Apa Ini Waktunya

1188 Kata
    Olevey memakan salad yang sudah disiapkan Slevi dengan wajah yang tampak begitu cerah. Tentu saja, Slevi dan para pelayan yang lain bisa dengan mudah menyimpulkan jika saat ini Olevey tengah bahagia, suasana hatinya benar-benar baik. Namun, baik Slevi maupun yang lainnya sama-sama tidak mengetahui hal apa yang sudah membuat sang nyonya merasa bahagia. Betul, saat ini semua orang memanggil Olevey dengan panggilan nyonya tanpa terkecuali. Hal itu memang membuat Olevey kesal, tetapi Olevey tidak lagi melayangkan protes, karena ia pikir, panggilan itu hanya akan berlaku hingga dirinya tinggal di sini. Sebentar lagi, lebih tepatnya saat bulan merah berubah menjadi bulan merah keemasan, Olevey akan kembali ke dunia asalnya.     “Salad kali ini terasa sangat segar,” puji Olevey setelah menyelesaikan sarapannya.     Slevi tersenyum saat mendengar pujian yang dilayangkan oleh nyonya yang ia layani itu. “Tentu, Nyonya. Karena mendengar Nyonya tidak terlalu suka dengan makanan hewani, Yang Mulia segera menyiapkan kebun di belakang istana guna menyediakan bahan makanan segar untuk Anda. Jadi, setiap harinya, orang dapur akan memetik sayur mayur untuk menu makan Anda,” ucap Slevi menjelaskan apa yang sudah dilakukan oleh Diederich.     Saat mendengar nama Diederich, Olevey segera bungkam. Rasanya, Olevey benar-benar malas saat ketika membahas sesuatu yang berkaitan dengan Diederich. Hal itu terjadi, karena setiap malam, Olevey diganggu oleh mimpi yang sangat menjijikan baginya. Mimpi di mana dirinya menerima sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Diederich dan dimabuk kepayang oleh semua sentuhan lihai Diederich tersebut. Satu hal yang membuat Olevey merasa sangat malu adalah, semua mimpi itu terasa begitu nyata, dan memalukan rasanya saat mengingat semua mimpi itu membuat Olevey merasakan hal yang seharusnya tidak ia rasakan.     Namun, Slevi dan yang lainnya sama sekali tidak menyadari apa yang saat ini dirasakan oleh Olevey. Mereka malah memuji kebaikan hati Diederich yang jelas memperlakukan Olevey dengan sangat spesial. Ini kali pertama Diederich memperlakukan seorang wanita dengan sedemikian manisnya. Jadi, bukan salah Slevi dan lainnya untuk berpikir jika Olevey memiliki hubungan yang manis dengan Diederich. Slevi pun teringat hal yang penting. “Nyonya, Yang Mulia berkata jika Nyonya selesai sarapan, Nyonya harus menemaninya untuk berjalan-jalan di taman,” ucap Slevi.     Olevey mengernyitkan keningnya. “Jalan-jalan? Apa kamu yakin jika Yang Mulia yang memang memintaku? Kamu bisa memastikannya?” tanya Olevey sembari meremas garpu di tangannya. Tentu saja, saat ini dirinya teringat dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Di mana dirinya hampir saja mati karena datang ke taman untuk memenuhi panggilan Diederich yang katanya memanggilnya, tetapi ternyata semua itu hanyalah tipu muslihat perwujudan energi danau kegelapan yang menginginkan nyawanya.     “Saya bisa memastikannya, Nyonya. Jadi, Nyonya harus segera bersiap jika sudah menyelesaikan sarapan Nyonya,” ucap Slevi bersungguh-sungguh.     Pada akhirnya Olevey mengangguk dengan enggan. Dibantu oleh Slevi, Olevey pun berganti pakaian dan bersiap untuk menemui Diederich yang ternyata sudah menunggunya di ujung lorong penghubung antara kamarnya dan bangunan yang lain. Diederich menyunggingkan senyum tipis yang entah mengapa membuat Olevey merasa merinding. Padahal, Diederich sama sekali tidak terlihat mengerikan. Dengan pakaian kerajaan yang khas dengan warna hitam dan merah, Deiderich malah terlihat begitu tampan.     Diederich mengulurkan tangannya pada Olevey. Meskipun ragu, Olevey tetap menerima uluran tangan tersebut dan melangkah menyusuri jalanan setapak dengan Diederich. Exel dan Slevi tidak mengikuti keduanya, lalu lebih memilih untuk tetap berada di ujung taman dengan mata yang tetap tertuju pada kedua orang yang mereka layani tersebut. Sementara saat ini, Olevey melangkah menyusuri jalanan dengan digandeng oleh Diederich. Olevey merasa sangat canggung, jika tahu akan seperti ini, Olevey akan memilih untuk tetap berada di dalam kamarnya hingga masa di mana dirinya pulang tiba.     “Apa tidurmu nyenyak?” tanya Diederich tiba-tiba.     Olevey segera mengendalikan rasa terkejutnya, dan berdeham dengan anggun. “Sangat nyenyak, karena aku terlalu senang, terbayang akan segera pulang ke rumahku sendiri,” jawab Olevey dengan setengah kebohongan. Benar, kebohongan di mana dirinya mengatakan bahwa ia tidur dengan nyenyak. Padahal selama berhari-hari, setelah membuat perjanjian dengan Diederich, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena mimpi mengerikan yang menghinggapi tidurnya.     “Ah, benarkah? Apa kau yakin, jika kau akan pulang?” tanya Diederich lagi sembari menghentikan langkah kakinya, dan otomatis membuat Olevey juga menghentikan langkah.     “Tentu saja, bulan merah akan segera berakhir dan aku yakin aku tidak melakukan sesuatu yang melanggar kesepakatan kita. Jadi, aku bisa memastikan sendiri jika aku bisa pulang dengan selamat pada pelukan kedua orang tuaku, aku akan kembali menjadi Nona kediaman Duke Meinhard dan bukan lagi menjadi Nyonya karena sebuah tanda yang tidak aku mengerti asal usulnya,” jawab Olevey penuh percaya diri.     “Aku suka rasa percaya dirimu ini, Eve. Tapi, kita lihat saja, apa benar keyakinanmu ini bisa bertahan hingga akhir,” ucap  Darrance sembari menyeringai lalu melangkah meninggalkan Olevey yang mulai dihinggapi oleh perasaan yang tidak nyaman. Olevey mendapat firasat, jika dirinya akan mendapatkan masalah yang tidak diduga-duga.       **           Olevey berterima kasih pada Slevi yang sudah membantunya menyisir. Slevi menjawabnya sembari terburu-buru menyiapkan tempat tidur dan semua keperluan Olevey. Hal tersebut membuat Olevey mengernyitkan keningnya. “Ada apa? Kenapa kamu terlihat terburu-buru sekali?” tanya Olevey.     “Ah, maaf Nyonya. Saya harus bergegas untuk bersiap, mala mini adalah malam yang sangat berarti bagi saya,” jawab Slevi dengan pipi yang memerah.     Meskipun tidak bisa menebak dengan pasti apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh Slevi, tetapi Olevey bisa membaca garis besarnya. Olevey pun pada akhirnya mengangguk. “Kamu tidak perlu menyelesaikan tugasmu. Pergilah, aku bisa mengurus sisanya sendiri,” ucap Olevey lalu bangkit dari kursi riasnya.     Slevi yang mendengar hal tersebut tentu saja merasa bahagia. Namun, ia tidak bisa pergi begitu saja. Raut kebingungan jelas terlihat di wajah Slevi saat ini. “Tidak perlu ragu, pergilah. Aku bisa mengurus diriku sendiri,” ucap Olevey lagi meyakinkan Slevi.     Pada akhirnya Slevi mengangguk. “Terima kasih sudah memberikan waktu luang bagi saya, Nyonya.”     “Sama-sama, nikmati waktumu dengan nyaman Slevi,” ucap Olevey lalu mengantarkan kepergian Slevi hingga pintu kamarnya. Setelah Slevi benar-benar undur diri, saat itulah Olevey menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat.     Olevey berniat untuk segera berbaring di atas ranjangnya nyaman. Namun, tiba-tiba tubuhnya terasa begitu panas. Tidak, rasanya tidak langsung menyebar, tetapi berpusat lebih dulu di tanda yang berada di leher dan bahunya. Rasa panas yang berpusat tersebut tiba-tiba menyebar dengan liarnya dan membuat tubuh Olevey terasa begitu panas. Rasa panas ini begitu menyiksa Olevey. Rasa panas yang mendorong Olevey untuk membuka gaun sutra yang ia kenakan, hingga menyisakan pakaian dalam manis yang menutupi bagian tubuh sensitifnya.     Olevey pun berjalan menuju cermin rias dan melihat apa yang terjadi pada tanda di lehernya. Ternyata, tanda tersebut berpendar merah. Tanda yang merambat hingga dadanya itu terlihat agak mengerikan karena pendar merah yang terasa begitu asing bagi Olevey. “I-ini apa?” tanya Olevey pada dirinya sendiri. Jelas, Olevey sendiri tidak tahu apa yang terjadi hingga tanda tersebut bisa berpendar seperti itu.     Lalu tiba-tiba Olevey merasakan embusan napas hangat di salah satu daun telinganya. Hal itu disusul dengan sebuah bisikan, “Ini reaksi tubuhmu saat membutuhkan penyatuan. Saat ini sudah mendekati puncak masa penyatuan. Semakin dekat, maka semakin menyiksa rasa sakit yang kau rasakan. Rasa sakit ini bisa menghilang, saat kau melakukan penyatuan dengan pihak yang sudah memberikan tanda itu padamu, Eve.”     Olevey merinding bukan main saat sepasang tangan kekar melingkar pada perutnya yang tidak tertutupi apa pun. Lalu dagu lancip bertengger dengan manis di bahunya yang mulus. Saat ini, Olevey bertatapan dengan Diederich melalui pantulan pada cermin rias. Diederich menyeringai saat melihat wajah Olevey yang pucat pasi karena menahan rasa sakit. Diederich mendekatkan bibirnya pada telinga Olevey dan berbisik lagi, “Apa sekarang waktunya kita melakukan penyatuan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN