TIGA BELAS

1045 Kata
*** Hingga malam menjelang, Sisi masih berada di rumah Arlan dan Binar. Sebenarnya sudah sejak siang Sisi ingin pulang tapi Binar selalu mencegahnya. Malam ini ada hal penting yang ingin disampaikan Binar pada Sisi dan Axel. "Mulai sekarang Sisi akan tinggal dirumah ini!" Sisi dan Axel menampakkan ekspresi yang berbeda. Sisi tampak terkejut dan bingung sedangkan Axel terlihat tersenyum miring. Rupanya Binar sedang berpihak kepadanya dan langkahnya untuk mendapatkan Sisi akan semakin mudah. Binar yang membaca raut wajah Axel yang tampak senang segera bersuara lagi. "Dan kamu, Ax. Tetap tinggal di aaprtemenmu!" "Hah?" raut wajah Axel yang penuh senyuman kini berganti dengan ekspresi syok yang luar biasa. Bagaimana mungkin ia akan tinggal di apartemen sementara Sisi ada dirumahnya? "Kenapa harus balik ke apartemen, Mom?" protes Axel tak terima. "Biasanya kan juga gitu, weekend kamu baru pulang kerumah!" Wajah Axel seketika berubah lesu. "Ya tapi kan---kenapa Ax nggak tinggal disini sekalian aja, Mom?" Binar hanya menggeleng pelan lalu beralih menatap Sisi yang hanya diam. "Udah malem, Si. Sana tidur, besok kan sekolah!" titah Binar. Sisi hanya mengangguk dan tak bisa menolak lagi apa yang diucapkan Binar. Mungkin ada saatnya nanti Sisi akan menanyakan alasannya kenapa Binar dan Arlan menyuruhnya tinggal disini. Sebelum masuk kedalam kamar, Sisi sempat menoleh ke belakang dan matanya beradu pandang dengan Axel. Sisi tersenyum puas kearah Axel yang tampak frustasi. Ia menjulurkan lidahnya sebentar, mengejek Axel yang tampak menatap sinis kearahnya. "Mom, anaknya Mommy itu Sisi apa Axel?" protes Axel lagi. "Ax, Mommy ngelakuin ini karena ada alasannya. Mommy bantu kamu buat nebus kesalahan kamu sama Sisi dimasa lalu. Kamu lupa, Ibunya Sisi sudah meninggal? Kamu pikir Mommy bakalan tega ngebiarin Sisi hidup diluar sebatang kara?" Penjelasan Binar membuat Axel terdiam. Binar memang benar. Ini bisa menjadi salah satu cara menebus kesalahannya tapi ia tidak bisa terima kalau harus kembali pulang ke apartemen sementara Sisi ada dirumahnya. Buat apa ia mengejar mangsa yang ternyata mangsa itu sudah masuk kedalam perangkapnya? Axel hanya bisa mendesah kecewa atas keputusan Binar dan Arlan. Tapi ada satu hal yang membuat Axel sedikit bahagia. Ia bisa bertemu Sisi kapan saja. *** Pagi ini Arlan, Binar dan Sisi sedang sarapan diruang tengah. Sisi sudah mulai aktif tinggal di rumah Arlan, atas permintaan Binar. Sebagian barang-barangnya sudah ia ambil kemarin malam tapi masih ada sebagian yang sengaja ia tinggal disana. "Kamu berangkat sekolahnya bareng sama Daddy aja, Si!" ucap Arlan setelah menyeruput teh melatinya. Sisi melirik Arlan dari sudut matanya lalu mengangguk kaku. Melihat Arlan seperti sedang melihat Axel, wajahnya benar-benar mirip. Hanya saja bawah hidung dan dagu Arlan ditumbuhi bulu-bulu kecil, sementara Axel tidak. "Nanti pulangnya biar dijemput sama sopir atau kamu bisa minta tolong anterin Axel!" timpal Binar. "Sopir aja, Mom!" sahut Sisi cepat. Binar hanya tersenyum tipis dan melanjutkan sarapannya. Begitu juga dengan Sisi. Sungguh ia tak menyangka hidupnya akan seperti ini, bertemu dengan orang tua Axel yang baik dan sangat menyayanginya. Binar menoleh kearah sisi kirinya. Hampir saja ia tersedak saat melihat kedatangan Axel yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. "Ax, kok kamu kesini?" tanya Binar. Semua mata menatap kearah Axel yang langsung mengambil duduk disebelah Sisi. "Mommy nanyanya kok gitu? Nggak boleh kalo aku sarapan dirumah?" tanya Axel balik. "Bukannya gitu, ini Mommy mau berangkat nganterin sarapan kamu ke apartemen!" Axel mengambil piring lalu menyendok nasi beserta lauknya. "Mulai sekarang Ax sarapan dirumah!" putusnya membuat Binar tersenyum miring. Sisi meletakkan sendok garpunya lalu mengusap mulutnya. "Ayo, Dad. Berangkat sekarang!" "Uhuk! Uhuk!" Nasi yang baru saja dimasukkan kedalam mulut Axel seketika tersembur keluar. Ia menatap bingung kearah Sisi. "Lo nggak liat gue lagi makan?" Sisi memutar bolamatanya, keluar lagi sifat menyebalkan Axel. Kemarin saja ia berlutut didepannya, meminta maaf. "Udah siang. Lagian gue mau keruang OSIS. Ada hal penting!" jawab Sisi. Sisi beranjak dari tempat duduknya setelah menyeruput s**u putih buatan Binar. Berpamitan dengan Binar dan melangkah keluar bersama Arlan. Sementara Axel tampak kebingungan. Ia semakin mempercepat kunyahannya dan bergegas menyusul Sisi. Pagi ini ia sengaja datang untuk menjemput Sisi. Tapi ternyata mobil Arlan sudah melesat pergi. Secepat itukah? "s**t!" umpat Axel dan berlari menuju mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya dan tak mempedulikan panggilan Binar. Axel berusaha mendahului mobil-mobil didepannya dan ia tersenyum miring saat melihat mobil yang dinaiki Sisi sudah ada didepan matanya. Axel merapatkan mobilnya ke mobil Arlan dan saat berada dijalanan sepi, Axel sengaja menghadang mobil Arlan. Ia bergegas turun dan melangkah lebar menuju pintu sebelah kiri, mengetuk kaca jendelanya. "Ck. Mau apa lagi sih?" gerutu Sisi pelan. Arlan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Axel. Sisi belum juga membuka kaca mobilnya membuat Arlan ikut turun tangan. Ia malah membuka kunci pintu membuat Sisi menoleh kearahnya dengan mata mendelik. "Dad," rengek Sisi. Axel berhasil membuka pintu mobil itu dan langsung menggenggam jemari Sisi, menariknya keluar dari mobil Arlan. "Dia tanggung jawab Ax, Dad!" ucapnya sebelum meninggalkan mobil Arlan. Arlan tak menjawab dan terdiam sambil menatap kepergian Axel dan Sisi. Sisi menghempaskan bokongnya di jok mobil Axel. Kesal dan marah campur jadi satu saat Axel menyeretnya keluar dari mobil Arlan. Axel lalu melajukan mobilnya baru setelah itu mobil Arlan berjalan mendahuluinya. "Buruan, gue ada jadwal rapat pagi ini!" titah Sisi saat dirasa mobil yang dikendarai Axel berjalan melambat. "Kenapa sih lo ngindarin gue?" "Siapa bilang?" sahut Sisi cepat. "Jelas-jelas gue pagi ini jemput lo, lo malah milih pergi sama Daddy!" "Gue mana tau tujuan lo dateng kerumah?" Axel mendengus frustasi dan sedikit menambah kecepatan mobilnya. "Mulai sekarang gue yang anter jemput lo!" Sisi memilih tak menjawab. Ia lelah jika harus berdebat dengan Axel. Sampai mobil Axel masuk ke halaman parkir sekolah, Sisi tetap tak bersuara. Tapi ia bergerak cepat keluar dari mobil Axel dan berjalan meninggalkan Axel, menuju ruang OSIS. "Si, tunggu!" cegah Axel saat berhasil menghentikan langkah Sisi dengan mencekal lengan kanannya. "Mau apa lagi?" geram Sisi. "Pulang nanti bareng sama gue." "Gue dijemput sopir!" sahut Sisi sambil menepis tangan Axel tapi cengkraman tangan itu begitu kuat. "Pokoknya sama gue!" desis Axel dengan pandangan mata tajamnya. Sekali lagi Sisi menepis tangan Axel; sedikit keras dan kali ini berhasil. "Kenapa sih gue harus ketemu cowok kayak lo?" "Karena kita jodoh!" sahut Axel enteng. "Gue nggak sudi berjodoh sama lo!" "Ya udah kalo gitu lo lari aja terus tapi jangan pernah nyuruh gue buat berhenti ngejar lo!" *** Surabaya, 21 Mei 2018 *ayastoria
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN