"Untuk kejadian semalam ..."
"Saya minta maaf, Pak. Saya minta maaf. Seharusnya saya bisa menolak Bapak semalam. Tidak seharusnya saya membiarkan semuanya terjadi. Maafkan saya. Kalau Pak Arya mau memecat saya, saya terima, Pak. Saya memang bersalah di sini," potong Luna, dan langsung berusaha minta maaf
Arya menghela napas panjang.
"Saya yang bersalah di sini, Luna. Saya sudah merusak masa depan kamu. Bagaimana bisa saya memecat kamu setelah apa yang terjadi? Hal itu tidak akan saya lakukan. Kamu tetap kerja bersama saya. Kalau seandainya nanti kamu sampai mengandung anak saya, dia akan menjadi tanggungjawab saya sepenuhnya. Walaupun kemungkinan besar saya tidak bisa menikahi kamu karena status saya sekarang."
Terdengar egois memang, tetapi Luna mengerti. Di matanya, Arya memang bukan tipe pria yang suka mempermainkan pernikahan. Dia juga tipe lelaki setia. Terbukti, selama menjadi asistennya, dia tidak pernah memergoki Arya menggoda wanita lain, termasuk terhadap dirinya.
"Saya mengerti, Pak. Dengan cara bapak tidak memecat saya, itu sudah lebih dari cukup. Sekali lagi maafkan saya, Pak."
"Jangan minta maaf, Luna. Saya sudah bilang, saya yang salah. Toleransi saya terhadap alkohol memang payah, ditambah pikiran saya penuh dengan istri saya. Saya yang seharusnya minta maaf sama kamu."
"Saya mengerti, Pak. Semalam Bapak juga menganggap saya sebagai istri Bapak. Apapun masalah yang sedang Bapak hadapi, semoga cepat selesai. Kalau begitu, apa saya boleh permisi ke kamar dulu, Pak? Saya harus berganti pakaian. Bapak juga. Hari ini peresmian kantor baru Bapak, jangan lupa."
"Silakan, Luna. Saya juga akan bersiap segera."
Luna bangkit dari duduknya, dan meninggalkan Arya, menuju ke kamarnya. Pikirannya menjadi campur aduk mengingat apa yang terjadi semalam. Ada rasa penyesalan, tetapi Luna sadar, penyesalan itu tidak akan berguna. Dia yang salah, dia juga yang harus menanggung semua akibatnya.
Arya juga pergi ke kamarnya. Dia tanpa sengaja melihat bercak merah di seprainya. Lelaki itu kembali merasa bersalah. Dia juga tidak menyangka kalau kesalahan seperti ini akan terjadi. Arya bisa saja menyalahkan Luna, tetapi dia tidak akan melakukan itu. Apa yang terjadi semalam karena dirinya yang mabuk. Kalau saja dia tidak kebanyakan minum, semuanya juga tidak akan pernah terjadi.
"Maafkan saya, Inara. Saya sudah menodai pernikahan kita. Saya sudah meniduri wanita lain. Kalau sudah seperti ini, bagaimana saya akan bersikap di hadapan kamu? Saya merasa sangat bersalah," ucap Arya sambil menarik rambutnya sendiri. Lelaki itu tengah duduk di pinggiran ranjang dengan mata yang memerah, dan sedikit berair.
Saat sedang kalut, tiba-tiba saja ponsel Arya berdering. Tubuhnya melemah saat melihat nama Inara ada di sana. Rasa bersalahnya terhadap wanita yang sudah beberapa tahun dinikahinya itu bertambah besar. Dengan gerakan perlahan, Arya akhirnya menerima panggilan yang dilakukan oleh istrinya.
"Halo, Inara." Arya menyapa dengan dihantui rasa bersalah.
"Halo, Mas. Maaf, ya. Aku baru bisa ngabarin kamu. Gimana kabar Mas Arya? Hari ini kamu sudah ada di Bali, ya?"
"Tidak masalah, Na. Kabarku baik, dan iya, aku sekarang ada di Bali. Kamu di sana juga baik, bukan? Kapan kamu pulang?"
Tidak seperti biasanya, Arya lebih kalem. Biasanya dia akan mencecar Inara karena wanita itu tidak menerima panggilannya beberapa waktu. Kali ini, Arya terfokus pada rasa bersalahnya terhadap Inara. Rasanya ingin sekali dia jujur, mengatakan yang sebenarnya, lalu minta maaf pada Inara. Sayangnya, Arya takut istrinya akan marah, dan berujung menceraikannya.
"Aku di sini juga baik, Mas. Dua hari lagi aku pulang. Aku kangen banget sama kamu, Mas." Inara berucap manja. Arya tersenyum mendengarnya.
"Aku juga sangat merindukan kamu, Na. Cepat pulang, aku akan menunggumu."
"Hari ini peresmian perusahaan Mas Arya yang baru, kan? Semoga sukses acaranya ya, Mas. Maaf ... aku tidak bisa mendampingi Mas Arya. Padahal seharusnya di saat seperti ini aku ada di sisi kamu, Mas."
Kalimat itu memang yang ditunggu oleh Arya. Sekarang dia senang bisa mendengarnya, tetapi di sisi lain, rasa bersalahnya terhadap Inara semakin besar. Dia yang sempat beranggapan kalau wanita itu tidak akan peduli dengan urusan perusahaannya, ternyata Inara memberikan support.
"Jangan minta maaf, Inara. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu. Terlalu banyak tuntutan yang kulakukan, padahal kamu juga memiliki kesibukan sendiri. Sekali lagi, maafkan aku, Na."
Arya hanya bisa berharap permintaan maafnya itu bisa mengurangi rasa bersalahnya pada Inara. Dia sekarang berada dalam dilema. Rasa bersalah pada dua wanita membuatnya sedikit stress.
"Mas, udah nggak apa-apa. Aku juga bersalah karena sering ninggalin kamu, kan? Nanti kalau jadwalku sudah tidak terlalu padat, aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di samping kamu. Bukan Mas Arya yang belum bisa menjadi suami terbaik, aku yang belum bisa menjadi istri yang Mas mau. Maafkan aku ya, Mas."
Dulu, mendengar itu seperti memang sudah seharusnya keluar dari mulut Inara, tetapi sekarang, Arya fokus pada kesalahannya sendiri. Dia merasa bersalah terlalu besar terhadap Inara. Arya bahkan tidak mampu memaafkan dirinya sendiri. Dia sudah menjadi penghianat di pernikahannya dengan Inara.
"Aku tunggu kamu kembali, Na. Tiba-tiba saja, aku ingin memelukmu erat-erat. Tolong maafkan semua kesalahanku, Inara."
"Mas, kamu kenapa, sih? Mendadak kamu jadi aneh. Kamu nggak biasanya kayak gini. Apa di sana ada masalah?"
"Tidak, Inara. Tidak ada. Aku hanya merindukan kamu. Itu saja. Jaga diri kamu di sana baik-baik, dan cepat pulang."
"Iya, iya, Mas. Aku akan pulang dua hari lagi. Sabar ya, Mas."
"Iya, Sayang. Kalau begitu, aku tutup dulu, ya. Aku harus ke kantor segera."
Inara mengiyakan, dan Arya segera memutus sambungan telepon di antara mereka. Lelaki itu membuka file foto yang ada di ponselnya. Di sana, Arya menatap foto Inara. Rasa bersalahnya semakin nyata. Lelaki itu tidak tahu lagi tentang bagaimana caranya dia bisa menebus semua rasa bersalahnya itu.
Arya tidak menyadari, kalau di depan pintunya ada Luna yang menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Gadis itu merasa egois karena sudah membiarkan semuanya terjadi.
"Maafkan aku, Arya. Seharusnya aku menyadarkan kamu semalam. Maaf, aku dibutakan rasa cinta. Seharusnya aku sadar diri, kalau dengan cara apapun, aku tidak akan mendapatkan hati kamu. Maafkan aku, Arya." Luna bergumam.
Ada tetes air mata yang membasahi pipinya. Kemudian, gadis itu cepat-cepat menghapusnya. Dia segera mengetuk pintu kamar Arya, karena mereka memang harus segera berangkat ke kantor.
Sementara itu, di Paris Inara tengah bertanya-tanya. Mengapa mendadak Arya berubah? Wanita itu curiga kalau suaminya menyembunyikan sesuatu.
"Aku harus menyelidiki mas Arya. Tidak mungkin tidak terjadi sesuatu, melihat sikapnya yang mendadak berubah seperti itu," ucapnya bermonolog.