Paginya, Dary sudah berada di dalam lokasi yang dikirimkan oleh sosok gadis itu padanya sesuai dengan perjanjian mereka. Ia sudah menunggu selama 1 menit, menatap ke sekeliling taman dan akhirnya sosok gadis yang sedang ditunggu-tunggunya memunculkan diri tidak jauh dari lokasi mereka.
"Mas Dary, maaf lama!" Key langsung duduk di kursi dengan meja yang memisahkannya dengan sosok lelaki yang sudah membuat janji dengannya semalam dan tepat di depan meja taman yang sudah di duduki oleh Dary.
"Hanya telat satu menit saja, santai saja!"
Key hanya mengangguk dan menatap lelaki yang berpakaian formal dan sama dengannya. Key langsung mengeluarkan kertas dari dalam ranselnya dan memberikannya pada Dary. "Ini! Aku sudah membuat surat yang mas suruh kemarin!" Key meletakkannya di depan Dary
"Aku baca sebentar dulu!"
Dary langsung fokus dengan semua bacaannya, ia menatap kertas itu lalu menatap key. Bergantian dan setiap Dary membaca sesuatu yang menarik perhatiannya, ia pasti akan menatap Key. Membuat Key sesekali merasa janggal karena tatapan dari Dary. Karena tidak biasanya ia ditatap seperti yang Dary yang lakukan saat ini.
"Apa ada yang salah yang dengan lamaran kerja ku Mas? Jika ada, aku akan segera memperbaikinya. Lebih baik kinerjaku sedikit lebih lama lagi daripada nanti ada kesalahan. Karena dari raut wajah mas--!"
"Bukan, aku sudah selesai membaca dan tidak ada kesalahan barang sedikit pun. Pekerjaanmu terlalu sempurna Key, kau kelihatan sekali jika lulusan dari luar negeri!" Dary tidak berbohong sama-sekali, ia benar-benar sangat mengapresiasi kinerja dari Key "Dan aku masih menanyakan apa yang membuatmu ditolak dari GH-Group hanya dengan jabatan General Manager saja. Aku rasa, apa ini faktor dalam?"
Key menatap Dary dan BRUKK--Mata Dary dan juga Key kompak menatap keatas, dan kebawah. Lembaran kerja Key sudah robek dua dan jatuh ke tanah, sementara mereka berdua hanya menatap siapa yang melakukan hal itu. Dary yang kenal betul dengan sosok itu langsung berdiri "S--selamat pagi Pak!" Serunya menatap Aldo yang jauh lebih tinggi daripadanya. Jujur saja, dari semua orang yang Dary kenal. Aldo selaku CEO dari GH-Group adalah manusia yang paling ia takuti.
Bahkan melebihi ayahnya. Dary jelas sangat kenal tabiat dan sikap dari sang atasannya itu.
"Membicarakan semua keputusan yang sudah saya perbuat, terlambat datang ke kantor. Dua kesalahan yang saya nilai dari mu pagi ini. Apakah seorang kepala Human Resource Departemen Keuangan selalai anda?"
"M--maaf pak, saya salah. Saya pergi dulu ke kantor pak.. Maaf Key, aku rasa aku tidak bisa membantumu! Tapi aku akan memberikan kontak dari Damian, dia CEO dari J-Group padamu!" Dary langsung berlari menuju kantor yang tidak terlalu jauh dari lokasi temu nya dan Key. Karena memang Dary selalu mengantisipasi akan hal ini.
"Tunggu!"
Langkah Dary yang sudah sekitar 10 langkah mendadak berhenti, ia berbalik badan dan menatap sosok CEO itu. Dary menelan salivanya saat merasakan aura mematikan dari sosok itu. "Y...ya pak?"
Aldo melangkah mendekati Dary, "Apa maksudmu kenal dengan sosok CEO dari J-Grup? Apa kau ada maksud tersembunyi pada perusahaan? Jika kau memang benar-benar ingin melihat perusahaan hancur, maka aku akan lebih dulu menghancurkan siapapun yang ingin melakukannya. Jika kau benar-benar bersekongkol dengan saingan itu, maka kau tidak perlu repot-repot dengan melibatkan gadis itu. Aku lebih tau daripada dia, lebih baik kau berpura-pura baik padaku. Dengar, kau harus harus berhadapan dengan singa jika ingin masuk ke kandangnya!"
Aldo berbalik badan dan kembali berjalan mendekati Key yang saat ini mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Dary langsung meneguk salivanya kasar. Jujur saja, ia sama-sekali tidak ingin menghianati perusahaan GH-Group. Akan sangat jengkel jika ia mengkhianati ayahnya sendiri yang sudah memberikannya kepercayaan untuk menjadi penerus dari GH-Group. Ia kenal dengan CEO J-Group karena memang ia memiliki koneksi yang cukup luas. Dary berbalik dengan kaku, rasa gentarnya masih terasa sampai ke ubun-ubun.
Sementara Key menatap Aldo dengan tatapan kesalnya, ia mengepalkan tangannya di kedua sudut badannya "Al, mau kamu apa sih? APA AL? APAAAA?" Key berteriak tepat di muka Aldo. Key bahkan sudah tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang sedang menatap mereka berdua dengan penasaran.
"Ikut aku!" Aldo langsung menarik tangan Key
"Lepas Aldo, lepas...!" Key berusaha untuk menahan emosinya, ia terus berontak. Namun tiba-tiba Key langsung terdiam saat menatap banyak orang-orang yang mengerumuni mereka dengan blitz-blitz cahaya kamera. Key menutup matanya, sebelum ia merasa ada sesuatu yang menutup nya. Key panik, wajahnya langsung memerah.
"Jangan mendekat!" Ben yang tadi sudah dekat langsung menahan para wartawan yang ingin masih ingin mengambil gambar dari Aldo.
"PERGI! ATAU AKU AKAN MELAPORKAN KALIAN ATAS PELANGGARAN HAK? Kalian mengganggu privasi orang dan jika saya sampai melihat ada gambar yang tersebar, maka kalian semua yang akan menanggung akibatnya!"
Usai dibentak oleh Aldo, mereka semua langsung bubar dengan raut wajah kecewa. Ben terus mengusir para wartawan itu. Sementara Aldo langsung masuk ke dalam mobil dan membawa Key yang masih berada di dalam pelukannya. Aldo menatap wajah Key yang pucat dan memerah, s**t--Aldo mengumpat saat sadar bahwa Key sedang tidak baik-baik saja. Ia kalut saat sadar gadis itu mengeluarkan air mata.
"Ben, bawa mobil nya ke rumahku. Panggilkan dokter Tito, SEKARANG!" Teriak Aldo layaknya orang kesetanan. Ia membuka jaket Key, dan melepas sepatu gadis itu. Mengipas wajah pucat yang sudah tidak sadarkan diri itu. Aldo menutup kedua bola matanya saat membuka dua kancing baju Key paling atas. Hanya membuka lalu menutupnya kembali dengan jaketnya. Aldo terus mengipas wajah Key, dengan wajahnya yang terlihat sangat kalut.
"Apartemen anda atau rumah anda Bos?"
"RUMAH BODOH!! RUMAH!" Aldo menahan tangannya untuk tidak menonjok wajah Ben yang masih bisa-bisa nya bertanya disaat genting seperti ini.
Ben terkejut, Aldo memang sering marah dan mengatainya. Namun lelaki itu tidak pernah ia dapati semarah ini, dan bahkan mengatainya BODOH. Sabar!! Sabar!" Ben mengelus dadanya dan meningkatkan kecepatan mobil yang sedang ia kemudikan.
Aldo menarik nafasnya naik turun, namun wajah Key semakin memerah. "Key...aku mohon, sadar Key!" Aldo berujar dengan suara yang sedikit parau. Ia menatap Ben, dari kaca spion. "Fokus dan jangan lihat padaku Ben. Atau aku akan benar-benar memecatmu jika melihatku!"
"B--baik boss!"Ben tergagap saat menyadari suara dari sang atasannya itu yang sedikit berat. Seolah menahan sesuatu yang tertahan dari tadi. Namun Ben menatap bulu kuduknya yang sudah berdiri tegak. Ia ingin menatap kaca spionnya. Namun langsung memalingkan wajahnya dan berusaha untuk fokus dengan jalanan yang sekarang ada di depannya.
Sementara Aldo masih meyakinkan hatinya, ia memejamkan kedua matanya. "Maaf Key, tadi aku harus melakukannya!"
***
Mobil Ben berhenti di pekarangan rumah besar dan elegan itu, Aldo langsung menggendong Key memasuki kamarnya. Sementara Tito yang baru saja sampai di rumah Aldo bergegas memasuki kamar Aldo. Namun saat menatap Aldo baik-baik saja, Tito menaikkan alisnya "Kau kenapa? Aku pikir kau sakit lagi, tapi nya--!"
"DIAM!! Obati gadis itu sekarang!" teriak Aldo yang baru saja sadar bahwa sejak Tito berada di hadapannya
Tito yang mendapati bentakan Aldo sudah terbiasa dan tidak ada kata tersinggung. Selain sebagai dokter pribadi Aldo dengan bayaran menggiurkan. Tito juga sahabat dekat yang sudah tau seperti apa kepribadian Aldo. Tito masuk, "Key? Kenapa dia bisa ada di sini?" Ujar Tito namun langsung memasang impus pada gadis itu.
Ia tahu betul seperti apa penyakitnya, karena selain Aldo. Ia juga kenal dengan Key karena mereka sempat beberapa kali bertemu di rumah Aldo. Kabar terakhir yang ia tahu dari gadis itu adalah, pergi ke luar negeri dengan kesalahpahaman yang tidak terselesaikan antara Key dan Aldo.
Aldo hanya menatap Tito yang memasang impus, dan menusuk permukaan kulit Key dengan jarum-jarum yang Aldo pastikan tidak pernah disukai oleh gadis itu. Aldo berjalan mondar-mandir, ada dua rasa yang sedang berkecambung di dalam dirinya kali ini.
Antara merasa khawatir dan juga cemburu karena ada lelaki lain yang memegang tangan Key-Nya. Dan rasa cemburunya sepertinya sangat besar, namun Aldo tetap berusaha untuk menahan rasa itu, demi kesembuhan Key. Sepertinya Aldo harus mencari dokter wanita untuk berjaga-jaga, jika berbuat seperti ini lagi pada Key.
Tito selesai menyuntikkan obat anti 'urtikaria aquagenik' yang entah memang sengaja ia bawa atau ia selalu membawanya di tas? Tapi entah apapun itu, Tito merasa bersyukur untuk kali ini. Jika ia harus kembali ke rumah sakit lagi, bisa ia pastikan Aldo pasti akan membunuhnya detik ini juga. Penyakit Key memang sangat langka, dan sayangnya gadis itu adalah salah-satu pengidap penyakit langka itu.
urtikaria aquagenik Adalah penyakit alergi dengan air mata sendiri, gejala nya seperti kondisi saat kulit mengalami reaksi alergi, akan menimbulkan berupa ruam kemerahan dan gatal, setelah terpapar air matanya sendiri. Parahnya lagi, jika pengidap terlalu lama terdeteksi dan tidak segera diatasi. Penderitanya bisa mengalami gangguan ginjal, dan berakhir dengan kematian.
Sementara untuk Key sendiri, gadis itu sudah terlalu sering pingsan saat ia kenal dengan gadis itu.Namun, dari apa yang Tito pelajari. Jika penderita sudah sering pingsan, tidak akan mudah untuk mengobati mereka. Namun kali ini, rasanya sedikit mudah. Selain itu, yang tito khawatirkan dari gadis yang sekarang sedang tidak sadarkan diri itu adalah. Bahwa sebenarnya Key bukanlah pengidap dari penyakit itu. Tito selesai mengobati Key dan bersamaan dengan Aldo yang masuk.
Tito merasa miris dengan hubungan Aldo yang sangat posesif tapi salah mengaplikasikan rasa untuk melindunginya. Sejak dulu, ia sangat tau seperti apa sosok seorang Aldo yang kelihatan baik-baik saja. Namun pada kenyataannya tidak sama-sekali.
"Apa kau memberinya nafas buatan tadi?" Tito menatap Aldo yang langsung menatapnya. Dan dari tatapan Aldo, Tito sadar bahwa dugaannya tadi benar dan tidak meleset sama-sekali.
"Dengar, ada yang ingin aku bicarakan padamu secara pribadi. Tanpa ada orang lain, hanya empat mata!"
Aldo yang menatap Tito sedikit aneh hanya mengerutkan keningnya, namun ia juga menyetujui ucapan dari lelaki itu. Aldo menatap Key, tangannya mengelus wajah Key yang penuh dengan bercak kemerahan yang sudah mulai memudar. Ia menyentuh kening gadis itu, lalu menarik tangannya lalu berbalik. "Ikut aku!"
Tito mengikuti langkah Aldo yang memasuki ruangan di dalam ruangan itu. Dan Tito tau bahwa itu adalah ruangan kerja dari Aldo. Ia masuk dan menatap Aldo yang sedang menatap ke arah sebuah bingkai foto yang membuat Tito hanya menghela nafasnya. Ia menyentuh pundak lelaki itu. "Jangan terlalu pikirkan Al, itu bukan kesalahanmu. Aku tau kau hanya berusaha untuk memberikannya yang terbaik!"
Aldo menarik nafasnya "Apa yang ingin kau katakan? Jika kau ingin memastikan apa aku memberikannya nafas buatan. Kau tidak usah bertanya karena aku tau kau juga tau!"
Tito terkekeh sambil menatap wajah Aldo yang memerah saat mengakui hal itu. Aldo terkenal sebagai lelaki yang mapan, tampan, tanpa celah. Namun di mata Tito, Aldo itu adalah pasiennya yang sangat membutuhkan perhatian khusus. Aldo, sulung Prasetya itu mengidap sebuah penyakit yang tidak pernah diketahui banyak orang. Sebagai dokter pribadinya, Tito hanya merasakan kasihan pada Aldo. Selain penyakit jiwa Aldo, lelaki itu juga sangat memprihatinkan dalam masalah asmara. Sejak dulu sampai sekarang, Aldo bahkan sangat tidak pernah berhubungan lebih pada kaum jenis wanita. Bahkan jika melihat wanita tanpa sehelai benang pun, Aldo sama-sekali tidak memberikan reaksi apa-apa. Tito sangat tau, semua itu adalah karena satu alasan dan karena satu gadis.
"Dengar, apa kau merasa bahwa penyakit Key ini adalah keturunan atau bawaan dari orangtuanya? Dengar, aku memang sangat jarang menemukan penyakit seperti Key. Tapi, aku juga mempelajari mengenai penyakitnya. Dan apa yang aku pelajari, sedikit berbeda dengan apa yang dialami oleh Key. Aku lebih merasa ketika Key menangis, ada sebuah trauma yang tidak bisa gadis itu lupakan. Dengar, trauma memiliki efek yang amat teramat luar biasa. Tidak ada yang bisa mengobati trauma kecuali jika mereka berdamai dengan masa lalu mereka!"
"Berbeda? Apa maksudmu? Aku sudah kenal dia sebelum kau mengenalnya, pengakuan Key juga bilang bahwa ia alergi air mata. Lalu mengapa kau tidak percaya?"
"Kau pintar Aldo, aku tidak akan meragukannya. Namun sepintar apapun kau, aku adalah seorang dokter yang sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Aku rasa, Key memiliki masa lalu yang benar-benar menakutkan. Jika benar Key mengidap penyakit alergi itu, sedetik ia menangis tadi. Ia akan segera koma atau setidaknya pingsan. Namun, dari apa yang aku amati dan berdasarkan pengakuanmu. Aku jadi merasa janggal akan sesuatu hal. Apa kau yakin Key memiliki masa lalu yang baik-baik saja? Kau bilang ayah Key sudah tiada bukan?"
Aldo masih menatap Tito dengan tatapan tajam dan tangan yang terkepal di masing-masing sudut tubuhnya. Ayah Key memang sudah tiada, dan itu karena sebuah kecelakaan kerja.
Tito menepuk bahu Aldo, "Aku yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan darimu Aldo. Aku hanya cemas jika trauma Key semakin bertambah parah, maka kau sendiri yang akan merasakan seperti saat ia pergi tanpa memberitahumu. Aku tidak ingin menambah dosis penenang padamu Aldo. Kau juga harus menjaga kesehatanmu, karena kau adalah harapan terbesar ayahmu. Aku hanya menyarankan, lebih baik kau mencari tahu masa lalu gadis itu. Dan usahakan hanya kita berdua yang tahu hal ini. Aku tahu ayahmu pasti sudah menyuruhmu untuk menjauh darinya bukan? Kau harus pintar di dalam dunia nyata juga Aldo. Jangan hanya di dalam bisnis saja!"
Tito keluar dari dalam ruangan pribadi itu. Ia menatap ke arah ranjang, dan sedikit memeriksa keadaan gadis itu lagi.
"Jangan menyentuhnya!"
Tito menatap kearah pintu, dimana sosok Aldo sedang bersandar di tembok dan menatapnya dengan datar. Tito hanya terkekeh lalu menurunkan tangannya yang hendak menyentuh kening Key. "Baik...aku tau kau bisa memeriksa panasnya. Aku pergi dulu, jika ada yang tidak beres dengannya. Kau bisa menghubungiku."
Aldo hanya mendengkus saat menatap Tito yang tersenyum mengejek. Lelaki itu keluar dari dalam kamarnya. Dan sedetik setelah Tito keluar, Aldo langsung jatuh terduduk di atas lantai. Memeluk lututnya yang terasa lemas. Aldo menutup wajahnya dan menyatukannya dengan kedua tangannya. Tito benar, semua kejadian yang menimpa mereka memang terasa ada yang janggal. Dan juga kasus kematian ayah Key, yang ia anggap sedikit ada kejanggalan. Aldo menghela nafasnya dalam, jika ia kehilangan Key. Maka ia juga kehilangan dunianya. Sekarang key sudah berada di dekatnya, Aldo tak lagi ingin bodoh seperti dulu.
Aldo harus bangkit, dan mencari tahu apa yang terjadi pada mereka dulu.