Mimpi Indah

1261 Kata
    “Tunggu, apa yang Anda maksud?” tanya Olevey.     “Apalagi? Tentu saja aku tengah membicarakanmu, istriku,” ucap Diederich dengan seringai yang membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Olevey berdiri.       “Jika Anda tengah membuat lelucon, maka ini adalah lelucon yang sama sekali tidak lucu,” ucap Olevey.     Diederich menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menatap Olevey dengan seringai yang belum surut. “Apa aku terlihat seperti seseorang yang senang bermain dengan lelucon?” tanya Diederich.     “Tapi saat ini, Anda terlihat seperti seseorang yang tengah mengatakan omong kosong,” jawab Olevey sembari mempertahankan kesabarannya yang masih tersisa.     Diederich terkekeh. Jelas, ia bisa melihat kemarahan yang tengah ditunjukkan oleh Olevey saat ini. Namun, Diederich sama sekali tidak merasa terganggu dengan kemarahan Olevey. Diederich malah merasa terhibur dengan kemarahan yang terlihat di kedua netra emerald Olevey yang indah. “Aku sama sekali tidak mengatakan omong kosong. Kita memang sudah melakukan pernikahan dengan cara legal di dunia iblis. Tanda di leher dan bahumu bisa diartikan sebagai cincin pernikahan. Lalu, tukar darah yang sudah kita lakukan, itu diartikan sebagai janji pernikahan. Rasanya, tidak salah jika aku menyebutmu sebagai istriku. Hanya saja, kau belum resmi menjadi permaisuri karena ada satu tahap lagi yang belum kita lewati,” ucap Diederich.     Olevey mengangkat salah satu tangannya, menunjukkan isyarat pada DIederich untuk menutup mulutnya. Olevey memejamkan matanya dan mengurut pangkal hidungnya. “Aku ini manusia, dan aku tidak bisa menikah dengan cara yang tidak masuk akal itu. Lagi pula, aku sama sekali tidak ingin menikah denganmu!” seru Olevey dengan kemarahan yang membuncah. Olevey bahkan sudah tidak lagi mempertahankan kesopanannya.     Diederich tentu saja menyadari hal itu, tetapi ia sama sekali tidak menegur Olevey. Ia malah ingin Olevey tetap menggunakan bahasa informal seperti ini. Rasanya lebih nyaman didengar olehnya. “Aku juga tidak ingin menikah, karena bagi para iblis termasuk diriku sendiri, menikah bukanlah kata yang digunakan oleh kami, tetapi digunakan oleh para manusia. Bagi kami, hanya perlu menandai, bertukar darah, lalu … menyatukan diri. Maka, kami akan resmi menjadi pasangan sehidup semati,” ucap Diederich.     “Tapi aku sama sekali tidak ingin sehidup semati dengan pria yang tidak aku cintai, apalagi iblis semacam dirimu! Sudah cukup selama ini aku bersabar menghadapamu, mempertimbangkan posisimu sebagai sebagai seorang raja iblis. Namun, aku sama sekali tidak akan mentolelir apa pun lagi. Aku akan pulang, dengan atau tanpa seizinmu. Sejak awal, ini bukanlah tempatku, dan hingga nanti pun akan selalu seperti itu. Jika tidak ingin sampai berurusan dengan dunia Dewa, sebaiknya kamu mengembalikan aku ke tempat yang seharusnya,” ucap Olevey memberikan ancaman.     “Ah, jadi sekarang kau mengancamku? Baik, aku akan mengembalikanmu setelah bulan merah berubah menjadi bulan merah keemasan. Namun, ada satu hal yang perlu kau ketahui, Eve. Kau tidak akan bisa meninggalkan dunia iblis. Kau membutuhkan aku, dan membutuhkan penyatuan untuk penyempurnaan pengikatanmu sebagai pasangan sehidup sematiku. Aku akan menjadikanmu sebagai permaisuriku.”     Olevey yang mendengar ucapan Diederich tentu saja menggeleng tipis. “Tidak. Aku sama sekali tidak membutuhkan apa pun yang sudah kamu maksudkan. Aku akan bertahan hingga pergantian bulan, lalu aku akan pulang dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu apa pun,” ucap Olevey penuh dengan percaya diri.     “Baiklah, mari kita lihat apakah perkataanmu ini bisa dibuktikan. Tenang saja, jika kamu bisa bertahan hingga puncak masa penyatuan, maka aku berjanji untuk memulangkanmu lebih dari waktu yang sudah kutentukan. Namun, jika tidak, malam itu juga aku akan melakukan tahap penyatuan. Tahap terakhir yang akan membuatmu benar-benar menjadi pasanganku, dan resmi menjadi permaisuri di dunia iblis. Saat itu terjadi, maka jalanmu untuk kembali ke dunia manusia akan tertutup sepenuhnya. Apa kita sepakat?” tanya Diederich sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Olevey.     Tentu saja Olevey menyambut uluran tangan tersebut dan berkata dengan yakin, “Sepakat. Aku pasti bisa pulang.”     Diederich menyeringai dan menarik tangan Olevey dengan lembut dan menanamkan sebuah kecupan pada punggung tangan Olevey yang lembut. Diederich melirik Olevey sembari berkata, “Kita lihat saja nanti.”       **           “Slevi, apa itu penyatuan penyempurnaan?” tanya Olevey tiba-tiba saat Slevi menyisir helaian rambut cokelat Olevey yang indah.     Slevi yang mendengar pertanyaan Olevey tersebut tentu saja terlihat malu-malu dengan pipi yang memerah dengan cantiknya. Olevey yang melihat hal itu tentu saja mengernyitkan keningnya. “Kenapa kamu terlihat malu seperti itu? Apa pertanyaan yang aku tanyakan ini tergolong pertanyaan yang memalukan?” tanya Olevey lagi.     “Ah, bukan seperti itu. Saya hanya terkejut karena Nyonya tiba-tiba bertanya seperti itu,” ucap Slevi.     Pelayan satu itu lalu meletakkan sisir yang sudah selesai ia gunakan dan menatap Olevey dari pantulan cermin. “Penyatuan penyempurnaan adalah hal yang dilakukan oleh pasangan yang sudah melakukan penandaan dan ritual tukar darah. Seperti namanya, penyatuan penyempurnaan adalah hal yang dilakukan untuk menyempurnakan ikatan yang sudah terjalin,” jelas Slevi.     “Masalah itu, aku sudah mengetahuinya. Hanya saja, hal yang tidak aku mengerti adalah penyatuan penyempurnaan itu sendiri. Memangnya, apa maksudnya penyatuan penyempurnaan itu? Maksudku, apakah itu? Apakah itu semacam ritual?” tanya Olevey ingin penjelasan yang lebih rinci.     Slevi terlihat semakin memerah dan ia pun berdeham pelan. “Itu bisa dibilang sebagai ritual, Nyonya. Hanya saja, ini lebih intim. Di mana para pasangan akan bercinta di bawah guyuran sinar bulan merah,” ucap Slevi.     “Apa?! Bercinta? Tunggu, tadi kamu mengatakan di bawah guyuran sinar bulan merah?” tanya Olevey lagi.     Slevi mengangguk. “Di bulan merah ini, para pasangan akan melakukan hubungan intim di alam bebas.”     “Apa mereka gila?!” tanya Olevey dengan nada tinggi.     Slevi tentu saja tersentak karena terkejut dan membuat Olevey berdeham karena merasa malu sudah melakukan kesalahan seperti itu. Slevi pun mulai menjelaskan, “Di dunia ini, banyak hal yang pasti terasa tabu untuk Nyonya. Tapi ini memang sudah lumrah. Tapi tidak banyak pasangan yang melakukan ini demi menyempurnakan penandaan. Mereka melakukannya hanya untuk kepuasan pribadi. Sepertinya, sekarang saya sudah tidak pernah mendengar dan melihat kabar jika ada pasangan yang melakukan hal ini dengan sembarangan.”     “Cu-cukup, aku mau tidur, kamu bisa pergi,” ucap Olevey sembari mengipasi wajahnya yang mulai terasa panas.     Slevi menahan senyum dan memilih untuk undur diri. Sementara itu, Olevey pun segera beranjak untuk berbaring di ranjangnya yang empuk. Ia menghela napas dan berusaha untuk menepis semua bayangan aneh yang tiba-tiba menghampiri benaknya setelah mendengar apa yang dijelaskan oleh Slevi tadi. “Oke, lupakan. Itu hal yang sangat mustahil terjadi, bahkan dalam mimpiku sekali pun. Aku sama sekali tidak akan pernah melakukan hal seperti itu dengan pria semacamnya. Sekarang, aku hanya perlu tidur, dan menyongsong hari menuju kebebasanku,” ucap Olevey dan memejamkan matanya.     Rasa kantuk yang teramat datang tiba-tiba membuat Olevey tidak bisa bertahan terlalu lama dalam kesadarannya. Olevey pun terlelap dengan nyenyak, saat sosok Diederich yang dominan muncul menembus pintu balkon. Pria itu mengenakan jubah merah gelap yang terlihat menyaru dengan kegelapan kamar Olevey. Diederich melambaikan tangannya dan cahaya keabuan menyerap pada kening Olevey dan membuat Olevey terlihat semakin lelap saja. Diederich pun duduk di tepi ranjang dan menatap wajah cantik Olevey yang dibingkai oleh helaian anak rambut kecokelatan yang lembut.     “Sepertinya kau sudah mendengar ritual yang sering dilakukan oleh para pasangan di bulan merah, bukan?” tanya Diederich bertanya pada Olevey yang tentu saja tidak akan memberikan jawaban apa pun.     Diederich mengulurkan tangannya dan mengalungkan sebuah kalung yang begitu mirip dengan tanda mata milik Olevey yang sebelumnya hilang. Bukannya hilang, tetapi Diederich memang sengaja mengambilnya. Diederich mengganti permata berisi air suci yang terlalu lemah untuk melindungi Olevey. Ia menggantinya dengan batu rubi yang terbuat dari serpihan tulangnya, dan ia tiupkan mantra sihir yang bisa melindungi batu rubi tersebut. Batu rubi ini sudah memiliki kekuatannya sendiri, dan Diederich hanya perlu memberikan sedikit sihir agar kekuatan tersebut terkendali dan bisa melindungi Olevey dengan maksimal.     Diederich menyeringai. “Sepertinya, kau sangat percaya diri jika kita tidak akan melakukan penyatuan penyempurnaan itu sekali pun dalam mimpi. Bagaimana, kalau aku akan mematahkan kepercayaan dirimu itu, Eve? Pasti terasa menyenangkan, bukan?”     Diederich menunduk dan berbisik tepat di depan bibir Olevey yang tidak terkatup sempurna. “Mimpi indah, Eve,” bisik Diederich lalu mengecup singkat bibir Olevey sembari menyeringai seakan-akan sudah menemukan sebuah cara untuk mempermainkan Olevey kembali.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN