Bagian 12 : Kesal

2081 Kata
"Key!" Panggil Aldo untuk yang kesekian kalinya, namun Key sama-sekali tidak bergeming. Gadis itu masih diam dan mengabaikannya. Aldo menarik nafasnya dalam, Key itu memang gadis moodyan. Jadi sejak dulu, Aldo juga bahwa gadis itu memang seperti itu sering seperti saat ini. "Key, aku minta maaf. Bukan maksudku untuk merobek kertas itu tadi pagi dan membuatmu dalam masalah saat ini. Tapi, kau harus tau bahwa perusahaan saham itu bukanlah tempat yang aman Key. Banyak para koruptor, otak-otak yang hanya menginginkan uang, dan saham itu adalah permainan yang kotor. Jika kau wanita normal yang bisa menyelesaikan masalah dengan menangis, maka aku akan mengizinkanmu. Tapi, ini berbeda Key. Sungguh sangat-sangat berbeda dengan perusahaan bisnis dan politik sekalipun!" Key yang tadi diam menatap Aldo, "Itu bukan urusanmu Al. Aku hanya ingin masuk kesana, dan aku juga tau bahwa nilaiku tinggi. Tapi kau mengatasnamakan urusan pribadi atas urusan bukan pribadi. Bukankah kau itu EGOIS?" Aldo menarik nafasnya dalam..."Ini, aku ada lowongan pekerjaan di perusahaan asuransi. Gajinya bahkan lebih besar dari jabatan GM di kantorku Key. Dengarkanlah aku untuk kali ini saja. Aku hanya tidak ingin kau menahan tangis ]mu, karena otak-otak kotor jika bekerja di perusahaan saham Key!" Key menarik nafas nya "Kau egois Al, pergilah dari sini! Dan jangan menemuiku lagi!" Key mengalihkan perhatiannya dari Aldo "Key!" Aldo masih tetap berusaha untuk sekuat mungkin, ia sangat-sangat tidak ingin terlihat lemah dihadapan Aldo untuk saat ini. Aldo masih berada di sofanya, sama-sekali tidak bergerak untuk beranjak dari apartemen Key. Membuat Key kesal dan menatap Aldo "Kenapa masih di sini sih? Keluar!" Teriak key Aldo menatap key dengan ekspresi datarnya, ia menaikkan bahunya dan beranjak dari sofanya. Bukannya berjalan keluar dari apartemen Key, ia malah pergi ke dapur gadis itu. Membuka kulkas yang kebanyakan diisi oleh minuman bersoda. Aldo menatap semua isi kulkas itu dan menatap Key yang pasti sedang kesal. "Kenapa isi kulkasmu ini sangat-sangat tidak ada isinya? Apa kau jatuh miskin sehingga tidak bisa mengisi kulkasmu ini?" Aldo mengambil satu soda dan meminumnya. Ia kembali berjalan mengelilingi apartemen Key yang elegan dan rapi serta sejuk. "Kau bukan tuan rumah yang berhak mengaturku Al, keluar sana. Atau aku akan panggil Zane untuk mengusir mu?" Aldo menaikkan alisnya lalu duduk di sofa tadi, "Dia tidak akan datang jika berhubungan dengan ku key, dia sudah lebih dulu mengenalmu daripada mengenalmu. Jadi jangan terlalu percaya diri dulu, lagipula aku akan kembali ke apartemenku jika aku mau!" Aldo menjawab dengan santai. Membuat emosi Key lagi-lagi berada di atas ubun-ubunya. Ingin sekali ia mencabik wajah putih Aldo, agar lelaki tahu bahwa saat ini ia tidak ingin diganggu barang sedikit pun. Namun badannya masih terasa sakit dan juga lelah. "Wow...woww...santai saja Key, waja mu sangat membuat ku gemas!" Key beralih dari menatap Aldo lalu menatap ponselnya yang berbunyi. Sebuah email masuk ke notifikasinya. Membuat Key langsung membukanya, dan menatapnya membulat saat tau email dari siapa. Aldo yang menatap ekspresi langsung ikut mengintip ponsel gadis itu, namun gadis itu lebih dulu mematikan layar ponselnya dan menatapnya geram. "APA?" Key makin berang menatap Aldo "Pesan dari siapa? kenapa wajahmu terlihat senang?" "Yang terpenting itu bukan urusan mu tuan Aldo yang terhormat!" "KEYYY!" Aldo dan Key bersamaan menatap sosok gadis yang memasuki apartemennya dengan ekspresi senangnya. Namun ekspresi gadis itu langsung berubah saat menatap siapa yang sedang bersama dengan Key. Melihat Key bersama dengan Aldo, serta pesan yang baru saja dikirim oleh Key membuat Keiko langsung mengambil sapu dari pojok rumah Key. "Heh, lu ya yang buat skandal itu? Lu kan? Rasain ini..Hiaaaa!" Keiko langsung berlari ke arah Aldo sambil mengacuhkan sapunya. "Aaaaa!" Teriak Aldo berlari dari sana "Sini lu, dasar buaya. Udah buat skandal, masih berani seenaknya sama teman gue lagi? Mati lu! Rasain ini, dasar BUAYA!" Keiko makin barbar dengan sapunya. Membuat Key hanya terkekeh menatap kelakuan mereka. "Key, aku keluar dulu ya! Teman lu stresss!" "Ehhh Buaya, lu yang gila ya. Heh, buaya!!!" Keiko menatap pintu apartemen Key yang tertutup dari luar. Ia berusaha untuk membukanya, namun sepertinya lelaki itu menahannya dari luar. "Ki, udah...gak malu apa?" Key mengistrupsi agar Keiko berhenti Keiko menatap sapunya dan mengusap batang sapu itu "Kamu di sini dulu ya, aku mau nemani mama kamu yang lagi sakit. Baik-baik ya anak momy!" Keiko bahkan mencium batang sapu itu dan meletakkannya di pojok ruangan. Membuat Key hanya menggelengkan kepala menatap kelakuan Keiko. "Key...asatagah. Tangan kamu, kulit kamu. Asataghhhh merahhh!" Keiko langsung panik begitu ia mendaratkan pantatnya di sofa dan menatap wajah serta leher Key yang semuanya memerah. "Key, lu udah lihat berita terbaru nya gak? Hot banget dari tadi, serius gue!" Keiko langsung mengambil ponsel nya. Membuat berita yang tadi ia screenshot sebelum berita itu menghilang beberapa menit yang lalu. Key menatap berita itu, dan hanya menghela nafasnya saja. Ia jelas betul tau bahwa segala jenis berita mengenai Aldo pasti akan terseksplor dengan sangat cepat. Seperti saat ini, judul berita itu saja sudah langsung membuat para netizen dan wargaNet ingin mencari tau siapa sosok gadis itu "CEO DARI GH-GROUP BERSAMA DENGAN WANITA!" Key mengulang lagi membaca judul berita itu. Berita dengan gambar Aldo yang menutupi wajah nya jelas sekali terpotret d "Aku heran dengan si pembuat judul berita itu, benar-benar menggelikan. Bagaimana bisa dia membuat berita dengan judul seperti itu tapi bisa menjadi trending topik? Memangnya jika lelaki sialan itu bersama dengan wanita, apa itu penting?" Keiko menutup ponselnya dan meletakkan di atas meja. Ia menatap wajah Key yang ditekuk. Ia yakin gadis itu sedang kesal luar biasa. "Key, kau baik-baik saja?" Keiko menatap Key "Aku baik-baik saja!" "Tapi, apa kabar yang ingin kau berikan kepadaku? Katamu kau punya kabar!" Key langsung menerbitkan senyum nya, ia menatap Keiko. Melupakan sejenak rasa kesal, dan amarahnya pada Aldo. Memang ia sudah sangat ingin marah pada Aldo sejak ia sadar. Tapi, ada satu kabar yang membuatnya senang. "Yakkk, aku akan wawancara besokk! J-Group menawariku sendiri!" ujar Key dengan raut wajah senang Mata Keiko langsung membulatkan matanya, "Yakk...Kau serius? Kau diterima? Keyyyyy!" Keiko langsung heboh dan langsung memeluk Key "Yak.. Ki, sakit! Jangan ditekan!" Key meringis sambil meraba wajahnya yang terasa sakit "Astaghhh..Maaf Key, aku terlalu bersemangat!" Keiko meringis "Party?" Guman Key menaik turunkan alisnya "Party dong, tapi.... kan kamu gak bisa!" Key langsung memanyunkan bibirnya, "Key, tunggu kamu selesai wawancara dulu. Tunggu masuk dulu, baru kita party kecil-kecilan. Sekarang kamu harus prepare dulu!" "Ya udah deh!" Aldo yang tadi sudah masuk apartemennya, keluar dan mencuri-curi dengar di depan pintu Key. Namun ia sama-sekali tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. *** "Kau yakin akan menerima gadis itu bos? Aku tidak yakin dengan hal ini, lagipula mengapa dia langsung diterima saja?" Damian menatap Josua dengan datar, lelaki dengan balutan jas coklat dengan layar monitor yang sedang berada di hadapannya itu hanya memasang wajah datar. Namun Damian juga kembali lembar kerja yang ada di depannya saat ini. Sebenarnya, ia juga sedikit penasaran apa yang membuatnya menerima lamaran kerja dari gadis itu dengan begitu mudah. "Urus saja apa yang aku katakan padamu Jos, jangan ikut campur untuk kali ini!" Sekali lagi, Josua menatap Damian dengan tatapan bertanya. Namun ia sadar, bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu. Karena apapun hal itu, ia sangat tau bahwa sosok Damian pasti punya berjuta-juta alasan yang hanya lelaki itu yang tau. Josua hanya sedikit penasaran saja, sebenarnya lebih mengarah pada kata kepo sih. Ia benar-benar kepo seperti apa hubungan yang dimiliki oleh mereka. "Sudahlah, kau pergi saja. Tidak usah kebanyakan berpikir, dan lakukan saja tugasmu!" "Baik bos, kalau anda memang sudah lebih baik. Saya pamit undur diri dulu, jika ada sesuatu yang anda butuhkan segera panggil aku. Dan, jika badan anda masih sakit. Aku bisa memanggilkan dokter Max kemari Bos!" "Tidak perlu, kau bisa keluar!" "Baik boss!" Selepas Josua keluar dari dalam ruangannya, Damian langsung menyandarkan badannya di kursinya. Ia memejamkan kedua matanya, lalu tangannya mengepal tiba-tiba. Namun tidak cukup lama, Damian kembali mengendorkan kepalan tangannya. Menarik nafas dalam-dalam, lalu kembali menatap wajah gadis itu. Key Rogers--Damian memejamkan matanya lagi. Mengingat bagaimana mereka tidak sengaja bertemu saat itu. Jujur saja, Damian bukanlah tipikal lelaki yang mudah tertarik dengan kaum hawa. Bahkan, ia lebih sering menghindari mereka. Karena bagi Damian, wanita itu kejam. Sangat kejam. Dan teramat kejam, membuat Damian tidak terlalu suka berurusan dengan mereka. Damian dikatakan ditemukan di depan panti asuhan, dan dari data yang diperiksa oleh dokter. Ia baru saja dilahirkan saat itu. Yang membuat hati Damian sakit adalah, karena tidak tau siapa sosok wanita yang melahirkannya. Dan tega membuangnya. Damian selalu dihantui rasa trauma dari ejekan temannya di sekolah. Benar memang ia tidak punya ibu dan juga ayah. Tapi, tidak seharusnya mereka selalu merundungnya karena itu bukan?. Tapi, mengapa ketika Damian menatap netra coklat terang itu. Ia seolah merasa ada sesuatu pada gadis itu? Sesuatu yang berbeda, yang bahkan tidak seorangpun yang tau. Damian mengganti tampilan layar monitornya, ia lalu membaca salah-satu trending topik saat ini. Ujung sudut bibirnya terangkat saat membaca berita itu. Tidak, Damian bahkan tidak terlalu peduli dengan lelaki itu. Namun, ia terkekeh saat menyadari bahwa sosok itu masih hidup sampai saat ini. Beruntung sekali, bahwa mereka para kaum kaya selalu bisa hidup dengan mengandalkan apa yang mereka miliki. Mereka menutup semua masalah mereka dengan taburan harta yang melimpah. Terkadang, Damian merasa hidup ini sangatlah tidak adil. Terlebih ketika menatap Aldo--lelaki itu masih hidup sampai saat ini. Damian jelas berpikiran dewasa dan terbuka, ia sangat-sangat tidak membawa nama-nama perusahaan saat ini. Tapi, ia sedang membawa masalah ketika di depan matanya sendiri. Ia menatap ayah dari lelaki itu membunuh seseorang yang selama ini sangat ia sayangi demi lelaki bernama Aldo. Damian mengepalkan tangannya, kepalanya berdenyut sakit saat sadar bahwa ia hanyalah remahan yang beruntungnya dipungut oleh orang kaya. Damian sadar bahwa meski ia bukan orang kaya, tapi ia orang yang sedikit beruntung. Jika saat itu sosok lelaki itu tidak mengangkatnya menjadi anaknya, mungkin Damian harus bekerja sebagai pekerja pinggir jalan. Ia hanya bisa menatap mereka--para manusia kaya itu--dari pekerjaan kotor yang ia punya. Namun sekarang, Damian memiliki sesuatu. Hal yang mungkin akan ia gunakan untuk membalas dendam pada lelaki itu. Karena semua telah berubah, tidak ada hal yang sama datang sebanyak dua kali. Dan kali ini, Damian benar-benar akan menghancurkan sosok itu. Barulah ia akan merasa puas, dan bisa tidur dengan nyeyak.  *** Frederick menatap sosok yang ada di depannya. Lelaki yang hanya berbeda 3 tahun itu darinya hanya menghela nafasnya. "Apa kau yakin bahwa gadis itu tidak ingat hari ini Erick?"  Erick--lelaki yang sedang mengisap batang rokoknya itu menatap Frederick. Ia mengisap rokok itu semakin dalam, lalu tangannya yang terbalut pakaian sutra kelas atas turun lalu menekan puntung rokok itu. Bersamaan dengan asap yang hilang di telah sisa. Ia menatap Fredercik yang sejak tadi terlihat sangat menghawatirkan sesuatu hal.  "Kau terlihat cemas sekali mengenai gadis itu, apa kau yakin gadis lemah itu bisa menuntutmu? Aku rasa kau salah, dia hanya akan berakhir sama seperti ayahnya juga Fred. Lagi pula, apa yang bisa dilakukan oleh orang lemah? Kau yang mengajariku akan hal itu, apa kau lupa?" Erik menarik sudut bibirnya.  Fredercik yang sedang menatap bangunan menjulang tinggi di depannya membalikkan tubuhnya. Duduk di salah satu sofa empuk yang harganya juga nyaman itu. Menatap sosok lelaki yang sepertinya sudah bertumbuh menjadi seperti apa yang ia inginkan.  "Kau sangat cepat belajar apa yang aku ajarkan padamu Erick!"  "Aku tidak banyak belajar, tapi aku hanya mengerti situasi saja. Tidak semua perlu dipikirkan Fred, kau hanya perlu diam dan melihat apa yang terjadi!"  "Aku hanya takut jika Aldo mencari tahu mengenai hal itu!"  Erick terkekeh, "Aku bahkan tidak menyukai gadis itu Fred. Apa yang sedang kau pikirkan saat ini? Aldo tau bahwa gadis itu bukan orang yang tepat untuk perusahaan sekotor ini!"  Fred menarik nafasnya, lalu mengambil botol wine. Menuangnya dan meneguknya, memasuki tenggorokannya yang sedikit kering. Ia lalu menatap Erick, "Apa kau yakin Aldo tidak ada hubungan apa-apa dengannya?"  "Kau tidak kenal dengan putramu sendiri? Aku rasa dia punya pendirian jika sudah ia yakinkan, dan aku yakin bahwa ia tidak ingin berhubungan dengan gadis itu. Jikalaupun Aldo tau, kau tau apa yang harus dilakukan Fred. Maka masalah ini akan selesai, dan kejadian 5 tahun lalu itu tidak akan membuatmu berakhir di dalam sel!"  "Baiklah, kalau begitu. Aku akan percaya padamu saja!"  Fredercik dan Ercik kembali bercakap-cakap dalam ruangan pribadi itu. Tanpa sadar, bahwa ada sosok manusia yang sejak tadi mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Cecil, gadis itu mengerutkan keningnya lalu memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan itu sebelum keberadaannya diketahui oleh mereka. Karena jika sampai ia ketahuan, maka ia juga akan berakhir dalam penjara yang sang ayah sendiri miliki. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN