Hati Yang Perlu Dihati-hati
Kuhembuskan nafas pelan, aku tak tahu harus seperti apa untuk menahannya tak pergi dari sisiku. aku merasa lelah dan kesal ketika tak ada satu pun alasan yang bisa membuatnya tetap disini untuk menemaniku, dia tetap akan pergi juga. bukan ada perlu lalu kembali lagi layaknya aku rumah baginya, tapi memang harus karena rumahnya terletak ditempat yang lain, dia kesini hanya melihatku dan jabang bayi calon anaknya yang ada didalam perutku ini. sebenarnya akhir-akhir ini dia cukup sibuk wara wiri karena pekerjaannya juga karena aku, dulu biasanya dia bisa memberi 3 harinya dalam seminggu untukku. walaupun begitu aku mencoba menikmati sedikit waktu bersamanya.
Wanita mana yang mau jadi kedua, ketiga atau keempat ? jawabnya tidak ada yang ingin, tetapi aku begini karena terpaksa agar kedua orangtuaku nyaman dan juga supaya istrinya tidak terus terusan memaksaku menikahi suaminya. suamiku adalah juragan kedua orangtuaku, dia adalah seorang pengusaha ternama dan ia juga pria terpandang di kotaku. dia belum dikaruniai seorang anakpun, istrinya juga mendukungnya untuk menikahiku. aku tidak tahu apakah aku ini bodoh atau hanya seorang anak yang manut dan berbakti, sebenarnya pada awal menikah aku tidak punya cukup cinta untuk priaku ini dan seiring berjalannya waktu aku menaruh rasa padanya, hal yang paling sulit ketika menjadi istri kedua adalah menikmati cukup waktu bersama suaminya.
"bang..." panggilku pelan saat dia sedang asyik mengutak atik gawainya.
"hmmm..." jawabnya sembari terus menatap layar ponselnya
"apa abang tak mau menginap disini sehari ? nanti mbak Mina aku yang kasih tau..." bujukku setengah mengiba padanya. dia kemudian menghentikan kegiatannya lalu menatapku sembari tersenyum
"kenapa ? kamu kangen sama abang ?" ucapnya agak nakal padaku
"bukannya aku juga berhak meminta waktu sama suamiku ?" dia terdiam sejenak kemudian tangannya mulai mengelus perutku yang sudah membesar, kecupan sayang dia layangkan ke perutku lalu dia beralih pandang menatapku dengan penuh kasih sayang.
"ehmm, gimana kalo besok aja aku menginap soalnya masih ada kerjaan..." mendengar jawabannya aku manyun kesal, dia hanya mengusap pipiku lembut. bahkan saat aku membujuknya dengan alasan kandunganku dia tetap keukeuh untuk tidak menginap.
30 menit kemudian dia meninggalkanku sendirian di rumah sederhana yang sengaja dia belikan untuk tempat tinggalku dengan kedua orangtuaku. orangtuaku tidak salah, mereka sebenarnya mati-matian menolak ketika bang Herman melamarku, lebih jelasnya memaksa untuk melamarku. bukan hanya bang Herman yang melamarku tetapi istrinya pun juga berusaha agar kedua orangtuaku mau melepaskanku. tidak ada yang bisa dilakuķan kecuali mengiyakan permintaan bang Herman dan istrinya mbk Mina untuk meminangku.
pernikahan ini tidak terjadi sebab bang Herman mencintaiku lalu diiringi nafsu untuk memilikiku, pernikahan ini terjadi lebih karena alasan istrinya mbak Mina tidak mau hamil dan memiliki anak. ketika aku iseng menanyakan hal itu dia menjawab dengan santai karena pertama dia tidak mau merusak badannya, lagipula jika memiliki anak rasanya ribet dia tak siap, kemudian alasannya yang kedua dia tidak suka berisiknya anak kecil. saat itu ketika dia melihatku mendatangi bapak ibuku untuk menjenguk beliau berdua sepulang bekerja dari luar kota tercetuslah ide membujuk suaminya agar mau berpoligami, bang Herman sangat ingin mempunyai anak dan keinginan itu masih ada. terkadang keinginannya itu menjadi awal pertengkaran dari suami istri tersebut, ketika bang Herman tahu jika watak istrinya keras kepala disaat itulah dia yang mengalah untuk tetap meredam keinginannya agar tidak menjadi pertengkaran terlalu besar. Bang Herman menyetujui keinginan istrinya untuk berpoligami tapi satu syaratnya mbak Mina dilarang menyesal di kemudian hari lalu menyuruhnya menceraikanku. aku tidak tahu kehidupan rumah tangga yang bagaimana mereka lalui selama belasan tahun pernikahan mereka. mereka seperti pasangan pada umumnya terlihat mesra, bahkan sangat mesra. tak hanya pada mbak Mina saja, ia juga memberi perlakuan yang sama padaku.
Bang Herman bukan pria paruh baya yang mencari kesenangan saja ketika menikah denganku, bahkan dia memberi syarat agar aku tidak terlalu menuntut waktunya untuk terus bersamaku. jika dia sedang sibuk mbak Mina lah yang menggantinya untuk datang melihatku. dia seperti kakak yang peduli pada adiknya hanya saja karena terlalu lama menjadi nyonya dia masih memperlakukan orangtuaku seperti pembantunya, jika mengingatnya aku sedikit kurang menyukai itu. dia membelikan segala hal perlengkapan bayi untuk calon anakku, semua t***k bengeknya dia yang mengatur. ketika tahu calon bayiku lelaki dia yang paling bahagia, dia juga yang paling heboh. aku sebenarnya enggan mengatakan jika calon anakku laki-laki, tapi bang Herman nampaknya lebih suka semuanya jelas dan sepertinya dia juga ingin mbak Mina juga merasakan kebahagiaan kami.