“Langsung ke intinya aja, Mbak!” Vanilla tersenyum seraya mengaduk ice Frappuccino miliknya dengan sedotan stainless. Setelahnya dengan tatapan manja dan wajah dibuat manis, Vanila menatap Arin, mengkerucutkan mulutnya sampai Arin menaikkan sebelah alisnya. Bingung dengan perubahan ekspresi Vanila. “Tadi aku denger kamu sama temenmu ngomongin aku, coba ulangin lagi apa yang kalian omongin?” Arin menghempaskan napas berat, ia ingin segera menyelesaikan masalah ini sekarang juga. “Temen saya itu namanya Nur. Dan dia bilang Mbak Vanila cocok sama dokter Kaisar, lalu Nur pikir dokter Kai memperpanjang cutinya sebab mau jaga jarak sama Mbak supaya istrinya dokter Kai gak sakit hati ngeliat mbak deket sama dokter Kai terus.” Vanilla menyimak dengan mata berbinar dan mengangguk sesekali layak

