Chapter 9 :
Club (2)
******
SETELAH sampai di depan gedung apartemen yang Justin tinggali, aku berjalan ke lift yang ada di ujung lobi, lalu mengingat-ingat di lantai berapa apartemen Justin berada. Menekan tombol 23—lantai di mana apartemen Justin berada—aku pun hanya berdiri di dalam sana, menunggu lift itu berbunyi pertanda bahwa aku sudah sampai.
Ketika sudah sampai, aku lantas keluar dari kubikel lift tersebut dan mulai berjalan ke pintu nomor...tunggu, aku harus mengingat-ingat di mana pintu kamar Justin. Di sini ada banyak sekali pintu, astaga! Yang mana? Yang mana ini? Astaga, aku bisa salah pintu!
Aku mencoba untuk mengingat-ingat lagi; aku menyatukan alis dan memejamkan mataku. Aku mengelus daguku dan akhirnya aku pun mengingatnya. Pintu nomor lima dari lift, sebelah kiri! Ah... Akhirnya.
Aku menekan sebuah bel yang ada di samping pintunya. Tiga kali dengan berjeda dan dia belum membukanya. Aku pun menekan belnya lagi sebanyak dua kali, lalu ketika aku ingin menekan bel itu sekali lagi, tiba-tiba pintu itu terbuka dan aku menoleh ke depan. Aku mendapati sosok Justin yang kini sedang mengernyit heran padaku. Pintu itu hanya terbuka sedikit, lalu Justin nyaris saja menutupnya kembali kalau saja aku tidak mencegahnya. Aku menahan pintu itu dengan tanganku.
"Untuk apa kau kemari?" tanyanya dingin dan aku memutar bola mataku.
"Makanya, buka dulu pintunya! Biar aku jelaskan!" teriakku kesal, lalu akhirnya dia membuka pintunya. Huh, lelah sekali menahan pintu itu agar tidak tertutup. Masalahnya, Justin sedari tadi terus mencoba untuk mendorongnya agar pintu itu tertutup kembali.
Ketika pintu itu terbuka lebar, dia menaruh jemarinya di dalam kantung celana piama-nya.
"Jadi, ada apa?" tanyanya.
Aku berdecak. "Tidak membiarkanku masukkah?" tanyaku dengan jengkel. Dia hanya memandangku seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak," jawabnya dengan santai.
Sialan.
"HEI! BIARKAN AKU MASUK, EH?! AKU LELAH JUGA KEMARI!"
"Aku tidak menyuruhmu kemari," jawabnya enteng. Kontan mataku terbelalak.
Ya memang benar, sih.
"Okay, Mr. Alexander yang terhormat. Aku kemari untuk menjengukmu." Aku mengaku.
Dia mengangkat sebelah alisnya lagi. Masih dengan tenang.
"Ya sudah, sekarang cepat pulang."
WHAT? APA—APA KATANYA?
"AKU BARU SAMPAI, SIR!"
"Ya, tetapi kau sudah menjengukku, 'kan? Sekarang pulanglah," perintahnya, lalu dia mencoba untuk menutup pintunya lagi. Aku lantas kembali menahan pintu itu agar tidak tertutup. "Tunggu!! Tunggu dulu! PLEASE, JUSTIN!!!"
Dia akhirnya membuka pintunya lagi dan mendengkus. Aku mengembuskan napas lega. Dia diam di depanku dan sedetik kemudian dia berbalik, berjalan memunggungiku dengan santai, dan pergi dari hadapanku. Eh? Berarti aku boleh masuk, nih?
Aku terkikik dan masuk, lalu menutup pintunya. Tiba-tiba dia berbalik, tangannya masih betah berada di dalam saku celananya.
"Jangan mengacau di apartemenku," peringatnya. Aku mengernyitkan dahi, lalu aku memutar bola mataku. Astaga, siapa juga yang mau mengacau di rumahnya?
Setelah itu, dia berlalu dari hadapanku dan tak lagi terjangkau oleh pandangan mataku.
Tinggallah aku yang masih berada di ruang tamunya, tempat di mana dua hari yang lalu kami bekerja bersama-sama dan terakhir dia jadi marah padaku. Oh ya, dia masih marah atau tidak? Kalau dilihat dari sikapnya tadi...sepertinya dia biasa-biasa saja.
Aku melihat ke sekeliling ruangan dan oh Tuhan! Ini berantakan sekali! Ada puntung rokok di mana-mana. Botol wine juga berserakan di atas meja. Sebenarnya apa yang sedang dia kerjakan dalam dua hari belakangan? Aku tercengang dan menutup mulutku dengan sebelah tanganku. Apa dia baru saja berpesta?
Aku berjalan ke depan, melangkahi botol-botol yang terjatuh ke lantai dan puntung-puntung rokok yang berserakan itu. Aku berusaha untuk mengikuti ke arah mana Justin berjalan tadi. Aku mengernyitkan dahi, lalu aku berjalan lagi dan ternyata aku menemukan sebuah pintu. Pintu kamar?
Aku membukanya perlahan dan masuk. Aku tahu ini agak lancang, tetapi entah mengapa aku santai saja saat melakukan ini. Apakah karena Justin merupakan teman lamaku?
Setelah berhasil masuk, aku pun menutup pintu kamar itu kembali. Berjalan perlahan, aku melihat kalau kamarnya ternyata tidak terlalu berserakan. Namun, ada banyak puntung rokok di asbak yang ia letakkan di atas nakasnya. Aku pun menoleh ke ranjang; aku lantas melihatnya tidur mengarah ke samping sambil berselimut. Dia demam atau apa? Aku langsung menggulung lengan jasku, lalu berkacak pinggang. Aku akan merapikan ini semua. Mataku sakit sekali melihat keadaan ruangannya yang kotor dan bau rokok seperti ini. Dia juga tidak boleh berada di dalam kondisi udara yang seperti ini! Dia akan tambah sakit!
Dasar CEO gila. Dia bisa disiplin dalam pekerjaan, tetapi mengapa tak memedulikan dirinya sendiri? Hell. Aku langsung saja berjalan ke dekat nakas yang ada di samping tempat tidurnya dan mengambil asbak itu. Aku sempat melihat sebuah sapu di dapur tadi dan aku rasa aku ingin menyapu sekarang.
"Bukankah sudah kubilang padamu jangan mengacau? Keluar dari kamarku atau kau kukeluarkan dari pekerjaanmu," ujarnya masih dengan nada yang terdengar begitu dingin.
Aku memutar bola mataku. "Jadi, kau menyuruhku untuk hanya duduk diam di ruang tamu? Aku di sini untuk menjengukmu, sir."
Dia terbatuk. "Keluar, Vio."
"Tidak sebelum aku selesai, sir."
"Keluar dari sini atau undurkan dirimu. Aku bisa melakukan apa pun sekarang juga dengan pekerjaanmu."
Ancaman ini lagi.
Sialan. Kalau dia bukan temanku, aku sudah pergi sejak tadi!
Aku menaruh asbak itu kembali ke atas nakas dan berkacak pinggang. "Lagi pula, mengapa kau tidak mengabariku bahwa kau sakit, hah?! Apa?! Karena aku bukan siapa-siapamu? Aku ini executive assistant-mu, Justin!! Aku tidak enak jika ada orang yang menyadari bahwa aku tidak tahu soal apa yang telah terjadi padamu! AKU AKAN DICAP SEBAGAI EXECUTIVE ASSISTANT YANG LALAI KALAU BEGITU!!!"
"Kau memang lalai," jawabnya santai.
Oh sial. Hah.
"AKU TIDAK—ARGH!!! PERCUMA BERBICARA DENGAN ORANG GILA!!!" Ups. Aku langsung menutup mulutku dengan sebelah tanganku. Mati aku! Keceplosan begitu saja... Aduh, sial.
"Apa kau bilang?" tanyanya. Dia bertanya dengan pelan, tetapi suaranya terdengar mengintimidasi. Dia terduduk dari posisi tidurnya dan menatapku seraya mengangkat sebelah alisnya. Dia langsung menatapku dengan tatapan kejam dan penuh dengan intimidasi khas dirinya. Aku langsung meneguk ludahku.
"Ahh...tidak—tidak, aku hanya err...bernyanyi, sir."
Mampuslah aku!
"Keluar."
"Tidak," bantahku, aku lalu mengambil asbak itu lagi. "Lagi pula, kau sakit apa, eh? Demam? Apa yang kau lakukan dengan puntung rokok sebanyak ini?! Bahkan semua ruanganmu jadi bau rokok! Ergh—hidungku benar-benar tak tahan menciumnya!!!"
"Aku bergadang menyelesaikan pekerjaanku." Dia menjawab dengan enteng. Mataku terbelalak. Bergadang menyelesaikan pekerjaannya? Mengapa dia tidak memberitahuku? Tunggu, terakhir kali aku bertemu dengannya, bukankah pekerjaan itu sudah selesai semua? Bukankah dia sudah kubantu? Jadi, apa lagi yang ia kerjakan?
Astaga. Berarti dia menyembunyikan sebuah pekerjaan dariku dan memilih untuk menyelesaikannya sendirian? Jadi, apa gunanya aku? Argh, dasar gila! Kalau begini berarti dia sendirilah yang mencari penyakit!!
"Bukankah kau sudah kubantu? Lagi pula, MENGAPA KAU MENYELESAIKAN SISANYA SENDIRI, EH? MENGAPA KAU MENYEMBUNYIKANNYA DARIKU?!! AKU BISA MEMBANTUMU, JUSTIN! KAULAH YANG MEMBUATKU LALAI, BUKAN AKU!!"
Dia berdecak. "Aku tidak menyembunyikannya."
Aku mengacak rambutku, stress sendiri menghadapinya yang superbeku. "Entahlah, aku ingin menyapu," ujarku pada akhirnya, menyerah menghadapi dirinya. Beribu amukan dariku—seperti yang selalu kukatakan—selalu kalah dengan satu kata yang berasal dari mulutnya. Entah kapan aku bisa menang dari sikap dinginnya.
Ketika aku berbalik dan ingin keluar dari kamarnya menuju ke dapur untuk mengambil sapu, tiba-tiba dia mencekal lenganku. Kontan aku terperanjat dan menoleh ke samping, ternyata kini dia sudah berdiri di sampingku dan memegang lenganku dengan kuat. Mataku terbelalak. "Just—JUSTIN!! Lepas!! WHAT ARE YOU DOING?!!"
Dia hanya diam dan mengambil asbak yang kupegang, lalu menaruhnya lagi ke atas nakas. Aku menatap semua gerakannya seraya ternganga, kemudian dia menarikku. Dia menarik lenganku dan menyeretku agar keluar dari ruangannya. Dia menarikku bak menarik anak kecil lagi.
"Hei!! JUSTIN!! APA INI?! KAU MAU MENGUSIRKU, YA?!!!!" teriakku dan aku berdecak ketika mendapati bahwa dia hanya diam di depanku, memunggungiku. Dia tetap menyeretku dan ketika kami sampai di dekat pintu depan, aku pun terperanjat. Dia rupanya memang mau mengusirku!
"Kau selalu membantahku, Violette. Hanya cara ini yang bisa membuatmu keluar." Dia menarik lenganku lagi. Saat dia membuka pintu itu, aku langsung menggeliat minta dilepaskan, tetapi dia lebih kuat dariku. Dia mendorong punggungku agar keluar dari pintu, lalu dia menutup pintunya kembali. Aku langsung tersentak dan berbalik lagi, menggedor-gedor pintunya dengan kuat, lalu menekan belnya berkali-kali bak orang yang tak sabaran mau buang air kecil. "Hei!!! BUKA PINTUNYA!!!! HEI!!!! JUSTIN!!!! AKU BELUM SELESAI!!!!"
Aku terus mengetuk pintunya dan menekan belnya, tetapi tidak ada jawaban. Kurasa dia sudah berbaring kembali di dalam kamarnya. Sialaaaannn! Aku mengeluarkan napasku dengan kuat. Aku lelah, tetapi aku malah tambah dibuat emosi. Namun, saat ini aku tak bisa melampiaskan emosiku karena Justin sudah tidak ada lagi di depanku. Aku hanya bisa menghela napas dengan pasrah, mengalah, kemudian aku mengedikkan bahu. Yah, apa boleh buat. Aku hanya harus pulang.
Aku berjalan dengan langkah yang lunglai dan masuk ke dalam lift, lalu turun ke lantai bawah. []