DIMINTA MENGINAP

1059 Kata
"Luna, besok saya harus terbang ke Bali untuk menghadiri acara pembukaan cabang perusahaan parfum saya yang baru, jadi kamu harus ikut bersama saya. Maaf, mungkin ini terlalu mendadak, tetapi saya harap kamu bisa mempersiapkan diri dengan maksimal." Arya mengucapkan kalimatnya yang lumayan panjang itu sambil menatap wajah Luna yang duduk di kursi yang tepat ada di hadapannya. Luna mendengar semuanya, tetapi fokusnya justru pada wajah tampan sang bos. Ini sudah hari kesepuluh dia bekerja bersama Arya, tetapi setiap berhadapan dengan lelaki itu, seketika dia lemah. Arya terlalu menggoda untuknya. "Luna, halo, kamu mendengarkan saya?" Arya menggerakkan tangannya untuk menyadarkan Luna yang jelas-jelas terpana menatapnya. "Eh, anu, iya, Pak. Saya sudah mendengar semua yang Bapak sampaikan. Bapak bisa langsung mengirimkan file yang perlu saya pelajari ke email saya. Untuk persiapan lain, saya jamin, saya bisa mengerjakannya dengan cepat." Luna menyanggupi. Susah payah dia berusaha untuk menyembunyikan kekagumannya pada sosok Arya, tetapi sepertinya Luna gagal. Diam-diam Arya melengos, sambil tersenyum tipis. "Bagus. Saya mau kamu cekatan seperti biasa. Kita di sana selama tiga hari. Jadi kamu bisa perkirakan seberapa banyak pakaian yang kamu perlukan. Satu lagi, setelah kamu bersiap, langsung datang ke rumah saya. Besok pagi, kita berangkat bersama ke bandara dari rumah saya." "Ma-maksudnya saya menginap di rumah Bapak? Memangnya bu Inara tidak masalah kalau saya berangkat bareng sama Bapak ke bandara? Saya takut, nanti bu Inara salah paham, Pak." Sebenarnya, itulah alasan mengapa Luna mati-matian menyembunyikan rasa tertariknya pada Arya. Lelaki itu sudah beristri. Arya, dan Inara menikah tiga tahun lalu. Pertama kali mengetahui soal itu, Luna juga terkejut, sekaligus kecewa. Selanjutnya, dia berpikir kalau hanya sekedar mengagumi tidak masalah. Toh, dia tidak mengganggu rumah tangga bosnya. "Inara tidak ada di rumah. Dia sedang ada jadwal di Paris. Lagipula untuk apa dia salah paham? Kamu hanya menginap di rumah saya, dan kita tidak melakukan apa-apa. Kecuali kalau kamu memang ingin melakukan sesuatu bersama saya," canda Arya, dengan wajah yang terlihat serius. "Hah? Ma-maksud Bapak apa, ya?" Luna gelagapan. Sementara Arya justru tertawa melihat sekretaris pribadinya seperti sedang tertangkap basah. "Saya hanya bercanda, Luna. Kamu tidak perlu menganggap serius ucapan saya. Sekarang kamu boleh kembali ke ruangan kamu. Saya akan segera mengirimkan file yang perlu kamu pelajari. Kalau nanti ada yang perlu ditanyakan, kamu bisa langsung temui saya. Bagaimana?" "Siap, Pak. Saya tunggu email dari Bapak. Kalau begitu, saya permisi, Pak." Luna langsung mengambil langkah cepat, keluar dari ruangan bosnya. Bukan tanpa alasan, wanita itu sudah tidak sabar untuk jingkrak-jingkrak. Kapan lagi dia bisa satu rumah dengan bos idamannya? Impiannya untuk menjadi kekasih Arya memang kandas, tetapi setidaknya Luna masih memiliki kesempatan untuk sekedar menikmati ketampanan lelaki itu dari jauh. Cepat-cepat Luna masuk ke ruangannya, dan menutupnya rapat. Senyumnya mengembang, seolah dia baru saja mendapatkan jackpot milyaran. "Yes! Yes! Yes! Kapan lagi bisa satu rumah sama pak Arya. Omaygat! Mimpi apa aku semalam? Jadi deg-degan. Nanti malam aku pakai baju tidur yang mana, ya? Yang sopan, tapi tetep cantik. Astaga! Ingat Luna, dia bosmu! Dia sudah punya istri! Kamu mikir apa, sih?" Luna memukul ringan kepalanya sendiri beberapa kali. Berusaha menyadarkan dirinya kalau Arya tidak bisa dia gapai. Sementara itu, di ruang kerja Arya. Lelaki itu tampak menghubungi nomor seseorang beberapa kali, dan belum mendapatkan jawaban. Seakan tanpa lelah, Arya mencobanya lagi, dan lagi. Hingga akhirnya orang yang dia tuju menerima panggilannya. "Ha-halo, Mas. Maaf, ya. Aku telat angkat teleponnya. Tadi nanggung banget, lagi sesi pemotretan." Ternyata Arya menghubungi Inara. Dia bisa mendengar napas wanita itu tidak beraturan dari ujung sana. "Tidak masalah. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu, Na. Sejak sampai di Paris, kamu tidak memberiku kabar. Apa kamu terlalu sibuk, sampai lupa mengabari suamimu?" tanya Arya sedikit sarkas. Sudah tiga hari Inara berada di Paris, dan belum sekalipun wanita itu menghubungi Arya. Hal itu yang membuat Arya kesal, dan menyindirnya secara terang-terangan. "Ah, ehm ... soal itu aku minta maaf, Mas. Sesampainya di sini aku langsung dihadapkan jadwal yang padat. Sehingga aku tidak sempat untuk menghubungi Mas. Belum lagi jam kita berbeda. Jadi aku selalu urung untuk mengabari kamu, Mas." Alasan. Selalu itu yang didapat oleh Arya. Ini sudah kesekian kalinya Inara tidak menghubunginya saat ada pekerjaan di luar negeri. Setiap ditanya, Inara selalu beralasan dia sibuk. Padahal Arya selalu menyempatkan diri untuk memberi kabar setiap dia pergi ke manapun. "Ya sudah. Lain kali sempatkan waktu untukku di jam berapapun. Aku suamimu, saat aku tidur pun tetap bisa menerima panggilan darimu. Kamu bukan klienku yang harus memiliki jam khusus untuk menghubungiku." "Iya, Mas, iya. Aku minta maaf sekali lagi. Sudah dulu ya, Mas. Aku ada pekerjaan lagi setelah ini." Inara langsung memutuskan panggilan dari Arya begitu saja. Wanita itu tampak sangat terburu-buru. Arya ingin menaruh curiga, tetapi dia tipe lelaki yang realistis. Dia butuh bukti, sebelum menghakimi seseorang. Semenjak setahun belakangan ini, banyak sekali perubahan Inara. Wanita itu tidak lagi fokus menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Banyak waktunya habis di luar rumah. Perhatian Inara pun semakin sedikit untuk Arya. Padahal lelaki itu sudah berusaha menjadi suami yang baik untuknya, tetaplah sayang, semua seolah tak cukup bagi Inara. Belum lagi soal kebutuhan biologis. Arya sudah memiliki istri, tetapi dia seolah masih bujangan. Di saat hasratnya sering meninggi di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, dia tidak bisa melampiaskan itu pada sang istri. Seringkali dia terpaksa memuaskan hasratnya sendiri. Arya pusing memikirkan semuanya. Dia memilih memasukkan ponselnya ke dalam saku jas, dan berjalan menuju luar ruangan. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dan memasuki area pantry. Banyak pasang mata karyawati fokus ke arah Arya. Sama dengan Luna, mereka juga tahu kalau Arya sudah menikah, tetapi pesona seorang Arya memang susah untuk ditolak. Lelaki itu membuat secangkir kopi. Di saat pikirannya pusing seperti sekarang, Arya selalu mengatasinya dengan meminum kopi hasil racikannya sendiri. Sebuah racikan yang sampai detik ini belum bisa digantikan, bahkan dengan racikan kopi Inara sekalipun. "Pak Arya, bikin kopi aja ganteng banget, ya?" bisik salah satu karyawati kepada salah satu temannya. "Pak Arya ngapain aja selalu ganteng emang. Beruntung banget ya jadi bu Inara. Setiap hari bisa lihat wajah gantengnya pak Arya. Apalagi kalau mereka lagi ..." "Husst! Jangan mikir kejauhan. Ayo balik ke ruangan kita. Nanti kalau ketahuan sama pak Arya kita bisa dipecat." "Hihihi, abisnya pak Arya memang enak buat dihaluin. Pasti badannya kotak-kotak kayak di drakor-drakor." "Kayaknya kamu perlu diruqyah, deh. Udah yuk," ucap karyawati itu sambil menarik temannya keluar dari pantry.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN