“Bang … faster bang! Faster!!!” titah Arin membuat Satria membelalakan matanya. Kenapa juga Arin meminta sambil berteriak seperti itu, memangnya Arin pikir Satria itu tuli? Mungkin Arin meminta Satria untuk lebih ngebut lagi, tapi kenapa juga bahasanya seperti itu? Terdengar ambigu di otak Satria yang sudah tak suci lagi semenjak ia menginjak masa pubertas. “Bang, Fast–” “Iya iya ini aku ngebut!” potong Satria dan menarik gas lebih cepat membuat motor yang mereka tumpangi melaju cepat dengan kelihaian Satria yang menyalip kesana-kemari. Sehingga, perjalanan pulang yang seharusnya tiba dalam dua puluh menit dapat dipangkas menjadi sepuluh menit. Hujan masih rintik-rintik tetapi keduanya memilih untuk menerobos hujan saja, malu rasanya telah merusak payung yang dipinjam dari abang toko ba

