Istriku

1372 Kata
    Olevey terbangun dari tidurnya karena tidurnya yang nyaman disambangi mimpi buruk. Olevey tersentak dan membuka matanya menatap langit-langit kamarnya. Setelah sembuh sakitnya, Olevey sudah kembali ke kamarnya yang sudah sangat nyaman dan familier dengannya ini. Jelas, kamar ini lebih nyaman daripada kamar bernuansa gelap yang sebelumnya Olevey tempati ketika sakit. Namun, saat ini Olevey tidak bisa merasakan kenyamanan yang biasanya selalu ia rasakan ketika berada di dalam kamarnya ini. Biasanya, Olevey merasa aman berada di dalam kamar yang memang tidak bisa didatangi oleh iblis-iblis lainnya.     Olevey menghela napas panjang dan memilih untuk bangkit dari posisinya. Rasanya, Olevey perlu minum segelas air untuk menenangkan pikirannya. Olevey baru saja akan bergerak untuk menepi ke tepi ranjang, tetapi keningnya mengernyit saat melihat sinar bulan merah yang menembus gorden tipis pintu balkon, perlahan meredup dan hilang. Namun tiba-tiba, Olevey merasakan sengatan sakit yang begitu mengerikan menyerang dadanya. Olevey yang merasakan hal itu tentu saja meringis dengan kuatnya dan meremas pusat dari rasa sakitnya.     Hanya saja, rasa sakit yang menyerang Olevey tersebut sama sekali tidak berkurang. Olevey tidak bisa menahan air matanya saat rasa sakitnya semakin menjadi saja. Ia mengulurkan salah satu tangannya untuk meraih gelas air. Setidaknya, Olevey berpikir jika minum segelas air bisa menenangkan dirinya dan bisa membuatnya mengendalikan rasa sakit yang tidak Olevey mengerti asal muasalnya ini. Sayangnya, tangan Olevey ternyata tidak bisa meraih gelas air dengan sempurna dan malah menyenggolnya hingga terjatuh dan menimbulkan suara yang nyaring.     Bertepatan dengan itu, rasa sakit yang menyerang jantung Olevey semakin menjadi saja. Kamar Olevey yang hanya diterangi oleh beberapa lilin aroma, membuat Olevey tidak bisa melihat dengan jelas. Sinar bulan merah sudah benar-benar menghilang, dan Olevey mulai berpikir aneh-aneh. Ia meringkuk di tengah ranjang, berharap jika ada seseorang yang mendengar suara pecahan kaca tadi, dan datang untuk menolongnya. Saat ini, hanya untuk menggerakkan bibirnya saja, Olevey sama sekali tidak bisa melakukkannya.     Rasa sakit pada jantungnya, membuat Olevey tidak bisa menggerakkan organ tubuhnya dengan benar. Saat ini, Olevey hanya berfokus pada rasa sakitnya dan merintih dengan memilukan. Olevey merintih dengan kuat saat rasa sakitnya semakin menjadi. Namun, tiba-tiba sebuah telapak tangan yang lebar datang dan menyentuh kening dan menutup kedua mata Olevey. Telapak tangan lebar tersebut menguarkan suhu hangat, tetapi ada sebuah energi yang terasa begitu sejuk yang menyusup dan menenangkan rasa sakit yang mencengkram.     “Stt, tenanglah. Rasa sakitnya akan menghilang sesaat lagi. Sekarang, tidurlah.”     Suara yang terdengar familier di telinga Olevey membuat Olevey bisa bernapas dengan lebih lega, dan merasa aman. Mau tidak mau, Olevey pun memejamkan matanya. Olevey terlelap dengan tenang, dengan rasa sakit yang sudah menghilang. Sebelum benar-benar terlelap, Olevey bertanya dalam hatinya. Kenapa, lagi-lagi sosok inilah yang datang saat Olevey membutuhkan pertolongan?       **           “Nyonya sudah bangun?” tanya Slevi pada Olevey yang memang sudah membuka matanya. Namun, Olevey sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Sudah lebih dari tiga puluh menit dari Olevey terbangun dari tidurnya, tetapi Olevey terlihat belum sadar sepenuhnya. Ia terlihat syok dengan sesuatu yang tidak Slevi mengerti.     “Nyonya,” panggil Slevi lagi. Kali ini, Olevey bereaksi. Ia bangkit dan duduk bersandar pada kepala ranjang.     “Tanda mata,” ucap Olevey tiba-tiba.     Slevi mengernyitkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang Olevey maksud. Olevey menghela napas panjang, sadar jika dirinya juga sudah melakukan kesalahan. Rasanya, percuma saja jika dirinya beranya pada Slevi ketika gadis ini baru beberapa hari melayaninya. “Tanda mataku hilang, dan aku baru sadar hal itu,” ucap Olevey sembari mengernyitkan keningnya. Ya, akhirnya Olevey bisa mengaitkan semua kejadian buruk yang ia alami dengan hilangnya tanda mata miliknya.     Rasanya, Olevey terlalu lalai dan bodoh hingga tidak menyadari tanda mata yang berupa kalung cantik yang menggantung pada lehernya itu, kini telah menghilang entah ke mana. Padahal, tanda mata yang digunakan oleh para gadis yang belum menikah sebagai alat perlindungan dari sihir hitam. Tanda mata biasanya mendapatkan berkat dari uskup agung serta mengandung air suci yang tentu saja telah mendapatkan perlindungan dari dewa. Jadi, terasa masuk akal bagi Olevey jika semua kejadian buruk dan mimpi mengerikan yang datang pada tidurnya, berkaitan dengan tanda mata yang sudah menghilang entah ke mana.     “Apa saya perlu mencarikannya, Nyonya?” tanya Slevi.     Olevey mengangguk. “Iya, tolong bantu aku mencarinya. Hanya saja, tidak perlu menyentuhnya. Kamu mungkin akan terluka jika menyentuh tanda mataku,” ucap Olevey lalu turun dari ranjang.     “Baik, Nyonya. Mari, saya bantu untuk membersihkan diri.”     “Tidak perlu. Aku akan mandi sendiri. Tolong bantu aku untuk menyiapkan gaun yang bisa menutupi tanda pada bahu dan leherku ini. Tolong cepat, karena aku harus menemui Yang Mulia,” ucap Olevey lalu masuk ke dalam kamar mandi. Benar, Olevey memang memiliki rencana untuk bertemu kembali dengan Diederich. Ia harus membicarakan banyak hal dengan pria itu. Salah satu hal yang paling penting adalah, masalah kejelasan kapan dirinya akan dikembalikan ke dunia manusia.     Atas bantuan Slevi, Olevey selesai bersiap tepat waktu. Karena begitu dirinya selesai, ternyata Exel datang dan mengabarkan jika Diederich ingin sarapan bersama dengan Olevey. Kini, Olevey sudah duduk di berhadapan dengan Diederich di meja makan panjang yang mewah. Ada sepiring steak mewah yang menguarkan aroma lezat di hadapan Olevey dan Diederich saat ini. Namun, Olevey merasa jika perutnya tidak akan menerima dengan baik steak ini. Ia memilih untuk meminum teh hangat sebelum bertanya, “Kapan saya akan dikembalikan ke dunia manusia?”     Diederich meletakkan pisau makan yang sejak tadi ia mainkan dan memilih untuk menyesap anggur merah yang terasa begitu lezat. Diederich memainkan anggur tersebut dan bertanya, “Kenapa aku harus mengembalikan sesuatu yang sudah mereka berikan padaku?”     Olevey meletakkan cangkir tehnya dengan cukup keras. Wajahnya yang cantik, kini terlihat seperti tengah menahan emosi. Olevey menatap Diederich dan berkata, “Saya bukan barang, dan saya sama sekali tidak diberikan pada Anda. Saya datang ke lembar Darc sebagai gadis persembahan yang ditugaskan untuk menjaga persembahan yang akan diambil oleh utusan Yang Mulia. Namun, entah karena alasan apa, pada akhirnya saya berakhir di sini. Karena itulah, dengan sisa hormat dan kesopanan yang saya miliki, saya memohon pada Anda untuk mengembalikan saya ke dunia manusia secepatnya. Ah, sebelum itu, tolong hapus tanda yang ada pada leher dan bahu saya.”     “Sepertinya, sudah terlalu lama waktu berjalan di dunia manusia, hingga hal penting yang seharusnya terus diingat malah terlupakan seiring berjalannya waktu. Baiklah, akan kujelaskan satu per satu,” ucap Diederich lalu meletakkan gelas di meja dan meletakkan salah satu tangannya di atas meja, sementara yang satunya untuk menyangga dagunya.     “Pertama, sejak dahulu kala, gadis persembahan, bukanlah sekadar julukan di mana mereka mengutus seorang gadis untuk menunggui persembahan. Gadis persembahan, memang gadis yang dipersembahkan pada raja iblis. Tentu saja raja iblis memiliki kebebasan untuk melakukan apa pun pada gadis itu. Entah dijadikan sebagai pajangan di istana raja, atau menjadi seorang selir yang biasanya tidak akan bisa bertahan hidup lama di dunia iblis.”     Apa yang dikatakan oleh Diederich membuat Olevey terkejut. Kening Olevey mengernyit dan berniat untuk memberikan argumen. Namun, Diederich mengetuk permukaan meja dengan jari telunjuknya dan berkata, “Jangan menyela! Aku belum selesai dengan apa yang ingin aku katakan.”     “Kedua, seharusnya kau sudah mendengar dari Slevi, jika tanda itu sama sekali tidak bisa menghilang. Kecuali, di antara kita ada yang mati. Aku tidak mungkin bisa mati dengan mudahnya, dan aku rasa, kau juga tidak mau mati hanya untuk menghapus tanda itu,” ucap Diederich membuat Olevey menipiskan bibirnya dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.     “Ketiga, aku tidak mungkin memulangkanmu ke dunia manusia. Dengan pola khusus perlambang dari pasangan Raja iblis yang terpatri jelas itu, semua orang tentu saja bisa menilai jika kau adalah kekasihku. Meskipun kembali, kau sama sekali tidak akan bisa kembali selayaknya gadis bangsawan lainnya. Sekarang, kau sudah menjadi bagian dari dunia iblis ini, Eve,” tambah Diederich membuat Olevey mengernyitkan keningnya.     Olevey sama sekali tidak pernah mendapatkan panggilan seperti itu dari siapa pun. Olevey menggigit bibirnya, merasakan gejolak aneh di dalam hatinya. Diederich menelengkan sedikit kepalanya, saat ini ia tengah mengamati apa yang akan dilakukan oleh Olevey selanjutnya. Olevey pun berkata, “Tolong panggil saya dengan nama jelas saya. Lalu, apa pun yang Anda katakan, rasanya saya memiliki hak untuk meminta untuk segera dikembalikan ke dunia manusia. Karena saya sama sekali tidak mengakui jika saya adalah pasangan Anda, itu sudah lebih dari cukup untuk mematahkan perkataan Anda yang mengakui saya adalah pasangan atau kekasih Anda sebab adanya tanda ini.”     “Sepertinya kau senang membantah ya, Eve?” tanya Diederich.     Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit, lalu melanjutkan perkataannya, “Tapi tak apa, aku bisa membuat istriku menjadi istri yang patuh.”     “Tunggu, apa yang Anda maksud?” tanya Olevey.     “Apalagi? Tentu saja aku tengah membicarakanmu, istriku,” ucap Diederich dengan seringai yang membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Olevey berdiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN