85

1736 Kata

“Sat … ini obat dari Arin?” tanya Mama Mey begitu melihat obat yang diperlukannya. Satria mengangguk lemas mencoba menyembunyikan mata sembabnya dari sang mama. Satria merasa malu jika mamanya melihat dia menangis, baginya menangis dan diketahui orang lain itu adalah hal yang sangat memalukan. “Kamu kenapa?” “Arin … gugat cerai,” jawab Satria dengan suara serak. “Oh, jadi bener dia mau nikah lagi? Kamu tahu gak siapa calonnya?” Satria menggelengkan kepalanya. “Mama tahu dong! Kamu mau tahu, gak?” lagi-kagi Satria menggelengkan kepalanya. “Kayanya tadi kamu gak baca bener-bener isi suratnya deh!” “Aku baca kok mah, dan gak ada yang aneh! Itu murni surat formal gugatan cerai kaya biasa!” Mama Mey menggelengkan kepalanya, kemudian lanjut bertanya, "terus kamu nangkep gak isi omongan di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN