Dasar Iblis

1195 Kata
    “Ayah,” panggil Leopold setengah putus asa pada ayahnya yang tengah duduk di kursi bacanya. Saat ini, gelapnya malam sudah memeluk alam semesta dengan sempurna. Leopold sebagai putra mahkota sudah menyelesaikan tugas hariannya dan kini datang ke ruang baca pribadi milik sang ayah untuk kembali membicarakan hal yang mengganggunya.     Karl sang raja menghela napas panjang. Ia menutup buku yang ia baca dan meletakkannya di atas meja. Setelah itu, Karl menatap sang putra yang duduk di seberangnya. “Kamu sendiri sudah melihat apa yang sudah Ayah dan para pendeta agung lakukan, bukan? Hanya itu yang bisa kami lakukan. Dunia iblis, dan Raja iblis bukanlah sesuatu yang bisa kita hadapi dengan mudah. Kamu harus mengerti hal ini,” ucap Karl.     “Tapi Vey ada di sana, sendirian. Dia pasti ketakutan berada di tengah-tengah iblis yang mengerikan, Ayah,” ucap Leopold bersikukuh.     Benar, kini Leopold tengah berusaha meyakinkan ayahnya untuk kembali mencari jalan untuk mengenbalikan Olevey ke dunia manusia. Sejak awal, Olevey diutus sebagai gadis persembahan, bukan benar-benar menjadi gadis yang bisa dibawa sebagai persembahan sesungguhnya. Olevey diutus untuk mengawasi dan menunggui barang-barang persembahan yang diberikan bagi sang raja iblis. Siapa pun yang mendengar kabar ini tentu saja merasa terkejut dan iba dengan nasib Olevey.     “Jangan melupakan fakta jika Olevey adalah gadis yang kuat, Leopold. Ia pasti bisa bertahan,” ucap Karl lagi mencoba untuk menenangkan putranya yang memang tidak bisa tenang jika berhadapan dengan masalah yang berkaitan dengan Olevey. Karl tahu, jika putranya sudah menyiapkan diri untuk menyatakan cinta pada Olevey begitu Olevey sudah menginjak usia dewasa. Namun, hal itu tertahan karena Olevey terpilih menjadi seorang gadis persembahan. Leopold sudah bersabar dengan menyimpan pernyataan cintanya dan akan mengungkapkannya saat Olevey kembali dari tugasnya sebagai seorang gadis persembahan.     “Aku tau, jika Vey memang gadis kuat dan cerdas. Ia pasti bisa bertahan dengan segala cara. Tapi, aku mendapatkan firasat buruk. Saat ini, Vey pasti tengah menghadapi situasi yang sangat sulit, Ayah. Jadi aku mohon, langsungkan rapat lagi dengan para uskup agung. Mereka pasti akan menemukan satu atau dua cara untuk menyelematkan Vey dari situasi ini,” ucap Leopold kembali berusaha untuk meyakinkan ayahnya agar tidak menutup kasus ini begitu saja. Leopold tentu saja tidak ingin sampai pasangan duke dan duchess merasa begitu sedih dengan kondisi putrinya yang simpang siur.     “Baiklah, Ayah akan membuka rapat lagi. Namun, ini adalah kesempatan terakhir. Kita sama sekali tidak bisa mengusik dunia iblis, bahkan Raja iblis. Jika sampai itu terjadi, keseimbang antar dunia akan terganggu. Hal yang lebih buruk mungkin bisa terjadi, jika para iblis tidak terima dengan apa yang dilakukan kita ini. Para Dewa belum tentu mau berhadapan dengan para iblis yang murka itu,” ucap Karl.     Pada akhirnya, Karl tidak bisa menang jika berhadapan dengan putranya ini. Setidaknya, Karl harus memberikan kesempatan pada putranya untuk kembali mencari jalan untuk membawa gadis yang ia cintai kembali. Karl juga harus memikirkan bagaimana dirinya akan menghadapi pasangan duke dan duchess. Rasanya, Karl merasa begitu bersalah karena sudah membuat putri dari sahabatnya itu berada dalam bahaya, bahkan saat ini kondisi Olevey tidak diketahui. Seharusnya, Karl bisa mencegah terpilihnya Olevey. Namun, jika dipikirkan lagi, meskipun Karl adalah seorang raja, Karl tidak memiliki kuasa dalam hal ini.     Jika sampai Karl mencegah apa yang seharusnya sudah terjadi. Karena jika sampai Karl melakukan hal itu, bisa-bisa keseimbangan dunia yang sebelumnya Karl bicarakan dengan putranya akan terganggu. Hal yang paling utama adalah, Karl tidak ingin sampai ada masalah yang terjadi karena kemurkaan raja iblis. Karl tidak ingin membahayakan rakyatnya karena kepentingannya semata, karena itulah saat ini Karl perlu memikirkan tindakan seperti apa yang harus ia lakukan setelah semua hal bergulir seperti ini.       **           Olevey membuka matanya dan merasa tubuhnya sudah terasa sangat baik-baik saja. Terasa lebih ringan dan nyaman daripada sebelumnya. Suhu tubuhnya pun sudah kembali normal. Ini artinya, Olevey memang sudah benar-benar sembuh. Olevey mendudukkan dirinya dan terkejut dengan kehadiran sekitar sepuluh pelayan di sana. Salah seorang pelayan mendekat padanya dan berkata, “Nona, mari kami bantu untuk membersihkan diri.”     Namun, Olevey pun mengedarkan pandangannya dan mencari sosok Jannet di sana. Hanya saja, Olevey tidak bisa menemukannya. Hal itu membuat Olevey mengernyitkan keningnya tipis. Ia terdiam dan mengingat apa yang sudah terjadi beberapa hari ini. Olevey mengingat kejadian di mana dirinya didorong oleh iblis mengerikan yang menyamar menjadi sosok Jannet dan berakhir tenggelam hingga tersiksa oleh rasa sakit yang mengerikan. Lalu, saat Olevey sadar, dirinya tengah digigit oleh Diederich. Tadi malam, Diederich memaksanya menelan cairan yang berbau amis dan membuatnya perutnya bergejolak.     “Di mana Jannet?” tanya Olevey sembari mengernyitkan keningnya saat mendengar suaranya yang serak. Tanda jika dirinya sudah lama tidak membasahi tenggorokannya.     Olevey menerima gelas air yang tiba-tiba disodorkan oleh pelayan yang maju mendekatinya. Olevey minum dengan tenang. Setelah membasahi tenggorokannya, barulah Olevey kembali mengulang pertanyaannya. “Di mana Jannet?” tanya Olevey.     “Jannet sudah tidak lagi bertugas di kastil, Nona. Sebagai gantinya, mulai saat ini kamilah yang bertugas untuk melayani Nona dalam berbagai hal,” jawab pelayan bernama Slevi tersebut.     Meskipun merasa terganggu karena lagi-lagi orang yang melayani berganti, Olevey pun tidak ragu untuk mengangguk. Saat ini, Olevey sama sekali tidak memiliki hak untuk mengatakan apa pun pada mereka. Olevey menatap Slevi dan bertanya, “Siapa namamu?”     “Panggil saya Slevi, Nona,” jawab Slevi.     “Salam kenal, Slevi. Ke depannya, mohon bantuan,” ucap Olevey lalu bangkit dari duduknya dan berniat untuk melangkah menuju kamar mandi. Namun, saat itulah Olevey sadar jika ini bukanlah kamarnya. Olevey mengernyitkan keningnya saat baru sadar jika kamar ini terasa lebih luas dan lebih misterius.     Slevi pun maju dan berkata, “Mari, saya akan menunjukkan jalannya.”     Tidak perlu waktu lama, kini Olevey sudah berendam di kolam berendam yang berukuran luas. Olevey memejamkan matanya dan membiarkan kelopak bunga mengapung di sekitar tubuhnya yang telanjang dan terendam di dalam air s**u yang tentu saja akan membuat kulitnya semakin terawat saja. Olevey membuka matanya saat merasakan terlalu hening. Olevey melirik pada Slevi yang bersujud agak jauh dari bak berendam. “Apa yang kau lakukan?” tanya Olevey terkejut.     “Ma-Maafkan kelancangan saya, Nyonya,” jawab Slevi membuat Olevey mengernyitkan keningnya semakin dalam.     “Nyonya? Siapa yang saat ini kau sebut dengan panggilang ‘nyonya’?” tanya Olevey tidak percaya dengan pendengarannya dan hampir saja berdiri dari posisinya saat ini. Untung saja, Olevey sadar jika saat ini kewarasannya masih menempel dengan erat dengan kepalanya.     Slevi tampak bergetar tetapi dirinya segera mengendalikan diri dan menjawab, “Saya memanggil Nyonya. Maaf, karena tadi saya salah mengenali status Nyonya dan malah memanggil Anda dengan panggilan nona. Maafkan saya, Nyonya. Tolong maafkan saya.”     “Aku malah tidak mengerti dengan apa yang saat ini kamu katakan. Kenapa saat ini kamu memanggilku dengan sebutan Nyonya seperti itu?” tanya Olevey.     “Karena Anda memiliki tanda itu,” jawab Slevi sembari menatap leher Olevey.     “Bawakan cermin,” ucap Olevey tiba-tiba saat dirinya mengingat kejadian di mana dirinya digigit dan merasakan sengatan sakit pada ceruk lehernya.     Tentu saja Slevi bangkit dan membawakan apa yang diminta oleh Olevey. Slevi menyerahkan sebuah cermin cantik dengan sebuah pegangan yang terbuat dari ukiran emas yang jelas terlihat begitu indah. Olevey yang menerima cermin tersebut segera menggunakannya untuk melihat tampilan dirinya sendiri. Namun, begitu melihat ceruk lehernya yang tidak tertutupi rambutnya yang dicepol tinggi, Olevey terlihat terkejut bukan main.     Hal itu terjadi karena ada sebuah tato yang terukir jelas pada ceruk leher dan bahunya. Tato itu rupanya merambat ke bawah dan berhenti pada bagian dadanya, di sana tato tersebut membentuk sebuah pola rumit. Melihat apa yang terjadi pada teubuhnya, Olevey mengetatkan genggamannya pada pegangan cermin dan menjerit, “Apa yang  kau lakukan padaku, dasar Iblis!”   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN