Bagian 14 : J-Group

2030 Kata
Kaki jenjang Key yang dibalut dengan heels hitam yang membuat penampilan Key lebih tinggi dan elegan. Kaki itu memasuki ruangan dengan segala sudut pandang yang Key nilai sedikit "Nyaman". Di tengah ruangan kerja itu terdapat sebuah meja, dengan sosok lelaki yang sedang menautkan jemarinya, hampir menyentuh dagunya. Matanya yang tajam menatap ke arah dua orang yang baru saja melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. "Boss, dia adalah gadis yang mengirimi CVnya pada kita semalam untuk wawancara kerja jabatan General manager!" Damian, si lelaki bermata tajam itu menatap Key dengan tatapan menilai. Beruntungnya Key sudah tidak lagi asing dengan tatapan menilai seperti itu. Bahkan bisa dikatakan, perbedaan orang Indo dengan orang USA itu adalah di dalam cara menatap. Orang luar itu cenderung menatap dengan tatapan datar, tajam, dan menurut Key itu adalah penampilan dari sosok yang berkarisma. Tidak heran, karena dari cara menatap seperti itu. Kebanyakan orang akan merasa terintimidasi. Terlebih, saat ini Key dalam tahap wawancara. "Silahkan duduk Nona Key!" Key mendudukkan diri di atas sebuah kursi tepat di depan meja itu. Key terlihat sangat santai, tidak merasa terintimidasi dengan tatapan tajam yang masih menghujaninya sejak ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan kerja itu. "Saya Damian, CEO dari J-group!" Damian memperkenalkan diri, lalu menurunkan tangannya yang tadi saling bertautan di depan wajahnya. Tatapan tajamnya juga sudah berubah, bagi Damian. Gadis yang baru saja masuk ke dalam ruangannya itu sedikit berbeda, bahkan tidak terintimidasi dengan tatapan tajamnya. Ia juga sudah membaca sedikit Cv dari gadis itu. Dan 'the point is' gadis itu benar-benar menunjukkan lulusannya. Namun, bagi Damian. Lulusan mana, asal mana dan pendidikan apa tidak ada pengaruhnya dengan perusahaan yang sedang ia kelola saat ini. Semua orang, yang tidak punya sekolah. Mantan narapidana, pemancing, semuanya belajar dari apa yang sedang mereka hadapi saat ini. Karena pada faktanya, hidup itu tidak bisa di tebak. Sedetik saja, semua kehidupan bisa berputar. Dan alasan terpenting lainnya adalah, karena Damian juga sama dengan mereka, namun ia hanya sedikit beruntung karena di sekolahkan.Damian seolah merasa sedikit familiar dengan gadis di depannya itu. Pagi ini, banyak berita yang beredar. Menjadi trending topik dan hangat di kalangan para media. Dan percayalah, Damian yang tidak terlalu suka dengan media atau sebagainya kali ini menampik fakta itu. Karena berita itu adalah mengenai rivalnya, Aldo, CEO dari GH group yang sering membuatnya kesal. Terlepas dari itu, Damian mulai menatap dan membuka lembar pertanyaan yang sudah disiapkan oleh Josua--Sang sekretarisnya. Damian menatap Josua yang masih betah berada di dalam ruangannya, entah karena ada sesuatu yang penting atau karena gadis yang ada di depannya saat ini. Tatapan Damian tertuju pada gadis bernama Key itu, berusaha untuk tidak merasakan aura Josua yang membuatnya sedikit kesal. Bagaimana tidak kesal? Sejak masuk ke dalam ruangannya, Josua menampilkan senyumannya yang baginya sangat menyebalkan. Dan bahkan sangat jarang diperlihatkan oleh sang sekretarisnya itu, dan itu membuat Damian merasa jijik? "Bisakah kau bertingkah biasa saja Josua? Atau aku akan melempar wajahmu yang menjijikkan itu ke dalam lubang sumur? Tidak biasanya kau tersenyum sepanjang waktu, apa kau kehilangan otakmu atau syarafmu ada yang putus?" Damian akhirnya angkat bicara. Pedas dan menusuk, selalu to the point. Damian besar dengan hal itu, dan juga prinsip hidupnya. Josua menatap bosnya dengan tatapan tidak peduli "Ada yang berkata bahwa tersenyum menghilangkan stress bos. Jadi aku sedang berusaha melakukan saran itu"! Tangan Damian mengepal dan meremas kertas wawancara itu, menatap Josua dengan tatapan tajamnya "Apa maksudmu melihat wajahku itu adalah hal yang membuatmu stress? Jika demikian, silahkan angkat kaki dari kantor ini dan bawa semua---!" "Tidak bos, astaga! Kenapa anda ini sangat kolot sekali? Aku hanya ingin...!" Josua refleks menutup kedua mulutnya lagi " Mak--!" "KELUAR!" Josua langsung lari terbirit-b***t dari dalam ruangan kerja Damian, sementara lelaki itu hanya menghela nafasnya. Pasrah. Ia sendiri tidak tau apa alasan ia tetap mempertahankan sekretarisnya itu. "Maaf atas ketidak nyamanan nya nona!" Key tersenyum dan mengangguk "tidak masalah pak, dia memang seperti itu bukan?" Damian menatap Key dengan alis yang bertaut, seolah bertanya apa yang membuat gadis itu berkata demikian "Apa kalian saling kenal?" Key menggelengkan kepalanya, ia memang tidak kenal dengan lelaki yang ia yakini adalah sekretaris dari sosok yang ada di depannya. "Aku bahkan baru kali ini bertemu dengannya, namun dari tingkahnya. Sepertinya dia orang seperti itu!" Damian mengangguk-anggukkan kepalanya paham, "Jadi, apa pandanganmu mengenai pasar saham itu nona?" Key tersenyum, "Banyak orang berkata bahwa yang hitam akan tetap hitam, yang kotor akan tetap kotor. Tapi menurutku tidak, jika kita memberikan apa yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan! Sama halnya dengan pasar saham, mereka berkata bahwa pasar saham itu adalah sebuah tempat kotor yang hanya diisi oleh manusia-manusia yang ingin uang. Meskipun itu adalah sebuah kebenaran, tapi menurutku kita bisa memberikan sesuatu untuk menghilangkan pandangan itu. Membuatnya bersih dan memberikan keuntungan yang lebih besar!" Damian menarik sudut bibirnya, jujur saja. Dari beberapa orang yang sudah interview di perusahaannya untuk jabatan itu. Belum ada yang memberikan pandangan seperti itu sebelumnya. Baru kali ini ia mendapati ada orang yang memandang dari sudut pandang yang berbeda. "Aku tidak yakin pandanganmu itu akan tetap kau pegang jika sudah bekerja dan mengetahui sistemnya nona!" "Key-panggil saja aku dengan Key pak. Nona itu serasa panggilan yang tidak nyaman!" Damian menatap Key lagi, ia akui ia cukup terkesan dalam first impression mereka kali ini. "Jadi nona, maaf, maksudku jadi Key. Apa kau yakin akan tetap memegang pandangan mu itu?" "Aku bisa memegangnya untuk sesuatu yang aku percaya benar pak! Bahkan jika semua menolaknya dan memandangnya sebagai sesuatu yang lucu. Aku sangat yakin bahwa ada tidak percaya dengan perkataan seorang gadis sepertiku. Tapi, apa yang kita dapat jika kita tidak mencobanya?" Damian kembali manggut-manggut "baiklah, aku rasa cukup itu saja yang aku tanyakan padamu. Dan selamat, mulai besok kau akan di training menjadi seorang GM disini. Josua akan menjadi leadermu dalam tiga bulan kedepan. Selamat bergabung dengan perusahaan J-Group Key, aku harap kau bisa memberikan sebuah perubahan dan menjadikan perusahaan ini menjadi top nomor satu!" Key tersenyum, ia menerima uluran tangan Damian "Terimakasih sudah memberikan kepercayaan pada saya sir, saya tidak akan mengecewakan anda!" Damian mengangguk, bahkan sampai saat gadis itu keluar dari dalam ruangannya. Damian masih menaikkan kedua sudut bibirnya. Entah lah, tapi ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan gadis itu. Terkesan tenang dan sangat santai. Dan gadis itu masih sama seperti kejadian tempo hari lalu saat ia tidak sengaja bertemu dengannya. Gadis itu mungkin sudah melupakan momen itu, tapi bagi Damian. Itu adalah momen yang tidak akan pernah dilupakan. **** Key keluar dari dalam perusahaan itu dengan senyum yang terbit di wajahnya. Ia tidak menyangka akan diterima masih hanya dengan satu pertanyaan. Tidak sia-sia ternyata Key menimba ilmunya jauh-jauh dari tempat kelahirannya. Pendidikan yang tinggi, ilmu yang diperoleh adalah kunci untuk menguasai dunia. Hidup Key itu penuh dengan lika-liku yang pahit, seseorang pernah berkata bahwa ilmu itu harus di kejar jika ingin mendirikan sebuah perusahaan di Mars. Dan Key sangat yakin apa maksud dari perkataan itu. Tidak hanya ilmu, namun yang paling berharga adalah pengalaman. Key menatap langit yang kali ini sangat cerah, ia memejamkan kedua sudut matanya. "Andai ayah masih ada saat ini, ayah bisa melihatku sudah berada di titik ini. Anda ayah tau.....Key Rindu Ayah!" Key menghela nafasnya lalu kembali menatap perusahaan itu lagi. Ia tetap tersenyum, lalu memasuki parkiran, menghidupkan mobilnya dan berlalu dari gedung besar itu. Tanpa sadar bahwa sejak tadi, Damian memperhatikan gadis itu dari atas. Ia tersenyum saat gadis itu tersenyum. Damian lalu menatap ke atas, lalu menatap langit yang memang cerah saat ini. Sudah sangat lama rasanya Damian tidak merasa sebahagia saat ini. Ia memejamkan matanya dan merasakan cahaya yang menerpa wajahnya. Di lain sisi,Ben juga mengawasi pergerakan gadis itu. Ben keluar dari tempat persembunyiannya, dengan teropong yang masih lengket di matanya saat melihat bahwa gadis itu memang benar Key. "Ini benar-benar akan menjadi masalah besar bagi boss!" Ben berkata dengan dirinya sendiri. Tidak sadar bahwa saat ini Ben sedang diperhatikan oleh orang yang sedang berlalu-lalang. Tidak berbeda jauh dengan Aldo, cara Ben menguntit pun sangat-sangat tidak elegan. Bisa-bisanya Ben mengintip Key dari balik tong sampah yang ada di tengah-tengah lapangan perusahaan J-Group itu. Benar-benar sangat tidak tau strategi. Dan saat ini, Ben dan Aldo saling menatap satu sama lain dari teropong mereka masing-masing. Ben langsung menurunkan teropongnya, lalu menatap sang bos. "Bos? Apa anda sudah tau?" Aldo mengalihkan perhatiannya, memilih berjalan memasuki mobilnya yang terparkir tidak jauh. Meninggalkan Ben yang hanya melongo di tempatnya saat ini. Aldo terkekeh dalam hati, saat ia melihat senyum gadis itu tadi. Ia yakin bahwa Key diterima bekerja di perusahaan itu. Ia menutup kedua matanya, lalu menyandarkan bahunya yang terasa lelah. Aldo, ia sangat tidak suka dengan hal ini. Ia sangat tidak ingin Key berhubungan dengan perusahaan itu. Karena ia sadar, mulai besok. Akan menjadi hari yang berat untuknya, dan juga untuk orang-orang yang ada di sekitarnya. Aldo mengambil ponselnya, "Di cafe dekat perpustakaan, aku ingin berbicara denganmu!" Aldo langsung mematikan sambungan teleponnya dan segera melajukan mobilnya. *** Tito meneguk kopi hitamnya lalu menatap sosok yang baru saja tiba di depannya. Ia berdecak kesal, usai di hubungi Aldo. Ia langsung bergegas menuju cafe, namun sampai 1 jam ia menunggu. Lelaki itu tidak tiba juga , dan bahkan saat Aldo sudah berada di depannya. Lelaki itu hanya menyandarkan tubuhnya di sofa dengan wajah masam dan penampilan yang sedikit kacau. Tito menarik nafasnya lalu berusaha untuk tidak melampiaskan kemarahannya pada Aldo saat ini. "Kau kacau, ada apa denganmu?" "Apa kau sudah lama menungguku?" Tito yang tadi sudah tak lagi kesal, tiba-tiba ingin menyiram kopinya pada Aldo saat ini juga. Sudah tau, malah bertanya lagi. Sebenarnya bisa saja Tito pergi sejak tadi, namun ia sangat menghargai Aldo sebagai pasiennya dan juga sebagai temannya. "Apa yang sedang terjadi padamu?" Aldo kembali menyandarkan badannya ke sofa, meneguk dua gelas alkohol sekaligus sedikit membuat kepalanya tiba-tiba pusing. Sudah cukup lama, terakhir yang Aldo ingat adalah beberapa bulan yang lalu ia minum alkohol sampai mabuk. Perasaannya saat ini benar-benar kacau dengan alasan yang sangat rumit. "Aku ingin kau membantuku lagi!" Tito menahan tangan Aldo yang ingin meneguk alkohol lagi, "Aku akan membantumu jika kau tidak dalam keadaan mabuk. Tapi jika kau mabuk, maka aku akan meninggalkanmu sendirian di sini! Aku tidak peduli jika kau mati di sini!" "Holll...Tega sekali!" kekeh Aldo malah mengambil gelas berisi alkohol lagi dan meminumnya "Rasanya pahit, aku tidak bisa merasakan rasa manisnya. Aku ingin sekali meminum alkohol dalam rasa yang manis!" "Apa yang terjadi padamu Al? Aku tidak akan bisa membantumu jika kau tidak beritahu apa masalahmu. Jika kau terus mengoceh tidak jelas seperti ini,aku pastikan aku akan pergi saat ini!" "Aku ingin kau membantuku mencari data ini!" Aldo menyerahkan>5 tahun yang lalu, sebuah kecelakaan terjadi. Dikabarkan bahwa pengemudi yang menabrak itu dalam keadaan mabuk. Membuat korban meninggal di tempat. Tito membaca berkas itu sekali lagi, namun masih belum paham apa hubungannya dengan Aldo. Dan apa yang harus ia selidiki. "Yang tertabrak itu adalah ayah dari Key, rumah sakit yang menangani jasadnya adalah rumah sakit tempatmu bekerja saat ini. Beberapa hari terakhir ini, ada sebuah kejanggalan yang aku dapati. Tidak hanya di perusahaan, namun juga pada orang yang terlibat. Ayah menyuruhku tiba-tiba untuk menjauhi Key, ayah bilang dulunya ayah Key itu adalah penghianat di kantor. Dan ayah takut karena alasan itu. Namun aku malah berpikiran ada yang tidak beres di sini, aku ingin kau memeriksanya!" Tito menarik nafasnya dalam, untuk memeriksa kasus 5 tahun lalu seharusnya Aldo itu harus memanggil sejenis detektif atau orang yang bisa menyelidikinya. Bukan ia yang harus Aldo datangi, karena ini bukan keahliannya. "Kau salah orang Aldo, kau harus menyewa detektif untuk menyelidiki kasus ini. Lagipula ini sudah lima tahun lalu, meski aku sedikit curiga bahwa ini bukan lima tahun lalu. Tapi sekitar 10 tahun lalu mungkin atau bahkan lebih dari itu. Mustahil kasus ini bisa diselesaikan oleh ku!" "Bodoh!" "Hah?"Tito menatap Aldo "Aku tidak memintamu bekerja menyelidiki semua itu, aku hanya membutuhkanmu untuk ikut serta dalam kasus ini. Cecil sudah menyiapkan semuanya, dan kau hanya perlu mempermudah akses untuk masuk ke dalam rumah sakit itu!" Tito memejamkan matanya, ia lupa bahwa Aldo itu adalah manusia dengan spesies yang sudah memikirkan semuanya lebih dahulu. Dan ia merasa bodoh dengan menolak perintah dari Aldo, karena meskipun ia menolak. Aldo pasti akan memaksanya untuk melakukannya dengan segala macam cara.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN