EMPAT BELAS

1688 Kata
*** "Si, gue mau ngomong sama lo!" Sisi mendongak menatap Dipta yang tengah berdiri disebelahnya. "Apaan, Dip? Mau bahas soal kegiatan ntar siang?" Dipta tak menjawab dan mengambil duduk disebelah Sisi. Menatap lekat manik mata Sisi dengan memasang wajah serius. "Lo jadian sama Axel?" Pertanyaan Dipta sukses membuat Sisi tersedak ludahnya sendiri. "Ngomong apaan sih lo?" kekeh Sisi dan kembali menikmati minumannya. "Gue sering liat lo sama Axel. Siang itu lo nolak gue waktu gue tawarin buat nganterin lo pulang. Malam itu di klub lo juga sama Axel dan tadi pagi lo berangkat bareng Axel. Lo jadian?" Sisi menghela nafas panjang dan membuangnya dengan cepat. "Bisa nggak sih nggak usah bawa-bawa nama Axel kalo lo lagi sama gue?" Dipta mengernyitkan keningnya sesaat. "Tapi lo jawab dulu pertanyaan gue. Lo jadian sama dia?" Sisi terdiam. Diantara dirinya dan Axel memang tidak ada ikatan. Walaupun Axel pernah mengatakan kalau dirinya adalah milik Axel tapi Sisi tak menghiraukan ucapan Axel waktu itu. "Nggak kok. Gue---" "Kalo iya kenapa?" sambar Axel tiba-tiba dan langsung duduk disebelah kanan Sisi. Kini posisi Sisi diapit oleh Axel dan Dipta yang duduk disampingnya. Axel meraih gelas yang ada didepan Sisi dan meminum isinya. "Axel itu punya gue!!" teriak Sisi tak terima saat dengan seenaknya sendiri Axel meminum habis minuman Sisi. "Ish, lo kan bisa pesen sendiri?" lanjut Sisi masih tak rela jika minumannya dihabiskan oleh Axel. "Kalo pesen sendiri rasanya nggak enak, kurang manis!" sahut Axel. "Ya minta tambahin gula kan bisa!" "Manisan punya lo,apalagi bekas bibir lo!" Axel menjawabnya sambil memainkan kedua alisnya naik turun, menatap Sisi yang entah kenapa terlihat merona. Axel sempat melirik Dipta sedetik. Wajah Dipta yang masam semakin membuat Axel senang. "Sakit nih anak!" sungut Sisi dan memilih beranjak dari kursinya, meninggalkan Dipta dan Axel yang saat ini sedang beradu pandang. "Lo liat kan tadi? Secara nggak langsung gue ciuman sama Sisi. Dan satu info buat lo. Sisi pacar gue, milik gue," Axel mengatakan hal itu tepat didepan wajah Dipta. Membuat Dipta harus meredam emosinya. Andai saja saat ini ia tidak berada dilingkungan sekolah, mungkin wajah sengak Axel sudah mendapatkan bogem mentah dari Dipta. Tapi Dipta menahan semua emosinya. Bagaimanapun juga ia harus menjaga nama baiknya selama berada di dalam lingkungan sekolah. *** Sisi sibuk menyalin catatan yang diberikan guru di papan tulis. Ia tampak serius dan sama sekali tak mempedulikan makhluk disebelahnya yang sedang menatapnya sambil tersenyum. "Gue boleh nanya satu hal nggak sama lo?" ucap Axel tiba-tiba. Sisi menghentikan tulisannya sejenak dan melirik Axel dari sudut matanya. Tanpa menoleh Sisi menjawab. "Soal?" "Kok lo cantik sih, Si?" Ucapan Axel sukses membuat Sisi menoleh, menatap Axel dengan kening mengkerut. Selama mengenal Axel, baru kali ini Axel memujinya cantik. *Flashback On "Eh, kutu onta. Ngapain masih berdiri disitu? Ayo masuk!" seru Axel setelah membuka pintu apartemennya. Sisi mendengus kesal. Siang ini lagi-lagi Sisi harus mengikuti perintah Axel. Axel membawanya ke apartemen. Seperti biasa, Axel menyuruhnya untuk memasak, membersihkan rumah dan mengerjakan tugas sekolah. Padahal Sisi hari ini merasa lelah sekali. Pelajaran olahraga membuat tubuhnya lemas. "Ax, a--aku boleh numpang mandi nggak?" tanya Sisi ragu. "Mandi? Tumben?" "Iya nih. Tadi olahraga berat dan badan aku rasanya lengket semua. Boleh ya?" Axel terkekeh pelan sambil tersenyum miring. "Ya udah mandi sono. Awas jangan habisin sabun gue karena percuma. Mau diapain juga muka jelek lo nggak bakalan berubah jadi cantik!" *Flashback Off Sisi sedikit tersentak saat mendengar bel pelajaran selesai. Ia mengerjap pelan, mencoba mengembalikan kesadarannya. "Dan lo tambah cantik kalo lagi marah!" sambung Axel. Sisi sadar dan ia segera membereskan buku-bukunya, tak mempedulikan rayuan yang Axel lontarkan. "Sisi, siang ini jadi kan?" tanya Dipta. Perhatian Sisi kini beralih menatap Dipta yang sudah siap dengan tas ransel dipundaknya. "Jadi, Dip. Tungguin gue!" Sisi semakin mempercepat memasukkan bukunya. "Lo mau kemana?" tanya Axel kepo. "Bukan urusan lo. Lo pulang aja duluan!" Sisi sudah selesai memasukkan bukunya dan melangkah meninggalkan Axel, menghampiri Dipta. "Yuk, cabut!" Axel ikut bangkit dari bangkunya, menyambar tas ranselnya dan melangkah cepat mengejar langkah Dipta dan Sisi yang menuju ruang OSIS. Diruang OSIS sudah ada Eca dan Risa yang sudah siap membawa perlengkapan. "Oh God. Babang tamvan mampir ke gubuk kita!" pekik Risa histeris saat mendapati Axel berdiri diambang pintu. "Awas minggir. Jatah gue ini!" Eca menyikut lengan Risa dan melewatinya begitu saja. "Hai, nyariin siapa?" sapa Eca ramah sambil berdiri didepan Axel. Axel menatap sebentar wajah Eca dan kembali memfokuskan pandangannya pada Sisi. "Awas minggir. Lo mengganggu arah pandang gue!" desis Axel saat mendapati Eca masih berdiri didepannya. "What?" pekik Eca tak terima. Ia menoleh kebelakang, mengikuti arah pandang Axel yang ternyata sedang mengamati pergerakan Sisi. "Lo apanya Sisi?" tanya Eca. "Cowoknya!" jawab Axel singkat. Eca mendengus pelan dan kembali menghampiri Risa yang sedang cekikikan dibelakang. "Kalah start lo sama Sisi!" seru Risa lirih dan Eca hanya melengos. *** Sisi cs siang ini mengunjungi sebuah Panti Asuhan, menyalurkan bantuan yang sudah dikumpulkan beberapa hari ini. Rencananya, kegiatan ini rutin akan diadakan setiap hari Jumat. Tidak hanya anggota OSIS yang ikut serta dalam kegiatan ini tapi beberapa perwakilan dari kelas lainnya juga ikut. Axel yang sedari tadi mengikuti Sisi memilih duduk diatas kap mobilnya sambil menyesap batang rokoknya. Sesekali ia menatap kearah Panti Asuhan itu. Apa asiknya kegiatan ini? Batin Axel berseru. Sejujurnya ia sudah mulai bosan menunggu Sisi diluar. Ingin sekali ia pulang tapi hatinya berat mengingat ada saingan berat didalam sana. Dipta, wakil OSIS. Axel menoleh kearah halaman Panti saat mendengar suara tawa anak kecil. Awalnya Axel menatapnya sebentar tapi pandangan matanya tak mau berpaling saat menatap sosok Sisi yang sedang tertawa renyah sambil menggendong anak kecil dipunggungnya. Kedua bola mata Axel tak bisa lepas, mengamati setiap pergerakan Sisi dan perlahan ia ikut tersenyum. Tawa Sisi yang riang membuat hatinya berdesir. Rasa sesalpun kembali muncul, kenapa dulu ia tidak menyadari arti hadirnya Sisi dalam hidupnya? Kenapa setelah kehilangan Sisi, ia baru menyesali perbuatannya? Dan apakah Tuhan sedang memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya. Axel tersentak kaget saat sebuah bola menggelinding dan berhenti tepat dibawahnya. Seorang anak kecil tampak terdiam sambil menatap kearahnya. Axel hanya diam, tak mempedulikan tatapan sendu bocah kecil itu. "Ax, bawa sini bolanya!" suruh Sisi setelah menurunkan bocah perempuan yang digendongnya tadi. Axel menatap kebawah dan kembali menatap wajah Sisi dengan ekspresi datar. "Lo ambil aja sendiri!" jawabnya cuek. Sisi berdecak kesal dan melangkah lebar menghampiri Axel. Sisi menunduk mengambil bola yang ada dibawah kaki Axel dan tiba-tiba ia menarik lengan Axel, membawanya masuk ke area Panti. "Si, lepasin! Apaan nih?" protes Axel. Sisi tak mengubris nada protesan Axel dan malah melempar bola itu ke bocah laki-laki yang sedari tadi menunggunya. "Ayo adik-adik kita main lagi. Siapa yang bisa gol-in bola ke gawang Kak Axel, nanti Kak Sisi kasih hadiah!" "Aku mau, Kak. Aku mau!" Sisi tersenyum menatap wajah bocah-bocah kecil didepannya. Ia lalu menoleh menatap Axel yang hendak mengeluarkan kalimat protesan. "Siap-siap, Ax. Kalo lo kalah, lo harus traktir kita makan es krim!" Sisi melangkah menjauh dari Axel dan mencoba membangun serangan dengan teman-teman kecilnya. "Curang ah, masa gue sendirian?" teriak Axel. Tapi percuma saja tak ada yang mendengarnya. Sisi mulai menggiring bola dan mengopernya ke anak-anak yang berteriak nyaring, meminta bola untuk di oper. Permainan mereka cukup seru walaupun tak ada satupun bola yang berhasil lolos dari tangkapan Axel. Tanpa mereka sadari, tawa Sisi dan Axel begitu lepas saat bermain dengan anak-anak Panti. Axel sungguh sangat menikmati hari ini. Ia bahagia, bahagia bisa melihat tawa riang Sisi. *** Axel menenteng plastik putih dan berjalan menghampiri Sisi dan beberapa anak Panti. Axel membelikan es krim untuk anak-anak Panti, itu semua atas permintaan Sisi. Sisi mengancam akan menjauhi Axel dan akan mendekati Dipta kalau Axel tidak mau menuruti permintaannya. "Yee, es krim!" teriak bocah laki-laki yang saat ini duduk disebelah Sisi. Sisi menerima bungkusan plastik putih itu dan membagikan es krim ke beberapa anak Panti. "Bilang apa sama Kak Axel?" seru Sisi. "Terima kasih, Kak Axel!!" seru anak-anak serempak. Axel hanya tersenyum tipis tanpa menjawab seruan anak-anak yang menatap cerah ke arahnya. Sisi mendengus pelan lalu menyikut perut Axel dengan keras. "AAAAWW! APAAN SIH?" teriak Axel. "Jawab kek. Jangan masang muka triplek kayak gitu!" desis Sisi. Axel langsung menampilkan senyumnya. "Sama-sama!" jawabnya dan kembali memasang wajah datar. "Sebelum makan jangan lupa baca Bismillah ya adek-adek!" Sisi membimbing beberapa anak Panti membuat Axel benar-benar terpana dengan apa yang dilakukan gadis itu. Begitu selesai berdoa, mereka memakan es krim pemberian Axel, begitu juga dengan Sisi. Tanpa Axel sadari, kedua sudut bibirnya melengkung keatas. Mencetak senyuman tipis. Sisi melahap es krimnya dengan rakus. Hari yang panas membuat tenggorokannya terasa kering. "Kak Sisi mulutnya cemong! Ahahaahaha!" seru bocah laki-laki yang duduk paling ujung. "Hah? Mana?" "Itu, Kak masih ada!" sahut yang lainnya. "Gimana? Udah bersih belum?" "Itu Kak di bawah masih ada!!" Sisi mencoba mengusap sudut bibirnya tapi yang terjadi es krim itu malah menempel di bibir bawahnya. Suara tawa anak-anak langsung pecah melihat Sisi yang tampak kerepotan membersihkan sisa es krim di bibirnya. Hingga sebuah tangan menghentikan pergerakannya, Sisi menoleh kesamping dan mendapati Axel sedang menatap kearahnya. Jemari Axel terulur, menyeka sudut bibir Sisi paling bawah. "Ingatlah. Disini ada gue yang akan menghapus sisa es krim ini begitu juga dengan kesedihan lo. Akan gue ganti dengan kebahagiaan!" Ujung ibu jari Axel kembali menyentuh sudut bibir Sisi, terasa hangat sampai membuat tubuh Sisi menegang. Dalam diamnya, ia mencerna ucapan Axel. Menghapus kesedihannya? "Ciyeeee...Kak Sisi pacaran sama Kak Axel!!" teriakan dari anak-anak Panti membuat Sisi langsung menepis tangan Axel. Ia benar-benar malu, bisa-bisanya ia terpana dengan pesona Axel di depan anak-anak dibawah umur. Memalukan. Sisi memalingkan wajahnya kearah lain saat anak-anak Panti masih menggodanya. Sebisa mungkin ia menahan senyumnya. "Kak Sisi cantik nggak adek-adek?" celetuk Axel tiba-tiba. "Cantik, Kak. Juga baik!" sahut mereka kompak. "Cocok nggak sama Kak Axel?" goda Axel lagi membuat wajah Sisi semakin memanas. "Cocok, Kak. Nanti kalo Kak Axel nikah sama Kak Sisi pasti anaknya lucu kayak aku!" Mata Sisi mendelik seketika tapi ia tak bisa menahan senyumnya. Ungkapan anak-anak terdengar begitu polos. Sisi sempat berjingkat kaget saat tiba-tiba tangan Axel mendarat dipundaknya, merangkulnya. Untuk beberapa detik mereka saling beradu pandang. "Percaya sama gue. Gue akan jadiin lo cewek terakhir dalam hidup gue!" *** Surabaya,21 Mei 2018 *ayastoria
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN