NASI GORENG PINGGIR JALAN

1125 Kata
"Baju tidur, udah. Baju santai, udah. Baju kerja, baju renang, baju buat jalan-jalan, semuanya udah. Parfum, kosmetik, skincare, semua juga udah. Tinggal tunggu pak Arya jemput." Luna mengecek kembali barang-barang bawaannya sebelum koper ditutup. Dia tidak ingin ada satu pun barang yang lupa dibawa. Sekarang Luna tengah berada di depan cermin. Dia yang memutuskan memakai baju tidur satin dengan motif kupu-kupu tampak merapikan rambutnya. Tidak lupa, wanita itu juga memeriksa riasan di wajahnya. Memastikan dia tidak terlalu menor. Tidak berapa lama, ada pesan datang dari Arya. Dengan segera Luna langsung membaca pesan dari lelaki yang ditaksirnya itu. "Saya sudah di depan rumah kamu." Pesan yang dikirimkan oleh Arya sesingkat itu, tetapi itu sudah berhasil membuat perasaan Luna meletup-letup khas gadis yang tengah jatuh cinta. "Tunggu sebentar, Pak." Tidak ingin membuat Arya menunggu lama, gadis itu segera memberi balasan. Setelahnya, dia segera keluar dari rumahnya sambil menyeret kopernya yang berukuran sedang. Arya ternyata menunggu di depan mobilnya. Untuk pertama kalinya Luna melihat bosnya memakai pakaian santai, ternyata ketampanan Arya justru meningkat berkali-kali lipat. Lelaki itu memakai kaos panjang berwarna biru muda, dengan celana jeans panjang sebagai bawahannya. Dengan sigap, Arya mengambil alih koper Luna, dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. Tanpa disangka-sangka, lelaki itu membukakan pintu mobil, dan mempersilakan Luna untuk masuk. Tidak lama, Arya menyusul, dan memposisikan dirinya di belakang kemudi. "Tidak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Arya sebelum menghidupkan mesin. Luna justru masih mematung karena perlakuan Arya baru saja. "Lun, Luna, Luna! Kamu tidak mendengarkan saya?" Arya mengibaskan tangannya di hadapan wajah Luna. Berusaha menyadarkan wanita itu dari lamunannya. "Eh, iya, Pak. Ada apa, Pak?" tanyanya salah tingkah. "Dari tadi kamu itu saya ajak bicara kenapa tidak merespon? Sedang ada masalah?" Masalah? Ya, ada. Satu-satunya masalah yang sedang Luna alami tentu saja berusaha lari dari pesona Arya yang semakin membuatnya gila. Lelaki itu seolah mengundangnya untuk jatuh semakin dalam. "Tidak ada, Pak. Maaf, tadi saya cuma lagi mikir, apa yang ketinggalan. Ternyata nggak ada." Luna memberikan alasan. Semoga saja alasan yang dia sampaikan bisa membuat Arya percaya. "Astaga, saya pikir apa. Bagus kalau tidak ada yang ketinggalan. Saya tadi juga mau menanyakan soal itu. Kalau begitu kita bisa pergi sekarang?" "Bisa, Pak." "Baiklah. Pakai sabuk pengamannya, Luna. Saya sedikit ngebut kalau nyetir." "Siap, Pak." Luna kemudian memasang sabuk pengaman yang ada di kursinya. Hanya saja entah mengapa benda itu sulit sekali untuk dipasang. . "Biar saya bantu," ucap Arya yang tanpa basa-basi langsung membantu Luna memasang sabuk pengamannya. Hingga jarak mereka terkikis. Detak jantung Luna semakin tidak menentu. Apalagi wangi maskulin lelaki itu menyapa indra penciumannya dengan ramah. Perpaduan parfum, dan aroma wangi sampo yang dipakai oleh Arya membuatnya terhanyut. "Sudah selesai," ucap Arya yang langsung menyadarkan Luna. Lelaki itu kemudian menghidupkan mesin mobilnya, dan perlahan membawa kendaraan roda empat itu berlalu dari area rumah yang ditinggali oleh Luna. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Arya, Luna terlihat begitu salah tingkah. Dia sudah berusaha untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya itu, tetapi tetap saja terlihat. Contohnya sekarang, wanita itu tengah memainkan kedua tangannya. "Kamu tinggal sendirian?" Arya membuka pembicaraan, walau tatapannya tetap tertuju pada jalanan yang ada di hadapannya. "Iya, Pak. Saya tinggal sendirian," sahut Luna yang tidak berani menoleh ke arah Arya. "Maaf, kalau boleh tahu ... apa kamu sudah tidak punya orang tua?" tanya Arya dengan hati-hati. Luna menghela napas. Pertanyaan dari Arya sebenarnya ringan, tetapi hal itu mengingatkannya pada pernikahan kedua orang tuanya yang berantakan. Arya menyadari itu. "Kamu tidak perlu menjawab kalau memang pertanyaan dari saya membebani perasaan kamu, Luna," ralatnya segera. "Tidak masalah, Pak. Itu pertanyaan yang biasa. Saya punya orang tua, tetapi mereka sudah bercerai. Untuk menghindari ikut salah satu dari mereka, saya memilih tinggal di rumah peninggalan nenek." "Saya minta maaf kalau pertanyaan saya membuat kamu mengingat kejadian itu. Memangnya kamu tidak kesepian tinggal sendirian? Bukannya ikut salah satu dari mereka lebih baik?" "Sama sekali tidak, Pak. Saya lebih nyaman sendiri. Sebenarnya saya sangat ingin keluarga saya kembali utuh, tetapi itu tidak mungkin terjadi. Ayah saya sudah menikah lagi." Luna menunduk. Ada rasa perih di dadanya mengingat itu semua. Spontan, Arya mengulurkan tangannya, dan mengusap singkap puncak kepala Luna dengan maksud menenangkan. Lelaki itu tidak tahu, kalau efek dari usapannya justru membuat hati Luna berantakan. "Kamu jangan berpikir ini buruk, Luna. Tuhan menggariskan sesuatu sudah pasti itu yang terbaik. Bisa jadi, kalau ayah dan ibumu masih bersama, mereka hanya akan terus bertengkar karena sudah tidak ada kecocokan. Pelan-pelan, kamu mungkin harus belajar menerima kenyataan.Tidak harus tinggal bersama mereka, kamu mungkin sesekali bisa mengunjungi ibumu. Beliau pasti akan sangat senang. Maaf kalau saya terkesan ikut campur." Arya memberikan nasihat. Biasanya Luna akan kesal mendengar kalimat semacam itu, tetapi kali ini tidak. Dia berpikir, mungkin ini terjadi karena yang memberinya nasihat adalah Arya, lelaki yang dia sukai. "Bapak benar. Saya memang seharusnya berusaha untuk menerima. Perpisahan mereka juga bukan salah ibu saya. Sepertinya apa yang saya lakukan selama ini sudah membuat beliau sedih." "Pelan-pelan saja, Luna. Mungkin kamu bisa memulai dengan mengirim pesan singkat kalau belum sanggup untuk bertemu." "Saya akan coba, Pak. Terima kasih untuk sarannya." Luna menjawab dengan tersenyum. "Saya hanya sedikit memberi saran saja. Ngomong-ngomong, kamu sudah makan malam?" "Belum, Pak. Memangnya kenapa?" "Bagaimana kalau kita makan cari makan malam? Kamu pasti lapar, kan?" "Boleh, Pak. Kalau tidak merepotkan." "Tidak sama sekali. Saya juga belum makan, Lun. Kamu mau makan apa?" tawar Arya sambil mengamati sekitar sekilas. "Terserah Bapak saja," ucap Luna pasrah. "Jangan terserah saya. Saya justru ingin rekomendasi dari kamu. Siapa tahu kamu ada langganan tempat makan di sekitar sini." "Ada, Pak. Warung nasi goreng di pinggir jalan. Memangnya Bapak mau makan di pinggir jalan?" Luna terkekeh. "Kalau enak, kenapa tidak? Saya bukan tipe orang yang pemilih dalam hal makanan. Di mana warungnya? Beritahu saya, Lun." "Ada di perempatan depan, Pak. Saya tidak menyangka orang seperti Pak Arya mau makan di pinggir jalan," celetuk Luna begitu saja. "Maksud kamu orang seperti saya?" "Ya ... orang seperti Bapak, kaya, ganteng, berwibawa ..." "Kamu berlebihan. Saya ini manusia biasa, Luna. Bahkan saya sering jenuh dengan kehidupan saya. Lagipula makanan di restoran bintang lima juga tidak menjamin rasanya enak. Kamu tahu, saya di kantor malah sering pesan mi ayam pak Min yang ada di depan itu. Itu mi ayam favorit saya," cerita Arya santai. "Serius, Pak?" "Iya, serius. Kamu mau coba? Nanti kapan-kapan saya pesankan, ya. Itu mi ayam paling enak menurut saya." "Boleh, Pak. Saya tidak sabar untuk mencobanya." Mereka berdua larut dalam obrolan sampai akhirnya keduanya sampai di warung nasi goreng yang Luna maksud. Keduanya turun, dan memesan nasi goreng spesial masing-masing satu porsi. Arya makan dengan lahapnya, lelaki itu tidak peduli dengan banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan kagum. "Bisa ya, ada laki-laki makan nasi goreng aja seganteng ini?" batin Luna sambil mengamati Arya diam-diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN