"Kayaknya aku udah gak ada artinya lagi buat kamu, selama ini aku bertahan cuma buat Al, buat anak yang lagi aku kandung, tapi kamu pun udah gak peduli sama anak kamu sendiri. Jadi untuk apa aku bertahan sama kamu kalo kamu udah gak peduli. Mungkin kalo kita cerai nanti kamu bisa lebih bebas sama Jasmin, kalo mau nikah sama dia juga silahkan, aku masih sanggup rawat anak-anak aku nanti nya." Ucap Aya berusaha untuk tetap tegar walaupun sebenarnya ia sangat rapuh saat itu juga.
Aya menoleh ke arah jendela ketika mendengar ponsel Rafa berdering.
"Papi! Ayo main!" Seru Al seraya menangis ketika Rafa berjalan keluar dari kamar sambil menggenggam ponselnya.
Aya sempat terdiam membiarkan Al menangis keras karena Rafa. Aya beranjak dari tempat tidur berjalan mendekati Al yang masih menangis.
Aya berjongkok lalu menghapus air mata Al, "kita ke rumah opa ya. Al main nya sama opa, udah jangan nangis lagi." Ucap Aya sambil terus menghapus air mata Al.
"Mau Papi." Kata Al belum juga berhenti menangis.
Aya diam membawa Al ke gendongannya untuk memandikan anak itu sebab Aya sudah sangat tidak betah di rumahnya sendiri walaupun Rafa sudah pergi.
"Ya udah Aya tinggal di sini aja dulu kalo emang udah gak sanggup di rumah," ucap Reya sambil mengelus punggung Aya.
Aya mengangguk kemudian menatap ibunya dengan sendu dan memeluknya.
"Aya capek," suara Aya terdengar sedikit serak akibat menahan tangis.
Reya tidak dapat mengatakan apa-apa karena dia sendiri juga bingung, Reya dapat merasakan bagaimana penderitaan anaknya sekarang.
"Apa Aya pisah aja sama Rafa, Mi?"
"Kalo udah pisah nanti Aya yakin masalahnya bakal selesai?"
Aya diam karena bingung harus menjawab apa, tapi di hati kecilnya Aya sendiri pun tidak yakin jika masalahnya akan langsung selesai ketika mereka telah berpisah nanti.
"Menurut Mami, Aya menjauh dulu dari Rafa, menjauh untuk Aya nenangin diri sendiri, bukan untuk apa-apa. Kalo denger cerita Aya tadi soal Rafa diem aja pas Aya bahas soal cerai mungkin dia sendiri pun lagi bingung."
Aya memeluk erat Reya dengan mata yang sudah berkaca-kaca tanpa mengeluarkan suara lagi.
"Tadi Al ketemu sama Papi,"
Mereka yang sedang makan langsung berhenti dan menoleh ke arah Al.
"Ketemu di mana?" Tanya Nevan.
"Di sekolah dong,"
"Ngapain Papi nemuin Al?" Reya ikut bertanya.
"Gak ngapain-ngapain, Papi bilang Al gak boleh nakal." Jawab Al sambil memasukkan sendok yang berisikan makanan ke dalam mulutnya.
Aya diam saja dengan nafsu makan yang mulai menurun.
"Papi gak ada nyuruh Al sama Mami pulang?" Tanya Nevan lagi.
Al menggeleng, "gak ada."
"Aya mau ke toilet dulu ya," Aya bangkit berdiri dan pergi dari food court untuk pergi ke toilet.
Sesampainya di toilet Aya masuk ke dalam bilik dan duduk di closet untuk menghela napas panjang juga menenangkan diri.
Aya tidak menangis karena sepertinya ia mulai terbiasa dengan rasa sakit.
Aya menyentuh perut dan mengusapnya secara perlahan seolah ikut menguatkan janin yang ada di dalam perutnya yang masih seumur jagung.
Kepala Aya tertunduk untuk menatap perutnya yang masih rata, seulas senyum tipis terbit di bibir Aya. Aya sendiri merasa kasihan pada kehamilannya yang kedua, dari mulai mendapatkan kabar jika dirinya tengah hamil hingga saat ini, belum pernah sedikitpun Rafa menyentuh bahkan memberikan perhatian kepada calon anak mereka.
"Kita sama-sama kuat sayang, gak papa Papi gak peduli lagi ke kita, tapi Mami harap Papi cepet sadar." Ucap Aya sambil menatap dan mengelus perut nya.
Aya kembali menghela napas dengan perasaan yang mulai lega dan tenang. Merasa sudah baikan Aya keluar dari bilik toilet, namun ada hal yang tidak mengenakan ketika Aya keluar dari toilet.
Tepat di depan toilet Aya bertemu dengan Jasmin yang hendak masuk membuat keduanya sama-sama menghentikan langkah mereka.
Jasmin menyunggingkan senyum di sudut bibirnya seraya memperhatikan Aya dari atas sampai bawah.
"Gimana? Gimana rasanya haus akan kasih sayang?"
Aya memalingkan wajah karena ia malas untuk beradu mulut dengan perempuan tak tahu malu yang ada di depannya.
"Sedih banget sih, anak masih kecil, lagi hamil, tapi suaminya udah gak pedulian." Jasmin menggelengkan kepala seolah prihatin dengan Aya.
"Menurut gue lo yang menyedihkan, bahkan terlalu menyedihkan sampe harus rebut suami orang."
"Laki lo sendiri tuh yang mau sama gue karena dia udah muak sama lo,"
Aya tersenyum kecut.
"Karma berlaku. Sekarang lo rebut suami gue, bisa aja nanti nya suami lo direbut juga sama perempuan lain. Saran gue sama satu, jangan merasa menang dulu."
Jasmin menatap tajam Aya.
"Kenapa diem? Tunjukin dong rasa bangga nya sebagai seorang, perempuan perebut laki orang."
"Diem lo!" Jasmin mendorong kuat Aya hingga tubuh bagian belakang Aya menabrak dinding dengan cukup keras.
Sudah terlanjur geram dengan perempuan itu, Aya membalas perbuatan Jasmin dengan mendorongnya balik.
"Jangan sentuh gue!" Seru Jasmin mendorong Aya untuk yang kedua kali nya hingga Aya jatuh terduduk di lantai.
Aya tidak langsung bangkit akibat rasa nyeri yang ia rasakan pada bagian perutnya.
Tangan Aya refleks menutup mulutnya sendiri ketika melihat kaki nya berdarah, tubuh Aya mulai gemetaran karena takut, takut jika janin nya kenapa-kenapa.
Mata Aya sudah berair dengan diselimuti rasa takut, Aya menatap Jasmin yang diam seraya memperhatikan kaki nya yang berdarah.
Kedua perempuan itu menoleh mendapati Rafa datang ke depan toilet wanita, dari ekspresi tidak bisa dibohongi jika Rafa terlihat benar-benar terkejut saat melihat Aya terduduk di lantai dengan kaki yang berdarah.
Tangis Aya pecah menatap Rafa dengan penuh permohonan di mana ia berharap jika laki-laki itu mau menggendong dan membawanya ke rumah sakit.
Dan, kedua tangan Aya terulur saat Rafa mendekatinya namun langsung ditahan oleh Jasmin.
"Apaan sih, gak usah!" Jasmin menarik Rafa yang hampir saja berjongkok di depan Aya.
Rafa berjalan mundur seiring Jasmin menariknya untuk menjauh dari Aya.
"Ya Allah, Aya!" Tiba-tiba saja Reya datang seraya berseru ketika melihat Aya.
Reya berlutut di sebelah Aya lalu menatap heran Rafa yang malah diam.
"Kamu... Aya, Aya Rafa!" Baru kali inilah Reya mengeraskan suaranya pada Rafa.
"Mas, Aya mas, ayo bawa ke rumah sakit!"
Beruntunglah Nevan datang, Nevan yang sedang menggendong Al langsung menurunkan anak itu untuk beralih membawa Aya pergi.
Reya bangkit berdiri sebab Nevan sudah pergi sambil menggendong Aya, lalu Reya menatap Al yang sedang menggenggam tangan Rafa.
Reya menatap dengan penuh kekecewaan pada Rafa, bahkan Reya sempat menggelengkan kepala sebelum ia pergi dengan Al yang berada di gendongannya.