SEBELAS

1127 Kata
*** Hari ketiga Sisi menjalani skorsing. Rencananya hari ini ia akan menghabiskan waktu dirumah saja. Membereskan rumah mungkin pilihan yang tepat. Sisi terdiam sejenak saat menatap ruang makan rumahnya. Beberapa hari yang lalu ada seseorang duduk disana, Axel. Cowok yang selama ini ia cintai tapi cowok yang paling dalam menorehkan perih. Sisi menggeleng cepat, mengusir bayang wajah Axel dan kembali dengan aktifitasnya. Saat ia mendengar suara ketukan dipintu rumahnya, Sisi menghentikan pergerakannya. "Iya, sebentar!" sahutnya sambil berjalan cepat menuju ruang tamu, membuka pintu dan ia menatap seorang wanita cantik tengah berdiri diluar sambil tersenyum ke arahnya. Sisi seperti mengenal wanita itu, wanita itu sangat mirip dengan seseorang. Axel. Sisi kembali menggeleng saat tiba-tiba bayang wajah Axel menghampiri otaknya. "Maaf. Mau mencari siapa, Tan?" tanya Sisi ramah. "Kamu---Sisi?" tanya wanita itu balik dan Sisi mengangguk dengan gerakan kaku. "Bisa ikut saya? Saya ada perlu sama kamu!" *** Sisi mencoba mencuri pandang dengan wanita yang kini duduk disebelahnya. Wanita itu belum menjelaskan jati dirinya. "Maaf, Tan. Kita mau kemana ya?" tanya Sisi ragu. Wanita itu tersenyum sambil menoleh kearah Sisi sebentar. "Main kerumah Tante, ya!" Kening Sisi seketika mengernyit. Bagaimana bisa ada orang asing datang kerumahnya dan langsung mengajaknya mampir kerumah? Siapa sebenarnya wanita ini? Sisi terus berpikir dalam hati. Matanya memicing menatap wanita yang sedang memegang setir kemudinya. Sampai mobil itu berhenti di halaman parkir sebuah rumah mewah, Sisi masih belum sadar juga. "Udah sampe, yuk turun!" Sisi menoleh dan menatap kearah luar kaca mobil. Sebuah bangunan mewah berdiri kokoh didepannya. Sisi turun dari mobil dan mengikuti langkah wanita itu. Masuk kesebuah ruang tamu yang sangat luas, Sisi masih mencari tau siapa wanita yang telah membawanya ini. "Duduk aja dulu. Kamu mau minum apa, Sayang?" "Hah?" Sisi refleks membuka mulutnya. Panggilan wanita itu terdengar begitu akrab dan d**a Sisi menghangat seketika. Wanita itu hanya tersenyum mendengar ekspresi aneh dari wajah Sisi, ia lalu melangkah masuk kearah dapur. Sementara Sisi mengambil duduk di sofa dan mengedarkan pandangannya. Matanya menelisik satu persatu foto yang terpajang didinding rumah bercat putih itu. Banyak sekali rentetan foto-foto disana. Dan Sisi tersedak ludahnya sendiri saat menatap sebuah foto. Ada foto Axel yang memakai seragam SMP. Disebelahnya berdiri sahabat-sahabatnya. Sisi sangat mengenal mereka dan dadanya serasa sesak kala menatap foto itu. Sisi berdiri dari sofa dengan mata berkaca-kaca. Binar membuka tas selempangnya dan menelpon seseorang. "Ax, kamu dimana?" "Apartemen, Mom--" "Pulang. Mommy ada kejutan buat kamu!" sahut Binar cepat. "Besok aja Mom pas weekend. Ax mager!" "Kamu berani ngebantah omongan Mommy? Anak durha----" "IYA. IYA. AXEL PULANG!" teriak Axel frustasi. Binar tersenyum lebar mendengar teriakan Axel. "Anak pinter. Nggak pake lama ya, Ax. Nanti hadiahnya keburu expired!" canda Binar. "Hm," sepertinya Axel benar-benar malas tapi Axel tidak bisa menolak permintaan Binar. Binar meletakkan ponselnya dan berjalan menghampiri Sisi sambil membawa segelas jus jeruk segar. Dilihatnya Sisi tampak syok menatap kumpulan-kumpulan foto keluarga mereka. Binar melangkah pelan, berusaha tak membuat Sisi terganggu atas kedatangannya. "Jadi Tante ini Ibunya Axel?" tanya Sisi dengan mata masih menatap foto Axel yang tengah tersenyum kearah kamera yang sedang membidiknya. Binar ikut menatap foto Axel sebentar sebelum meletakkan segelas jus di meja. "Panggil Mommy!" Perintah Binar membuat Sisi seketika menoleh. Dilihatnya wanita itu berdiri tak jauh darinya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menatap Binar. Jujur, jauh dilubuk hatinya, Sisi merasa senang saat Binar menyuruhnya memanggil dirinya dengan sebutan 'Mommy'. Rasanya ia rindu sekali dengan sosok Ibu yang sudah lama meninggalkannya. "Mommy minta maaf atas perlakuan Axel," Binar lalu duduk di sofa dan menatap foto masa kecil Axel, lalu beralih ke foto Axel yang mulai beranjak dewasa. "Axel itu sebenarnya baik cuman dia salah pergaulan. Mommy sampe bela-belain mindah sekolah Axel biar dia bisa punya temen baru dan nggak berteman sama orang yang salah." Sisi perlahan duduk disebelah Binar. "Bukan Tante yang salah, tapi Axel!" jelas Sisi. "Mommy, Si!" tekan Binar sambil tersenyum. "Axel itu masih labil. Dia mudah banget dihasut sama temen-temennya. Selama kamu menghilang, Axel terus hidup dalam kubang penyesalan. Dia yang dari kecil dingin seperti Daddynya, malah semakin dingin. Axel udah cerita semuanya sama Mommy dan Mommy harap, kamu berbesar hati. Bisa memaafkan Axel!" Sisi menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. "Maaf, Mom. Prosesnya tidak semudah itu. Ax keterlaluan. Terlalu dalam luka yang Ax tanam!" Binar mengangguk, mengerti akan rasa sakit yang diderita Sisi. "Boleh Mommy peluk kamu?" Pertanyaan Binar membuat Sisi menoleh cepat, matanya langsung berkaca-kaca. Ia mengangguk lemah lalu menggeser duduknya, lebih mendekat kearah Binar. Kedua tangan Binar merentang dan langsung meraih tubuh mungil Sisi. Binar hanya ingin menyalurkan kekuatan untuk Sisi. "Mommy bener-bener minta maaf sama kamu. Nggak peduli kamu mau maafin Axel atau nggak, intinya Mommy minta maaf atas perlakuan Ax selama ini." Sisi memejamkan matanya dan mengaitkan kedua tangannya ke pinggang Binar. Ia menikmati sensasi aneh yang merayap didalam hatinya. Rasa rindunya akan sosok Ibu sedikit tersalurkan berkat pelukan Binar. "Apa kamu masih mencintai Axel?" Sisi membuka matanya dan mengurai pelukannya. Jangan tanya soal cinta karena hingga detik ini Sisi tak bisa menghapus nama Axel dalam hatinya. Hanya Axel yang menghuni relung hatinya. Tidak ada nama lain. Tapi Sisi ragu, rasa bencinya setara dengan rasa cintanya pada Axel. Sisi menggeleng pelan. Binar mengernyit bingung, tak mengerti dengan jawaban Sisi. Gelengan kepala Sisi menandakan apa? Apa ia sudah tidak mencintai Axel atau bingung dengan perasaannya? Tapi Binar punya ide jitu untuk mengetahui isi hati dari gadis yang telah mencuri perhatian Axel. "Baiklah. Mommy rasa, Mommy tau jawabannya!" Binar tersenyum nakal saat Sisi menatapnya. "Mommy akan mengirim Axel ke London. Dia akan menyelesaikan sekolahnya dan akan kuliah disana---" "Jangan, Mom!" pekik Sisi tiba-tiba. Saat tersadar akan ucapannya, Sisi langsung membekap mulutnya sendiri membuat Binar terkekeh melihat tingkah lucu Sisi. "Kenapa jangan?" pancing Binar. Sisi melepaskan telapak tangannya dan menggeleng pelan. "Aku nggak tau, Mom. Ini rasa cinta atau benci. Tapi saat bersama Axel, aku bahagia. Dan saat Axel nggak ada, rasanya ada yang kurang. Tapi---tapi aku benci kalo liat muka Axel yang sengak itu!" Sisi terlihat begitu menggebu menceritakan tentang Axel. Binar manggut-manggut saja mendengar cerita yang mengalir dari bibir Sisi. "Di sekolah Axel selalu bikin aku emosi. Ngintilin aku kemana-mana. Dan aku diskors juga gara-gara dia, Mom!" rengek Sisi. Entah kenapa Sisi merasa nyaman sekali berada di dekat Binar bahkan belum sampai satu jam, Sisi sudah berani menceritakan tingkah sengak Axel. Yang selalu membuatnya marah. "Tapi kamu suka, kan?" goda Binar. Sisi menahan senyumnya sambil menunduk. "Percaya sama Mommy, Axel tulus cinta sama kamu. Selama ini dia nggak pernah ngenalin atau cerita soal temen ceweknya sama Mommy." "Aku nggak yakin Axel udah berubah, Mom!" sahut Sisi lemah. "Mm, mau tau nggak Axel udah berubah apa belum?" "Maksud Mommy?" Binar semakin melebarkan senyumnya dan berdehem kecil sebelum menjelaskan rencana apa yang akan dibangunnya nanti. "Mommy bisa bantuin kamu ngetest Axel!" *** Surabaya, 19 Mei 2018 *ayastoria
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN