Aina melihat suaminya keluar dari kamar saat ia sedang memasak. Sepertinya Adnan sudah tampak sehat, Aina masih dongkol karena susah membangunkan suaminya tadi subuh.
"Dek, bikinin Abang kopi," pinta Adnan.
Tanpa menjawab suaminya, Aina langsung membuatkan secangkir kopi. Sementara Adnan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Adnan sudah selesai dari mandinya, ia tidak memakai baju yang biasa dipakainya bekerja. Aina menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.
"Bang, nggak ke kantor? Kok pakai baju itu?" tanya Aina menunjuk baju kaos yang di pakai Adnan.
Aina hapal seragam kerja Adnan, tetapi sekarang yang ia lihat suaminya itu memakai kaos coklat dengan setelan celana jeans.
"Sebenarnya Abang sudah berhenti dari tempat kerja yang kemarin. Sekarang Abang mau ikut kerja dengan teman Abang," jawab Adnan sambil menyeruput kopi yang Aina buat.
"Abang keluar kerja? Lalu bagaimana biaya buat acara syukuran Asyila?" tanya Aina cemas.
Syukuran kelahiran dan pemberian nama putrinya tinggal menunggu esok hari. Jujur, Aina bingung bagaimana ia akan membuat acara syukuran kalau uang saja tak punya sama sekali.
"Ini Abang mau cari buat biaya itu, kamu doakan saja semoga temen Abang bisa memberi gaji di awal," ucap Adnan.
Adnan kemudian sarapan yang sudah Aina siapkan, lalu Adnan berpamitan kepada sang istri dan bergegas melajukan motornya menuju ke tempat Zila membuka toko. Adnan belum mengatakan kepada Aina kalau bos di tempat kerja barunya seorang wanita karena ia tak mau membuat istrinya khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak.
Adnan menempuh perjalanan lumayan jauh, sekitar setengah jam dari rumahnya. Ia sampai di depan ruko bertuliskan 'AZZILA MEKAR TEKNIK' dengan cat warna biru putih yang terlihat sangat apik. Waktu itu Zila bilang kalau ia baru akan meresmikan pembukaan ruko itu. Zila meminta Adnan untuk membantunya mengatur semua yang berkaitan dengan ruko karena Zila kadang sibuk dengan aktivitas di komunitasnya.
Zila wanita karier yang telah menikah tiga tahun yang lalu dengan lelaki bernama Farhan. Zila adalah rekan kerjanya dulu di Jakarta, Adnan juga baru mengetahui kalau wanita itu menetap di kota yang sama dengannya. Awalnya ia tak percaya kalau Zila telah menikah, bahkan sudah memiliki seorang anak perempuan karena melihat penampilan Zila masih seperti wanita yang belum menikah. Tubuhnya langsing, kulit putih, dan suaranya masih khas seperti awal mereka bertemu.
Biasanya wanita kalau sudah mempunyai anak akan menjadi gemuk, kucel, dan cempreng karena suka mengomel. Akan tetapi, melihat Zila ia kagum karena wanita itu bisa merawat tubuhnya dengan baik dan indah dipandang. Tutur katanya pun lemah lembut. Seketika Adnan mengingat Aina, cepat ia membuang pikiran tentang wanita lain yang ia maksud. Adnan melangkah memasuki ruko itu.
Adnan memperhatikan setiap sudut ruko yang sudah sangat rapi, semua barang sudah tersusun pada tempatnya. Ia tak menyangka kalau Zila sekarang sekaya ini.
'Ekhm!'
"Mas Adnan sudah dari tadi?"
Adnan yang sedang serius melihat isi ruko, terkejut.
"Zila, kamu keren banget bisa membuat tempat seperti ini. Biasanya, ruko itu nggak kayak gini, ini sih lebih kelihatan kayak rumah mewah," ucap Adnan takjub.
"Biasa aja, Mas. Ini cuma kebetulan saja karena saya bisa menikahi dengan pengusaha tajir yang membuat aku bisa mengembangkan otak bisnisku. Lagian, suamiku itu terlalu sibuk, ia jarang punya waktu untukku. Jadi, mending aku membuka usaha sendiri untuk mengusir rasa bosan," cerocos Zila terlihat percaya diri.
Setelah puas memuji desain interior ruko, Adnan mengikuti langkah Zila masuk. Wanita itu menunjukkan semua ruangan terutama bagian karyawan, resepsionis, administrasi, dan ruang kerjanya.
Adnan semakin takjub dengan kecerdasan Zila yang pandai mengatur bisnis. Ia tak menyangka, karyawan yang dulu dikenalnya sebagai costumer service di hotel tempat ia bekerja bisa sepintar ini mengelola bisnis. Setelah puas melihat-lihat, Adnan berbicara mengenai pekerjaannya pada Zila.
"Zil, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," ucap Adnan.
"Kenapa, Mas? Kalau soal gaji tenang saja, aku akan siapkan gajimu tiga juta per bulan, belum termasuk uang makan, transport, dan uang lembur kalau tiba-tiba ada panggilan kerja mendadak." Zila menjelaskan.
Zila sepertinya paham apa yang akan Adnan bicarakan, maka sebelum lelaki itu mengutarakan, ia lebih dulu memberitahukan rinciannya dan membuat Adnan merasa malu.
"Sebenarnya, aku ingin meminta gaji dibayar di awal karena besok aku akan mengadakan syukuran kelahiran anak pertama. Tapi, itu kalau kamu setuju." Adnan berucap dengan sungkan.
Bagaimanapun ia harus menekan rasa gengsinya mengingat besok adalah acara yang sangat penting untuk keluarganya. Sebenarnya, Adnan juga ingin aqiqah Asyila sekaligus saat acara syukuran, tetapi sebelum terlaksana ia sudah dipecat dari pekerjaannya. Jangankan untuk membeli seekor kambing, untuk syukuran pemberian nama saja ia tak memiliki dana.
"Tak masalah, berapa yang Mas butuhkan? Aku transfer ke rekeningmu. Tapi, maaf aku hanya bisa memberi separuhnya dulu dan sisanya kuberikan saat tanggal gajian. Mas Adnan harus ingat, bekerja dengan profesional dan tidak mengabaikan perintahku." Zila sangat percaya diri saat mengatakan itu.
Sebenarnya Zila tak kekurangan uang karena suaminya pasti akan memberi berapa pun yang ia minta tanpa harus bekerja ekstra, ia membuka usaha ini karena ia dilanda bosan. Sebab suaminya sangat sibuk dan jarang pulang.
Adnan menyanggupi tawaran Zila dan mengucapkan banyak terima kasih. Setidaknya kali ini, ia dan Aina tak lagi bingung memikirkan biaya syukuran Asyila. Adnan beranjak memasuki ruang kerjanya, ia berada di ruang teknisi yang berhubungan langsung dengan bagian costumer service yang akan memudahkan ia melihat jadwal kerjanya.
Adnan memulai pekerjaan barunya dengan wajah cerah dan semangat yang tinggi, membuat Zila yang sedari tadi memperhatikan menarik sudut bibirnya. Zila tak tahu apa yang sedang ia pikirkan tentang Adnan, tetapi yang ia rasakan sekarang ingin membantu pria yang selama ini ia kagumi. Adnan pria yang baik menurut Zila. Dulu, lelaki itu kerap meminjamkan uang ketika Zila belum gajian. Adnan juga sering menemaninya ketika kerja lembur di hotel.
Pekerjaanya di hari pertama bekerja lumayan padat, ia tak menyadari kalau sekarang sudah waktunya pulang. Bekerja di ruko milik Zila membuat Adnan tak lagi harus pulang terlalu larut kalau tak ada panggilan mendadak.
Dengan mengantongi separuh gajinya, Adnan kemudian pamit kepada Zila dan mengatakan jika besok ia akan siap membantu segala persiapan untuk meresmikan ruko miliknya. Tentu saja itu membuat Zila tak sabar menunggu hari esok, meski tanpa kehadiran suaminya karena Farhan mengatakan ada rapat direksi di Sulawesi selama tiga hari ketika ia meneleponnya untuk mengabarkan perkembangan ruko.
"Mas, hati-hati! Jangan terlalu ngebut! Ingat istri di rumah menunggumu pulang," goda Zila.
Tentu saja candaan itu dibalas dengan senyum oleh Adnan, lalu lelaki itu bergegas pulang bersama dengan begitu banyak senyum dan harapan dalam hati.
Senyuman itu bukan hanya karena telah bekerja kembali, tetapi ia juga merasa senang karena akhirnya mendapatkan gaji di awal. Bersyukur dan merasa beruntung? Pasti.