Selama berada di kantor cabang, tidak ada perubahan dari sikap Arya. Padahal Luna sudah berpikir kalau mereka akan canggung satu sama lain. Ternyata Arya bisa mengendalikan sikapnya, dan membuat suasana tetap kondusif.
Luna sendiri tidak berani terlalu menaruh perhatian terhadap Arya, karena dia tahu lelaki itu tengah dirundung rasa bersalah karena apa yang terjadi semalam.
Sepulang dari kantor, Arya memilih bertemu dengan Danu. Dia tidak bisa terbuka dengan siapapun, kecuali sahabatnya yang satu itu. Setidaknya Arya bisa mempercayai lelaki itu sepenuhnya.
"Baru semalam bertemu, sudah minta bertemu lagi. Tumben. Ada apa, Ar? Dari ekspresi wajah kamu, sepertinya kamu sedang pusing," tebak Danu yang sempat mengamati ekspresi wajah sahabatnya.
"Aku memang sedang pusing, Nu. Semalam aku melakukan hal yang bodoh. Sulit rasanya memaafkan diriku sendiri karena apa yang kulakukan semalam."
"Semalam kamu berbuat apa? Mencuri ayam tetangga?" Danu menyahut dengan canda. Lelaki itu tertawa kecil.
"Aku serius, Nu. Apa yang aku lakukan. itu sangat fatal."
"Ya apa? Kamu cerita hanya setengah-setengah. Bagaimana aku bisa menebak. Aku bukan peramal, Ar."
"Aku tidur dengan Luna," ucap Arya pada akhirnya.
Mendengar itu, Danu melongo. Dia sangat tahu bagaimana Arya. Dia tentu terkejut, mengetahui sahabatnya itu bisa melakukan kesalahan yang demikian besar.
"Semalam aku hanya bercanda, Ar. Kamu kenapa serius melakukannya?"
"Kalau aku sadar, aku tidak akan mungkin melakukan itu, Nu. Semalam aku maksa Luna, dan berpikir kalau dia itu Inara."
"Darimana kamu tahu?"
"Luna. Dia bilang padaku kalau aku menganggapnya Inara."
"Tunggu, bukannya semalam itu dia nggak mabuk, ya? Seharusnya dia bisa lawan kamu, Ar."
"Itu juga yang dia bilang ke aku, Nu. Dia bilang, seharusnya dia menyadarkan aku."
"Jangan-jangan dia sengaja menjebak kamu?"
"Kamu jangan menuduhnya yang tidak-tidak, Nu. Selama ini dia kerjanya bagus. Dia juga tidak pernah aneh-aneh. Buat apa dia menjebak ku segala?"
"Kalau bukan menjebak, itu artinya ada opsi kedua. Dia sebenarnya suka sama kamu. Itulah mengapa dia pasrah pas kamu menidurinya."
Arya terdiam. Dia sebenarnya sempat memperhatikan gerak-gerik Luna. Gadis itu memang kerap memperhatikannya secara diam-diam. Dia juga sering salah tingkah saat mereka hanya berdua. Kali ini Arya setuju soal Luna yang menyukainya. Tapi bukankah seharusnya gadis itu sadar kalau dirinya sudah memiliki seorang istri?
"Untuk dugaan kamu yang kedua, aku setuju, Nu. Aku tidak habis pikir, mengapa Luna semalam tidak bisa menguasai dirinya. Apa dia sudah tertutup dengan cinta buta?"
"Saat digoda oleh seseorang yang dicintai, pasti dia akan mengikuti nalurinya, Ar. Menurut risetku, wanita yang digoda oleh lelaki yang dicintainya akan mudah terangsang dibandingkan dengan lelaki yang tidak dia cintai. Jadi wajar saja kalau Luna pasrah begitu saja saat kamu mendesaknya."
"Terus aku harus bagaimana sekarang, Nu? Aku tidak mungkin memecatnya, tetapi terus berusaha profesional juga membuatku sedikit tersiksa. Sekarang, saat melihat Luna pikiranku jadi ke mana-mana," ungkap Arya jujur.
Dia lelaki dewasa, dan normal. Mungkin saat mereka belum pernah berada dalam satu ranjang, Arya tidak memiliki naluri untuk membayangkan apapun. Sekarang berbeda, dia sudah pernah meniduri Luna. Hal itu membuat pikiran liar Arya terhadap Luna mencuat begitu saja.
"Udah kepalang basah, lanjut saja. Lagipula istrimu juga tidak terlalu peduli denganmu, bukan? Aku yakin, Luna juga tidak akan menolak untuk kamu jadikan simpanan," celetuk Danu santai.
"Aku butuh solusi, Danu. Bukannya malah harus mendengarkan bujukanmu yang selalu sesat itu," ucap Arya kesal.
"Itu solusi, Arya. Dengan menjadikan dia simpanan kamu, kamu bisa mengontrol dia. Bisa saja dia membocorkan kelakuan kamu semalam ke publik kalau kamu tidak memberinya status. Apalagi kamu jelas tahu kalau dia menyukaimu."
Arya berpikir sejenak. Apa yang dibilang oleh Danu memang ada benarnya. Dia bisa mengatur Luna kalau gadis itu berada dalam genggamannya. Kalau sampai dia buka mulut, semua reputasinya akan hancur. Apalagi kalau sampai Inara mengetahui semuanya. Masalahnya, Arya tidak yakin dia bisa menjalin hubungan sembunyi-sembunyi ini. Selama ini dia tidak pernah berselingkuh.
"Bagaimana?" desak Danu.
"Memangnya harus? Maksudku, bukankah cukup dengan aku bilang ke dia kalau aku akan tanggungjawab kalau dia misalnya hamil, tanpa harus menikahinya atau memberikan status untuknya?"
Danu tertawa.
"Arya, Arya. Jelas itu tidak cukup. Setiap wanita pasti membutuhkan kepastian. Apalagi dia sudah menyerahkan dirinya padamu. Lagipula kamu juga tidak akan merasa terlalu rugi, Luna itu cantik, dia juga seksi. Aku yakin kamu pasti setuju dengan pendapatku."
"Aku semakin pusing, Nu. Entahlah, bagaimana nanti. Aku tidak pernah membayangkan akan berada di posisi ini sebelumnya."
"Lebih baik kamu istirahat dulu saja, dan pikirkan semuanya baik-baik. Jangan sampai salah mengambil keputusan, karena akibatnya bisa fatal."
"Baiklah. Sepertinya aku harus kembali ke hotel sekarang. Terima kasih untuk masukan kamu, Nu. Nanti aku akan hubungi kamu via telepon kalau ada sesuatu yang mendesak."
"Oke. Selamat beristirahat, Sahabatku. Aku tahu, selain pusing, kamu pasti kelelahan karena semalam menikmati mangsa baru," ledek Danu sambil terkekeh.
Arya tidak menggubris apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Dia segera meninggalkan Danu, dan kembali ke hotel tempatnya menginap. Sepanjang jalan, Arya mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Danu. Dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah.
***
"Key, gue lagi pusing banget, asli."
Luna yang juga bingung harus berbuat apa memilih menghubungi Keyra, sahabatnya.
"Pusing kenapa, Lun? Bukannya Lo seneng, bisa pergi berdua sama bos idaman Lo itu?" tanya Keyra setengah sarkas.
"Ih, Lo nggak akan ngerti, Key."
"Ya makanya jelasin ke gue Lo kenapa, biar gue bisa ngerti."
"Tapi Lo janji dulu, jangan nyalahin gue."
"Apa dulu masalahnya."
Luna menimbang-nimbang, apakah dia akan memberitahu soal dirinya tidur dengan Arya atau tidak. Kalau dia tidak bercerita, semua akan menumpuk di pikirannya.
"G-gue tidur sama pak Arya," ungkap Luna pada akhirnya.
"Hah? Lo serius? Lo beneran tidur sama bos Lo? Tidur dalam artian itu, kan?" Keyra terkejut saat mendengar apa yang diungkapkan oleh Luna.
"Iya, itu. Gue beneran tidur sama pak Arya. Te-terus ... dia bilang, kalau sampai aku hamil, dia bakalan tanggung jawab, tapi dia bilang juga ... nggak mungkin nikahin gue. Karena dia udah punya istri."
"b******k juga bos Lo!"
"Tapi itu salah gue, Key. Gue nggak mabok, gue bisa nolak, tapi gue malah milih pasrah gitu aja pas dia ngajak gituan. Dia bahkan ngirain gue ini istrinya."
"Asli, Lo bego banget sih kata gue. Gue tau Lo emang suka sama pak Arya, tapi Lo nggak seharusnya ngelakuin itu. Lo nggak mikir apa, gimana masa depan Lo?" omel Keyra kesal.
"Iya, gue tau gue salah, Key. Gue emang kelewatan. Kalo gue sampe beneran hamil, gue juga nggak tau harus gimana. Gue nyesel banget, Key."
"Penyesalan Lo nggak guna, Na. Semua udah kejadian. Sumpah, ya. Gue nggak abis pikir sama cara berpikir Lo!"
"Gue nggak mungkin nuntut pak Arya, karena ini murni kesalahan gue. Dia juga bersikap biasa aja ke gue. Dia malah ngerasa bersalah sama bininya."
"Ya iyalah, jelas. Kayak yang Lo bilang, kan? Dia emang setia selama ini sama istrinya."
"Iya, dan terbukti. Dia emang segitu ngerasa bersalahnya sama bininya."
"Gue pusing, Key."
"Gue juga ikutan pusing, Na."