ENAM BELAS

1527 Kata
*** Dipta menatap sinis ke 2 sosok yang kini berjalan beiringan di koridor kelas. Sisi dan Axel. Posisi mereka memang sedikit berjauhan tapi Dipta bisa menangkap sesuatu yang aneh pada wajah Sisi. Sisi sedikit ceria. Dipta akan menanyakannya nanti, saat ada kesempatan berdua dengan Sisi. "Ax, lo bisa nggak sih matiin rokok lo? Gila, ini sekolahan bukan kost-kostan!" seru Sisi sambil mengibaskan telapak tangannya saat asap rokok Axel melewati wajahnya. Axel memiringkan wajahnya dan menatap datar wajah Sisi. "Lo kayaknya perlu tau satu hal, Si!". Sisi tak menjawab dan hanya mengernyitkan keningnya. "Nggak ada rokok, gue bisa mati!" Sisi terkekeh mendengar pernyataan Axel yang menurutnya sangat konyol. "Yang ada tuh orang mati kalo ngisep rokok!" ralat Sisi. "Yang nentuin manusia mati atau nggaknya itu Tuhan, bukan rokok!" Axel melempar batang rokoknya ke selokan kecil yang ada dipinggir koridor. "Nih, gue buang rokok gue. Dan apa lo bisa jamin gue bakalan punya umur panjang?" Kening Sisi semakin mengernyit. "Omongan lo bikin gue merinding!" Sisi semakin mempercepat langkahnya, meninggalkan Axel yang hanya tersenyum sinis dan merogoh saku celananya. Mengeluarkan benda panjang kecil dari kotak persegi dengan simbol huruf A. Mengapitnya diantara kedua bibirnya yang merah dan menyalakan korek. Setelah mengepulkan asapnya ke udara, Axel menatap ujung rokok yang masih menyala itu. "Lo kan temen gue, sebagai temen masa lo bakalan ngebiarin gue mati?" Axel menggelengkan kepalanya dan kembali menghisap rokoknya. Melangkah cepat masuk ke dalam kelas. Tapi saat sampai di pintu kelas, langkahnya dihadang oleh Dipta. "Ikut gue!" ucap Dipta dan langsung melangkah pergi. Axel sempat menatap Sisi sebentar sebelum menyusul Dipta. Sisi segera membuang pandangannya saat dengan genitnya Axel memberinya ciuman jarak jauh, membuat Sisi bergidik ngeri dan memalingkan wajahnya. Kepergian Dipta dan Axel sedikit membuat Sisi curiga. Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti mereka berdua. *** Dipta berdiri bersandar didinding sebuah gudang. Ia menyilangkan tangannya ke depan d**a. Sementara Axel lebih memilih menikmati rokoknya dan sesekali bermain-main dengan asap putih itu. "Ada hubungan apa lo sama Sisi?" tanya Dipta langsung. Axel menghentikan permainannya dan menatap Dipta sebentar dan sedetik kemudian ia tertawa pelan sambil memainkan asap didalam mulutnya. "Lo siapanya Sisi?" tanya Axel balik. "Jawab aja!" desis Dipta dengan rahang mengatup rapat. "Gue akan jawab pertanyaan lo tapi sebelumnya lo jawab pertanyaan gue!" Axel melempar puntung rokoknya kelantai dan menginjaknya dengan ujung sepatunya. Ia melangkah mendekati Dipta dan berdiri didepannya. "Lo suka sama Sisi?" Dipta semakin menatap nyalang wajah Axel. "Lo nggak perlu tau, yang jelas Sisi udah tau kalo gue cinta sama dia!" Axel seketika tertawa bahkan sangat keras. Ia melangkah menjauh dari Dipta dan berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Biar gue tebak. Lo cinta sama Sisi tapi Sisi nggak cinta sama lo. Bener nggak?" sudut bibir Axel terangkat sebelah. Dipta hanya diam. "Gimana Sisi bisa suka sama lo sementara di dalam hatinya ada nama cowok lain!" "Tau apa lo soal Sisi?" nada suara Dipta sedikit meninggi. "Gue? Lo tanya sama gue? Jelas gue tau segalanya soal Sisi," Axel menghentikan kalimatnya sejenak. "Gue juga tau nama siapa yang ada didalam hatinya. Apa perlu gue sebutin?" Dipta mendengus kasar dan ia melangkah cepat menghampiri Axel. Tangannya mencengkram kerah baju Axel dan mendorongnya hingga punggung Axel membentur dinding gudang. "Jauhin Sisi karena lo nggak pantes dapetin cintanya!" desis Dipta. Axek terkekeh lalu tangannya menepis tangan Dipta yang mencengkram kerah bajunya. "Jangan karena kalah dapetin Sisi lo jadi ngancem gue. Lo pikir gue bakalan mundur? Gue nggak akan lepasin Sisi untuk kedua kalinya!" Tanpa Axel duga Dipta melayangkan tinjuannya ke wajah Axel. Tapi Axel tidak kalah begitu saja. Dengan kuat ia mendorong tubuh Dipta hingga terjengkang kebelakang. Tak menunggu waktu lama, Axel langsung duduk diatas perut Dipta dan melayangkan tinjuan sebanyak 2 kali ke wajah Dipta. "STOOOOP!" Sisi berteriak sambil berlari menghampiri keduanya. Axel dan Dipta menoleh. Sisi langsung mendorong Axel menjauh dari Dipta. Axel kira Sisi akan menghampirinya tapi perkiraannya salah. Sisi membantu Dipta berdiri. "Lo nggak apa-apa?" Dipta menggeleng sambil memegangi pipinya yang lebam akibat pukulan Axel. Sisi membawa Dipta keluar dari gudang tapi langkahnya dicegah oleh Axel. "Si, lo nggak liat muka gue juga bonyok gini?" protes Axel tak terima saat melihat Sisi malah menolong Dipta. "Nggak kayak gini cara nyelesaiin masalah, Ax!" "Ck. Kalo gitu kita perlu ngomong---" Sisi dengan kasar menepis tangan Axel yang mencekal lengannya. "Pulang sekolah gue baru mau ngomong sama lo!" Sisi kembali melangkah dengan Dipta disebelahnya. Axel seketika menendangkan kakinya ke udara melihat respon Sisi. "Sialan!" *** "Aaawsshhh, pelan-pelan kali, Si!" teriak Dipta saat kapas dingin itu menyentuh kulit wajah Dipta. "Ngapain sih pake adu jotos kayak gitu?" "Gue cemburu sama Axel. Lo tau nggak sih?" Sisi mendengus pelan dan memilih menghentikan aktifitasnya. "Please, Dip. Kita udah bahas ini sebelumnya. We are just friend. Okay?" tekan Sisi. "Gue nggak bisa, Dip. Kenapa lo nggak ngerti---" "Kenapa nggak bisa? Sedangkan lo bisa buka hati lo buat Axel yang jelas-jelas orang baru dalam hidup lo!" potong Dipta cepat. Sisi tersenyum tipis dan menggeleng pelan. "Lo salah, Dip!" Sisi meletakkan kapas beralkohol itu dan sedikit menjauh dari Dipta. "Lo salah. Axel bukan orang baru dalam hidup gue. Dia mantan gue, dia cinta pertama gue dan dia satu-satunya alasan gue berubah kayak gini." Dipta tercengang atas jawaban yang keluar dari mulut Sisi. Sisi kembali tersenyum. "Gue benci banget sama Axel tapi rasa benci gue kalah sama rasa cinta gue. Dia yang membuat luka dihati gue tapi cuman dia yang bisa ngobatin luka itu. Dan gue nggak mau ada orang lain selain Axel didalam hati gue. Cuman Axel." Sisi menatap wajah Dipta lama sebelum meninggalkan Dipta. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata mengawasi keduanya. Axel tersenyum miring begitu mendengar pernyataan Sisi. *** Sisi masuk kedalam mobil Axel saat cowok itu sedang menyesap rokoknya. Luka dipipi kirinya terlihat membiru dan sedikit bengkak. Pasti Axel membiarkannya. Batin Sisi. "Ax, matiin rokoknya. Gila, ini mobil lo bau asep rokok!" pekik Sisi sambil membekap mulutnya sendiri. Axel malah sibuk memainkan asap putih itu. "Nggak matiin, gue turun dan pulang bareng Dipta!" Axel seketika menoleh. Lalu sedetik kemudian ia melempar rokoknya dan menutup kaca mobilnya. "Gue lebih milih nggak ngerokok daripada liat lo jalan sama dia!" Ucapan Axel sukses membuat Sisi tersenyum puas. Matanya kembali menatap pipi kiri Axel yang membiru. "Tunggu bentar!" Sisi membuka tas selempangnya dan mengeluarkan botol kecil juga sebuah kapas. Menuangkan cairan bening itu diatas kapas dan membersihkan luka Axel. "Aaaawsssh!" rintih Axel saat cairan dingin itu menempel di lukanya. Ada sedikit goresan kecil disana. "Sakit?" tanya Sisi. Axel mengangguk kecil sambil meringis ngilu. "Suruh siapa beranteeeeeeem!" Sisi mendorong keras kapas itu kepipi Axel. "AAAAAWW. LO MAU BUNUH GUE??!" teriak Axel sambil menepis kasar tangan Sisi. "Impian gue emang. Lo mati ditangan gue!" desis Sisi. Axel malah tersenyum dan menatap jahil kearah Sisi. "Emang lo bisa hidup kalo nggak ada gue di dunia ini?" goda Axel. "Bisalah. Hidup gue malah semakin tenang nggak ada lo!" "Yakin?" "Banget!!" "Ya udah kalo gitu!" Mata Sisi mendelik sesaat. "Ya udah apanya?" "Ya udah bunuh aja gue. Nih gue rela mati ditangan lo!" Axel mencondongkan wajahnya kearah Sisi dengan kedua mata terpejam rapat. Tapi yang membuat Sisi gemas, Axel malah memanyunkan bibirnya. "Lo minta dibunuh apa minta dicium?" Sisi tergelak setelahnya. Seketika Axel membuka matanya dan menatap Sisi yang tengah tertawa. Andai saja dari dulu ia menyadari kalau Sisi begitu cantik saat tertawa lepas, pasti ia akan membuat gadis itu tertawa sepanjang hidupnya. "I'm sorry!" ucap Axel pelan. Sisi perlahan meredakan tawanya dan menatap wajah Axel yang begitu dekat. "Mungkin kata maaf aja nggak cukup tapi gue bener-bener nyesel. I'm sorry!" Sisi tersenyum tipis dan menggeleng. "Gue nggak bisa maafin lo!" Mata Axel terbelalak mendengarnya. Sisi menolak permintaan maafnya. Memang, apa yang ia lakukan dulu sangatlah fatal. "Ya, gue tau lo nggak mungkin maafin gue secepat itu. Apalagi banyak banget kesalahan gue sama lo. Dan kata maaf aja nggak cukup. Seandainya ada cara lain buat minta maaf sama lo, pasti akan gue lakuin saat ini juga---" Ucapan Axel terhenti saat ia merasakan sebuah tangan memegang pipi kanannya dengan lembut. Mata mereka saling beradu. "Gue emang benci banget sama lo, Ax. Tapi gue juga cinta sama lo. Tolong jelasin ke gue, gue harus gimana. Apa sebaiknya gue memilih membenci lo atau mencintai lo lagi?" "Kenapa nanya kayak gitu? Lakuin aja yang menurut hati lo bener!" Sisi menunduk dan menarik tangannya dari wajah Axel. "Gue takut jatuh lagi. Pasti rasanya sakit, disakitin kedua kali sama orang yang sama---" "Hei," potong Axel. Tangannya terulur menangkup pipi Sisi, menariknya agar bisa menatap wajah sendu Sisi. "Gue nggak akan ngelakuin kesalahan kedua kali. Gue nggak mungkin nyakitin cewek yang paling gue sayangi. Pegang omongan gue!" Tangan Axel kini berpindah ke jemari mungil Sisi, menggenggamnya lalu menariknya. Meletakkannya kedadanya. "Disini, selamanya hanya ada nama lo!" Sisi tersenyum, betapa bahagianya ia saat ini. Mencintai orang yang benar-benar mencintai dirinya. Sebelah tangan Axel menarik tengkuk Sisi dan mendekatkan wajahnya. Hembusan nafas mereka beradu sebelum kedua bibir itu bersentuhan dan saling melumat. Perlahan tangan Sisi terangkat dan mendarat di pipi kiri Axel. "AAAAAWWSS! SAKIT BEGO!" umpat Axel setelah melepaskan ciumannya dengan kasar. Sisi langsung menarik tangannya dan meringis sambil menatap Axel yang terlihat meraba pipinya dengan pelan. "Sorry, nggak sengaja!" *** Surabaya, 23 Mei 2018 *ayastoria
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN