Hanya Satu

1278 Kata
    Olevey diantar oleh Slevi menuju aula istana di mana singgasana milik Diederich berada. Tentu saja, Olevey perlu bertemu dengan Diederich untuk membicarakan hal aneh yang terjadi pada tubuhnya. Beruntungnya Olevey, saat ini bukanlah masa di mana bulan merah kehilangan cahaya, hingga Olevey tidak akan melihat bentuk-bentuk iblis yang mengerikan. Bentuk iblis yang mungkin saja bisa membuatnya terkena serangan jantung, dan jatuh tak sadarkan diri karena melihatnya. Namun, Olevey masih bisa merasakan jika para iblis yang bertugas sebagai pengawal, memperhatikan dan mencuri pandang padanya. Tampaknya, apa yang dikatakan oleh Diederich jika ia memiliki sesuatu yang membuatnya menarik di mata para iblis bukanlah omong kosong.     “Kita sudah sampai, Nyonya. Tapi maafkan saya, karena saya tidak bisa mengantarkan Anda ke dalam,” ucap Slevi sembari menundukkan kepalanya. Slevi tentu saja tahu jika olevey tidak senang dipanggil sebagai seorang nyonya, tetapi Slevi tidak bisa mengubah panggilannya karena itu mungkin akan membuatnya dalam masalah.     Olevey sama sekali tidak menjawab. Begitu sepasang daun pintu terbuka lebar, Olevey pun masuk ke dalam ruangan luas tersebut seorang diri. Olevey mengernyitkan keningnya saat mendengar gema langkah sepatu tinggi yang membalut kedua kaki kecilnya yang lembut. Olevey pun tiba di tengah-tengah ruangan yang kebetulan terbuat dari marmer hitam yang tampak begitu berkilau dan bisa ia gunakan untuk bercermin. Olevey mendongak menatap singgasana tinggi yang baru bisa digapai jika meniti sekitar sepuluh anak tangga. Namun, singgasana mewah itu sama sekali tidak ditempati oleh siapa pun.     Olevey pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan dirinya sama sekali tidak bisa melihat siapa pun di sana. Bahkan, tidak ada pengawala satu pun yang berjaga. Padahal, sebelumnya Olevey sudah memastikan pada Slevi jika Diederich berada di aula istana, lebih tepatnya tengah duduk di singgasananya yang mewah tetapi membawa kesan mengerikan di hadapannya ini. Olevey tersentak saat dirinya tiba-tiba mendengar jerit tangis yang tampak begitu jauh.     Lalu sebuah aroma yang tak asing terhirup membuat Olevey tanpa permisi segera mengernyitkan hidungnya. Betapa terkejutnya Olevey saat melihat sumber bau amis yang membuatnya mual adalah darah yang ternyata mengalir dan merambat dari atap ruangan yang berada tepat di atas singgasana. Darasah tersebut terus mengalir dan menetes tepat pada singgasana mewah yang ternyata berubah menjari berwarna merah rubi, begitu tetes demi tetes darah tersebut meresap pada kursi tersebut.     Olevey merasakan firasat buruk dan memilih untuk berbalik. Namun, langkahnya terhenti saat dirinya berhadapan dengan Diederich yang entah muncul dari mana. Olevey mencoba untuk menenangkan diri dan memberi salam yang anggun, selayaknya seorang gadis bangsawan yang telah dididik sejak dini. Diederich yang melihat kesonanan Olevey tersebut tidak bisa menahan diri untuk menyeringai. “Rasanya, baru tadi pagi aku mendengarmu mengumpat padaku. Tapi sekarang kau bertindak sangat sopan dengan memberikan salam dengan anggunnya,” ucap Diederich membuat Olevey bertanya-tanya.     Tentu saja Olevey bertanya-tanya, mengapa Diederich bisa mengetahui fakta bahwa tadi pagi dirinya mengumpat karena melihat tanda pada bahunya. Olevey berdeham pelan. Jika sampai ibunya tahu jika ia mengumpat seperti itu, sudah dipastikan jika Olevey akan mendapatkan hukuman dengan menyalin pedoman etika dasar seorang wanita bangsawan. “Saya tidak pernah melakukan hal itu,” ucap Olevey mengelak.     “Selain mengumpat, sekarang kau berbohong juga? Apakah para gadis bangsawan di dunia manusia memang dididik untuk seperti ini? Jangan pikir jika aku tidak bisa mendengar teriakanmu tadi pagi. Jangan lupakan fakta bahwa aku ini adalah seorang raja iblis. Aku memiliki indra yang jelas lebih tajam daripada manusia,” ucap Diederich membuat pipi Olevey memerah dengan cantiknya.     Saat ini, rasanya Diederich igin mengulurkan tangannya dan mengusap pipi lembut itu. Hanya saja, Diederich ingat jika ini bukan waktunya untuk melakukan hal itu. Diederich menatap Olevey yang berubah seperti kucing kecil yang tampak malu-malu. “Apa yang membawamu datang ke mari?” tanya Diederich.     “Saya datang untuk menanyakan beberapa hal. Pertama, tanda di bahu saya. Kenapa tanda itu bisa datang, dan kedua kenapa Jannet serta yang lainnya memanggilku dengan panggilan Nyonya? Saya benar-benar membutuhkan penjelasan dari Anda, Yang Mulia,” jawab Olevey tampak kesulitan untuk mempertahankan bahas formalnya di hadapan Diederich yang jelas sudah membuatnya merasa malu dan kesal dalam waktu yang bersamaan.     “Ah, tanda itu,” ucap Diederich sembari menatap tanda yang terpatri sempurna pada bahu dan ceruk leher Olevey yang rupanya berusaha untuk ditutupi oleh gaun. Hanya saja, masih ada bagian yang mengintip dan bisa Diederich lihat.     “Itu tanda yang aku berikan. Kau ingat jika aku pernah menggigitmu, maka itu adalah tanda yang terbentuk setelah aku menggigitmu. Lalu panggilan nyonya memang pantas untuk disematkan padamu, mengingat tanda yang sudah aku berikan itu,” lanjut Diederich membuat Olevey semakin tidak mengerti saja.     “Lalu kenapa Anda memberikan tanda ini pada saya? Saya sama sekali tidak membutuhkannya, dan apa hubungan tanda ini dengan panggilan nyonya yang saya terima saat ini? Yang Mulia jelas perlu menjelaskan ini pada saya,” desak Olevey benar-benar ingin mendengar apa yang melatar belakangi hal ini.     “Tentu saja untuk menyelamatkan nyawamu. Manusia secara alami memang tidak bisa bertaha terlalu lama di dunia iblis. Karena itulah, aku harus membuatmu menjadi bagian dari duni  ini. Aku menandaimu sebagai … kekasihku.”         **             “Ini tidak masuk akal,” ucap Olevey sembari menutup buku yang selesai ia baca dengan kuat hingga mengejutkan Slevi yang berada di sana.     Namun, Slevi sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejutnya dan memilih untuk tetap diam di dekat pintu balkon, sementara saat ini Olevey masih duduk di kursi yang diletakkan di area balkon yang memang cukup luas dan bisa meletakkan satu set meja santai, bahkan masih tersisa ruang yang masih luas. Kebetulan, karena pemandangan sore yang cukup indah, dan tidak ada iblis yang penampilannya terlihat mengerikan, Olevey memilih untuk membaca sisa buku yang pernah Jannet berikan padanya. Buku yang bisa menjawab rasa tidak percayanya mengenai fakta yang ia dengar dari Diederich.     “Nyo—”     “Aku bukan nyonya! Aku masih seorang gadis, Slevi!” potong Olevey marah.     Bagaimana dirinya tidak marah, jika saat ini dirinya menyandang status sebagai pasangan seorang raja iblis, dan itu tanpa sepengetahuan Olevey sendiri. Olevey memejamkan matanya berusaha untuk mengendalikan emosinya yang menggelegak. Olevey sama sekali tidak berniat untuk tinggal lebih lama di dunia yang mengerikan ini, tetapi kini Olevey malah semakin terikat karena statusnya sebagai seorang pasangan dari sang penguasa. Kepala Olevey berdenyut-denyut. Ia sama sekali tidak mengerti dengan situasi ini.     Meskipun ia sudah mendengar alasan Diederich melakukan penandaan yang berarti menjadikan pihak yang ditandai menjadi pasangan dari pihak yang menandai. Namun, tetap saja, Olevey tidak bisa menerima alasan tersebut. Mungkin benar, nyawanya berada di ujung tanduk, dan  membutuhkan pertolongan segera. Namun rasanya menjadikan Olevey sebagai pasangan, itu adalah hal konyol. Olevey tahu, jika penandaan adalah hal yang terbilang sakral di dunia iblis, apalagi di kalangan bangsawan. Lalu, kenapa bisa-bisanya Diederich dengan mudahnya memutuskan untuk menandai Olevey seperti ini?     “Slevi, apa kamu tau caranya menghilangkan tanda ini? Aku tidak menemukan cara itu di dalam buku yang aku baca. Jika ada cara memunculkannya, pasti ada cara untuk menghilangkannya. Jangan pernah berniat untuk mengatakan kebohongan,” ucap Olevey memberikan peringatan pada Slevi yang tampak ragu dengan apa yang akan ia katakan pada Olevey.     Olevey menoleh dan melihat Slevi yang sibuk dengan dunianya sendiri hingga tidak menyadari jika sang nyonya yang ia layani tengah mengamatinya. Olevey tentu saja bisa menilai jika saat ini Slevi tengah kebingungan dengan apa yang akan ia katakan. Lebih tepatnya ragu. Slevi terlihat ragu dengan jawaban yang akan ia berikan pada Olevey. Karena itulah, Olevey kembali menekan Slevi untuk memberikan jawaban. Selvi terlihat gelisah, ia memilin jemarinya dan menatap Olevey takut-takut. “Katakan, apa yang kamu ketahui Slevi, tanpa terkecuali.”     “Ta-tapi, saya tidak yakin jika ini adalah hal yang bisa saya katakan pada Anda,” ucap Slevi.     “Aku tidak ingin mendengar alasanmu, Slevi. Aku ingin mendengar jawaban. Apa cara untuk menghilangkan tanda ini?” tanya Olevey penuh penekanan.     Slevi sama sekali tidak memiliki pilihan lain, selain menjawab apa yang sudah ditanyakan oleh Olevey dengan jujur. “Caranya hanya satu, Nyonya,” jawab Slevi.     Olevey menepis fakta jika Slevi memanggilnya dengan sebutan Nyonya dan kembali bertanya, “Dan apa cara yang kamu maksud ini?”     “Tanda itu hanya bisa menghilang, jika salah satu di antara kalian … mati,” jawab Slevi membuat Olevey memucat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN