“Kamu butuh ini?” Deg! Jantung Satria seolah berhenti berdetak, ia melihat Arin tak ubahnya seperti melihat malaikat maut menodong dirinya dengan menggunakan parang sabit, padahal itu hanya sebuah payung lipat. Perasaan Satria bercampur aduk, dia merasa bahagia, sangat teramat bahagia saat Arin menghampiri dirinya bahkan sampai menawarinya payung. Tetapi di lain sisi Satria pun ingin menghilang dari muka bumi sebab saat ini dia terlihat sangat buruk, kacau, dan seperti gembel. Rasanya dia tak punya harga diri di depan Arin. Sedangkan Arin masih bungkam, melihat wujud Satria yang kurus seperti tak terurus, hoodie yang tangannya belel, warna hitamnya pudar menjadi abu menutupi tubuh Mama Mey yang sebagian wajahnya hancur mengkerut. Arin tak bisa berkata apa-apa lagi. Arimata bergelimang

