Key menatap pantulan dirinya yang sudah rapi di depan cermin, namun ruam yang masih ada disekitar leher Key membuatnya harus berdecak sebal. Jika saja ia tidak bertemu dengan pembuat masalah itu, maka kemungkinan besar ia tidak akan menderita sakit karena ruamnya lagi. Key mengambil kunci mobilnya yang baru saja tiba, baru saja diberikan oleh Hamdan maksudnya. Key bahkan tidak tau kapan lelaki itu membelikannya mobil. Pagi-pagi buta tadi, Hamdan menghubunginya dan mengatakan bahwa ia sudah di depan pintu apartemennya. Yang benar saja? Key bahkan harus berbohong pada Hamdan dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
"Wihh, adik abang udah berseri-seri banget nih! Siap wawancara kerja Key?"
Key mengalihkan perhatiannya dan menatap Hamdan yang mengintipnya dari celah pintu kamarnya. Key mengangguk dan berjalan mendekati pintu. "Gimana bang? Penampilan Key udah oke kan?" Key menyalim tangan Hamdan.
"Udah dong, ayok buruan berangkat. Abang juga mau balek lagi ke Bandung, jangan lupa pulang sabtu ini ya Key!"
"Key bakal usahain bang!"
Hamdan mengangguk, menatap key yang sudah siap. Ia langsung mengambil kunci mobilnya lagi dan berjalan keluar dari apartemen Key. Namun saat mereka keluar, pintu di depan mereka juga terbuka secara bersamaan. Key menatap sosok Aldo yang juga sedang menatapnya. Tidak, Aldo sama-sekali tidak menatapnya. Namun menatap Hamdan yang sepertinya juga menatap Aldo dengan tatapan penasarannya.
Aldo memang sejak tadi mengincar timing yang pas, dan begitu ia mendengar bunyi pintu Key terbuka. Ia pun langsung membuka pintunya, namun Aldo langsung menatap sosok lelaki yang juga bersamaan keluar dengan Key. Aldo menaikkan alisnya, sosok lelaki itu memakai setelan kasual biasa. Tampak seperti tidak punya kesibukan di hari kerja seperti ini. Namun pertanyaan terbesarnya adalah SIAPA LELAKI ITU? Kesal Aldo masih menilai pakaian lelaki itu
"Kalian saling kenal?" Hamdan yang merasa lelaki itu menatapnya bertanya. ia jelas tau bahwa lelaki itu menatapnya dengan tatapan menilai. Dan dari pengamatannya, lelaki itu juga sepertinya kenal dengan Key. Sebagai sesama lelaki itu, ia jelas tau tatapan jenis apa yang sekarang ada di dalam lelaki itu.
"Gak, ayo aja pergi!" Key langsung menarik tangan Hamdan dan pergi menjauh, namun Aldo tiba-tiba menahan tangannya dengan tatapan tajamnya.
"Siapa dia Key? kenapa bisa keluar dari apartemen kamu?" Aldo bertanya dengan tatapan datar
"Apa urusan kamu sih? Gak ada kan? Mau aku masukin siapapun ke dalam apartemen aku, gak ada hubungannya sama kamu. Udah deh, sekarang lepasin tangan aku, aku gak mau terkontaminasi virus!" Key mengelus tangannya, seolah merasa jijik bersentuhan dengan lelaki itu.
Hamdan seolah menangkap sinyal lain, ia langsung membantu Key melepaskan tangannya dari lelaki itu. Merangkul bahu Key dan balas menatap sosok lelaki itu dengan tajam. "Key udah bilang lepas, ya lepas dong!"
"Emang kamu siapanya Key hah? Berani-beraninya larang-larang!"
"Ck, udah-udah deh. Ayo pergi, dan jangan ikuti kami!" kesal Key menunjuk Aldo dengan kesal sambil menarik tangan Hamdan pergi meninggalkan Aldo yang terdiam.
Aldo menatap mereka berdua dengan tatapan tajam, ia yakin Key itu tidak akan sembarangan memasukkan lelaki ke dalam apartemennya. Jikapun itu terpaksa, pasti karena mereka punya sebuah hubungan. Mata Aldo langsung membulat, apa lelaki itu PACAR KEY? Tidak...tidak... dari informasi yang Aldo kumpulkan, Key itu masih belum punya pacar. Tidak lucukan Aldo sedang merebutkan penikungan jalur kuning?
Arkhhh.... Tidak mungkin, Aldo langsung berteriak keras. Membuat Zane yang sedang berjalan hendak menuju lantai dua dengan kain pel dan sapunya berhenti dan menatap Aldo. Saat mata mereka saling berpapasan, "aaaaaa!" Zane langsung berteriak dan berlari terbirit-b***t meninggalkan lantai dua. Bahkan Zane melemparkan kain pel dan sapunya.
Aldo menatapnya dengan tatapan melongo lalu menggelengkan kepala. "Dasar sinting!" kesalnya lalu berjalan menuju lift. Aldo bahkan masih sempat-sempatnya untuk menendang kain pel itu membuatnya bergelinding ke atas karpet.
Kain pel yang menyedihkan.
Sementara Hamdan dan Key sudah berada di parkiran, Hamdan menatap key yang sudah memasuki mobilnya. Masih menatap gadis itu "Dia siapa sih Key? Tumben banget kamu tuh ngomong kayak tadi, hahahahaha" tawa Hamdan "Apa dia pacar kamu hmm!" Hamdan masih gencar menggoda adik kecilnya itu. Ia jelas sangat senang jika adiknya itu memiliki pacar. Itu membuat Hamdan merasa lebih nyaman jika harus berbeda tempat tinggal dengan Key. Ia tau bagaimana Key bisa mengalami masa-lalunya yang buruk. Dan kenyataan itu membuat Hamdan tidak ingin kejadian itu terulang untuk kedua kalinya.
"Ck.. Mas, udah deh. Jangan bahas dia lagi, masuk mobil gih, katanya mau langsung balik ke Bandung. Sampein salam sama mama ya Mas"
"Iya deh...kamu baik-baik juga ya Key, ingat sama kesehatan kamu juga ya!" Hamdan mengelus rambut Key dengan sayang dan dibalas dengan senyuman dari sang adik. Key langsung melajukan mobilnya saat Hamdan juga sudah memasuki mobilnya. Kedua mobil itu langsung menghilang dibalik pintu gerbang apartemen.
Meninggalkan Aldo hanya mengepalkan tangannya, siapa sih lelaki itu? Main pegang-pegang kepala Key lagi. Jujur, Aldo sangat-sangat tidak ingin Key berdekatan dengan lelaki manapun. Aldo tidak menyukai gadis itu, jelas tidak. Tapi itu hanya ucapan di mulut Aldo saja, karena faktanya hati Aldo sangat ingin mengungkapkannya.
"Boss!"
"APA?"
"Eh... apa, apa ? eh---Bos?" Ben tergagap saat tiba-tiba Aldo membentaknya.
Aldo menatap Ben, ia pikir tadi itu adalah Zane. Aldo menatap Ben, lalu menghela nafas. Aldo sedikit merapikan jasnya lalu kembali menatap ke depan"Apa kau tau siapa lelaki itu?"
Ben menaikkan alisnya, "Lelaki? Saya sampai dan tidak mendapati siapa-siapa di sini bos, hanya mendapati bos yang ada di sini!"
Aldo langsung menatap di mana ia berada, tepat berdiri di balik tembok namun sebagian badannya terlihat. Aldo langsung berdiri dengan wajar, menyisir rambutnya dengan jemari tangannya dan berlalu begitu saja dari hadapan Ben. Sementara Ben hanya menatap sang bossnya, benar-benar aneh. Bisa-bisanya dia berdiri seperti seorang penguntit yang ketahuan. Ben kembali menatap tembok yang hanya setinggi pinggangnya. Lalu, apa bosnya itu menguntit orang dengan berdiri di balik tembok ini? Yang jelas saja, anak kecil saja akan tau dimana Aldo bersembunyi.
LOL
****
Key berdiri di depan gedung tinggi itu, tinggi yang hampir. sama dengan tinggi gedung GH-group. Key melangkah masuk ke dalam gedung J-group itu, perusahaan saham terbesar kedua setelah GH-Group. Meskipun sama-sama merupakan pasar saham, tapi dari kabar yang Key dengar. Kedua perusahaan sama itu saling bermusuhan sejak dulu. Membuat Key memandang perusahaan itu dari sudut pandang yang berbeda.
Key berjalan ke arah meja resepsionis, namun ada sosok lelaki yang lebih dulu memanggilnya "Key Rogers?"
Sebelum kaki Key sampai di meja resepsionis, seseorang lebih dulu memanggilnya. Key memalingkan perhatiannya dan menatap sosok lelaki yang nampak tak asing baginya. Key masih diam, namun memberikan senyum terbaiknya. Beberapa karyawan yang kebetulan bekerja di lantai satu itu mencuri pandang ke arah mereka.
"Ya, saya!"
"Saya Josua, langsung masuk saja. Boss sudah menunggumu!"
****
Aldo masih duduk di meja kerjanya, ia menatap berkas-berkas yang sudah menumpuk. Bahkan ia belum menyentuh mereka barang sedikit pun. Suasana hatinya hari ini benar-benar buruk. Aldo tidak bisa melupakan gadis itu, ia masih merasa kesal karena Key mengabaikannya tadi dan tidak menjelaskan siapa lelaki yang bersamanya tadi. Aldo mengepalkan tangannya, bersamaan dengan pintunya yang terbuka.
Aldo yang hampir membanting laporan di atas meja langsung mengurungkan niatnya begitu ia menatap Cecil yang masuk ke dalam ruangannya. Aldo menarik nafasnya dalam lalu menatap adik kecilnya itu.
"Kenapa aku merasa auramu sedang tidak baik? Any problems?" Cecil, gadis dengan rambut sebahu itu duduk tepat di depan meja kerja Aldo. Balutan jas merah muda dengan wajah yang mendukung benar-benar membuat Cecil nampak lebih dewasa dari umurnya.
Aldo hanya menaikkan bahunya lalu beranjak dari duduknya, ia sedang tidak ingin diganggu saat ini. Perhatian Aldo tertuju pada bangunan-bangunan tinggi yang ada di depannya. Pemandangan pagi hari kota jakarta masih tetap sibuk, kendaraan masih tetap berlalu lalang.
"Apa ini masalah mengenai gadis bernama Key itu?"
Aldo berbalik dan menatap Cecil, "Kembalilah ke ruangan kerjamu Cecil. Aku sangat tidak ingin membahas apapun pagi ini!"
"Kau pindah ke apartemen yang sama dengan gadis itu, apa hubunganmu dengannya?"
Aldo mengepalkan tangannya, membalikkan badannya. Berjalan menuju meja kerjanya dan duduk kembali di singgah sananya. Cecil itu adalah gadis yang hampir sama dengannya. Jika menginginkan sesuatu, maka sesulit apapun itu. Pasti tidak akan membuatnya merasa terhalangi. Dan sebagaimana ia, begitu juga dengan Cecil. "Apa lagi yang kau tau?"
"Aku rasa ini bukan tempat yang baik, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu!"
***
Cafee dengan nuansa sakura, beberapa tumbuhan menyapu pemandangan di sana sini. Dan sepasang manusia sedang duduk di salah-satu meja dengan pemandangan tepat menghadap luar. Setelah pesanan Cecil dan Aldo sampai, barulah Cecil memulai pembicaraan pada Aldo yang sejak tadi tidak memperhatikannya." Beberapa hari hari terakhir ini, ada orang asing yang masuk ke dalam apartemen ayah. Ben, juga tidak tau siapa itu. Namun, sejauh pengamatanku beberapa hari ini. Orang itu adalah tangan kanan ayah!"
"Jangan bahas hal itu, aku tidak ingin mengetahuinya!" Aldo masih membuang mukanya
"Aku rasa ini berhubungan dengan gadis itu juga Al!" seketika Aldo langsung menatap Cecil dengan tatapan berkerut.
"Apa maksudmu?"
"Dengar, ada beberapa hal yang membuatku merasa janggal dengan keadaan perusahaan selama ini. Kau tau, jika kau perhatikan pendiri dari perusahaan. Siapa dari mereka yang memiliki bakat untuk gagasan itu? Aku rasa itu tidak ada Al, kau harus tau siapa zona yang sedang kau hadapi. Selain itu, aku juga khawatir ayah mengutus anak buahnya untuk memata-matai gadis itu. Aku sudah menangkap mereka, karena aku sudah mengatasinya. Namun mereka tidak ingin angkat suara kenapa menguntit gadis itu. Aku hanya ingin berpesan agar kau berhati-hati agar kabar kau pindah apartemen tidak sampai di telinga ayah!"
Aldo menatap Cecil, ia sangat sadar bahwa Cecil adalah jenis gadis yang sangat bisa diandalkan. Bahkan jika mendapatkan celah barang sedikitpun, semua itu tidak akan pernah luput dari tatapan Cecil.
Cecil meminum kopinya, lalu menatap Aldo yang nampak sedang berpikir. "Aku sudah mengatur beberapa hal untuk mencari tahu hal ini. Aku hanya ingin berpesan padamu untuk tetap menjaga gadis itu. Jika ayah tau dia ada hubungannya denganmu, maka kau pasti tau apa yang akan dilakukannya bukan? Jangan sampai ada orang lain yang membencimu padahal bukan kesalahanmu Al. Selama ini, kau sudah tau ayah seperti apa. Apa yang dia inginkan, dan seperti apa kita baginya. Kau tidak akan bisa melupakan fakta beberapa tahun silam bukan? Dengar Al, aku tidak ingin kau kembali terpuruk karena hal itu. Itu bukan salahmu, dan tidak ada yang bisa mengembalikan hal itu. Kau hanya perlu lebih berhati-hati dan dengarkan apa kata hatimu!"
Aldo menatap Cecil, ia hanya menganggukkan kepalanya saja. "Aku juga sudah curiga beberapa hari ini. Ayah bertanya padaku mengenai hubunganku dengan Key seperti apa. Karena ayah jelas tidak ingin pernah ikut campur jika mengenai masalah pribadi. Tapi penjelasanmu membuatku merasa bahwa memang ada yang aneh!"
"Tidak hanya ayah, tapi aku rasa akan banyak pihak yang ingin memanfaatkan gadis itu. Terlebih saat ini, Key sudah masuk tahap wawancara di J-Group. Kau jelas tau bahwa Damian tidak menyukaimu karena hal itu Al!"
"Wawancara? Apa maksudmu?"
Cecil terkekeh, ia yakin bahwa Aldo terfokus pada gadis itu seorang saja. Tanpa tau apa yang sudah dilakukan gadis itu. "Aku yakin Key pasti akan di terima disana, sekalipun Damian tidak tau bahwa kau memiliki koneksi dengannya. Mereka jelas akan merekrut gadis itu, karena Key memang orang yang kita butuhkan!"
Aldo langsung berdiri dan hendak melangkah pergi, namun Cecil menahan tangan Aldo. "Jika kau menariknya sekarang, itu akan mengundang semua perhatian dan memperjelas semuanya. Apa kau tidak mengerti mengapa Key sepertinya ingin sekali masuk ke dalam pasar saham?"
Aldo yang sudah mengepalkan tangannya dan hendak pergi menatap Cecil, adik kecilnya itu menariknya kembali dan memberinya kode untuk duduk. Aldo menuruti permintaan Cecil. Berusaha untuk tetap menjaga amarah yang menggebu-gebu dalam dirinya.
"Itu karena, aku rasa Key memiliki masa lalu dengan pasar saham. Aku tidak ingin sekedar menebaknya, tapi aku bisa melihat dari pancaran matanya. Tapi aku bersyukur bahwa kau tidak memasukkan Key ke dalam perusahaan kita. Hanya ada dua pilihan, kau membiarkan Key berada di sana dan tetap melindunginya. Atau kau menariknya ke perusahaan kita, dengan peluang yang lebih besar untuknya namun dengan bahaya yang tidak setimpal dengan apa yang kau khawatirkan!"
Aldo hanya menghela nafasnya dalam, "Lalu apa sekarang? Kau tau seperti apa aku bukan? Aku sangat tidak ingin sesuatu menimpa gadis itu!"
"Aku akan memberitahumu, tapi tidak untuk sekarang!"
Aldo lalu bangkit berdiri saat tau apa yang akan di beritahu oleh Cecil , "Aku pergi dulu, kau juga harus lebih hati-hati. Karena saat ini juga, seseorang sedang menguntit kita!"
"Aku tau!"