“Kalau tadi gue jadi pacar lo, sekarang gue mau jadi suami lo!” Glek! Mampus! Arin tahu bahwa saat-saat seperti ini akan datang. Jika dia tidak tegas pada Satria, maka Satria akan mengambil haknya apapun yang terjadi. Semua ini sebab Arin mulai goyah, mulai memperbolehkan Satria menjadi kekasihnya meski tak pernah mereka putuskan kapan tanggal jadian mereka resmi berpacaran. Bahkan kali ini Satria langsung menodong jatah suami yang seharusnya mereka lakukan sepuluh tahun yang lalu. Bukannya Arin tidak percaya diri, sebagai wanita dewasa tentu saja Arin pun menginginkan hal yang sama. Akan tetapi ia masih memiliki rasa takut, takut jika pada akhirnya Satria akan pergi dengan alasan apapun. “Jangan sekarang, Sat!” elak Arin seraya menahan dadanya Satria untuk tidak mendekap Arin dengan

