bilang-bilang ya, Non. Ini rahasia tuan," bisik Inem yang memperhatikan ke arah bawah tangga. Takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Padahal saya pikir kehidupan pak Arya itu indah sekali. Ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Coba kalau saya yang jadi istrinya, pasti selalu nempel dua puluh empat jam," ucap Luna asal sambil terkikik. "Seharusnya gitu, Non. Apa kurangnya tuan Arya, coba? Sudah kaya, ganteng, setia, impian semua wanita di dunia ini. Saya aja kalau masih muda mau banget jadi istri keduanya tuan," canda Inem sambil tertawa kecil. "Mbok bisa aja. Ngomong-ngomong, Mbok sudah lama kerja sama pak Arya?" "Lumayan, Non. Sekitar tiga tahunan. Non sendiri sudah lama jadi karyawannya tuan?" "Belum sih, Mbok. Baru aja." Mereka akhirnya sampai di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka. Kamarnya cukup luas, bahkan lebih luas dari kamar Luna. "Semoga betah jadi karyawannya tuan Arya ya, Non. Ini kamarnya. Silakan, Non. Kalau butuh sesuatu, saya ada di dapur. Panggil saja," ucap Inem santun sambil mempersilakan Luna. "Terima kasih, Mbok. Kalau begitu saya masuk dulu," balas Luna sopan. Inem kemudian kembali turun, menuju ke arah dapur. Dia ingin melihat persiapan makan malam yang dimasak oleh asisten yang lain. Sementara itu, di ruang keluarga. Arya, dan ibunya tampak tengah bicara serius. Keduanya tampak sedikit tegang. Suasana juga tidak santai. "Sebenarnya kamu sudah bicarakan soal ini belum dengan Inara, Arya? Setiap mama ke sini, dia selalu tidak ada di rumah. Kamu sebagai kepala keluarga, seharusnya bisa ngatur istri. Kalau dia sibuk terus seperti ini, kapan kalian mau punya anak? Kamu anak tunggal, Arya. Jangan sampai kamu tidak memberi kami keturunan," oceh Sarah yang tampak sangat kesal. Pembahasan ini sudah sering terjadi. Bukan tidak mau berusaha, Arya sudah coba untuk bicara dengan Inara soal ini, tetapi wanita itu bilang kalau dia belum siap untuk punya anak. Terlebih sekarang karirnya sedang naik. Dia takut kehamilannya akan terganggu nantinya. "Ma, Mama sabar dulu, lah. Aku juga sudah bicara ke Inara soal ini, tetapi memang masih ada hal yang membuat kami belum bisa kasih mama cucu. Bukan cuma mama, aku juga pengen punya anak kayak teman-temanku yang lain, tetapi memang belum bisa sekarang." Arya berusaha memberikan pengertian. Dia tidak mungkin mengatakan ke mamanya tentang hal yang terjadi sebenarnya. Kegiatan ranjangnya dengan Inara belakangan ini bahkan tidak berjalan dengan semestinya. Arya jarang bisa menyentuh Inara karena keduanya bertemu dalam kondisi sama-sama lelah. Terkadang, waktu pertemuan mereka yang singkat pun kerap kali diisi dengan percekcokan. "Mau kapan lagi, Arya? Kalau memang dia nggak mau hamil, kamu nikah lagi saja lah! Mama yakin, di luar sana banyak wanita yang mau menikah sama kamu," ucap Sarah dengan nada sedikit angkuh. Memang benar, Arya bisa dengan mudah mendapatkan wanita baru. Tentu saja hal itu bukan suatu kebanggaan untuk Arya. Dia tidak bisa sembarangan menikah lagi tanpa alasan yang jelas. Apalagi ini hanya soal anak. Dia masih punya banyak waktu untuk meyakinkan Inara. Ini hanya soal waktu. "Ma, tolonglah. Jangan terlalu ikut campur dengan rumah tanggaku. Ide Mama itu kelewatan. Inara sudah cukup untukku, Ma. Aku nggak bisa bayangin punya istri dua." "Kalau tidak bisa nikah selamanya, nikah kontrak aja. Setelah anak kalian lahir, bisa cerai. Gampang, kan?" "Apalagi itu, Ma? Sudah, cukup. Sebaiknya Mama pulang sekarang. Aku capek, mau istirahat. Besok aku harus ke Bali." Arya bangkit dari duduknya. Lelaki itu langsung melenggang ke arah ruang tamu untuk naik ke lantai dua, di mana kamarnya berada. "Arya! Mama belum selesai bicara!" teriak Sarah yang tidak diindahkan oleh Arya. "Selalu begini, setiap diajak bicara kabur-kaburan. Sepertinya aku harus bergerak. Mencari wanita yang mau menyewakan rahimnya untuk Arya. Aku sudah cukup sabar menunggu. Jangan-jangan, Inara itu mandul, tapi Arya sengaja menutupinya dariku. Tidak bisa dibiarkan!" Sementara itu, di dalam kamarnya, Arya berusaha menghubungi Inara. Seperti biasa, wanita itu sangat sulit dihubungi. Berkali-kali Arya mencoba menghubungi, tidak ada jawaban darinya. Berakhir dia melemparkan ponselnya ke atas ranjang, dan memutuskan untuk masuk ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, suara gemericik air terdengar, lelaki itu tengah menggosok gigi, dan selanjutnya mencuci wajahnya, lalu berganti piyama. Arya siap untuk tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN