Bagian 9 : Jodoh?

2127 Kata
Key memanyunkan bibirnya, ia hanya menatap Keiko dengan raut wajah kesalnya yang luar biasa. Ia mengambil snack di atas meja dan memakannya dengan barbar. Melampiaskan kekesalannya dengan makanan yang ada sedang berada di dalam mulutnya. Bahkan karena masih kesal, Key mengunyah dengan kasar juga. Membuat Keiko yang tadinya ingin membiarkan gadis itu sendiri tidak tega. Ketika Key baru sampai di apartemennya tadi saja. Wajah Key sudah sangat memerah dan hampir menangis. Untung saja ia masih bisa membantu Key untuk menahan air mata gadis itu. "Jadi, apa kau memang tidak memeriksa siapa-siapa saja nama penghuni di apartemen itu? Astaga Key, dari sekian banyak manusia di Jakarta ini. Kenapa harus Aldo lagi sih? Atau...JANGAN-JANGAN KALIAN JODOH!" Keiko masih usil lagi. BUKK--Sebuah bantal langsung mendarat di wajah mulus Keiko, gadis itu hanya terdiam dan berusaha untuk meredakan tawanya. Sama sekali tidak merasa tersinggung dengan Key yang melemparkan bantal padanya. Keiko sudah sangat-sangat kenal dan tau seperti apa sifat dan tabiat dari key ketika sedang marah, senang dan bahagia. Dan kali ini Key pasti sedang tidak ingin bercanda, alias Key-nya sedang marah. "Apa kau sebahagia itu Ki?" kesal Key mengambil makanan itu lagi dan menggigitnya kuat. Seolah snack itu adalah Aldo, dan Key melampiaskan kekesalannya padanya detik ini juga. Keiko mengusap punggung Key, "Sudah Key, aku hanya bercanda kok. Aku juga tidak pernah suka jika melihatnya. Aku juga ikut prihatin denganmu, terlebih pada lelaki itu. Jadi apa rencanamu kali ini ? Apa kau mau pindah saja dari apartemen itu? Meski aku tidak yakin kalau kita akan mendapatkan apartemen yang sesuai dengan seleramu, karena hanya itu apartemen yang jauh dari keramaian tetapi tetap terjaga dan aman. Apartemen lainnya itu berada di keramaian, dan tentunya itu tidak nyaman dan aman. Ini bukan Cambridge Key, dan ini adalah Jakarta. Tempat di mana maling bertebaran. Dan para jambret selalu mengintai setiap malam. Ya intinya, tidak ada tempat yang aman selain di lokasimu!" Key terdiam menatap Keiko, "Meskipun aku ingin pindah, tapi aku sudah membayar kontraknya selama setahun Ki. Jika aku harus pindah, selain biaya materi. Aku juga harus memikirkan ibu yang sedang dirawat di rumah sakit!" Keiko menatap Key dengan iba, sebenarnya alasan utama Key itu pulang ke tanah air bukan lah karena ingin mencari pekerjaan di perusahaan saham ternama di Ibu kota. Key bahkan sudah kontrak kerja di perusahaan modeling dan arsitek business saat di US. Dengan gaji yang begitu menggiurkan dan juga sangat disayangkan ketika sahabatnya itu memilih resign dan kembali. Semua itu hanyalah karena permintaan ibunya, Key saat ini hanya punya ibu. Dan itu pun beliau di rawat di rumah sakit. Key sering-sering pulang ke rumah ibunya di Bandung. Anna--Ibu Key-- dirawat oleh saudara lelaki Key, Hamdan. Lelaki itu bekerja Hardware Engineer, yang merupakan pekerjaan di industri mikroprosesor dan integrated circuit yang melibatkan proses fabrikasi mikroelektronika dan desain arsitektur mikroprosesor. Dan pekerjaan yang sedang digeluti oleh saudaranya itu tidak perlu ke perusahaan. Hamdan bisa memilih untuk bekerja di mana saja, dan abangnya itu memilih untuk bekerja di rumah. Sambil merawat ibu mereka yang sering keluar masuk rumah sakit. Gaji Hamdan dalam kurs Indonesia cukup besar meski abangnya itu hanya lulusan S1 dari dalam negeri saja. Namun abangnya itu bisa bekerja di 3 perusahaan berbasis internasional dan juga nasional yang tentunya memperbolehkan pekerjaan sepertinya untuk tidak datang ke kantor. Selain itu, gaji Hamdan juga bisa membiayai biaya obat ibunya tanpa harus melibatkan Key. Namun, meski begitu Key tetap tidak ingin tinggal diam saja. Seolah-olah lepas tanggung jawab dari ibunya. Dan melimpahkannya pada abangnya, karena biar bagaimanapun juga. Ia tetaplah anak dari ibunya dan tetap menjadi darah daging wanita paruh baya itu, sehingga Key akan tetap memperjuangkan kesehatan ibunya itu. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan Key? Apa sudah bertemu dengan mas Dary tadi di perpustakaan?" Key menatap keiko curiga, "Apa kau yang memberitahu padanya agar datang?" Keiko diam, membuat Key lagi-lagi harus menghela nafas nya. Ia memang sangat tau bahwa pertemuan tidak sengaja mereka di perpustakaan itu bukan lah hanya kebetulan saja. Ia tahu betul bahwa itu sudah terencana, karena bagi Key. Tidak ada hal yang kebetulan bagi Key. "Key, aku hanya ingin yang terbaik untuk sahabat ku saja. Dulu, kau yang membantuku keluar dari dunia kelamku. Dan bahkan sampai aku bisa membangun tokoku sendiri, mempekerjakan karyawan dan bahkan aku sudah berencana untuk membuka kantor cabang baru. Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku sendiri Key. Tidak hanya kakak, tapi sebagai sahabat, adik, ibu, nenek, kakek...!" PLATAK-- Key memukul Keiko lagi dengan bantal nya, ia sudah tahu bahwa ending dari pembicaraan sok serius Keiko akan berujung ngawur. Dan sungguh Key sangat hafal dengan tingkah konyol sahabat nya itu. "Yak..Key!" Keiko mengaduh dan mengusap keningnya Key hanya tertawa dan membawa Keiko ke dalam pelukannya. Gadis keturunan setengah Jepang setengah indo itu balas memeluk Key dan berakhir dengan tertawa bersama. Cukup lama hingga Key sadar bahwa hari sudah sangat larut "Aku rasa aku harus pulang Ki, aku akan mengirim lamaran kerjaku besok ke perusahaan saham J-Group. Jadi, aku masih harus menyiapkan beberapa kertas kerja lagi" Keiko menatap Key yang sudah beranjak "jadi apa kau sudah menilai seperti apa Mas Dary? Dia bahkan langsung gerak cepat, bukan begitu Key?" Keiko menaik turunkan alisnya, berusaha untuk menggoda Key. Namun sayangnya Key hanya menatap Keiko heran "Aku jadi berpikiran bahwa kau menyukai Mas Dary Ki, jika kau suka. Kenapa tidak kau embat saja? Kau kan ahli dalam bidang percintaan dan masalah asmarah!" Key balas menggoda Keiko "Yak.. kau ini, selalu tidak berubah sejak dulu. Tapi apa kau serius ingin pulang naik bis Key? Aku bisa mengantarmu jika kau mau!!" "Tidak perlu, aku tau kau juga sedang sibuk Ki. Aku sudah cukup berterima kasih atas pinjaman mobil gratismu, aku pulang dulu ya!" "Aku akan mengantarmu ke stasiun Key! Tunggu!" Keiko mengambil jaket nya dan juga kunci mobil nya. Dan segera menyusuk key yang hanya menghela nafas nya "Aku kan sudah bilang--!" "Shut.. naik saja!" Key hanya bisa pasrah dan akhirnya mengikuti Keiko dan masuk ke dalam mobil gadis itu. Mobil itu membawa Key ke stasiun bus dan Keiko bahkan memastikan bahwa Key pulang dengan aman. "Aku pergi dulu ya Ki!" teriak Key dari dalam bus Melambaikan tangannya pada Key bersamaan dengan bus itu yang sudah pergi dari hadapan Keiko. **** Aldo berdiri mondar-mandir di dalam lobby apartemen, ia menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 23.05 WIb. Dan Key masih belum pulang sejak tadi, membuat Aldo tidak fokus dengan pekerjaannya sejak tadi. Sejak memastikan bahwa gadis itu memang pergi ke apartemen sahabat gadis itu. Aldo awalnya ingin menunggu saja, namun sesuatu terjadi di kantornya. Membuat ia harus segera kembali ke kantor dan menyelesaikan urusan kecilnya. Namun, sampai ia pulang kembali ke apartemen barunya. Ia masih belum melihat gadis itu kembali. Ia juga sudah bertanya pada Zane, dan lelaki itu bilang Key belum pulang sejak tadi. Perasaan Aldo kalut, ia sangat takut terjadi apa-apa dengan gadis itu. Ia tidak ingin gadis itu kenapa-napa. Setiap saat, Aldo bahkan keluar dari lobby menatap ke arah parkiran. Dan gadis itu masih saja belum datang, hingga saat Aldo menatap Key berjalan dari gerbang apartemen. Tanpa mobil dan juga gerimis yang turun. Dengan refleks Aldo langsung mengambil jaketnya, berlari ke arah Key yang juga terkejut menatapnya. Aldo memasang jaket itu di kepala Key dan menggenggam tangan Key berlari menuju apartemen. "Apaan sih Al? Lepas!" kesal Key menarik tangannya, ia langsung melempar jaket Denim Aldo yang tadi berada di tubuhnya. Beberapa menit yang lalu, Key bahkan tidak sadar bahwa Aldo menariknya memasuki gedung apartemen. Namun ini bukanlah situasi yang dia inginkan. Suer deh, amit-amit rasanya di gituin sama musuhkan? Atau, apa cuman Key saya yang menganggap Aldo itu musuh abadinya? "Kamu kemana aja sih Key? Ini sudah larut malam dan kamu juga gak naik mobil, ini Jakarta Key. Kejahatan itu di sini rawan banget!" Aldo balas membentak Key. Aldo masih menatap gadis di depannya dengan kalut. Key menatap Aldo dengan alis berkerut "Bukan urusan Anda!" Teriak Key dan segera meninggalkan Aldo, menghilang di balik lift. Aldo yang sadar apa yang baru saja ia lakukan hanya menarik nafasnya dalam, tadi ia ternyata berada di dalam angan-angannya saja. Ia beranggapan bahwa Key itu sudah tidak membencinya, namun gadis itu dan perkataannya yang menyadarkan Aldo. Membuat ia sadar bahwa gadis itu masih membencinya. Aldo menatap jaket Denim yang tergeletak di lantai. Ia menarik nafas panjang, ia mengambil jaket itu kembali. "Aku seperti mu saja. Jika dibutuhkan, maka akan diingat. Jika tidak, kau akan dibuang. Kenapa tidak ketika aku membawanya dari hujan melemparkanmu hah? Dasar jaket, tapi aku suka!" seru Aldo menatap Jaket itu dengan kesal. Namun, Aldo langsung teringat sesuatu dan langsung mengambil ponselnya. "Ben, sudah kau lakukan perintahku?" Aldo langsung berbicara saat sambungan teleponnya terangkat di seberang sana Sementara Ben yang masih setengah sadar dengan sosok wanita yang sedang berada di sebelahnya menatap layar ponselnya. Ia menatap dengan teliti "Ahh...Iya bos. Sudah-sudah, akan segera saya kirimkan!" "Euhhh!" Wirdah yang tidak siap dengan Ben yang tiba-tiba berdiri langsung terjatuh ke atas kasur dengan tidak etisnya. Ia menatap suaminya itu yang langsung kocar-kacir dan memungut pakaiannya. "Apa bosmu itu lagi yang mengganggumu mas?" Ben memakai bajunya dan menatap istrinya yang masih setengah sadar itu "ia sayang..maaf jika membangunkanmu. Mas kerja dulu ya, kamu lanjut tidur dulu!" Ben mengecup wajah istri matrenya itu dan memakaikan Wirdah selimut. Meski Wirdah kelihatan tidak ingin, namun ia hanya bisa mengangguk. Ben memang sudah menjadi b***k dari bos nya itu. Bahkan waktu malam pun Ben seringkali di telepon untuk hal-hal sepele. Jika Wirdah punya jabatan, ia sudah sangat ingin menendang b****g atasan suaminya itu. **** Key terdiam di dalam kamarnya, ia masih mengingat wajah Aldo yang tadi terlihat sangat khawatir padanya. Ia menutup kedua matanya, bingung. Key benar-benar bingung dengan setiap perlakukan dari Aldo padanya. Terkadang, lelaki itu membuatnya merasa sangat membenci. Namun terkadang, Aldo juga membuatnya merasa nyaman. Aldo adalah sebuah misteri bagi Key, ia ingin sekali tidak berhubungan dengan lelaki itu. Namun, apapun alasannya dan kapanpun itu. Mengapa semuanya berakhir dengan Aldo? Key menatap layar ponselnya, di sana. Di dalam ponsel itu, terdapat gambar-gambar Key dengan sang ayah. Tepat hari ini, adalah hari ulang tahun dari mendiang ayah. Key menyandarkan badannya ke sandaran kasur. Menahan air matanya yang hampir menetes, dengan sekuat tenaga. Key, ia masih jelas ingat apa kata terakhir yang diucapkan ayahnya itu sebelum benar-benar pergi untuk selamanya. FlasBack Malam itu dingin sekali, dan sosok gadis kecil bermantel tebal sedang duduk di luar ruangan yang tidak terlalu besar. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan gadis itu masih tetap menunggu. Angin ribut dari luar, serta suara alir mengalir menyadarkan gadis itu bahwa hujan masih tetap turun sampai detik ini. Ia sendirian Tidak punya teman Terkurung di dalam heningnya malam, tidak tau siapa yang ada di sekelilingnya. Dan ketakutan. Gadis kecil itu ketakutan saat mendengar suara pintu dibuka. Ia mendorong tubuhnya yang sudah kedinginan ke sudut ruangan. Berusaha untuk bersembunyi dari bayangan yang terlihat karena gelapnya malam dan tanpa pencahayaan. Silau Key--gadis kecil itu menutup kedua matanya saat menatap cahaya yang berasal dari lampu yang ada di tengah-tengah. "Key? Nak...?" Key, gadis itu belum keluar dari tempat ia sembunyi. Namun ia kenal dengan suara itu. Suara yang selalu menemaninya ketika ia ingin terlelap tidur. Key masih berusia 11 tahun, dan ia sudah bisa menebak bahwa suara itu adalah "Ayah?" Key yang mengintip itu langsung berdiri saat dugaannya benar. Ia langsung berlari memeluk kaki lelaki tinggi itu. "Nak.... kau masih selamat ? Kau...selamat, syukurlah nak!" lelaki paruh baya itu langsung terisak menangis. Ia jatuh terduduk dan langsung membawa gadis kecilnya itu ke dalam pelukannya. "Ayah...! Ibu, abang, dimana?" Diam dan tidak menjawab. Lelaki paruh baya itu langsung meletakkan telunjuknya di depan bibir Key. "Sekarang ikut ayah, ayah akan membawamu pada ibu dan Hamdan!" Key kecil mengangguk. Mereka memasuki mobil dan pergi dari ruangan kecil itu. Namun, di pertigaan kota, dimana jalanan sangat sepi dan tidak ada yang melintas. Sesuatu menabrak mobil mereka dari depan. Key terlempar dari dalam mobil, dan tidak lama. Ia mendengar ada yang menembaki mobil mereka. Key masih sadar, ia sangat sadar bahwa ayahnya sedang dalam bahaya. Namun karena telunjuk ayahnya yang menunjuk mulut nya agar tetap diam membuat Key tidak bisa berbuat apa-apa yang hanya bersembunyi di dalam semak. "Jaga dirimu nak! Kelak, kau juga akan merasakan seperti apa kerasnya hidup ini!" Key meneteskan air matanya saat mengingat kata-kata terakhir itu. Hanya dia satu-satunya yang tau bahwa ayahnya meninggal karena dibunuh. Bukan karena kecelakaan kerja. Key masih terisak, bersamaan dengan rasa sesak di bagian d**a Key. Ia langsung mengambil obatnya dan meminum pil itu. Key berusaha untuk tidak lagi meneteskan air matanya dan menutup kedua bola matanya. Rasa sesak di d**a Key berangsur-angsur menghilang dan ia kembali membuka kedua matanya. Key tau, bahwa Aldo mengkhawatirkannya karena penyakit yang ia punya. Namun, Key sangat ingin memasuki perusahaan saham itu. Karena Key yakin, bahwa kematian ayahnya berhubungan dengan perusahaan itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN