Sambil sesenggukkan, Arin mencoba berdiri kemudian ia pergi ke kamarnya. Arin ingin segera melempar dirinya ke kasur dan menangis sejadi-jadinya jika benar Satria pergi lagi dari hidupnya. Kali ini lebih menyakitkan sebab Arin telah jatuh cinta lagi pada Satria dan kali ini lebih sakit sebab Arin telah memberikan segalanya untuk Satria. Dengan lemas Arin membuka pintu kamar, detik berikutnya ia terpaku melihat punggung seorang pria duduk di depan meja rias membelakangi Arin. Sontak kedua mata Arin membulat sempurna, ia harap dia tidak sedang berhalunasi saat ini. “Bang … bang Sat?” Mendengar panggilan Arin, Satria menoleh menatap Arin dengan ekspresi terkejut. Alangkah bahagianya Arin melihat keberadaan Satria di kamarnya. Arin segera berlari pada Satria. Satria yang takut diomeli Arin

