***
Percaya sama gue. Gue akan jadiin lo cewek terakhir dalam hidup gue!
Hati siapa yang tak luluh saat ada seorang cowok mengatakan hal itu pada kita. Begitupun juga Sisi, entah Axel mengatakannya tulus atau tidak tapi mampu membuat pikiran Sisi kacau.
Didalam mobil Axel ia hanya terdiam walaupun sebenarnya ia ingin berteriak kegirangan. Lalu, bagaimana tentang sumpah Sisi yang akan menjauhi Axel?
Kebencian Sisi seakan menguap dan hilang dibawa oleh angin sore ini. Yang ada dalam hatinya hanya Axel dan Axel. Sejak Arlan dan Binar memutuskan untuk merawatnya, sejak saat itu pula kebencian dalam diri Sisi sedikit terkikis. Apalagi melihat perubahan sikap Axel yang lebih baik dari sebelumnya.
"Udah sampe!" seru Axel membuat Sisi tersadar dan segera melepaskan seatbeltnya. Tangannya dicekal Axel saat ia hendak membuka pintu mobil sport itu. "Tunggu!"
Kening Sisi mengkerut menatap tangan Axel yang mencengkramnya lalu ia beralih menatap wajah datar Axel. "Apa?"
Axel memejamkan matanya sesaat dan membukanya. Menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan pelan. Tangannya beralih menggenggam jemari lentik Sisi, membuat Sisi sedikit memutar tubuhnya menghadap Axel.
"Delisia Xiena. Aku berjanji akan menjadi yang terbaik untukmu. Menjadi sandaran hatimu. Menjadi obat untuk penyembuh lukamu. Akan aku korbankan apapun agar selalu bisa bersamamu. Maukah kau menjadi milikku?"
Hening.
Kedua pasang mata itu saling beradu pandang. Axel diam dan menanti jawaban dari bibir mungil Sisi tapi yang terjadi, Sisi hanya diam sambil memasang wajah cengonya.
Dan sedetik kemudian tawa Sisi menggelegar, membuat Axel spontan melepaskan genggaman tangannya pada jemari Sisi.
"Lo sehat, Ax?" tanya Sisi disela-sela suara tawanya. Sisi benar-benar bingung atas perubahan sikap Axel. "Gue dengernya geli lo ngomong kayak gitu!"
Sisi masih saja tertawa terbahak sambil memegang perutnya sementara telapak tangan kirinya menutupi mulutnya.
"Gaya ngomong lo kayak Om-Om tau nggak. Geli gue, sumpah!" Sisi kembali tertawa.
"Gue lagi serius ini, Si!" seru Axel frustasi. Tapi Sisi masih saja tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Sejenak ia menyeka sudut matanya yang berair.
"Gue---gue berasa pacaran sama Om-Om!"
Mata Axel melebar dan menatap tak percaya kewajah Sisi. Apa tadi Sisi bilang? Pacaran? Apa itu artinya Sisi menerima cintanya lagi?
"Lo tadi bilang apa? Pacaran? Jadi---jadi lo nganggep kita ini lagi pacaran?" seru Axel dengan wajah berbinar.
Sisi meredakan tawanya dan kembali menyeka sudut matanya. Sepertinya ia salah bicara. "Sorry, maksud gue bukan gitu----"
"Trus?" potong Axel cepat. Sisi terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. "Sekarang apa jawaban lo?"
"Hah? Jawaban? Jawaban apa, Ax?" tanya Sisi balik dengan raut wajah bingung.
"Gue tadi nembak lo, Si. Aelah nih cewek, masa iya gue ulangin lagi kata-kata yang tadi?" pekik Axel gemas.
Tapi Sisi malah kembali terbahak. "Sorry! Sorry! Gue keinget omongan lo tadi. Geli gue!" Sisi tak henti-hentinya tertawa membuat Axel mulai geram.
Axel mendengus kasar. "Jangan bikin gue menunggu, Si!"
Axel langsung menangkup pipi Sisi dan mencondongkan badannya. Tanpa pikir panjang lagi, Axel menyambar bibir tipis Sisi. Bibir yang sejak tadi siang begitu menggodanya. Apalagi saat melihat bibir Sisi cemong karena es krim. Andai saja saat itu tidak ada anak-anak Panti, mungkin Axel sudah khilaf dan mengakibatkan bibir tipis Sisi bengkak karena ulahnya.
Sisi mengerjap pelan saat merasakan sapuan hangat menyentuh bibirnya. Tangannya terhenti diudara. Axel melepas ciumannya sebentar, menunggu respon dari Sisi. Keterdiaman Sisi membuat Axel tersenyum tipis dan kembali melumat bibir Sisi dengan lembut.
Tak ada penolakan dari Sisi membuat Axel menarik kesimpulan jika Sisi sudah bisa menerimanya lagi.
Axel melepas ciuman mereka saat merasakan Sisi mendorong pelan dadanya. Sisi langsung mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Axel menyatukan keningnya dengan kening Sisi. Kedua tangannya masih membingkai wajah Sisi.
"Janji sama gue. Jangan pernah pergi lagi!" pinta Axel. Sisi mengangguk pelan membuat senyum Axel merekah.
"Tapi lo juga janji sama gue!"
"Gue janji!"
"Iiish Axeeeel!" Sisi mendorong keras d**a Axel membuat cowok itu terdorong kebelakang dan punggungnya hampir membentur pintu mobilnya. "Gue belum ngomong!" sungut Sisi.
"Gue nggak peduli apa yang bakalan lo sampein. Intinya gue berjanji bakalan terus ada buat lo!"
Sisi menahan senyumnya dan ia merasakan wajahnya merona karena gombalan Axel.
"Maafin kesalahan gue yang dulu. Gue bener-bener buta waktu itu. Gue nggak bisa jaga apa yang jadi milik gue. Gue nggak bisa ngehargain perasaan lo. Gue---"
Cup!
"Udah cukup ngomongnya!" Sisi mengecup sekilas bibir merah tebal milik Axel membuat laki-laki itu menatap jahil kearah Sisi. "Pulang sana!" usir Sisi.
"Udah berani ya?" goda Axel.
"Apaan sih?" Sisi mulai panik menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Ia buru-buru turun dari mobil Axel sebelum cowok m***m itu menyerangnya lagi. "Pulang sana!" teriak Sisi lagi sambil masuk kedalam pagar rumahnya, tepatnya rumah Axel sendiri.
Axel menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan. "Dasar cewek aneh." gumamnya pelan. Ia diusir dari rumahnya sendiri.
***
Surabaya, 22 Mei 2018
*ayastoria