MELAKUKAN KESALAHAN

1027 Kata
Luna dibantu oleh Danu membawa Arya ke kamarnya. Setelah itu, Danu langsung pamit pulang. Luna membuka kancing kemeja Arya agar membuatnya lebih rileks, setelah itu, dia menyelimuti tubuh lelaki itu perlahan. Saat dia sudah selesai menyelimuti tubuh lelaki itu, Luna tertegun sejenak. Dia memandangi Arya dengan seksama. Tiba-tiba saja, dia mengulurkan tangannya, dan membelai pipi Arya hingga beberapa kali. Luna tersenyum. Dia tahu apa yang dilakukannya ini salah, tetapi mungkin ini akan menjadi kesempatan terakhir untuknya bisa menyentuh Arya. l Sayang sekali, senyum Luna harus terhenti. Berganti dengan rasa panik yang teramat sangat. Hal itu terjadi karena jemari Arya sekarang menggenggam pergelangan tangannya erat. Tidak hanya sampai di sana, Arya juga menarik Luna dengan satu tarikan. Membuat tubuh wanita itu menimpa tubuhnya. Jarak wajah mereka begitu dekat. Luna dapat mencium bau minuman beralkohol yang telah diminum oleh bosnya itu. Dia mengamati wajah Arya yang matanya masih terpejam. Dalam jarak yang begitu dekat, Arya justru terlihat jauh lebih tampan. Kulitnya yang putih bersih, hidung mancungnya yang mempesona, juga bulu mata hitamnya yang begitu lentik. Itu sangat indah menurut Luna. Belum lagi bibirnya yang seksi, merah alami tanpa pewarna. Seandainya tidak ingat lelaki itu suami orang, mungkin Luna sudah menjamahnya. "Pak Arya, lepasin saya, Pak." Luna berusaha melepaskan diri sambil mencoba bicara pada Arya. Lelaki itu seakan tidak mendengar kalimat yang diucapkannya. Mendadak, Arya justru mengubah posisi mereka. Di mana Luna kini justru berada di bawah tubuh Arya, dengan dua pergelangan tangan dicengkeram oleh bosnya. "Kenapa kamu selalu menolakku, Inara? Apa kamu sudah bosan denganku, hm? Apa aku tidak menarik lagi di matamu, Sayang?" Arya bergumam khas orang yang sedang mabuk. Dia menyeringai, dan menatap Luna seolah dia memang tengah bicara dengan istrinya. Luna ingin menyangkal, dan menjelaskan pada Arya kalau dia bukanlah Inara, tetapi mulutnya seakan terkunci. Aura dominan Arya yang begitu kental membuat hatinya bergetar. Dia bahkan terpaku mengagumi ketampanan wanita itu. Padahal dia sekarang sedang dalam bahaya. "Malam ini, kamu tidak bisa menolak ku, Inara. Aku tidak peduli apa alasanmu, malam ini aku sangat menginginkanmu. Kita sudah terlalu lama tidak pernah melakukannya, bukan?" Dengan pandangan yang sedikit mengabur, dan kepalanya yang pusing, Arya berusaha membelai wajah wanita yang ada di bawahnya. "Tapi saya bukan ..." "Ssst! Jangan bicara apapun, Baby. Nikmati saja apa yang akan aku lakukan padamu malam ini. Aku akan membuatmu melayang," ucap Arya seraya meletakkan jari telunjuknya di atas permukaan bibir Luna. Perlahan, jari itu justru memainkan bibir sang gadis. Menimbulkan gelombang panas yang seakan mengaliri seluruh tubuh Luna. Dia seakan terhipnotis oleh apa yang dilakukan oleh Arya. Padahal dia tahu, kalau sekarang bosnya itu sedang berhalusinasi. Arya menyingkirkan jarinya. Lelaki itu kemudian menggantikan jari yang tadi digunakan untuk membelai dengan bibirnya. Semula hanya kecupan singkat beberapa kali, tetapi lama kelamaan, Arya memberikan ciuman yang memabukkan bagi Luna. Gadis itu seharusnya menolak, tetapi dia justru menikmati setiap gerakan Arya, bahkan membalasnya. Malam itu, Luna telah membawa dirinya sendiri dalam kesalahan besar. Dia benar-benar menghabiskan malam bersama Arya. Menjadikan ruang kamar hotel itu menjadi saksi penyatuan mereka. Membiarkan baju-baju yang melekat di tubuh mereka bertebaran di lantai. Luna seakan tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Dia hanya mengikuti nalurinya. Pagi harinya, Arya terbangun lebih dulu. Hari masih gelap, tetapi tidak dengan kamarnya. Kepala lelaki itu masih sangat pusing akibat acara minum-minum dengan Danu semalam. Seketika, seakan rasa pusing itu hilang begitu saja, saat dia menyadari kalau di ranjangnya dia tidak sendirian. Arya melihat dengan jelas, kalau di sisinya ada Luna yang tertidur pulas. Sementara dia tahu, kalau dirinya sekarang tidur tanpa busana. Untuk memastikan, Arya memeriksa sekitar ranjang, dan dia begitu frustrasi ketika mendapati pakaian mereka berserakan di lantai. "Apa yang sudah aku lakukan ke Luna semalam? Gila! Ini benar-benar gila! Kenapa aku melakukan ini?!" Arya memegangi kepalanya yang mendadak berat. Jujur saja dia tidak tahu harus bagaimana. Kalau posisinya masih sendiri, dia bisa dengan gampang bertanggungjawab menikahi Luna, tetapi sekarang posisinya berbeda. Dia telah memiliki istri. Bagaimana kalau sampai Luna hamil? Pikiran Arya sudah sampai ke mana-mana. Dia segera turun dari ranjang, dan membersihkan diri. Arya ingin membicarakan masalah ini nanti dengan Luna. Setelah dia membersihkan diri, dan berpakaian rapi, Arya segera menghampiri Luna yang masih tergolek di atas ranjangnya. "Luna, bangun. Cepat bersihkan diri kamu. Kita harus bicara. Saya tunggu kamu di ruang tamu." Hotel yang mereka sewa memang menyerupai villa. Tersedia beberapa kamar, dan juga fasilitas yang sangat memadai. Selain itu, mereka juga memiliki kebebasan pribadi, tanpa mengganggu penyewa hotel yang lain. Luna segera terbangun. Belum sempat dia menanggapi apa yang diucapkan oleh Arya, lelaki itu sudah pergi meninggalkannya. "Pak Arya pasti akan marah sama aku. Semalam yang mabuk hanya dia. Seharusnya aku bisa menolaknya, sehingga hal ini nggak pernah terjadi. Setelah ini dia pasti akan pecat aku. Aku memang bodoh! Aku bahkan sudah menyerahkan mahkotaku ke lelaki yang udah punya istri." Luna mengomeli dirinya sendiri. Dia menjadikan kedua lututnya sebagai tumpuan. Di mana sekarang kepalanya dia sandarkan ke sana. Luna menyesal, tetapi di sisi lain dia juga tidak merasa terlalu rugi. Mungkin hal itu karena dia menyerahkan dirinya pada lelaki yang dicintainya. Padahal itu sudah jelas-jelas salah. Daripada meratapi dirinya terlalu lama, dan membuat Arya menunggu, Luna memilih segera turun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia terpaksa mengenakan bajunya semalam karena tidak mungkin ke kamarnya untuk mengambil baju ganti terlebih dahulu. Selanjutnya, dia segera menemui Arya yang memang sudah menantikan kehadirannya. Perasaan Luna campur aduk. Ada rasa takut, cemas,dan lain sebagainya. "Ayo sarapan dulu. Saya sudah memesankan sarapan untuk kamu, semoga sesuai selera. Setelah itu, baru kita bicara dengan serius." Arya berucap tanpa ekspresi, dia bahkan tidak menatap ke arah Luna. "Baik, Pak." Luna hanya berani menyahut dengan dua kata itu. Dia tidak tahu harus berkata apa. Satu hal, dia sangat yakin kalau sekarang Arya tengah marah padanya. "Kenapa tidak dimakan? Kamu tidak suka menunya? Mau ganti?" teguran Arya membuat Luma tersadar. "Ti-tidak usah, Pak. Saya suka. Ini, saya akan makan." Luna segera memasukkan makanan yang ada di hadapannya ke dalam mulut. Dia tidak ingin membuat Arya repot. Sudah bagus dia diberi sarapan dulu sebelum nantinya dia dimarahi. Luna sudah menyiapkan diri, seandainya hari ini dia diberhentikan sebagai asisten Arya, dan dipulangkan ke Jakarta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN