Suara teriakan Arin yang melengking di balik kamar mandi membuat Satria cemas. Berkali-kali Satria memanggil nama Arin dan menyuruh istrinya untuk membuka pintu, sifat bapak-bapak rempong sudah keluar dari Satria. Brakk! Pintu dibuka secara kasar dari dalam, Satria tercengang melihat wajah Arin yang begitu pucat. “Kenapa, Rin?” “Gi-gimana nih?” “Apaan? Kamu kenapa?” tanya Satria bertubi-tubi. Arin menurunkan pandangannya dari mata Satria menuju perut Satria. Dia semakin terkejut bahkan sampai menutup mulutnya, hal itu membuat Satria ikut menunduk untuk melihat perutnya sendiri. Ketika Satria melihat kaos putih yang menutupi bagian perutnya terkena noda darah, hal itu membuat Satria menjadi agak mual. “Gimana nih? Gue gak tahu bakalan nembus sebanyak itu!” ujar Arin panik, dia takut Sa

