TUJUH BELAS

1466 Kata
*** Waktu yang terus berjalan membuat keduanya semakin dekat. Dipta yang menaruh hati kepada Sisi akhirnya hanya bisa mengubur perasaannya. Ia tau bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Semakin hari, Sisi semakin disibukkan dengan kegiatan OSIS. Kegiatan amal juga masih berlanjut. Setiap pagi, Sisi berangkat sekolah diantar oleh sopir Arlan dan pulangnya Axel yang akan mengantar. Pulang sekolah siang ini Sisi cs akan mengadakan rapat untuk acara tahunan sekolah, ulang tahun sekolah SMA BAKTI DUA yang akan diselenggarakan seminggu lagi. "Rapat lagi?" tanya Axel setelah selesai membereskan semua bukunya. Sisi mengangguk sekali. "Iya, Ax. Lo tau kan seminggu lagi Ulang Tahun sekolah kita. Gue harus bikin proposal dan bagi tugas buat nyari sponsor!" Raut wajah Axel terlihat berubah masam. Padahal siang ini ia berencana mengajak Sisi pulang ke apartemennya. Gelar Ketua OSIS yang melekat pada diri Sisi membuat Axel harus bersabar karena rasanya susah sekali menghabiskan waktu bersama gadis itu. Pulang sekolah Sisi langsung istirahat dan Axel tidak mungkin tega mengganggu waktu istirahatnya. "Gue tungguin di parkiran!" putus Axel lalu beranjak dari bangkunya. Sisi sempat terdiam dan menatap punggung Axel yang akhirnya menghilang dari balik pintu kelas. Buru-buru ia memasukkan bukunya dan mengejar langkah Axel. "Ax, tunggu!" teriak Sisi di koridor. Axel berhenti dan menoleh kebelakang. "Maaf." Axel tersenyum lalu mengacak rambut Sisi pelan. "Ya udah sana. Gue tungguin di mobil." Sisi tersenyum tipis dan mengangguk. Axel berbalik dan melangkah meninggalkan Sisi. Dalam hati, Sisi benar-benar merasa tak enak dengan Axel. Akhir-akhir ini mereka jarang menghabiskan waktu berdua. Entah perasaannya atau tidak, Axel juga sedikit berubah. Axel lebih banyak diam. Biasanya ia selalu menjahili Sisi, mengajak debat dan masih banyak hal lainnya. Sisi membuang nafas cepat dan memilih melangkah menuju ruang OSIS. Disana Dipta, Risa dan Eca sudah menunggu. Juga anggota OSIS lainnya. "Lelet banget sih. Nggak tau jamuran apa nungguin dari tadi!" seru Eca sambil memainkan bolpoin ditangannya. Sisi memilih tak mengubris ucapan Eca dan langsung duduk dikursinya. "Sorry guys telat. Ada masalah dikit!" ucap Sisi mengawali rapat siang ini. "Pacaran mulu sih!" sahut Eca dengan nada sinis. Risa yang duduk disebelahnya hanya menyikut lengan Eca. "Pa'an sih?" "Nggak usah mulai deh, Ca!" bisik Risa. Eca hanya melengos dan memilih mengalihkan pandangannya. "Oke teman-teman. Rapat kita mulai!" *** Axel kembali menyesap batang rokoknya. Satu jam menunggu membuat Axel menghabiskan 5 batang rokok sekaligus. Dan ia mematikan rokoknya saat matanya menangkap sosok Sisi berjalan kearahnya. Axel langsung mengunyah permen karet mint sebelum mendapat omelan dari Sisi. "Sorry. Lama ya?" sapa Sisi setelah duduk di jok penumpang sebelah Axel. Hidung Sisi langsung mengendus-endus layaknya seekor kucing yang mencium aroma ikan. "Bau apaan nih?" Axel mengendik dan mulai menyalakan mesin mobilnya. "Lo ngerokok lagi, Ax?" tebak Sisi. "Nggak," jawab Axel singkat sambil mengunyah permen karetnya. "Nggak usah bo'ong deh. Bau asep rokok gini. Pokoknya gue nggak mau tau, lo berhenti ngerokok atau gue---" "Iya, iya sayaaaang!" potong Axel sambil mengacak pelan rambut Sisi. Sisi bungkam seketika. Perlakuan Axel yang seperti ini yang membuat Sisi luluh. Apalagi saat Axel melempar senyum manisnya. Kemarahannya lenyap sudah. Sepanjang perjalanan Sisi sibuk menata degup jantungnya yang terus berdebar. Sesekali ia mencuri pandang kearah Axel yang fokus menyetir. Setengah jam kemudian mobil Axel menepi, berhenti di depan pagar rumahnya sendiri. "Ax, mampir yuk!" ajak Sisi. Axel berpikir sejenak lalu menggeleng pelan. "Besok aja ya, hari ini gue ada perlu sama temen!" Sisi mencembik kesal. "Tapi besok lo nginep sini, kan?" Axel mengangguk dan lagi-lagi mengacak rambut Sisi. "Iiih, berantakan tau Ax!" sungut Sisi sambil merapikan rambutnya. Melihat Sisi cemberut seperti itu Axel malah terkekeh pelan. "Besok kan weekend, gue pasti pulang. Udah sana masuk. Makan trus istirahat!" Sisi mengangguk lalu membuka pintu mobil Axel. "Si, tunggu!" cegah Axel. Sisi menghentikan pergerakannya dan menoleh kearah Axel. "Ada ap----pa?" ucapan Sisi tersendat karena tiba-tiba Axel memeluknya, sangat erat. "Ax," "Jangan pergi lagi ya. Jangan tinggalin gue!" Sisi memejamkan matanya saat merasakan hembusan nafas hangat Axel menerpa kulit lehernya. Axel semakin membenamkan wajahnya dalam lekuk leher Sisi, menghirup aroma tubuh Sisi dalam-dalam. Usapan lembut tangan Sisi dipunggung Axel membuat Axel semakin merapatkan pelukannya. "Ax, gue---nggak bisa naf---fas!" rintih Sisi dan seketika Axel melepaskan pelukannya. "Lo kenapa sih? Aneh tau nggak?" Axel tersenyum tipis dan menggeleng. "Emang salah kalo gue pengen meluk lo?" "Ya nggak juga sih tapi----" Lagi-lagi ucapan Sisi terpotong karena ulah Axel. Kali ini jari telunjuk Axel mendarat dibibir tipis Sisi. Mata hitam legam Axel mampu membuat tubuh Sisi membeku. Perlahan tangan Axel pindah ke tengkuk Sisi, menariknya pelan dan Sisi perlahan memejamkan matanya saat wajah Axel semakin mendekat. Sisi tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Bibir tipisnya terasa hangat saat Axel melumatnya pelan. Sisi mulai terbuai dan membalas ciuman Axel dengan sangat lembut. Saat dirasa Sisi mulai kehabisan nafas, Axel melepas ciuman mereka. Menyatukan keningnya dengan kening Sisi. Kedua pucuk hidung mereka bersentuhan. Kedua mata Sisi terpejam dengan sudut bibir yang basah. Axel tersenyum lembut lalu tangannya terulur menyeka sudut bibir Sisi. "I love you, Sisi!" *** Axel benar-benar membuatnya terbang setinggi langit. Laki-laki itu pintar sekali membuat Sisi terjatuh ke dalam pelukannya. Sisi hanya berharap, semoga Axel selalu seperti ini. Selalu disampingnya dan tak akan pernah menyakitinya lagi. Akibat perlakuan Axel kemarin siang, hari ini Sisi tidak bisa konsen belajar. Hingga bel istirahat berbunyi pikiran Sisi terus berkelana. Mengenang adegan siang itu dan pernyataan cinta Axel. Sisi beranjak dari tempat duduknya setelah menghabiskan makanannya di kantin. Siang ini istirahat sendirian, tanpa Axel. Entah apa yang dilakukan Axel, Sisi tak begitu paham. Tapi ia juga tidak mau mencampuri urusan Axel. Mungkin Axel butuh privasi. Langkah Sisi begitu lambat menyusuri koridor kelas. Ia menebarkan senyum manisnya. Hari ini hari Sabtu dan rencananya nanti malam Axel mau pulang kerumah. Rasanya Sisi ingin sekali memutar waktu. Ingin segera cepat-cepat menghabiskan malam minggu bersama Axel. Langkah Sisi mendadak terhenti saat matanya menangkap sosok Axel dan Dipta sedang berjalan beriringan. Sejak kapan mereka akrab? Batin Sisi berseru. Ia memutuskan untuk mengikuti langkah mereka berdua. Sisi hanya takut saja jika kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi. Axel dan Dipta adu jotos. Dipta memasuki sebuah gudang dan disusul Axel dibelakangnya. Sisi sedikit berlari kecil dan memilih menunggu diluar, memantau apa yang terjadi selanjutnya. "Awas kalo kalian berantem lagi, gue laporin Bu Yola sekalian!" geram Sisi dengan pandangan menatap Axel dan Dipta bergantian. Hingga lima menit lamanya Axel masih diam begitu juga dengan Dipta membuat Sisi kehilangan kesabaran dan rasanya ingin ikut masuk. "Dip," panggil Axel pelan. Tubuh Sisi menegang, menunggu apa yang akan dikatakan Axel selanjutnya. "Hm," sahut Dipta ringan. Axel melangkah maju dan berdiri di depan Dipta. Tanpa Sisi duga, Axel menepuk pundak Dipta beberapa kali. Sisi benar-benar tak mengerti apa yang terjadi dengan mereka. Dipta yang merasakan sedikit keanehan hanya menatap sebentar tangan Axel yang masih bertengger dipundaknya. "Apa lo beneran suka sama Sisi?" tanya Axel. Dipta terkekeh pelan lalu menyingkirkan tangan Axel dari pundaknya. "Rasa cinta nggak perlu diungkapin, tapi dirasakan. Buat apa ngungkapin rasa cinta kita kalo ujung-ujungnya cuman bikin kita sakit?" Axel mengangguk setuju. "Ya, gue setuju." Axel menjauh beberapa langkah dari hadapan Dipta. Kedua tangannya masuk kedalam saku celananya. "Lo pastinya udah tau kan masa lalu gue sama Sisi?" Tangan Dipta seketika mengepal kuat. Rahangnya mengatup rapat dan pandangan matanya begitu menusuk. Buat apa Axel menanyakan perihal masa lalunya dengan Sisi? Hal itu hanya akan menambah luka dalam hati Dipta. "Gue dulu pernah nyakitin Sisi. Nyia-nyiain cinta dia dan lebih parahnya, gue ngelakuin hal yang membuat Sisi pergi dari hidup gue. Dia membenci gue. Mungkin, kematian Nyokapnya juga karena gue waktu itu. Tapi disini gue cuman mau bilang sama lo, kalo lo beneran suka dan sayang sama seorang cewek, jaga dan lindungi dia. Jangan pernah sekalipun lo nyakitin dia!" Dipta melonggarkan kepalan tangannya lalu terkekeh pelan. "Gue bukan anak kemarin jadi lo nggak perlu ngajarin gue!" sahut Dipta sinis. "Gue bukannya ngajarin lo tapi gue cuman mau mastiin aja!" Axel menoleh dan kembali melangkah mendekati Dipta. "Gue nggak mau aja kalo lo sampe nyakitin Sisi apalagi sampe bikin dia nangis!" Kening Dipta mengernyit. "Maksud lo apa? To the point aja!" "Gue tanya satu hal sama lo dan masalah kita akan selesai," Axel terdiam sebentar dengan pandangan mata menatap lurus bolamata Dipta. "Beneran lo masih suka sama Sisi?" Dipta mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Axel beberapa detik kemudian. "Kalo lo sampe nyakitin dia, gue orang pertama yang bakalan habisin lo!" ancam Dipta. Axel malah tertawa. Ia kembali melangkah menjauhi Dipta lalu menyandarkan punggungnya di dinding gudang. Tangan kanannya merogoh saku celana abu-abunya dan mengeluarkan kotak rokok yang selalu ia bawa. Mengambil satu batang dan menyelipkan diantara kedua bibirnya. Dipta mencoba sabar menunggu. Matanya terus menatap Axel yang tampak asik memainkan kepulan asap yang keluar dari mulutnya. "Sebenarnya mau lo apa?" tanya Dipta tak sabar. Axel kembali menyesap batang rokoknya dan mengepulkan asapnya ke udara. "Gue percayain Sisi sama lo!" *** Surabaya, 25 Mei 2018 *ayastoria
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN