Melahirkan

1008 Kata
Adnan panik melihat istrinya merintih kesakitan. Ini pertama kalinya ia melihat seorang wanita akan melahirkan, ia bergegas membawa Aina ke rumah sakit terdekat. Dengan mengendarai motor, ia melaju dengan kencang agar cepat sampai. Tak peduli lagi akan keselamatan karena selama perjalanan Aina menangis dan mencengkeram lengannya dengan kuat membuat Adnan sesekali meringis menahan sakit akibat cubitan Aina. "Bang, Adek nggak kuat! Sakit, Bang! Cepet jalannya, ini udah nggak enak banget perutku!" seru Aina sambil terisak. "Sabar ya, Dek! Bentar lagi sampai, kamu tahan sebentar, ya ini Abang udah ngebut," jawab Adnan mencoba menenangkan istrinya. "Bang, Sakit!" Aina terus menangis sepanjang perjalanan, membuat Adnan tak tega melihatnya. Dua puluh menit kemudian mereka sampai di Rumah Sakit Sejahtera. Ia bergegas membawa istrinya menuju IGD. "Kamu tunggu sebentar ya, Dek. Abang mau ke bagian pendaftaran sekalian menanyakan dokter jaga," kata Adnan panik. "Jangan lama-lama, Bang. Aku takut sendirian," pinta Aina. "Nggak kok, banyak berdoa dan tetap tenang, ya." Adnan pergi meninggalkan Aina di temani perawat. Terlihat wajah Aina semakin pucat ketika seorang Dokter datang memeriksa pembukaan Aina. setelah mengurus beberapa hal di bagian administrasi Aina dipindahkan ke ruang bersalin. Seorang bidan yang berjaga malam tampak membantu dokter saat proses persalinan Aina dan seorang dokter anak juga tengah bersiap pada bagiannya. "Sudah pembukaan delapan, ayo, Bu! Ambil napas pelan ... keluarkan! Atur napas dan jangan mengejan kalau saya belum memberi aba-aba," kata sang dokter. Setelah kembali dari bagian administrasi, Adnan bergegas menuju ruang bersalin, tetapi ia mengurungkan niat untuk masuk. Bukan karena tak diperbolehkan, tetapi ia tak tega melihat istrinya kesakitan di dalam sana. Ia memutuskan menunggu di luar, mungkin sebentar lagi kedua orang tua Aina datang. Tadi Adnan sengaja menghubungi orang tua Aina, ia meminta mereka datang ke rumah sakit karena Aina akan melahirkan. "Adnan, Jam berapa tadi mulai kontraksi? Kenapa nggak menemani Aina? Ayo masuk bareng Ibu!" seru ibu mertua yang baru saja datang. "Ibu saja yang menemani Aina. Saya tunggu di luar aja, nggak tega lihatnya, Bu," jawab Adnan sambil mengusap tengkuknya. "Oalah, cah gen**ng! Istri lagi berjuang malah kamu nggak mendampingi," decak ibu mertuanya dan bergegas masuk. Bu Marta menatap Aina prihatin. Selang infus yang terpasang di punggung tangan menandakan bahwa kondisinya melemah. Bu Marta mendekati Aina dan menyemangatinya. "Bu, Aina nggak kuat! Sakit, Bu! Pinggangku panas banget, dadaku sakit," ucap Aina diiringi isak tangis. "Sabar, Aina. Istighfar! Nyebut, baca doa Siti Maryam biar lahirannya nggak sakit." Bu Marta menasehati. Aina merapal doa berulang-ulang, ketika dokter mengecek kembali pembukaan jalan lahirnya. "Bu, mas Adnan mana? aku mau di temani dia saja," "Suamimu itu kopl**k, istri mau lahiran tapi nggak berani nemenin. Nggak tega liat kamu katanya, kamu sama Ibu aja udah nggak usah cengeng, banyakin berdoa dan baca basmallah!" seru bu Marta kesal. Dokter memberi aba-aba Aina untuk mengejan, tetapi dokter merasa ada yang aneh dengan persalinan Aina. "Sus, ambilkan suntik dorong! Cepat! Pinggul pasien terlalu sempit, tangan bayi melintang, kita akan sulit mengeluarkannya. Suster bantu dorong, ya." Instruksi dokter membuat Aina semakin gugup, ia merasa seluruh tulangnya patah. Semua persendiannya ngilu, ia kehilangan tenaganya. Dokter dan perawat panik membuat bu Marta ikut menangis. "Panggilkan Dokter Tuti, dia mempunyai tangan yang kecil akan memudahkan masuk kedalam rahim pasien," perintah Dokter. Perawat langsung bergegas dan tak lama Dokter Tuti datang. "Pasien lemah dan pinggul pasien terlalu kecil, apakah kita akan melakukan tindakan operasi?" tanya Dokter pria itu. "Kita coba dulu, sudah disuntik dorong?" "Sudah, Dok," jawab Dokter pria. "Baik, kita mulai, ya." Dokter Tuti tersenyum kepada Aina. Aina yang merasa sangat kesakitan, tak menghiraukan sikap Dokter di depannya itu. "Bu, tarik napas dan rileks, ya. Saya kasih aba-aba Ibu langsung ngeden ya. Pembukaan udah lengkap. Bismillah, ayo, Bu … dorong yang kuat! Ayo! Kepalanya sudah terlihat, ambil napas panjang ... jangan sampai berhenti mengejan di tengah jalan. Dorong yang kuat!" teriak Dokter Tuti, ia menarik perlahan lengan bayi yang melintang dan berhasil mengeluarkanya dengan selamat. Keringat membasahi wajah Aina, begitu juga Dokter yang membantu proses persalinannya. Suara bayi menggema di dalam ruangan, membuat Dokter dan perawat bernapas lega. Perawat menyerahkan bayi itu ke dalam dekapan sang Ibu. Aina sungguh bersyukur bisa melahirkan normal, karena jika melahirkan sesar ia pasti akan bingung memikirkan biayanya. Perawat menimbang dan mengukur bayi Aina, saat Adnan masuk ke ruangan dan mencium kening istrinya. Adnan mengucap syukur atas kelahiran putri cantiknya. "Alhamdulillah, anak kita cantik mirip kamu, Dek," ucap Adnan. Aina hanya tersenyum tak menanggapi, ia merasa masih lemas karena persalinannya membuat ia banyak kehilangan darah dan mendapat delapan jahitan karena va**na yang robek. Adnan mengazani putri kecilnya dan memberikan sebuah nama. "Asyila Nadina Rahma, Aku beri nama yang cantik, secantik Ibunya," ucap Adnan tersenyum kepada Aina. Adnan memberikan bayinya kepada perawat, lalu berjalan mendekati Aina. "Kamu mau makan apa, Dek? Biar Abang belikan," tanya Adnan lembut. "Nggak usah, Bang, aku nggak lapar. Aku ngantuk, mau istirahat aja," jawab Aina. Entah mengapa, setelah melahirkan Aina merasa sangat lelah dan mengantuk. Adnan mengangguk dan meninggalkan Aina untuk istirahat. "Mau kemana?" tanya mertua Adnan. "Cari sarapan, Bu. Ibu mau Adnan belikan sarapan apa?" "Apa saja yang penting enak," jawab Bu Marta ketus. Adnan melangkah keluar rumah sakit untuk membeli sarapan. Tanpa sengaja ia bertemu seseorang. "Hai, Mas Adnan!" Adnan terkejut melihat wanita di depannya berada di rumah sakit ini juga. *** Di kamar perawatan, Aina masih terlelap. Ia terkesiap ketika merasakan pipinya di tepuk berulang-ulang. "Aina, bangun! Kalau habis lahiran jangan tidur, pamali. Takutnya nanti nggak bisa bangun kalau langsung tidur, tunggu agak siangan. Ayo! Bangun," kata bu Marta. Perlahan Aina mencoba membuka mata yang masih terasa berat. Ia lalu mencari keberadaan anak dan suaminya. "Nggak usah cari suamimu, dia lagi keluar cari makan buat sarapan, bentar lagi paling bakal balik." Bertanya lebih jauh kepada Ibu pasti akan sia-sia karena ibunya tak begitu menyukai Adnan. Hanya ayahnya yang antusias menikahkan mereka saat Adnan mengantarnya pulang dari Jakarta. Berharap mendapatkan menantu yang kaya, tetapi justru Adnan hanya memberikan mahar dan walimah yang sederhana. Hal itu yang membuat bu Marta tak begitu menyukai menantunya itu. Aina hanya bisa bersabar karena berdebat dengan sang Ibu pun hanya akan membuang waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN