Bagian 11 : Kesempatan

2080 Kata
Sosok gadis yang masih berada di atas ranjang itu terlihat mulai mengerjapkan matanya, sinar matahari menyorot dan membuat gadis itu menutup kembali matanya. Tidak terlalu lama, lalu Key--gadis yang berada di atas ranjang itu-- akhirnya membuka kedua sudut matanya. Menatap ruangan dengan nuansa catur. Ia masih menatap ruangan itu, lalu Key tiba-tiba teringat dengan sosok yang suka dengan aksen catur hitam putih itu. Key menggerakkan tangannya dan tidak sengaja menyentuh sesuatu. Ia memiringkan kepalanya dan menatap wajah Aldo yang sedang tertidur di pinggiran ranjang. Key menatap wajah Aldo yang sangat kelihatan lelah. Membuatnya menghela nafas dalam. Key belum beranjak dari posisinya, ia menatap lekat wajah lelaki itu. Tangan Key gatal hendak menyentuh rambut Aldo. Namun tertahan beberapa sentimeter sebelum ia benar-benar menyentuhnya. Key mengepalkan tangannya lalu membuang nafasnya kasar. Ia berusaha untuk bangkit sepelan mungkin. Namun tetap saja Aldo langsung terbangun dan langsung berdiri "Key? Kamu udah sadar?" Aldo hendak membantu Key untuk bersandar di sandaran ranjangnya. Namun tangan Key terangkat, membuat Aldo menatap Key dengan tatapan bertanya.  "Gak usah, aku bisa sendiri!" Aldo menatap Key dan langsung membantu gadis itu, sekalipun Key menolak. . Aldo naik ke atas ranjang dan membantu Key untuk bersandar. Aldo bahkan tidak peduli dengan penolakan Key. Aldo turun dari ranjang besarnya, berjalan menuju meja dan mengambil air putih. Memberikan Key segelas air putih, dan kali ini gadis itu sama-sekali tidak menolaknya. Key langsung menghabiskan air putih itu, karena ia memang haus. Aldo menatap Key yang masih tidak bergeming saat menatap infus yang terpasang di tangannya. Tangan gadis itu langsung meraih ponsel Aldo, gadis itu menatap pola ponsel Aldo dan mencoba membuka dengan pola lama. Dan--It work. Padahal sudah lama, bahkan ponsel Aldo sudah ganti. Namun polanya masih tetap saja sama. key menatap Aldo yang masih memperhatikannya, namun Key langsung membuka kamera ponsel itu. Mengingat tujuan utamanya untuk mengambil ponsel lelaki itu. Key menahan nafas, ia menatap wajahnya yang masih berbekas ruam merah. Turun ke lehernya, dan ruam itu juga masih ada di sana. Key meletakkan kembali ponsel itu tanpa menatap Aldo. Kekesalannya kali ini sudah berada di puncak kepalanya. "Key.. Minum obat dulu!" Aldo kembali teringat dengan obat yang diantarkan oleh Tito beberapa jam yang lalu. Sebelum ia ikut ketiduran di sebelah Key yang masih belum sadarkan diri. "Gak udah, aku mau pulang aja!" Key mencabut inpus yang menusuk kulit tangannya. Meski sakit, tapi ia tak lagi peduli. Membuat Aldo langsung menahan bahu Key yang hendak bangkit dari ranjang. "Gak ada penolakan Key!" Key menatap wajah Aldo yang datar, entah perasaannya saja atau tidak. Tapi Aldo saat ini benar-benar semakin terlihat berbeda dari dulu. Key tak kuasa menahan amarahnya, ia menatap Aldo benci dan mendorong tangan Aldo. "Kamu gak ada hak buat ngatur aku Al, ingat? Kamu bukan siapa-siapa aku, dan tolong jangan semakin membuat aku benci!" Key menatap Aldo dengan setiap perkataan yang penuh dengan penekanan di setiap suku katanya. Aldo memejamkan matanya, namun tetap tidak melepaskan tangannya dari Key. Tangan Aldo turun dan mengambil tisu, membersihkan darah dari tangan Key yang terluka. Beruntung gadis itu tidak banyak bergerak dan tidak melawan saat ia membersihkan tangan Key. Benar-benar memanfaatkan keadaan Key yang masih lemah. "udah, aku yang ngantar kamu pulang! Bukan, tapi kasih tebengan pulang!" "Ini rumah kamukan? Aku udah tau kalo kamu itu cuman nguntit apartemen aku doang!" Key berdiri dengan tatapan kesal pada Aldo "Terserah mau ngomong apa" Aldo mengambil tas Key dan menarik Key agar berjalan dekat dengannya. Aldo bahkan tidak peduli dengan Key yang berusaha untuk melepas genggaman tangan mereka. "Gak usah banyak gerak Key, nanti lukanya makin parah. Obatnya nanti di minum!" Aldo masih seenaknya memberikan Key wejangan. Key ingin rasanya mencabik-cabik wajah Aldo, bukannya minta maaf atau sejenisnya. Aldo malah masih merasa tidak bersalah dan seenak jidatnya mengaturnya. Kesalahan terbesar dari hidup Key adalah, KENAL DENGAN ALDO. Seharusnya dulu Key tidak bermurah hati dengan menolong Aldo yang hampir tenggelam di danau. Seharusnya Key tidak cemplung ke danau itu untuk menyelamatkan Aldo. Jika ia tidak bermurah hati saat itu, mungkin Key tidak akan merasa sekesal ini. Karena sejak saat itu, Aldo yang sudah terbangun dari komanya langsung mencarinya. Menguntitnya, mengunjungi rumah orang tuanya. Dan selalu menjahilinya ketika di sekolah, karena memang mereka berada di dalam sekolah yang sama. Namun, beruntung saat itu. Key merasa tidak kesepian karena Aldo. Karena tepat pada saat ia menolong Aldo adalah, seminggu ketika ayahnya sudah pergi. Key saat itu selalu saja mengurung diri sendiri, dan sedikit mengalami trauma. Namun Key tidak pernah mengatakan pada siapapun apa yang terjadi pada saat itu. Meski semua berita mengenai kematian ayahnya tidak ia tau pasti. Berita mengatakan bahwa mobil mereka tertabrak saat itu. Padahal seingat Key, mereka sengaja ditabrak saat itu. "Masuk!" Key tidak sadar sudah sampai di luar bangunan besar itu, tidak sampai saat Aldo membuka pintu depan dan memasukkannya dengan penuh kehati-hatian. Key hanya bisa pasrah, menatap Aldo yang masuk dari pintu depan sebelahnya. Sebelum masuk, ia menatap lelaki itu sedikit berbicara dengan sosok lelaki yang ia rasa lebih tua dari mereka. Dengan pakaian yang juga formal, membuat Key yakin bahwa lelaki tadi yang sudah pergi itu adalah salah-satu bawahan Aldo. Aldo masuk, namun tidak langsung memajukan mobil sportnya. Ia masih menatap Key, "Kenapa belum pasang seatbelt Key?" Key menahan nafas saat Aldo tiba-tiba berada di dekatnya dan memakaikan sabuk pengamannya. Aldo sengaja melama-lamakan, membuat Key membuang muka dengan kesal. "Udah.. jangan tahan nafas Key. Nanti ruam kamu makin merah!" Key menatap Aldo yang sudah menjalankan mobil sport itu dengan satu mobil yang mengikuti mereka dari belakang. Key yakin itu adalah bawahan Aldo tadi.Sepanjang perjalanan Aldo dan Key tidak ada yang memulai percakapan. Mereka sampai di apartemen, Aldo membantu Key untuk turun. Karena jujur, Key masih merasa lemas untuk berjalan. Terlebih ruam di sekitar wajah dan lehernya membuatnya sangat ingin menggaruknya. Namun beruntung Aldo terus menggenggam tangannya, seolah tau bahwa Key ingin menggaruk area wajahnya. Mereka memasuki apartemen, setelah Ben memeriksa bahwa tidak ada lagi para wartawan yang ada di sekitar mereka. Mereka memasuki lift, mengabaikan Zane yang menatap mereka berdua dengan penuh pertanyaan. Aldo dan Key sampai di depan kamar mereka masing-masing, Key menatap Aldo yang juga sedang menatapnya. "Tangannya!" kesal Key memberikan ketidaksukaan pada Aldo yang masih terus menggenggam tangannya "Apa password apartemen kamu? Aku bakal jagain kamu dulu buat sementara waktu, ini juga karena kesalahan yang aku perbuat!" Key menatap Aldo kesal, namun tetap memberitahukan password dari apartemennya "130102!" ujar Key menatap Aldo yang menarik kedua sudut bibirnya.Key tau bahwa lelaki itu sudah sangat senang karena tau password apartemennya. Sepertinya setelah ini Key harus mengganti kembali password dari apartemennya. Aldo langsung menekan angka itu, dan membawa Key ke dalam apartemen gadis itu. begitu mereka masuk, ruangan warna putih langsung menyambut mereka. Aldo mendudukkan key di sofa dan kembali memasang impus Key. Apartemen Key tidak terlalu berbeda jauh dengan apartemen Aldo yang berada tepat di depan kamar Key. Ada anak tangga yang membelah dua ruang tengah, ada dua kamar. Ruang tamu yang dibalut dengan beberapa tanaman. Dan jendela Key yang terhubung dengan balkon kamar Aldo juga. Aldo lalu menatap Key yang sudah meminum obatnya. Dan sekarang ia menatap Key yang juga sedang menatapnya. "Key!" *** Josua yang lagi makan sambil nonton hot news malam ini langsung berdiri saat menatap sosok lelaki yang baru saja keluar dari dalam kamar. "Boss!" Ia langsung mendekati bosnya itu dan membantu lelaki itu untuk duduk di atas sofa. Damian hanya menatap sosok Josua yang sudah menyiapkan semua kebutuhannya di atas meja. Semua badannya kali ini terasa remuk, dan perih. Luka-lukanya sudah kering dan Damian sedikit kedinginan karena tidak mengenakan pakaian. "Boss.. ini!" "Dimana Max?" "Ahhh, dokter Max sudah pulang beberapa jam yang lalu. Apa ada sesuatu yang sakit bos? Aku akan segera memanggil dokter Max kembali!" "Tidak perlu!" Josua hanya mengangguk, ia segera menaikkan suhu AC, membuat udara di ruangan itu menghangat. Ia memang cukup peka bahwa keadaan bossnya itu pasti sedang kedinginan. Apalagi jomblo, iya kan? "Saya pergi dulu boss, saya harus membeli beberapa list yang boss butuhkan!" Damian hanya mengangguk dan mulai memakan beberapa jenis makanan yang ada di depannya. Tatapan Damian kosong, tidak hanya tatapannya saja. Namun juga dengan isi hatinya yang terasa benar-benar kosong. Dan tanpa Damian sadari, setetes air mata mengalir dari balik pelupuk matanya. Awalnya hanya setetes, namun lama-kelamaan semakin banyak. Namun Damian tidak menunjukkan reaksi apa-apa di wajahnya. Ia hanya menatap lurus kedepan dengan tatapan meminta untuk dikasihani. Suara detik jam di ruangan itu terus terdengar, hingga saat Damian mendengar suara pintu kembali terbuka dan menampilkan sosok Josua yang sudah kembali dengan kantong kresek di tangan lelaki itu. Sosok sekretaris pribadinya itu sudah tau apa yang harus diperbuat dan Damian hanya diam saja. Meminum pil yang diberikan padanya dan obat-obat jenis lainnya. Bukan hanya kali ini, namun Josua sudah sangat sering melihat seperti apa perbuatan dari ayah angkatnya itu padanya. Bahkan Josua juga sering kali kena sasaran empuk dari sang ayah. Namun meski demikian, Damian sangat beruntung karena Josua tidak meninggalkannya sendirian. Lelaki itu tetap setia menjadi asisten pribadinya. Damian beranjak lalu masuk ke dalam kamarnya kembali dan masih sama. Tatapan Damian masih terasa kosong membuat Josua yang menatap atasannya itu hanya menghela nafasnya kasar. Jujur saja, ia memang sudah sangat lama ingin resign dari kantor besar itu. Namun hati nurani Josua tidak sanggup untuk meninggalkan atasannya itu. Damian memang membiarkan Josua resign, namun jika dipikirkan lagi. Jika Damian mencari asisten baru, belum tentu semuanya mau bersedia sepertinya. Dan menjaga rahasia besar itu dari publik. Jika sampai hal ini sampai pada publik, Josua tidak bisa membayangkan apa yang akan didapatkan oleh atasannya itu lagi. Hidup Damian bagai neraka yang terus menyiksanya tanpa henti. Josua hanya berharap bahwa suatu saat nanti, ada sosok yang mengisi kekosongan hati bosnya itu.  *** "Kau sudah memastikan dia tidak menjalin hubungan dengan gadis itu lagi bukan?"  "Sudah boss, tapi... tadi pagi ada beberapa berita yang kutang baik mengenai Boss Aldo. Aku sudah menelusurinya dari Dary, tapi sepertinya itu bukan masalah besar!"  "Baik, dan jangan sampai ada yang tau. Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?"  "Baik boss!"  "Kalau begitu, kau bisa pergi!"  "Trimakasih boss!"  Sosok lelaki itu pergi dengan semua pakaiannya yang serba hitam. Meninggalkan sosok lelaki paruh baya yang sedang menatap ke arah sibuknya lalu lintas meski sudah malam hati. Frederick memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya dan menghela nafasnya cukup lama. Ia memejamkan kedua sudut matanya, lalu kembali membukanya.  "Tidak, aku tidak mungkin memberitahu mereka apa yang sebenarnya terjadi. Lagipula saat itu...." prangg....Frederick memukul benda yang ada di depannya. Lalu langsung berjalan menjauh dan memasuki kamar pribadinya.  Lain halnya dengan sosok Ben yang baru saja tiba di ruangan pribadi dari sosok hebat di perusahaan terkenal itu. Ben menaikkan bahunya, sejak memasuki gedung menjulang tinggi itu. Ia sangat penasaran dengan sosok lelaki lain yang baru saja keluar dari dalam gedung itu. Setaunya, selain ia dan orang yang diberi akses. Tidak ada orang yang bisa memasuki gedung pencakar langit itu sembarangan. Dan rata-rata semua yang memiliki akses masuk ia kenal. Ia sudah berpengalaman selama beberapa tahun menjadi asisten pribadi dari sosok lelaki itu.  Ben merasa bahwa saat ini bukan saat yang tepat, ia lalu memiliki undur diri tanpa mengatakan apa-apa. Ia langsung pergi ke lobby bawah. Namun tanpa sengaja, ia juga bertemu dengan sosok gadis yang seperti sedang mengintai seseorang.  "Boss...? Kenapa harus ngumpet?"  "Yak.....sttttt!" Cecil langsung menarik tangan Ben memasuki sebuah ruangan saat sosok yang sedang ia perhatikan sejak tadi membalikkan badannya.  Ben menatap Cecil, sosok adik dari sang bossnya yang menatap kembali ke luar ruangan. Tidak lama, hingga gadis itu kembali membukanya. Mereka berakhir di dalam mobil Ben dengan perintah dari Cecil.  "Boss? Lihat siapa sih? Perasaan dari tadi tingkah boss aneh banget, ini kan akses bebas masuknya boss toh!"  Cecil menghela nafasnya, ia juga tidak akan mengira ia akan bertemu dengan asisten pribadi dari sang kakak itu sekarang. "Apa kamu gak curiga dengan siapa yang baru saja keluar dari apartemen ayah Ben? Setiap orang yang punya akses ke gedung aku kenal, tapi gak dengan orang yang satu itu!"  "Ahhh....tadi pas saya ingin mengantarkan beberapa berkas. Saya juga tidak sengaja melihatnya nona, tapi saya tidak terlalu menegur karena urusannya benar-benar urgen. Tapi tadi, di ruangan tuan besar. Sepertinya suasana hati tuan besar juga sedang tidak baik!"  Cecil menatap Ben, lalu menghela nafasnya. "Aku rasa beberapa hari terakhir ini ayah sedang ada masalah!"  "Beberapa hari terakhir ini juga, tuan besar pernah mengunjungi rumah tuan muda!"  "W..what? Buat apa?"  "Saya juga kurang tau nona!"  "Baiklah, untuk sekarang. Kita harus lebih berhati-hati Ben, saya keluar dulu. Ingat untuk memberitahu Aldo untuk tidak lengah!"  "Baik nona!" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN