Chapter 8 :
Club (1)
******
Violette:
HAHA. Dia bisa sakit juga? Memikirkannya saja rasanya aku ingin tertawa. Ah...dia manusia juga, ya? Aku baru ingat. Demi apa pun, memikirkannya meminum obat, tergeletak di kasur sambil berselimut, dan apa pun itu yang berkaitan dengan orang sakit, itu semua membuatku ingin tertawa. Ini akan menjadi bahan ejekan yang bagus untuknya.
Setelah diberitahu soal itu, aku jadi tersenyum geli sendiri.
"Violette?" panggil manajer personalia itu lagi. Aku terperanjat.
Bloody hell! Mengapa aku jadi senyum-senyum sendiri di sini? Sial!
"H—Hah? O—Okay, sir. Terima kasih atas pemberitahuan Anda. Saya permisi ke luar."
Manajer itu mengangguk padaku dan aku membungkuk sedikit, berpamitan padanya. Setelah itu, aku berjalan ke luar dan menutup pintu.
Ketika aku sudah berada di balik pintu, aku mulai menahan tawa. Aku berjalan menjauh sebentar, lalu ketika aku sudah jauh dari jajaran ruang manajer, aku tertawa sepuasnya. Akhirnya! Tuhan membalaskan dendamku kepada pria kejam itu. Argh! Sial, aku malah sakit perut karena terus tertawa.
Setelah aku puas tertawa, akhirnya aku sampai di dekat lift dan langsung memasukinya, memilih untuk pergi ke lantai dua, ke divisi marketing. Aku ingin berbicara pada Megan, menghabiskan waktu bersama Megan dengan bebas pasti akan menyenangkan.
Ketika aku sampai di divisi marketing, seperti biasa semua orang mulai memberikan tatapan aneh padaku. Aku mengernyit keheranan; aku merasa bak orang yang berprofesi sebagai mata-mata, tetapi malah jadi perhatian orang. Namun, aku hanya meneruskan langkahku ke meja Megan dan kutemukan gadis itu masih fokus pada pekerjaannya. Dia mungkin sedang mencatat produk-produk yang sedang direncanakan atau sudah dipasarkan.
"Megan!" teriakku ketika aku sampai di depannya. Aku menepuk bahunya. Dia terperanjat, nyaris jatuh ke belakang dan mataku terbelalak. Aku langsung menarik tangannya agar ia tak jatuh.
Megan mengelus dadanya seraya menatapku dengan mata yang melebar. "God—kau hampir membuatku terlena—oh, bukan—mati, Vio."
Aku tergelak.
"Jika kau mati, 'kan...tidak akan ada lagi yang berisik," candaku. Matanya memelototiku dan aku tertawa keras.
Dia lalu menggeleng dan berdiri dari duduknya, lalu menghampiri seseorang yang ada di seberang sana. "Aku pinjam kursimu, Ms. Cathy," ujarnya seenaknya. Ms. Cathy agaknya sedang menaruh beberapa berkas ke meja temannya dan tiba-tiba kursinya diambil oleh Megan. Ms. Cathy jelas jadi bersungut-sungut, tetapi Megan tak mengacuhkannya. Megan malah dengan santainya memberikan kursi itu padaku. Aku cengar-cengir, merasa kalau tatapan Ms. Cathy padaku seolah mengatakan, 'Duduklah dan aku akan mengutukmu.'
Aku terus menggigit bibirku selama aku memandangi Ms. Cathy; aku mematung di sana bak orang t***l. Megan lalu menepuk pundakku. "Sudahlah, ayo duduk. Biarkan saja Nenek Sihir itu."
Ergh, kau bisa santai, Megan, tetapi aku tidak. Matanya memelototiku!
Ya ampun.
Aku lalu menggeleng, mencoba untuk mengusir segala keraguanku. Kutempatkan kursi itu di sebelah Megan dan akhirnya aku mulai duduk dengan nyaman. Entahlah tatapan Ms. Cathy itu sekarang seperti apa.
"Jadi, mengapa kau kemari?" tanya Megan, membuatku jadi tersenyum rahasia padanya. Megan menatapku yang lama tak menjawabnya, kemudian dia membuka kacamatanya sampai ke hidung, mengernyitkan dahi memperhatikanku yang hanya tersenyum rahasia tatkala menanggapi pertanyaannya.
"Ada apa denganmu, eh?" tanyanya sekali lagi.
Aku akhirnya tertawa lepas.
"Hahahah—kau tak tahu, 'kan? Aku sangat senang hari ini!" Aku mengedipkan sebelah mataku padanya. Dia tambah mengernyitkan dahinya bingung.
"Ah... Kau menang lotre, ya?" tebaknya asal. Aku memutar bola mataku.
"Bukan lotre, Megan."
Dia kembali berkutat dengan berkasnya. Aku tersenyum. "Umm... It's just because...Boss-ku tidak masuk hari ini dikarenakan sakit."
Megan menatapku dan ia terlihat kaget. "Sakit? Are you serious?"
Aku tertawa. Tuh, Megan saja heran, 'kan?
"Yuuup, dan aku bebas! Bebas, fellas! Woohoo!!" teriakku sembari mengangkat tanganku ke atas bak monyet yang sedang kegirangan. Aku baru tersadar dan malu sendiri ketika tatapan semua orang mulai tertuju kepadaku. Oh s**t. Jangan menjadi gila di sini, Violette.
Terakhir, kutatap Megan dan kutemukan dia juga menggelengkan kepalanya saat melihatku, wajahnya seolah menyiratkan kekecewaan yang besar padaku. Atau mungkin itu ekspresi datarnya? Hmm, entahlah.
"Well, sepertinya dia kejam sekali, ya? Padahal dia tampan," ujar Megan.
Aku memutar bola mataku.
"Percuma tampan kalau sifatnya kejam," balasku, lalu Megan menatapku dengan antusias. "But Vio, orang yang tampan dan kejam itu adalah orang yang biasa kugemari di film-film! Ahhhh, orang-orang yang seperti itu malah membuatku penasaran, kau tahu?! Kalau begitu, aku saja yang menjenguknya ke rumahnya!" teriaknya dan aku kembali memutar bola mataku.
"Pergilah dan kau akan diusir atau mungkin dilemparnya ke tong sampah," ujarku dengan ekspresi datar. Megan ternganga; matanya terbelalak.
"APAA? DIBUANG KE TONG SAMPAH?!" teriaknya, lalu aku mengangguk cepat agar Megan tidak banyak bertanya lagi. Aku takut orang-orang di ruangan ini jadi mengusir kami dari sini karena teriakan Megan. Setelah itu, ekspresi Megan kembali normal. Dia kembali menatap berkasnya. "Ah, tidak masalah jika dia yang melakukannya," sambung Megan. Aku kontan terlonjak, kemudian aku membuang napas sebanyak mungkin karena aku ingat Megan kalau memang segila itu.
"Well, Meg, terserahmu saja."
Megan tertawa terbahak-bahak.
Akhirnya, dari siang hingga sore hari, aku hanya menghabiskan waktu bersama Megan. Justin tidak menghubungiku untuk menyelesaikan apa-apa, pekerjaanku kemarin juga sudah selesai. Aku tak tahu harus mengerjakan apa karena executive assistant juga merupakan jabatan yang baru untukku. Aku dan Megan lalu memandangi Ms. Cathy yang terus bersungut-sungut di sana hingga akhirnya dia mendapatkan kursi pengganti. Aku membantu Megan dalam pekerjaannya, lalu kami makan siang bersama. Tak terasa sekarang sudah sore.
"Apakah kau tidak mau menjenguk boss-mu—eh, siapa namanya?"
Aku memutar bola mataku. "Justin Alexander, Meg. Kau sudah lebih lama bekerja di perusahaan ini daripada aku dan kau masih tak tahu siapa nama CEO-nya."
"Nah, itu dia. Apakah kau tak mau menjenguk Mr. Alexander, eh? Kau executive assistant-nya, Vio."
"For what? Aku tidak mau menjenguk orang seperti dia," kataku sembari mengedikkan bahu.
Megan memutar bola matanya dengan dramatis. "Hei... Mungkin saja jika kau ke sana, dia akan berubah sikap kepadamu, 'kan? Atau bisa jadi kalian akan melakukan hal yang romantis di sana. Misalnya, emm...ketika kau membuatkan bubur untuknya di dapurnya, dia akan memelukmu dari belakang, lalu ketika kau mengompresnya, dia akan menarikmu untuk tidur bersamanya—"
WHAT THE HECK.
Dengan cepat aku menutup mulut Megan. Apa-apaan yang sedang ia katakan? Dia sedang bermimpikah? HA. Mana bisa orang sekejam Justin tiba-tiba jadi manis seperti yang ada di khayalannya. Oh, Tuhan, memikirkannya saja rasanya perutku sudah mual. Membayangkan Justin yang bersikap semanis itu, perutku jadi mual sendiri. Sial.
"Jangan melawak, Meg," ujarku.
Megan tertawa. "Memangnya siapa yang sedang melawak? Sudahlah, cepat jenguk dia!" teriaknya dan mataku terbelalak.
Tiba-tiba saja ada suara yang kukenal...seperti suara Bos Marketing, terdengar memanggil Megan.
"Megan, bisa kau antarkan produk ini ke tempat yang kita datangi kemarin? Cepat, ya."
Megan langsung berdiri dan berjalan ke arah Bos Marketing kami—maksudku, dulu dia juga bosku, tetapi sekarang sudah tidak—dan mengambil produk yang lumayan banyak itu dengan cepat. Megan menatapku ketika bosnya sudah pergi.
"Vio, aku pinjam motormu sebentar, oke?! Sebentar saja," ujarnya, lalu tanpa mengatakan apa pun dia mengambil kunci motorku yang saat ini memang tengah terletak di atas mejanya. Aku tadi memang membawa kunci motorku dan tanpa sadar aku meletakkannya di atas meja Megan saat kami sedang mengobrol. Dia lalu pergi dari hadapanku sebelum aku bisa berkata apa-apa. Aku masih ternganga, memandanginya seraya keheranan sendiri.
Setelah dia ke luar, aku pun bersandar di kursi yang tengah aku duduki. Well, sekarang aku harus melakukan apa? Pulang? Rumahku jauh dan motorku tak ada. Ini sudah senja. Naik taksi? Lantas motorku bagaimana?
Menjenguk Justin? Ergh—itu pilihan terburuk.
Namun, demi Tuhan, sebenarnya jika dipikir-pikir, aku ini executive assistant-nya dan tadi aku tak mengetahui kabarnya sama sekali. Sebaiknya, sebagai gantinya, aku bisa menjenguknya sebentar. Namun, aku sangat takut dan malas bertemu dengan pria itu. Jika tidak mengingat fakta bahwa dia adalah bosku, lebih baik aku pulang. Namun, rumah Justin tidak begitu jauh dari sini. Jika aku pergi ke sana dengan menaiki taksi dan menjenguknya, Megan bisa mengantarkan motor itu langsung ke rumah Justin. Aku bisa memberitahu alamatnya. Dengan begitu, aku bisa melakukan sesuatu di sela-sela menunggu Megan pulang.
Okay, sepertinya aku memang harus menjenguk Justin.
Aku pun langsung mengangguk dengan yakin dan menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Bersiap-siap untuk mendapatkan cacian dari Justin lagi. Aku pun keluar dari perusahaan dan mulai mencari taksi. []