Bagian 15 : Key Marah

2213 Kata
Aldo duduk di atas sofa yang ada di dalam apartemen Key. Dengan gadis itu yang sedang membereskan sisa-sisa peralatan dapur yang baru saja ia pakai memasak. Key menatap Aldo yang dengan santainya masuk ke dalam apartemennya dan mengganggu kesenangannya dengan kesendiriannya saat ini. Key memang mengajak Keiko untuk makan malam di apartemennya, setidaknya untuk merayakan diterimanya ia bekerja saat ini. Namun Keiko sedang ada tugas di luar kota untuk pembukaan butik baru nya di Solo, dan baru saja mengabarinya beberapa menit yang lalu. Aldo masih duduk, memperhatikan Key yang sudah meletakkan beberapa jenis makanan di atas meja. Key duduk dan menatap Aldo yang masih saja diam dan menatapnya, seolah ada sesuatu yang salah di wajahnya "Kau tidak ingin makan? Jika tidak, lebih baik kau keluar saja dari apartemen ku. Membuat selera makan ku hilang saja!" Key mengambil sendoknya dan memasukkan jenis makanan itu ke dalam mulutnya. Sesekali menatap Aldo yang bersedekap d**a di depannya. "Kenapa?" Key berhenti mengunyah dan menatap Aldo dengan kerutan di atas keningnya. Menatap lelaki itu dengan alis berkerut "Kenapa apanya? Kenapa kau bertanya dengan sangat rancu sekali?" "Kenapa haru J-Group dan kenapa harus pasar saham Key? Kenapa? Aku bertanya padamu. Mengapa dan kenapa harus pasar saham yang kau incar? Aku sudah memberitahukanmu bahwa pasar saham itu bukan tempat yang sesuai denganmu Key. Kenapa kau sama-sekali tidak pernah mendengar ku?" Key menatap Aldo dengan kening berkerut "Kenapa kau sampai semarah itu? Kau sendiri yang menolak ku dari GH-group, dan aku melamar di perusahaan terbesar selain Gh tentu saja!" Aldo memijat keningnya, berhadapan dengan Key memang sangat butuh kesabaran yang ekstra dan juga tidak boleh marah. Key itu adalah gadis yang harus Aldo lindungi dan tidak boleh ia buat menangis lagi. "Key, aku tidak bisa memberitahu apa yang terjadi saat itu. Dan mungkin kau juga tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan. Tapi, aku tidak ingin kau bergabung di sana Key. Itu bukan tempat yang cocok untuk mu!" Aldo mengambil tangan Key yang berada di atas meja. "Ihhh, apaan sih Al? Lepasin tangan gue, kesel banget sih!" key menarik tangannya dan menatap Aldo yang sedang berdiri di sebelah kursi tempat ia duduk "Lagipula, aku dah diterima disana. Besok udah mulai training, gak ada istilah keluar lagi!" Aldo menghela nafasnya "Kenapa kamu tidak mau bekerja di perusahaan asuransi yang aku bilang sama kamu Key? Jabatan kamu dan gajinya bahkan lebih besar jika harus bekerja dengan perusahaan saham Key!" "Aldo pliss, kalo cuman mau bahas masalah ini. Lebih baik kamu pergi balek ke apartemen kamu sekarang!" Aldo diam, dan memilih untuk duduk di sebelah Key. Menatap makanan itu namun tak juga mengambilnya. Membuat Key menatap lelaki itu dengan alis berkerut. "Ambil makanan aku dong Key!" Key tidak habis pikir dengan Aldo, namun tangannya ikut bergerak. Mengambil piring dan mengisi sengaja jenis makanan dengan lauk di atasnya dan menyerahkannya pada Aldo. Berusaha untuk tidak membahas masalah pekerjaannya lagi dan berusaha mengabaikan Aldo yang lagi-lagi bertingkah dengan memegang kedua bahunya. Posisi yang jelas merugikan bagi Key. Karena dengan jelas, ia bisa melihat tatapan mata Aldo yang teduh. Key menatap Aldo dengan penasaran. "Key, aku hanya ingin yang terbaik buat kamu. Tapi, daripada harus bekerja di J-group. Lebih baik kamu kembali ke perusahaanku saja. Aku sangat tidak setuju jika kau bekerja untuk lelaki itu!" "Yak, Al lepas dong. Sekarang dengar, mau aku bekerja untuk siapa pun dan dimanapun. Itu gak ada hubungannya sama kamu Al. Gak ada apa-pun dengan kamu, daripada kamu terus mengusik kehidupan aku, lebih baik kamu keluar! SEKARANG!" Brukk---"Aaaaa! Key.... Kamu apaan sih!" Aldo terjatuh ke bawah karena dorongan dari Key. Mata gadis itu masih melotot tidak peduli menatapnya. Aldo bangkit dan kembali duduk di sebelah Key. Mengambil piringnya dan memakan masakan Key yang selalu saja enak di lidah nya. Key hanya mendengus kesal, ia menatap Aldo dengan raut wajah penuh permusuhan. Ia ingin sekali lelaki itu musnah dari hadapannya. Key selesai makan, begitu pula dengan Aldo. Namun, kali ini langsung membantunya beres-beres. Bahkan Aldo sendiri yang mencuci semua piring kotor yang tadi mereka pakai untuk makan. Key hanya duduk di depan tv dan sesekali memperhatikan Aldo yang fokus untuk mencuci piring. Tampan... Key langsung mengalihkan wajahnya, langsung berperang dengan pikirannya sendiri. Bisa-bisanya ia masih memuji ketampanan Aldo di saat seperti ini. Namun, jika dipikir-pikir lagi. Aldo itu memang sangat tampan. Jika sifat Aldo tidak menyebalkan, mungkin ia tidak akan sampai sebenci ini pada laki-laki itu. Key sadar saat Aldo memberikan secangkir teh hangat padanya. Aldo yang sudah selesai berbenah menatap Key yang sepertinya sedang melamun. Ia mengambil air hangat dan memberinya pada Key. Namun kali ini Aldo tidak berkata apa-apa, ia langsung duduk di sebelah Key dan menyandarkan kepalanya di sofa. Kepalanya benar-benar sedang di penuhi dengan berbagai macam pertanyaan. "Maaf!" "Hah?" Key tiba-tiba menatap Aldo yang mengatakan maaf. Tidak, ini seperti bukan Aldo saja batin Key. Sejak tadi ia memang sedikit penasaran dengan Aldo, lelaki itu seperti banyak masalah dan membuat Key tidak tahan melihat Aldo. Jujur saja, Key sebenarnya sudah memaafkan Aldo sejak dulu. Ia tidak ingin menjadikan siapapun menjadi musuhnya. "Maaf karena aku salah saat itu, membuatmu pergi dari sini. Jikalau saja kau tau seperti apa kebenarannya, maka mungkin hubungan kita tidak akan sampai saat ini. Saat itu, saat giliranmu untuk tampil di panggung. Aku memang mengganti naskah pidatomu, karena. Karena aku tidak tau bahwa kaulah yang akan maju saat itu. Aku salah Key, maaf membuatmu sampai pingsan saat itu!" Aldo duduk tegap dan menatap Key yang juga sedang menatapnya. Key mengerjapkan matanya saat menatap Aldo yang sepertinya benar-benar tulus untuk meminta maaf padanya. "Tapi kenapa kau selalu menjahiliku saat itu Al? Aku tidak ingin bermusuhan denganmu, tapi kau sangat-sangat menyebalkan!" "Aku minta maaf, kau mau memaafkanku Key?" "Ya...tapi, kenapa kau terlihat seperti banyak masalah? Apa sesuatu terjadi padamu?" Aldo tiba-tiba merasa senang, bahkan tidak sadar ia langsung memeluk Key. Melampiaskan segala rasa bersalahnya selama ini. Namun Aldo sadar bahwa Key jelas menolak pelukannya, "Sebentar saja Key..Aku mohon padamu!" Key langsung terdiam, rasanya benar-benar aneh saat mendengar Aldo memohon padanya. Key hanya bisa pasrah saat Aldo memeluknya lama, meski kata-kata yang keluar dari mulut lelaki itu hanya sebentar. ***** Key bangun dengan cepat, menatap pantulan dirinya yang dibalut dengan setelan jas merah biru tua. Mengambil kunci mobil nya dan "Perfect, ayo Key. Bekerja itu adalah hal yang menyenangkan!" Key berjalan menuju pintu dan Klik... Klik... Key membalikkan badannya, menatap sosok yang ada di depannya. Yang juga baru keluar dari apartemennya. Key menatap Aldo yang juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan. "Apa kamu lagi-lagi menunggu untuk keluar?" Aldo memainkan matanya saat menatap Key "Rese deh!" kesal Key dan berjalan menjauhi Aldo. Namun lagi-lagi lelaki itu mengikutinya sampai di depan lift yang masih menunjukkan angka 4. Karena mereka di lantai 2, jadi mereka harus menunggu beberapa menit. "APA!" kesal Key saat menatap Aldo yang tersenyum senang. Padahal seingat Key, ia sudah membuat ulah pada Aldo semalam. Tapi tetap saja Aldo itu tidak pernah berhenti untuk mengejarnya. "ya apa? Aku kan lagi nunggu lift juga, orang lift nya cuman satu aja. Tapi, kalo kamu memang mau bareng sama aku. Tinggal bilang aja Key, gak usah nunggu pintu ku terbuka baru kamu keluar!" Aldo mengedipkan sebelah matanya dan memajukan badannya pada Key. Key mundur beberapa langkah, hingga saat kepalanya hampir membentur dinding. Tangan Aldo refleks untuk menahan kepala Key. Mata mereka saling menatap. Tatapan yang terkunci satu-sama lain. Aldo menatap netra mata Key yang selalu saja berhasil membuatnya untuk menikmati posisi mereka saat ini. Aldo masih ingat bagaimana ia memeluk Key semalam. Setidaknya hubungan mereka sudah tidak seburuk hari-hari yang lalu. Untuk menjaga Key, Aldo memang harus meminta maaf dan memulai hubungan yang baru. Meski sebenarnya, ia tidak menceritakan kebenaran yang terjadi pada mereka. Ting.. Aldo dan Key refleks saling menjauh saat mendengar bunyi pintu lift yang terbuka. Tatapan Key dan Aldo langsung menatap sosok lelaki yang saat ini menatap mereka berdua dengan tatapan penuh dengan kecurigaan. Zane meneguk air ludahnya sendiri, tangannya mengambil kain pel dan keluar dari dalam lift. Aldo dan key saling melirik, namun Key langsung masuk lebih dulu di susul oleh Aldo. Meninggalkan Zane yang berdiri di depan lift yang hanya ada satu itu. "Key itu gadis yang cantik, aku sangat tidak mengerti mengapa lelaki aneh itu yang sangat tidak setampan aku ini. Berani mendekati Nya?" Zane miris sendiri lalu mengeluarkan cermin kecil yang selalu ia bawa "AKU TAMPAN, DAN BERSINAR. HANYA SAJA DOMPET KU SERING KOSONG!" Zane miris sendiri menatap pantulan dirinya yang benar-benar tampan dan bersinar. Pesona kepriaan nya langsung keluar saat ia menatap dirinya di cermin. "AKU HARUS LEBIH GIAT MENCARI DUKUN SEPERTINYA!" Aldo dan Key sampai di parkiran, sebelum Key memasuki mobil gadis itu. Aldo menahan gadis itu "Semangat Key, aku tau kau semangat untuk kerja pagi ini. Jika kau tidak mengerti, kau bisa bertanya padaku. Dan jangan terlalu dekat dengan orang-orang yang baru kau kenal. Dan selalu jaga diri, aku mohon padamu!" Key menatap Aldo, lalu mengangguk. Masa lalu mereka memang kurang baik. Namun Key sudah berjanji untuk memaafkan lelaki itu. Dan sekarang, Aldo juga tidak semenyebalkan sebelumnya. Meski ke narsiran Aldo masih tetap sama. Key membelalakkan matanya saat Aldo memasang sesuatu di pergelangan tangannya. "Jika ada sesuatu yang mencurigakan, kau bisa tekan gelang ini. Aku akan datang secepat yang aku bisa. Sudah, masuklah dan semangat kerja hari ini!" Key menatap Aldo dengan kening berkerut, lelaki itu bahkan sudah memasukkannya ke dalam mobilnya sendiri. Key masih berada di dalam mobil tanpa melakukan apapun. Ia menatap gelang hitam yang diberikan Aldo padanya. Ia menatap gelang itu lama lalu hanya menaikkan kedua bahunya, ia melambaikan tangannya pada Aldo lalu pergi dari daerah parkiran. *** Tuan muda memang pindah apartemen Tuan besar, pagi ini. Kami menemukan tuan muda Aldo bersama dengan sosok seorang gadis. Kami juga tidak tau sejak kapan, karena petugas apartemen itu hanya bilang bahwa tuan muda sudah lama tinggal di apartemen itu. Hanya saja sering tidak kembali dan jarang berada di apartemen itu. Namun akhir-akhir ini, tuan muda sudah sering berada di sana. Sosok lelaki yang sedang duduk di atas sofa dengan sebuah rokok yang di apit oleh pergelangan tangannya itu hanya menghela nafas. Frederick, lelaki itu meletakkan rokoknya. Lalu mengambil gambar yang ada di depan meja. Frederick terkekeh,di dalam gambar itu dengan jelas ia melihat bahwa putranya itu sedang bersama dengan putri Sebastian. "Apa kau tau seperti apa hubungan mereka?" "Saya kurang tau tuan besar, tapi sejauh yang saya amati selama ini. Tuan muda sangat jarang berhubungan dengan wanita. Hanya beberapa saja, dan itu pun jika berhubungan perusahaan. Sepertinya tuan muda dekat dengan gadis itu tuan. Apa perlu saya mencari tahu mengenai gadis itu!" "Tidak, tugasmu cukup sampai di sini saja dulu. Tetap pantau mereka dan apa yang sedang mereka lakukan!" "Baik tuan besar!" Frederick bangkit berdiri saat tangan kanan nya itu sudah pergi dari ruangannya. Ia menarik nafas dalam, lalu berjalan memasuki ruangan pribadinya. Terdapat sebuah gambar di dalam ruangan itu. Gambar yang membuat Frederick sangat marah dan menyesal dalam waktu bersamaan. Dari gambar itu, perhatian Frederick tertuju pada sosok lelaki yang tepat berada di sebelahnya. "Aku tidak tau apakah putrimu itu sepintar dirimu Sebastian. Dan aku tau bahwa aku sudah salah terhadapmu. Aku....tidak seharusnya melakukan itu padamu dulu. Aku salah, dan aku harap putrimu bukanlah sesuatu yang menjadi penghalang bagi kami. Jika putrimu seperti itu, maka maafkan aku. Putrimu mungkin akan segera menyusulmu juga!" *** Aldo membaca dokumen yang baru saja diberikan oleh Tito padanya. Sosok dokter kepercayaannya itu sedang duduk di depannya saat ini. Bersama dengan Cecil yang baru saja masuk ke dalam ruangan pribadinya. Cecil hanya menatap Tito dengan tatapan tidak tertarik. "Ayolah Cecil, apa kau benar-benar tidak ingin berkencan denganku?" Tito masih gencar untuk mendekati adik sahabatnya itu. Tito sudah kenal Cecil sejak lama, gadis itu selalu saja menatapnya dengan pandangan tidak tertarik. Seolah Cecil sama-sekali tidak ingin menatapnya. Hal itu membuat Tito semakin penasaran padanya. Cecil tersenyum penuh rencana, ia menatap Tito dan menarik dasi lelaki itu. Wajah mereka sudah sangat dekat. Dan Cecil sangat sadar bahwa saat ini Tito sedang gugup menatapnya. Cecil masih tersenyum "Begini saja kau sudah gugup. Apa kau tidak pernah....!" Cecil menatap ke bawah Membuat Tito langsung melepaskan dirinya dari Cecil "Apa maksudmu? Kenapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu hah? Kenapa harus menatap ke bawah?" Tito berteriak sambil memalingkan wajahnya yang memerah "Hahahahahaha....padahal aku hanya mengetesmu saja. Tapi kau sangat serius, membuatku sedikit percaya.!" "Percaya apa hah? Dasar m***m!" kesal Tito Aldo hanya terkekeh lalu menatap keduanya dengan tatapan geli. Cecil memang lah adiknya. "Jadi, apa kematian 5 tahun lalu itu memang benar-benar tidak benar? Darimana kau mendapatkan info ini?" Tito mendekat namun mengambil duduk sedikit jauh dari Cecil, ia masih merasa trauma dengan gadis itu. "Aku mencari tahunya dari berkas-berkas yang ada di rumah sakit. Kejadian lima tahun lalu tercatat di sistem bahwa sosok itu memang mengalami kecelakaan. Namun, ketika aku mengambil data pusat dan melihat cctv saat itu. Sosok itu sengaja di tabrak, dan melakukan rekayasa. Dan pada saat itu, ayah Key masih bekerja sama dengan perusahaan ayahmu. Semakin ke sini, aku makin merasa bahwa ini semua ada hubungannya dengan ayahmu!" Aldo mengangguk "Aku sudah tau itu, kita hanya perlu membuktikannya dengan mencari tahu siapa saksi yang ada saat itu. Apa kau bisa membantuku lagi?" "Aku bisa, dan sepertinya aku harus pergi saat ini. Aku takut orang ayahmu sadar bahwa kita sedang mencari tahu sesuatu darinya" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN