“Mau tidur bareng gue, ya? Oke fine! Tapi tak semudah itu ferguso!” ucap Arin mendumal, kedua tangannya aktif menata isi kamar Satria yang sejatinya sangat minimalis. Di kamar itu hanya ada sebuah kasur lantai berukuran serratus cm, satu set meja belajar untuk menopang PC-nya tempat ia menghabiskan waktu bermain game sampai lupa waktu, serta satu buah lemari plastik yang tersusun dari lima laci. Satria memang tidak memiliki baju banyak, lemari dengan tinggi serratus cm itu pun cukup untuk menampung isi koper Satria. “Mana senyumnya gitu banget, lagi! Mikirin apa dia? Dia pikir gue mau satu tempat tidur sama dia? Dia pikir bisa peluk-peluk gue pas tidur? Atau dia pikir gue bakalan luluh meski mama sendiri yang nyuruh gue tidur sama dia? Hih, jijay!” cibir Arin masih dengan kedua tangan ya

