Bagian 8 : Aldo menjebak Key

2143 Kata
Key sudah sampai di parkiran gedung yang tidak terlalu tinggi, hanya terdapat sekitar 6 lantai jika ia tidak salah ingat. Gedung apartemen yang sudah ia tinggali selama beberapa bulan terakhir ini. Tidak terlalu luas dan mewah memang, tapi bagi Key. Apartemen itu sungguh sangat nyaman. Berada tidak jauh dari  kota, namun memiliki akses yang sangat-sangat nyaman. Tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang di daerah apartemen Key. Dan alasan lainnya adalah karena apartemen Key memang sangat-sangat asri. Banyak pepohonan yang ditanami, tumbuhan hijau dan beberapa pohon buah. Tidak hanya di luar, namun juga di dalam apartemennya. Siapa yang tidak akan nyaman tinggal di daerah seperti itu setelah melepas penat kerja seharian? Pastinya tidak ada, semua pasti akan sangat suka tinggal di daerah apartemen itu. Ya meskipun alasan lainnya adalah Harganya yang irit.  Key tidak munafik, sebagai seorang gadis yang bukan berasal dari kasta orang kaya. Ia tentu saja harus bisa hidup hemat namum mewah.  Byasalah..... Key dengan langkah panjangnya memasuki lobby apartemennya. Di lantai pertama, tidak ada kamar sama-sekali. Hanya ada sofa untuk tamu dan beberapa sudut ruang baca. Key menatap sosok resepsionis yang selalu berjaga pagi-malam. Zane, lelaki ke Arab-araban yang mempunyai tampang lumayan.  Key hendak menyapa lelaki itu, namun belum sempat Key sampai mengeluarkan suaranya. Lelaki itu langsung pura-pura sibuk dengan layar monitor di depan lelaki itu. Key mengerutkan keningnya lalu menggelengkan kepalanya.  "Kau sedang sibuk?" Key masih mengajak lelaki itu untuk berbicara.  Biasanya itu, Zane lah yang mengajaknya untuk berbicara lebih dulu. Namun entah angin apa yang membuat lelaki itu diam malam ini.  "Ahh iya, segeralah masuk nona. Jangan berlama-lama di sini" Key melongo saat Zane sama-sekali tidak menatapnya. Ia menatap lelaki itu sekali lagi lalu masuk ke dalam liff. Aneh, ini benar-benar sangat aneh. Zane tidak pernah tidak menyapanya, bahkan jika telat untuk menyapanya pun. Lelaki itu selalu ingat untuk tersenyum dari kejauhan barang sekalipun. Key menggelengkan kepalnya, mungkin lelaki itu sedang ada masalah.  Key melanjutkan langkahnya untuk memasuki apartemennya seperti biasa. Apartemen Key berada di lantai dua, dan hanya ada satu kamar lain selain miliknya. Dan sampai sekarang, Key tidak tau siapa penghuni dari kamar itu. Di lantai dua memang hanya terdapat dua kamar, dan ruangan singgah yang terdapat di sebelah kamar di depannya. Key membuka apartemennya dan langsung merebahkan dirinya di atas sofa.  Tidak lama, hanya beberapa menit sebelum gadis itu langsung mengambil handuknya dan memasuki kamar mandi.  Ruangan dengan luas 25x 30 itu memang tidak terlalu luas. Di sudut-sudut ruangan itu terdapat beberapa jenis tumbuhan hijau yang benar-benar terasa menyejukkan sekalipun untuk para jomblo seperti penghuni kamar itu. Kamar dari apartemen itu benar-benar di desain dengan sangat indah, sangat cocok untuk para kaum rebahan yang sangat menyukai kesendirian yang hqq. Benar-benar nyaman membuat Key yang baru pertama kali melihat-lihat apartemen itu, tanpa pikir panjang langsung menyetujui kontraknya.  Usai berendam sekitar 15 menit, Key langsung membersihkan tubuhnya lalu kembali dengan atasan sport hitam mereka adidas. Dengan celana keluaran nike terbaru. Key memang tidak ingin olahraga, namun kapanpun kecuali jika ada urusan. Key lebih suka mengenakan baju-baju sport miliknya. Selain nyaman, kemanapun bisa ia pakai. Bahkan sejak kecil, Key selalu berusaha membeli barang-barang dengan merek-merek ternama itu. Meskipun yang mampu ia beli hanyalah barang-barang kw murahan. Yang jika ia pakai tiga bulan sudah robek. Tapi untuk sekarang, setidaknya ia sudah mampu untuk membeli barang original itu.  Key menatap ponselnya yang tergeletak di atas ranjangnya sambil mengeringkan rambutnya. Ia menatap pesan dari nomor yang tidak ia simpan. Kening gadis muda itu berkerut, ia yakin dan bahkan sangat ingat bahwa ia sangat jarang memberikan nomornya pada orang asing. Key mengabaikannya lalu memilih untuk mengeringkan rambutnya kembali.  15 menit berlalu, Key sudah sangat segar dan terlihat santai. Namun ia kembali teringat dengan mobil Keiko yang belum ia kembalikan. Dengan memakai sendal jepitnya, ia mengambil kunci mobil dan juga dompetnya. Sepertinya ia harus mengembalikan mobil gadis itu sekarang.  Key keluar, lalu menutup pintu apartemennya bersamaan dengan pintu di belakang Key yang juga terdengar seperti di buka. Key berbalik karena penasaran untuk melihat siapa penghuni tetangga sebelahnya itu. Namun saat ia berbalik dan netranya saling menatap dengan si pemilik apartemen itu. Penyesalan langsung menghantam benak Key bertubi-tubi.  "Jakarta sempit ya, apa kau sedang mengikutiku?"  Key menatap sosok lelaki itu dengan kesal, ia membuang nafasnya kasar lalu kembali berjalan dan tidak menghiraukan lelaki tadi. Namun lagi-lagi Aldo, lelaki yang ternyata ada manusia yang baru keluar dari apartemen itu menghentikan Key. Aldo menangkap tangan Key, namun ia segera melepaskannya ketika sadar bahwa Key tidak suka.  Aldo memang sengaja untuk mengintip moment yang tepat. Ia bahkan sengaja mengintip kapan pintu Key terbuka kembali meski ia sangat tidak yakin gadis itu akan keluar lagi. Namun saat mendengar pintu gadis itu terbuka, Aldo langsung masuk ke dalam apartemennya. Menunggu moment yang tepat hingga seperti menciptakan keadaan ketidak sengajaan.  "Masih marah Key?" Seru Aldo menatap netra Key yang juga sedang menatapnya berang. Ia sangat tau bahwa gadis itu pasti masih kesal dengannya.  "Ngapain sih kamu di sini Al? Aku tau kamu bukan lah penghuni apartemen di depan aku, kamu sengajakan? Iya kan? Hayoloh, ngaku aja! Dasar penguntit!"  "Ihhh...emang kamu tau siapa pemilik apartemen di depan itu sebelumnya? Aku lebih dari setahun udah nyewa disini. Tapi memang jarang ke sini karena banyak urusan kantor. Atau kamu yang sengaja nyari dimana tempat tinggal aku gitu? Kalo kamu suka sama aku, bilang aja Key. Biar aku tau memastikan keadaan hati ku ini!"  Key melongo menatap Aldo yang masih saja seperti Aldo yang dulu. Tetap narsis dan penuh dengan kepercayaan diri. Key menarik nafasnya dalam dan menarik tangannya yang sejak tadi di pegang oleh lelaki itu.  "Udah Al, aku masih kesal lihat kamu!"  Key berjalan memasuki lift dan langsung menutup pintunya sebelum Aldo sadar bahw ia sudah pergi. Key sampai di lantai satu dan langsung menatap Zane yang juga sedang berada di sana. Key dengan langkah panjangnya langsung menghampiri Zane.  "Zane, kamu tau sejak kapan penghuni di depan apartemen aku nyewa?"  Zane menatap sosok gadis yang menatapnya dengan tatapan bringas. Seolah jika ia tidak menjawab, maka gadis itu akan membunuhnya dengan lasernya. Oke, kelewatan memang. Tapi Zane memang sedikit takut melihat sosok gadis yang sekarang sedang ada dihadapannya. "Sudah setahun yang lalu nona, jauh sebelum anda menyewa. Tapi pak Aldo memang sangat jarang di sini, beliau lebih sering menginap di kantor!"  Key menahan nafasnya, lalu menetralkan raut wajahnya. Ia langsung pergi tanpa berkata apa-apa pada Zane yang masih tetap menatapnya. Dan di parkiran mobil, Key lagi-lagi menatap Aldo yang sudah duduk bersender di samping mobil Keiko. Key berjalan mendekat dan langsung memasuki mobilnya itu. Namun lagi-lagi ia harus menahan kesal karena Aldo juga ikut-ikutan masuk ke dalam mobil. Duduk di depan, tepat di sampingnya.  "Al, mau kamu apasih? Aku yakin banget kalo kamu itu kerjasama sama si Zane. Iyakan? Aku tau betul kamu bukan orang yang nginap di depan apartemen aku. Sekarang, mumpung kamu juga masih disini. Apa yang kamu mau?"  Aldo masih terdiam, ia menatap wajah Key yang memerah. Dan ia sadar bahwa gadis itu pasti sedang marah. Aldo menyandarkan badannya di sandaran mobil. Ia menutup kedua bola matanya. "Kamu sampai sebenci itu sama aku Key? Sampai-sampai kamu gak pernah percaya gitu sama aku? Aku udah lebih lama di sini daripada kamu. Kan aku udah bilang, kalo kamu memang suka sama aku. Langsung bilang dong, atau langsung tembak aku dong. Gimana sih?"  Key lagi-lagi menahan nafasnya kesal, "oke aku salah. Bisa gak sih keluar dari mobil aku sekarang?"  "Key..!" Aldo berbicara dengan nada yang serius. Aldo bahkan duduk menghadap dengan Key, "Apa kamu masih marah soal wawancara itu? Key, dengarin aku sekarang. Aku gak ada maksud apa-apa dengan nolak kamu di perusahaan aku. Itu semua demi kebaikan kamu Key, tidak ada maksud yang lain. Perusahaan saham itu kotor, banyak wanita yang tidak kuat untuk berada di sana. Semuanya menyerah dengan derai air mata ketika keluar dari perusahaan. Jika kamu itu bisa menyelesaikan masalah dengan menangis. Okeyy....it's fine, aku bakal langsung nerima kamu Key. Tapi...kamu itu beda Key, kamu itu bahkan terancam hidup jika menangis. Dan aku gak bisa biarin itu!"  "KALO GITU TERUS, KAPAN AKU BISA MELAWAN ITU AL? AKU UDAH TAU AKAN HAL ITU, AKU UDAH SADAR DARI LAMA. AKU...AKU HANYA MENCOBA UNTUK MELAWANNYA!" Key berteriak tepat di depan wajah Aldo. Key sangat sensitif sejak dulu jika harus bersangkut paut dengan hal itu. Ia bahkan sampai-sampai membenci karena hal itu.  "Key....!"  "Stop Al, stop. Kamu melakukan hal ini bukan untuk kebaikan aku, tapi malah semakin memperburuk keadaan. Sekarang keluar do, please!"  "Key..!"  "Do, plisss!" Key tidak menatap wajah Aldo sama-sekali.  Aldo menatap wajah Key yang sudah memerah, Aldo mengambil sesuatu dari balik jaketnya. Lalu meletakkannya di pangkuan Key, "Jangan sampai nangis Key, aku mohon!"  Key sama-sekali tiadak merespon Aldo. Bahkan sampai saat lelaki itu keluar dari dalam mobil, Key tidak menatap lelaki itu. Ia langsung menancap gas mobilnya dan pergi dari daerah apartemen itu dengan sekuat tenaga untuk menahan air matanya untuk tidak keluar.  Sementara Aldo masih berdiri di parkiran, ia menatap mobil yang sedang dikendarai oleh Key sudah menghilang dibalik pintu gerbang. Dengan sigap, ia juga langsung mengambil mobilnya dan mengikuti kemana mobil itu pergi. Aldo tidak bisa membiarkan Key pergi dengan keadaan yang tidak baik. Karena bagi Aldo, meskipun Key selalu tidak pernah melihat apa tujuannya. Ia akan tetap mempertahankan gadis itu.  Bahkan, sekalipun ayahnya nanti akan melarangnya.  *** Bruk-- Lelaki dengan pakaian hitam yang sudah koyak sana-sini berdiri tegap di dalam ruangan kosong itu. Tidak kosong karena ada dirinya, sebuah cambuk dan juga sosok lelaki lain yang memegangi cambuk itu. Cetak....Sekali lagi, suara cambuk terdengar begitu memilukan sampai ke telingan. Tidak ada orang yang menghentikan kegiatan itu sama-sekali. Sekalipun sosok Josua, lelaki yang sedang berdiri di luar ruangan dengan wajahnya yang juga sudah kacau.  "Aku menyekolahkanmu agar bisa menyaingi perusahaan itu, tapi ini apa hah? Aku pulang dari luar negerti, berharap kau akan memberikanku sebuah kabar yang membanggakan ku Damian. Tapi ini....!"  Cetakkkk...Lelaki yang sedang disulut emosi itu kembali memainkan cambuknya. Membuat baju lelaki itu semakin bertambah sobek. Damian--lelaki itu tetap saja diam, tidak membuka suara barang sedikitpun. Dia hanya diam sambil menikmati cambukan yang tidak terasa sakit sama-sekali. Damian, seorang yang tidak memiliki orang tua. Berakhir menjadi anak angkat sosok lelaki di depannya ini. Kehidupan Damian bukannya terasa lebih muda ketika ia memiliki orang tua angkat. Namun sebaliknya, semenjak kecil sampai sekarang. Setiap ia salah, maka cambuk akan menyapa kulit punggungnya. Bahkan sewaktu Damian masih kecil, ia pernah pingsan saat pertama kali berkenalan dengan cambuk lelaki yang sekarang masih berada di depannya. Miris...Damian sudah berkali-kali mencoba untuk kabur. Namun ia selalu ketahuan, seolah Jakarta ini memang sangat sempit sekali.  "Kau tidak menaikkan rating dari perusahaan kita, maka aku akan mengirimmu keluar negeri!"  Blak....Josua langsung menunduk saat pintu di depannya  di banting. Ia tidak berani menatap sosok lelaki tua yang juga sedang menatapnya.  "Kau...jika kau tidak berguna, maka aku akan mengirimmu ke alam yang kau inginkan"  Josua langsung menundukkan badannya lebih rendah dari sebelumnya, namun ia tidak mengeluarkan suara. Bahkan sampai saat lelaki itu pergi, barulah Josua berani angkat kepala. Dan segera berlari ke dalam ruangan itu. Di dalam ruangan gelap tanpa penerangan itu. Sosok lelaki yang paling ia hormati terduduk lemah membelakanginya. Punggung lelaki itu mengeluarkan darah dari balik bajunya yang sudah sobek sana-sini.  "Boss..!"  Brukk--Sebelum tangan Josua sampai menghadap lelaki itu, sosok itu sudah lebih dulu ambruk ke depan. Dengan mata tetap terbuka, namun Josua sama-sekali tidak tahan menatap sorot mata bosnya itu. Damian ambruk karena tidak tahan merasakan sakit di sekujur badannya yang memanas. Matanya menatap nanar ke dalam kegelapan yang ada di depannya. Damian--ia--ia hanya menginginkan sebuah kehidupan yang Damai. Dengan sosok yang bersamanya.  "Boss...bosss!"  Damian menatap sosok lelaki yang terus memanggil namanya. Ia bahkan sudah tak lagi peduli ketika lelaki itu memawanya pergi dari ruangan itu. Yang terakhir ia ingat adalah semuanya sudah gelap. Namun di detika sebelum Damian merasa gelap, ia teringat dengan sosok gadis yang ia temui di cafe beberapa jam sebelum ia mengalami hal ini. Damian hanya ingat dengan gadis itu, sebelum ia benar-benar tak lagi merasakan apa yang terjadi padanya.  *** "Bagaimana dok?"  "Tidak apa-apa, keadaannya sudah mulai membaik. Lebih cepat dari biasanya dan ini ada sedikit peningkatan!" sosok lelaki berkacamata dengan pakaian serba putih kembali duduk setelah memasang impus di tubuh lelaki yang sedang terbaring lemah di ranjang.  "Ah...syukurlah!"  Max, dokter itu menatap Damian dengan helaan nafas yang cukup panjang. Sebagai dokter pribadi lelaki dingin itu, ia sangat-sangat tau seperti apa beratnya kehidupan lelaki itu. Jika ia berada di posisi lelaki itu untuk sekarang, ia mungkin sudah akan pergi sejauh yang bisa ia lakukan. Karena jujur, ia sangat tidak tahan dengan kekerasan dalam keluarga. Sekalipun mereka itu adalah orangtua angkat kita.  "Jos..kemarilah, ada yang ingin aku sampaikan padamu!"  Josua mendekat, bersamaan dengan sosok dokter itu yang menyelipkan sesuatu di balik obat yang diberikan padanya. Mereka hanya berkomunikasi lewat tatapan mata. Sebelum pada akhirnya dokter itu pergi setelah memastikan bahwa Damian sudah lebih baik. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN