Beberapa kali Arin menggelengkan kepalanya melihat dan mendengar penuturan Satria yang menjelaskan tentang siapa dirinya kepada Pak RT serta para warga. Untungnya kemampuan berkilah Satria diatas rata-rata sehingga mereka percaya saja pada ucapannya.
Tak butuh waktu lama untuk meyakinkan mereka sampai akhirnya pak RT dan warga pulang dengan damai, tetapi tidak dengan dua orang yang tersisa di rumah itu. Saat pintu tertutup menyisakan Arin dan Satria, Arin sudah siap memiting leher suaminya lagi, merasa kesal sebab tadi Satria datang dengan menggunakan masker kecantikan miliknya. Arin pikir, Satria pasti berani masuk ke kamarnya.
“Bang Sat! Tadi kenapa lo turun pake masker panda? Lo masuk ke kamar gue ya?” selidik Arin seraya melipat tangan di dadanya.
“Apaan? Aku nemu di kamar mandi kok, yang satu sheetmaks yang satu lagi hairmaks. Untung aku bukanya yang sheetmaks, kalo yang hairmaks, pas turun malah keramasan nanti, hehe!”
“Bodo!” umpat Arin.
Arin mendahului Satria ke lantai dua dan Satria membuntutinya. “Mulai besok, jangan lupa sama tugas-tugas lo, ya! Kalo lo masih seenak jidat tinggal di sini, mending lo pergi!”
Satria terlihat murung sebab Arin sangat judes padanya, padahal dulu sifat Arin tidak seperti ini. Meski pun Arin tergolong wanita yang di luarnya tampak dingin, namun hatinya sangat hangat. Hanya saja, khusus untuk Satria prilaku Arin sama saja, baik sifat yang ia tunjukkan di luar dan kondisi di dalam hatinya, Arin sama-sama dingin dan jutek pada Satria.
***
Pagi ini setelah Satria dikenal oleh beberapa warga akhirnya dia bisa bernapas lega untuk menghirup udara luar rumah dan bahkan bisa memiliki akases keluar masuk rumah tanpa perlu khawatir lagi kalau Arin akan mengunci rumah itu.
Satria dititipkan kunci rumah oleh Arin sebab dia bertugas untuk menjaga rumah selagi Arin bekerja. Seperti pagi ini, Satria baru pulang dari gerobak abang sayur kompleks. Dijinjingnya tas dari anyaman berwarna hijau berisi dengan berbagai macam bahan makanan olahan untuk mengisi kulkas yang kosong dan hanya berisi beberapa makanan instan saja.
“Cie belanja, punya duit juga lo? Kenapa gak tinggal di luar aja, sewa apart atau kontrakan?” tanya Arin yang sedang melahap macaroni keju buatannya di meja makan.
Satria tersenyum tipis meski tangannya tetap aktif merapikan bahan makanan ke dalam kulkas.
“Ya gimana ya? Abis ini kulkas bersih banget! Lagian tenang aja, ini bukan duit aku kok! Ini duit ibu-ibu yang pake eyeshadow ungu! Dia bayarin.”
“Uhuk! Maksud lo, lo ngutang sama dia, gitu?”
Sampai muncrat macaroni yang ada di mulut Arin tatkala Satria dengan santainya menjelaskan hal seperti itu.
“Gak tahu deh ini dianggap hutang atau bukan, yang jelas tadi dia maksa buat traktir! Ya udah aku bawa aja semua, hehe!”
Arin merasa geram. Dia tahu siapa ibu-ibu yang memakai shadow ungu yang dimaksud Satria. Dia adalah janda yang tinggal sendiri, rumahnya di ujung terhalang dua blok dari sini, kebiasaannya yang suka menghambur-hamburkan uang membuat dia memiliki banyak kawan. Arin tidak termasuk kawannya, sebab sifatnya yang dingin serta jadwal kerjanya yang berubah-ubah membuat dia sulit membaur dengan lingkungan sekitar.
Tanpa menghabiskan sarapannya Arin keluar rumah, abang sayur masih ada disana sekaligus dengan para ibu-ibu yang masih mengelilingi gerobak memilih sayur yang akan mereka beli. Meski gugup dan ragu, Arin tetap menghampiri ibu-ibu tersebut.
“Permisi, ada Bu Jendes?” tanya Arin dengan ramah, tetapi para ibu-ibu itu hanya saling melirik saat Arin bertanya tentang ibu-ibu ber-eyeshadow ungu itu. Memang Jendes adalah julukan yang melekat, sapaan sehari-hari ibu-ibu itu bahkan rata-rata warga sini tidak ada yang hapal siapa nama aslinya sebab mereka kerap kali memanggil ibu itu dengan nama Sis Jendes.
“Sis Jendes kali say … kenapa sih, cari-cari aku?” tanya pemilik mata beriasan ungu dekat abang sayur. Cara bicara dan nadanya yang manja persis seperti artis yang memiliki rambut jambul katulistiwa. Mungkin memang itu idolanya, dia layaknya terobsesi pada penyanyi yang kini menikah dengan miliarder itu. Terbukti dengan gaya penampilan, gerak tubuh sampai cara bicara sis Jendes yang sangat copy paste penyanyi terkenal tersebut.
“Ehm, sis bisa bicara sebentar?” tanya Arin, dia ingin menarik wanita berusia 33 tahun itu untuk menghindar dari ibu-ibu sumber gibah, apalagi ini membicarakan tentang uang, hal yang sensitive bagi setiap orang.
“Apa sih kamu …? Bicara ya bicara aja say … jangan ganggu sis lagi memilah, memilih, mana sayuran terbaik biar kulit sis semakin kinclong buricak burinong, ya kan say??”
“Yuuu!” jawab para ibu-ibu lain secara kompak menanggapi. Arin membulatkan matanya tetapi badannya tetap tak bergeming. Dia merasa berada dalam kawanan macan yang tenang namun jika Arin salah bicara maka mereka akan menerkamnya.
“Jadi, kamu mau ngomong apa say …?” ulang sis Jendes. Jujur telinga Arin merasa geli mendengar suara tetangganya itu.
“Sis tadi belanjain kakak saya sayuran? Itu berhutang atau beneran di traktir?” tanya Arin dengan ekspresi wajah datar meski sebenarnya dia malu berat bertanya demikian.
“Kakak kamu yang mana?”
“Satria! Cowok yang idungnya gede!”
Plok!
Sis Jendes menepuk tangannya membuat Arin mengerjapkan mata, “Ihhh itu kakakmu say? Si ganteng itu? Ah belanjaan segitu mah gak seberapa buat sis, kamu kesini buat apa? Isi kulkasmu masih kurang? Ambil ambil! Ambil apa aja nanti sis bayar, yah!”
Arin mengkerutkan keningnya, kenapa pula sis Jendes berlagak seperti peri?
“Sebelumnya makasih buat tawaran sis, tapi lain kali sis gak perlu traktir kami lagi, belanjaan yang barusan juga akan saya bayar, berapa semua?”
Sis Jendes mematung untuk sejenak. Kemudian dia menoleh pada Arin dengan tatapan mata tajam, sehingga ibu-ibu lain pun menatap Arin demikian. Arin tersenyum kaku, dia merasa sepertinya dia salah kata dan membuat sis jendes terluka. Apakah beberapa saat lagi Arin akan menjadi amukan masa?
Sis Jendes berjalan mendekati Arin, kemudian dia menatap Arin dari bawah sampai atas. Begitu mata mereka bertemu, sis jendes menatap Arin dengan tatapan merendahkan.
“Ekhem! Gini ya, bu perawat. Aku tahu loh rata-rata gaji perawat berapa, dan kamu juga banyak kebutuhan kan? Saran aku, kalau ada orang yang berbaik hati terima aja. Jangan sombong! Kamu sadar gak sih kelakuan kamu yang kaya gini yang bikin kamu gak punya temen di sini? Kok bisa yah, anti sosial yang cewek judes kaya kamu jadi perawat? Senyum kamu juga yang barusan fake banget! Palsuuu … semua itu palsu, kecuali senyuman abang kamu itu! Iya kan ibu-ibu?” sis Jendes menggiring opini publik supaya terhasut ucapannya. Para ibu-ibu yang memang akan dapat subsidi belanja dari kantong sis jendes tentu saja langsung membenarkan semua ucapan wanita berwajah glowing itu.
Arin merasa tertohok dan kesal setengah mati menghadapi ibu-ibu. Dia ingin segera pergi tetapi sis Jendes menahan tangannya dan berbisik tepat di telinga kiri Arin.
“Kamu lihat kan di sini siapa yang berkuasa? Abang kamu juga udah klepek-klepek sama aku! Kamu udah siap jadi adek aku?”