***
Axel mengusap wajahnya dengan kasar. Ia melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur setelah panggilan dari Binar terputus.
Anak durhaka.
Binar selalu mengatainya seperti itu. Binar benar-benar tau kelemahannya.
Mendengus pelan lalu Axel kembali menyambar ponselnya dan melangkah keluar kamar. Ia harus segera kerumah kalau tidak mau Binar menelponnya lagi.
Saat ini Axel benar-benar penasaran, kejutan apa yang akan diberikan Binar nanti.
Mobil? Axel sudah punya.
Rumah? Axel sudah punya apartemen dan ia tidak membutuhkannya.
Hp? Axel bisa membelinya sendiri walaupun sumber uangnya sama saja, dari Binar.
Axel terus berpikir dan semakin menambah laju mobilnya. Kali ini ia ingin segera sampai rumah.
Deru mesin mobil Axel terdengar menggeram sebelum akhirnya mati. Ia buru-buru turun dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah.
Apa jangan-jangan Alex pulang? Ah tidak mungkin, jadwal pulang Abang sialan itu 1 bulan sekali. Lalu apa?
"Mom!" teriak Axel sambil melangkah menyusuri rumahnya. Sepi. Tak ada siapapun. Axel hendak melangkah ke anak tangga tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara tawa dari taman belakang.
Axel hafal betul itu suara siapa. Binar. Dan disusul suara tawa seorang wanita lainnya. Kening Axel mengernyit. Tanpa menunggu waktu lagi, Axel melangkah ke taman belakang dan matanya menangkap dua sosok wanita yang sangat dicintainya sedang bercanda ria di dalam kolam renang.
"Mommy! Sisi!" panggil Axel dengan suara pelan.
Binar dan Sisi rupanya belum menyadari kedatangan Axel, mereka terus tertawa dan terlihat akrab. Axel menghentikan langkahnya saat menatap wajah Sisi yang dihiasi senyuman.
Kenapa mereka akrab sekali? Seru Axel dalam hati.
"Mom," panggil Axel lagi.
Binar dan Sisi menoleh serempak. "Eh, kamu udah dateng Ax! Liat siapa yang lagi sama Mommy!" Binar melirik kearah Sisi sambil tersenyum menggoda.
Pandangan mata Axel kembali fokus pada Sisi. Tapi Sisi malah memasang wajah masam dan memilih melanjutkan renangnya. Binar hanya menggeleng pelan melihat Sisi. Ia lalu naik keatas dan menyambar handuk piyama.
"Mommy mau mandi dulu!" pamit Binar dan melangkah pergi meninggalkan Axel.
Axel menatap kepergian Binar, memastikan Binar sudah hilang dari pandangannya. Setelah itu Axel menghampiri Sisi yang tengah asik berenang memutari kolam renang.
Axel memilih menunggu Sisi di ujung kolam, ia duduk jongkok dan mengamati pergerakan Sisi. Saat tiba di tepi kolam, Sisi menatap dingin wajah Axel.
"Kenapa?" tanya Sisi dingin sambil mengusap wajahnya yang terkena air.
"Dingin. Ayo naik!" titah Axel. Wajahnya sedikit menunduk menatap Sisi yang ada didalam kolam renang.
"Gue masih pengen berenang!" sahut Sisi dingin dan kembali menenggelamkan dirinya dan muncul kepermukaan hanya sekedar mengambil oksigen. Begitu seterusnya sampai ia sampai di tepi kolam.
Axel melangkah, mengikuti pergerakan Sisi hingga berakhir di sisi kolam lainnya.
"Lo dengerin gue nggak? Buruan naik!" titah Axel lagi.
Sisi memilih diam, ia berdecak pelan sebelum menjawab. "Nggak usah sok care, deh. Muak gue dengernya!"
Axel ikut berdecak. "Ck. Batu banget sih jadi cewek?"
Sisi melirik sinis kearah Axel, ia hendak kembali berenang tapi mendadak tangannya dicekal oleh Axel.
"Naik atau gue yang turun?"
Sisi terdiam sesaat sambil menelan salivanya. Ia lalu menepis tangan Axel dan langsung naik. Menyambar handuk piyama yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Kita perlu ngomong, Si!" Axel mengikuti langkah Sisi yang masuk kedalam rumah.
"Ngomong aja, pasti gue dengerin!" jawab Sisi cuek.
"Gue minta maaf!"
Seketika langkah Sisi terhenti begitu juga Axel. Ia menatap Sisi dengan wajah memohon, berharap Sisi mau menerima permintaan maafnya.
"Soal apa?" tanya Sisi datar.
"Malam itu. Waktu gue nyuruh lo turun dari mobil gue----"
"Cuman malam itu?" sela Sisi. "Trus, perlakuan lo yang lain gimana? Apa nggak perlu dapet maaf juga?"
Axel menelan salivanya pelan. Ia sadar harusnya dari dulu ia meminta maaf pada Sisi. Axel menundukkan wajahnya dan tanpa diduga ia menekuk kedua lututnya, berlutut di depan Sisi.
"Gue minta maaf atas semua yang udah gue lakuin ke lo. Dulu dan sekarang. Gue salah. Gue cowok yang nggak punya hati dan gue menyesal, Si. Apa lo mau maafin gue?"
Sebenarnya Sisi terkejut melihat apa yang sedang dilakukan Axel. Seorang Axelio berlutut sambil meminta maaf padanya. Sungguh. Sisi sangat bahagia melihat perubahan Axel, ia sampai rela berlutut hanya untuk mendapatkan kata maaf darinya.
"Oke. Maaf diterima!" setelah mengatakan hal itu, Sisi melangkah pergi meninggalkan Axel yang tampak melongo melihat respon dingin Sisi. Seperti inikah rasanya diabaikan? Axel baru merasakannya sekarang.
Sejujurnya, Sisi ingin sekali memeluk Axel. Tapi ditahannya. Ia ingin menguji seberapa besar kesabaran Axel menghadapi dirinya. Sisi menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Telapak tangannya meraba dadanya yang terasa bergetar keras akibat jantungnya yang berdetak kencang.
Plok! Plok! Plok!
Axel tersentak dan langsung bangun dari tempatnya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Arlan sedang duduk di ruang tengah. Ekspresi wajahnya sangat menggelikan.

"Daddy?" pekik Axel histeris.
"Pinter kamu, Ax!" puji Arlan sambil menyeruput teh melati buatan Binar.
Axel melangkah pelan mendekati Arlan. "Maksud Daddy?"
"Kamu pinter nyari calon istri. Mirip banget sama Mommy!" Arlan terdengar terkekeh. "Wajahnya 11-12 lah tapi sikapnya sepertinya beda. Sisi dingin sementara Mommy cengengesan. Sisi tegas dan Mommy gampang melunak."
Axel menyetujui penilaian Arlan. Ia lalu duduk di sofa tak jauh dari Arlan. "Tapi dia benci banget sama aku, Dad!"
"Menarik!" seru Arlan pelan. "Cinta adalah tantangan, khayalan dan pengorbanan. Tantangan tentang bagaimana kamu bisa menaklukan hatinya. Khayalan tentang dirinya. Pengorbanan saat khayalanmu tak sesuai harapan dan kamu harus melepasnya!"
Axel masih saja diam. Ia memang sudah mendapatkan kata maaf dari Sisi tapi apa arti kata maaf jika orang yang kita cintai menjauhi kita?
***
Plok! Plok! Plok!
"Akting yang bagus, Si!" puji Binar sambil menghampiri Sisi yang kini tengah duduk didepan meja rias, mengeringkan rambutnya yang basah. "Cara menguji cinta seseorang adalah dengan mempermainkannya. Apa dia bertahan atau memilih pergi!"
Sisi hanya tersenyum tipis menanggapi komentar Binar. Ia tak yakin bisa meneruskan misi ini. Ada rasa tidak tega saat melihat wajah memelas Axel apalagi saat melihat Axel tengah berlutut didepannya. Ingin sekali Sisi menarik tubuh Axel dan memeluknya saat itu juga.
Hati wanita memang lembut. Sebesar apapun rasa benci yang bersarang dihati kita, dalam sedetik saja akan musnah hanya dengan perlakuan manis dari orang yang kita cintai.
Sama halnya dengan Sisi. Dari awal ia memutuskan untuk membenci dan menjauhi Axel. Tapi sekarang yang ia rasakan justru ia semakin dekat dengan Axel.
Sisi tidak yakin bisa menutupi rasa cintanya dengan rasa benci.
***
Surabaya, 20 Mei 2018
*ayastoria