Bahagia sederhana

947 Kata
Aina sudah diperbolehkan pulang setelah dua hari di rumah sakit. Melahirkan secara normal lebih cepat masa pemulihan jika dibandingkan dengan melahirkan cesar. Hanya menunggu jahitan di area va***nanya mengering dan bergerak lebih mudah saja. Sementara, Adnan mengambil alih pekerjaan rumah dari menyapu, mengepel, mencuci baju dan piring. Adnan melakukanya sebelum berangkat bekerja. Ia tak kesulitan melakukan pekerjaan rumah tangga karena dulu saat di kota ia dituntut melakukan pekerjaan semacam itu. Selain meringankan pekerjaan istrinya, ia juga tak ingin mertuanya mengomel. Sebenarnya Adnan merasa lelah pagi ini karena tuntutan pekerjaan memaksanya lembur sampai jam sepuluh semalam. "Dek, kamu udah kuat nyapu sama nyuci piring belum? Abang hari ini tak enak badan kamu tolong bantuin Abang beberes rumah, ya! Nanti cucian kotor abang kerjakan sepulang kerja saja," ucap Adnan lemas. "Bang, kalau sakit istirahat saja di rumah, jangan kerja dulu nanti takut sakitnya tambah parah," pinta Aina. "Abang nggak papa hanya lelah sedikit karena habis lembur tadi malam. Abang harus ngumpulin uang buat syukuran kelahiran Asyila," jawab Adnan. "Ya, sudah kalau begitu hati-hati kerjanya, Bang! Kalau nggak kuat jangan dipaksakan kerja," tutur Aina. Adnan berangkat bekerja dengan wajah sedikit pucat, ia berpikir dari mana uang untuk syukuran anaknya karena gajian sudah ia ambil waktu kelahiran Asyila. Ketika akan masuk ke kantor, Adnan bertemu dengan Siska--karyawan bagian administrasi di tempat ia bekerja. Siska mengatakan atasan mereka menunggu Adnan di ruangannya. Adnan pun bergegas, ia mengetuk pintu dan membuka gagang pintu perlahan. Seseorang yang ia segani dalam balutan setelan jas rapi, terlihat duduk di kursi kebesarannya. "Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Adnan sopan. "Iya, silakan duduk, Adnan. Langsung saja, ya. Ada yang harus saya sampaikan, perusahaan sedang mengalami penurunan keuangan dan kami sangat terpaksa harus mengurangi jumlah karyawan untuk bisa menstabilkan keuangan perusahaan. Dan kamu saya berhentikan sementara sampai batas waktu yang belum bisa kami pastikan. Kerja kamu sangat baik selama ini, kamu pasti bisa mencari pekerjaan sementara di luar sana sampai saya memanggilmu kembali dan maafkan jika selama ini saya sebagai atasan pernah menyinggung perasaanmu," ucap bosnya. Kalimat itu seolah seperti petir menyambar, Adnan kalut memikirkan nasib keluarganya di rumah. Apa yang akan ia katakan kepada Aina dan mertuanya setelah pemecatan ini. Adnan hanya dapat tertunduk lesu dan berdiri setelah menjabat tangan bosnya. Ia keluar dari kantor dan memilih mampir di sebuah warung kopi dekat tempat kerjanya itu. Kopi pahit tanpa gula tersaji di depannya, ia memandang pilu kopi yang masih mengeluarkan asap itu. Pahit seperti hidupnya. Ponsel Adnan berdering dan ia segera mengangkatnya. "Hallo, assalamualaikum." "Waalaikumsalam, siapa ya?" tanya Adnan penasaran dengan nomor baru yang menghubunginya. "Mas Adnan lupa,ya? Ini aku, Zila. Sebulan yang lalu aku pernah chat dan menghubungi Mas Adnan, tapi nggak diangkat dan dibalas, tega Mas sama aku," ucapnya bernada kecewa. Adnan mengingat-ingat tentang pesan yang Zila maksud. Oh, pesan itu yang ia lihat sewaktu akan berangkat bekerja. Ia lupa membalas karena waktu itu ia sedang terburu-buru. "Maaf, Zi Mas lupa, bagaimana kabarmu? Kamu tahu nomerku dari siapa?" tanya Adnan. "Baik, Mas. Tahu dari Mita, teman kita waktu kerja di hotel. Ingat nggak? Kabar Mas sendiri gimana?" "Kabarku ... mendadak nggak baik." Percakapan Adnan dan Zila berlangsung lama. Mereka saling bertukar cerita dan zila mengatakan kalau ia akan membuka sebuah ruko elektronik di kota ini. Tentu saja hal ini menjadi hal yang menarik untuk mereka perbincangkan karena Adnan merasa ia beruntung mendapatkan pekerjaan setelah baru saja ia diberhentikan dari kantor. Ia nekat melamar menjadi karyawan Zila karena kebetulan keahliannya bisa diandalkan dalam bidang itu. Adnan pulang lebih awal dari biasanya, membuat Aina bingung. Ia menggendong Asyila dan duduk di samping suaminya. "Bang, tumben pulang lebih awal?" "Abang lagi nggak enak badan jadi tadi izin pulang," jawab Adnan datar. Ia tidak jujur kepada istrinya karena ia tak mau membuat Aina berpikir terlalu berat, yang bisa menimbulkan gejala baby blues. "Abang mau makan? Atau mau mandi?" tanya Aina menoleh suaminya. "Mau istirahat dulu aja, Dek! Abang capek banget." Adnan beranjak meninggalkan Aina yang masih menatap suaminya dalam kebingungan. Aina merasa Adnan sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Biasanya kalau Adnan sakit, ia akan meminta Aina untuk mengerok punggung dan memijatnya. Tangis Asyila menggema ke seluruh rumah, Adnan yang tengah tertidur kaget mendengar suara putrinya itu. Ia bangun dan melangkah mendekat. "Kenapa, Dek?" tanya Adnan. "Tadi Asyila sedang menyusu tapi tiba-tiba nangis kejer. Nggak tau kenapa, Bang," jawab Aina panik. "Mungkin dia sakit." Adnan mengangkat tangan untuk memegang kening Asyila. "Nggak, Bang! Badannya nggak panas. Apa pengen digendong sama ayahnya," kata Aina. Adnan pun mengambil putrinya dari gendongan Aina dan seketika Asyila terlelap dalam dekapan Adnan. Lelaki itu tersenyum melihat putri mungilnya dan mencium pipi yang semakin hari semakin gembul. Aina bahagia melihat pemandangan di hadapannya, Adnan mau membantu menenangkan Asyila padahal suaminya itu sedang tak enak badan. Adnan membaringkan tubuh mungil putrinya yang telah terlelap di ranjang kamar dan ia kembali ke kamar sebelah. Di Rumah itu terdapat dua kamar kecil berukuran tiga kali empat meter persegi, Aina kadang memilih menidurkan anaknya di kamar yang berbeda dengan kamar yang biasa ia tiduri. Ia tak mau membuat suaminya terganggu jika tiba-tiba Asyila terbangun tengah malam. *** Aina bangun jam setengah lima pagi. Semenjak melahirkan putrinya, Aina kerap bangun lebih awal karena suara tangis Asyila yang kadang membuat ia tak tidur lagi selepas menyusui. Aina bergegas ke dapur untuk memasak. Badannya sudah lebih pulih untuk melakukan pekerjaan ringan. Hari ini hari ke enam kelahiran putrinya. Aina ingin mengadakan syukuran pemberian nama untuk Asyila, walaupun sederhana, tetapi itu sebagai wujud syukurnya. "Bang, bangun! Sudah mau jam lima, sholat subuh dulu nanti keburu siang." Aina menggoyangkan badan suaminya. Adnan merapatkan selimut, melihat suaminya enggan bangun membuat Aina sedikit kesal. Ia kemudian meninggalkan suaminya yang masih ingin melanjutkan tidur tanpa malu kesiangan salat Subuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN