Mimpi

1232 Kata
    Olevey berdiri di bawah guyuran bulan merah yang berpendar keemasan. Kening Olevey mengernyit dalam saat melihat keindahan bulan merah keemasan yang belum pernah ia lihat. Olevey mengedarkan pandangannya dan tersadar jika dirinya berdiri dengan dikelilingi pohon pinus yang menjulang tinggi. Olevey tidak mengerti, kenapa dirinya bisa berakhir di tempat yang tidak pernah ada dalam ingatannya. Olevey tentu saja sadar, jika ini adalah dunia iblis, tetapi Olevey tidak pernah menginjakkan kakinya di hutan pinus seperti ini.     “Eve.” Olevey menoleh mencari sumber suara. Namun, Olevey sama sekali tidak melihat siapa pun. Hal yang Olevey lihat hanyalah pohon-pohon pinus yang menjulang dengan kokohnya. Olevey mengernyitkan keningnya. Rasa tidak nyaman dan terdesak membuat Olevey merasakan takut. Apakah mungkin, ini adalah tipu muslihat dari perwujudan energi danau kegelapan? Tentu saja Olevey masih mengingat apa yang dijelaskan oleh Slevi mengenai dirinya yang hampir saja mati tenggelam karena ulah perwujudan energi danau kegelapan yang ternyata tertarik padanya.     “Eve, kemarilah.”     Olevey mengernyitkan keningnya, dan tanpa sadar melangkah mengikuti sumber suara. Baru saja melangkah, kunang-kunang yang berpendar keemasan muncul. Mereka membantu Olevey untuk melangkah menyusuri jalan setapak, mengejar suara yang terus-terusan memanggil nama kecilnya. Nama kecil yang tidak biasa Olevey terima sebelumnya. Namun, Olevey lebih dari yakin jika nama itu memang digunakan untuk memanggilnya.     “Eve.”     “Kamu siapa?” tanya Olevey dengan terengah-engah karena terus berusaha mengejar suara yang memanggil namanya.     Olevey mematung saat dirinya sampai di sebuah tebing yang cukup menjorok. Saat ini, Olevey dengan leluasa bisa melihat hamparan keindahan dunia iblis di kala malam. Sinar bulan merah keemasan yang berpendar dan berpadu dengan sinar dari kunang-kunang, membuat apa yang Olevey lihat semakin indah saja. Mungkin, Olevey bisa mengatakan jika ini adalah pemandangan terindah yang pernah ia lihat selama hidupnya.     “Apa kau menyukainya, Eve?”     Olevey tersentak dan berbalik dengan refleks saat mendengar suara yang begitu dekat dengan telinganya. Hal itu ditambah dengan embusan napas yang menerpa daun telinga yang jelas adalah salah satu bagian tubuhnya yang sangat sensitif. Olevey mengernyit saat menyadari jika orang yang sejak tadi menuntun dirinya hingga mencapai tempat ini tak lain adalah Diederich. “Kamu—”     “Derich. Panggil aku Derich, Eve,” potong Diederich membuat Olevey bungkam.     Entah kenapa, saat ini Diederich yang berdiri beberapa jengkal darinya seakan-akan tengah menguarkan aura yang membuat Olevey ingin melemparkan dirinya pada pelukan raja iblis ini. Olevey tersentak saat tiba-tiba kedua tangan Diederich sudah meraih tubuhnya dan membawanya untuk merapat pada tubuh Diederich yang jelas menguarkan suhu tubuh yang lebih hangat daripada Olevey. Diederich menunduk dan memberikan sebuah kecupan yang panas pada bahu Olevey yang ternyata tidak dihalangi apa pun.     Olevey merinding bukan main. Namun, ia sama sekali tidak bisa menolak sentuhan Diederich. Sentuhan, demi sentuhan yang diberikan oleh Diederich terasa begitu memabukkan bagi Olevey. Gadis satu itu baru tersadar saat dirinya sudah berada di bawah tindihan Diederich yang tidak mengenakan sehelai benang pun. Olevey memucat, ia lalu menunduk dan menatap tubuhnya yang juga tengah berada dalam kondisi yang sama. Olevey menggigit bibirnya kuat, merasa begitu cemas dengan situasi saat ini. Namun, Diederich menunduk dan mencium kening Olevey.     “Tenanglah, aku tidak akan melukaimu,” ucap Diederich lalu mengulurkan salah satu tangan berototnya untuk memijat dan memilin salah satu buah d**a Olevey. Sentuhannya mengantarkan gelenyar aneh yang jelas-jelas baru ia temui saat ini. Olevey tersentak berniat untuk mendorong Diederich menjauh, tetapi Diederich sudah lebih dulu menunduk dan memberikan sentuhan gila di buah d**a Olevey yang lainnya. Olevey mengerang keras dan memohon pada Diederich untuk menghentikan aksinya.     Namun, Diederich sama sekali tidak menghentikan apa yang tengah ia lakukan. Diederich malah semakin leluasa melakukan apa yang ia inginkan, karena semakin lama, tubuh Olevey memberikan reaksi yang seakan-akan menyambut setiap sentuhan Diederich yang jelas membuat Olevey yang tidak memiliki pengalaman, merasakan mabuk kepayang. Olevey baru saja akan mendapatkan puncaknya, saat Diederich menghentikan sentuhannya. Diederich menyuguhkan sebuah senyum sembari memposisikan dirinya. “Kita akan mulai, Eve,” ucap Diederich.     Olevey memucat, dan ketika Diederich berusaha menyatukan tubuh mereka, Olevey menjerit, “Tidak, Derich!”         Olevey tersentak, dan langsung terduduk dengan keringat bercucuran. Wajah Olevey dihiasi semburat merah, dan napasnya terdengar terengah-engah. Olevey menoleh dan menatap langit yang masih dihiasi oleh bulan merah. Ia menggigit bibirnya saat sadar apa yang sudah terjadi. “Mimpi sialan!” maki Olevey tanpa mempedulikan sopan santun seorang nona bangsawan. Olevey mengerang kesal saat merasakan bagian bawahnya yang terasa begitu lembab.     “Menyebalkan!” seru Olevey sembari turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Olevey sama sekali tidak menyadari, jika saat ini Diederich yang berdiri di sudut ruangan, menyaru di tengah kegelapan, tengah menyeringai dengan penuh kemenangan.     “Itu hadiah dariku, Eve. Aku pastikan, jika mimpi itu akan menjadi kenyataan. Ah, tentu saja akan terasa lebih menggairahkan, lebih panas, dan lebih menyenangkan,” bisik Diederich penuh kesungguhan. Tentu saja, Diederich akan memastikan, jika apa yang sudah ia janjikan akan menjadi sebuah kenyataan.       **           “Uskup Agung!”     Mendengar seruan yang memanggilnya, sosok Uskup Agung yang baru saja akan memasuki kediaman yang disediakan tak jauh dari kuil agung, segera berbalik dan mencari sosok yang sudah memanggilnya. Pria yang sudah hampir menginjak usia tujuh puluh tahun itu membulatkan matanya saat melihat sosok berjubah yang muncul dari kegelapan malam. Meskipun gelap dan wajah sosok itu hampir tertutupi sepenuhnya oleh jubah, ia bisa mengenali sosok itu dalam sekali lihat.     “Yang—”     “Aku rasa, kita bisa bicara di tempat yang lebih pribadi,” potong sosok berjubah tersebut.     Uskup Agung mengangguk saat mengerti apa yang dimaksud oleh orang itu. Ia lalu membuka pintu dan segera mempersilakan sosok itu untuk masuk. Uskup Agung mengikutinya lalu mengunci kediaman sementara yang biasanya ia gunakan saat harus tetap berada di kuil sebab adanya upacara atau ritual doa. Setelah menghidupkan lampu, pemanas ruangan dan menyajikan minuman, Uskup Agung segera duduk di hadapan sosok berjubah yang kini menurunkan jubahnya.     “Yang Mulia Putra Mahkota, sebenarnya hal mendesak seperti apa yang membuat Anda datang larut malam seperti ini, bahkan tanpa pengawalan sedikit pun?” tanya Uskup Agung.     “Aku yakin, kamu pasti tau apa yang membawaku ke sini, Uskup Agung,” jawab Leopold.     Uskup Agung menghela napas panjang. Ia sudah hidup lama, dan sudah menduduki jabatan Uskup Agung lebih dari tiga puluh tahun. Ia sudah terlatih untuk membaca ekspresi seseorang, dan terbiasa untuk membaca apa yang tengah dipikirkan oleh lawan bicaranya. Saat ini, Uskup Agung tentu saja bisa membaca apa yang tengah dipikirkan oleh Leopold. Padahal, bagi Uskup Agung sekali pun, membaca apa yang tengah dipikirkan oleh anggota keluarga kerajaan bukanlah hal yang sangat mudah. Kali ini Uskup Agung tentu saja sadar, jika Leopold memang sengaja menunjukkan apa yang ia pikirkan dengan terang-terangan.     “Apa ini masih berkaitan dengan nasib Nona Olevey?” tanya Uskup Agung.     “Benar,” jawab Leopold.     “Anda pastinya sudah mendengar hasil dari diskusi kami dengan Yang Mulia Raja. Seharusnya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Yang Mulia Putra Mahkota mengerti, jika tidak ada cara untuk membawa Nona Olevey kembali, kecuali jika Raja Iblis sendirilah yang mengembalikannya,” ucap Uskup Agung yang membuat Leopold menggebrak ujung meja dengan keras hingga sang Uskup Agung tersentak.     “Apa saat ini kau tengah berusaha mempermainkanku? Aku tau, jika kau tau sesuatu di sini. Tidak mungkin, tidak ada cara untuk membawa Olevey kembali ke dunia manusia. Kalian hanya takut dengan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi saat aku memaksa untuk membawa Olevey kembali.”     Leopold sudah benar-benar habis kesabaran. Padahal, ia berharap jika semua orang mendukungnya untuk membawa Olevey kembali. Namun nyatanya, semua orang malah memalingkan muka, dan memasrahkan apa yang terjadi pada Olevey. Hal yang paling Leopold tidak habis pikir adalah, kedua orang tua Olevey bertindak pasrah dengan nasib Olevey. Keduanya seakan-akan bersikap jika Olevey memang sudah tiada dan tidak akan pernah kembali lagi. Jika sudah seperti ini, Leopold yang tidak akan tinggal diam. Dia yang akan membawa Olevey kembali, dengan apa pun caranya. Termasuk dengan mengorbankan nyawanya sekali pun.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN