lSuara deburan ombak menemani langkah Arya, dan Luna yang tengah berjalan beriringan walaupun berjarak. Rambut keduanya berkibar ditiup angin yang lumayan kencang. Dua insan yang merupakan atasan, dan bawahan tersebut memakai baju santai.
Pekerjaan mereka di Bali sudah selesai. Ini hari penenangan sebelum besok pagi mereka melakukan penerbangan kembali ke Jakarta. Awalnya Luna ingin menghabiskan waktunya di kamar hotel, tetapi Arya mengajaknya untuk pergi jalan-jalan, sekaligus ada hal yang ingin dibicarakan. Mau tidak mau, Luna pun mengikuti ajakan bosnya.
"Apa yang ingin Bapak bicarakan?" tanya Luna yang sudah bosan menunggu Arya untuk bicara lebih dahulu.
Arya sebenarnya benci dengan situasi ini. Dia tidak ingin menodai pernikahannya dengan alasan apapun, tetapi dia tidak bisa membiarkan Luna melakukan hal-hal di luar dugaan seandainya dirinya tidak memberikan status yang jelas padanya. Mau tidak mau, Arya harus melakukannya.
"Saya berubah pikiran," ucap Arya setenang mungkin. Lelaki itu menatap jauh ke arah laut, untuk membuat ekspresi wajahnya semeyakinkan mungkin.
"Berubah pikiran? Soal apa, Pak?" tanya Luna yang kini menatap ke arah wajah sang bos. Lelaki itu menoleh ke arahnya, dan tatapan mereka saling bertemu.
"Saya mau kamu menjadi kekasih rahasia saya. Kita berhubungan secara diam-diam, tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya."
Luna tentu terkejut mendengar kalimat yang baru saja Arya ucapkan. Bagaimana bisa, dalam hitungan jam, lelaki itu mengubah keputusannya. Bahkan dia memutuskan sesuatu yang Luna rasa awalnya sangat mustahil.
"Pak, saya tidak salah dengar? Tadi pagi Pak Arya bilang kalau ..."
"Semua orang memiliki hak yang sama untuk mengubah pemikirannya, Luna. Termasuk saya. Lagipula saya tahu, kamu sudah jatuh cinta pada saya sejak pertemuan kita yang pertama, bukan?"
Luna terdiam. Dia tidak mengelak atau membenarkan dugaan Arya, meskipun begitu, semua memang benar adanya. Luna jatuh cinta dengan Arya sejak pandangan pertama.
"Kamu boleh mengakuinya, Luna. Semua orang juga berhak memiliki perasaan terhadap seseorang. Jadi bagaimana dengan tadi? Apa kamu bersedia menjadi kekasih rahasia saya?"
Luna rasa kesempatan tidak akan datang dua kali. Dengan menjadi kekasih Arya, dia tidak perlu menyembunyikan perasaannya terhadap Arya. Dia bebas mengekspresikan apa yang ada di hatinya tanpa takut Arya akan marah.
"Saya bersedia, Pak. Bagaimana dengan bu Inara?"
"Istri saya, urusan saya. Kamu hanya fokus pada saya saja, Luna. Satu lagi, kamu juga harus menjaga rahasia soal hubungan kita. Kamu mengerti?"
"Iya, Pak. Saya mengerti."
Tidak ada yang berubah dari sikap Arya setelah mengatakan itu. Mereka tetap berjalan menyusuri pantai seperti saat awal tadi. Karena memang Arya belum memiliki perasaan apapun terhadap Luna. Dia hanya mengikuti saran Danu.
Sementara Luna menyembunyikan rasa bahagianya. Dia tidak menyangka kalau keinginannya untuk mendapatkan Arya bisa terwujud.Dia sudah membayangkan keindahan hubungan rahasia dengan sang bos seperti yang terjadi di novel-novel yang pernah dia baca.
"Bagaimana kalau setelah ini kita cari oleh-oleh? Besok kita sudah kembali ke Jakarta."
"Boleh, Pak. Kalau Pak Arya ingin membeli hadiah untuk bu Inara, saya bisa bantu carikan. Ada banyak kerajinan tangan yang pas untuk dijadikan buah tangan untuk orang tersayang, Pak."
Mendengar itu, mengingatkan Arya pada Inara. Wanita itu berjanji untuk pulang besok. Ide Luna ada benarnya. Dia harus membelikan sesuatu yang spesial untuk istrinya.
"Saya setuju. Nanti kita beli hadiah untuk Inara. Saya juga ingin membelikan sesuatu untukmu. Nanti pilih saja apa yang kamu inginkan, saya bayar."
"Terima kasih banyak, Pak. Nanti saya juga akan membelikan sesuatu untuk Pak Arya. Jadi kita bisa bertukar hadiah," ucap Luna dengan ekspresi bahagianya yang begitu kentara.
"Boleh. Terserah kamu saja. Saya belum pernah tukar hadiah selama ini. Mungkin ini akan menjadi momen pertama saya yang tak terlupakan."
Arya tidak bohong. Dia memang belum pernah bertukar hadiah. Dengan Inara sekalipun. Setelah menikah memang keduanya disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Walaupun di awal pernikahan, Inara sempat fokus pada pernikahan mereka saja.
"Kalau begitu, saya akan memberikan kesan tak terlupakan untuk Pak Arya. Walaupun hubungan kita rahasia, saya boleh mengekspresikan perasaan yang saya miliki ke Bapak sebebas mungkin saat kita berdua, kan?" Inara memberanikan diri untuk menanyakan soal itu.
Jujur saja Arya sangat keberatan, tetapi kalau dia mengatakan itu pada Luna, tentu wanita itu akan curiga.
"Lakukan apapun yang mau mau, Luna. Asal itu tidak terlihat publik, saya tidak keberatan."
Luna tersenyum mendengarnya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menunjukkan perasaannya terhadap Arya. Lelaki itu harus tahu, seberapa besar rasa cinta yang dimilikinya.
Malam harinya, Luna menghampiri Arya yang tengah duduk sendirian di pinggir kolam renang. Lelaki itu tampak tengah menikmati minuman bersoda. Gadis itu awalnya memperhatikan Arya dari kejauhan. Dia banyak melamun, tetapi Luna tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh bosnya itu.
Luna menemui Arya bukan hanya untuk sekedar mengobrol. Dia juga ingin memberikan hadiah yang tadi sempat dipilihnya secara diam-diam.
"Pak Arya kenapa belum tidur?" tanyanya yang sekarang duduk bergabung di samping lelaki itu.
"Saya belum bisa tidur, Luna. Kamu sendiri, kenapa belum tidur?" Lelaki itu balik bertanya.
Dia meletakkan kaleng yang semula ada di tangannya ke lantai, tidak jauh dari sisinya.
"Sama. Belum bisa tidur. Salah satunya karena saya mau kasih ini ke Pak Arya." Luna mengeluarkan sesuatu dari saku piyamanya.
"Saya tahu koleksi jam tangan Bapak bagus semua. Juga berasal dari merk-merk terkenal yang harganya sampai puluhan, bahkan ratusan juta. Saya harap Pak Arya bisa terima jam tangan dari saya ini. Memang tidak semahal, dan sebagus koleksi jam tangan Bapak, tetapi ada cinta di setiap detik yang berlalu dari jam ini."
Luna menyodorkan jam tangan itu ke arah Arya. Dia sangat berharap Arya mau menerima pemberiannya itu.
Arya menatap sejenak ke arah Luna, lalu pandangannya tertuju ke jam tangan dengan belt kulit berwarna coklat itu dengan seksama. Dia tidak mungkin menolak pemberian Luna, dan ini menjadi momen pertamanya menerima hadiah dari seorang wanita.
"Pakaikan di tangan saya," pintanya sambil mengulurkan tangan kanannya.
Tentu saja hal itu membuat Luna senang. Senyumnya langsung merekah, dan bersiap untuk memasangkan jam tangan itu di tangan Arya. Lelaki itu menatap Luna, menyaksikan dengan kedua matanya bagaimana antusiasnya gadis itu. Diam-diam dia tersenyum tanpa sadar.
Luna mengecup jam tangan yang kini melingkar di pergelangan tangan Arya. Kemudian dia menatap Arya dengan tatapan senang.
"Pak Arya nggak harus pakai setiap hari, tetapi saya harap sesekali saya bisa melihat jam ini melingkar di pergelangan tangan Bapak," ucap Luna yang perlahan melepaskan tangan Arya.
Lelaki itu kemudian kembali menatap jam tangan pemberian Luna.
"Itu pasti. Saya tidak mungkin tidak memakai hadiah dari kamu. Terima kasih banyak, Luna."
Arya memaksakan diri mengulurkan tangan, dan mengusap puncak kepala Luna. Mungkin sebagai seorang kekasih dia harus memberikan reaksi yang lebih intim, tetapi sayangnya Arya tidak bisa melakukan itu sekarang.