BAGIAN TIGA

1002 Kata
Suster Helen dan Tyas masuk kedalam kamar nomor 145. Tyas melihat seorang wanita di ranjang rumah sakit tengah berbaring dengan wajah yang pucat. Tyas beradu pandangan dengan wanita itu. Karena begitu Tyas membuka pintu, wanita itu menoleh ke ambang pintu. "Sayang kamu balik lagi?" ujar perempuan itu kaget. Karena yang membuka pintu bukan suaminya. "Maaf, Dokter saya kira suami saya." "Eum tidak pa-pa." Tyas berjalan mendekatinya. "Saya periksa dulu ya," ujar Tyas ramah kepada wanita itu. Wanita itu tersenyum lemah. "Saya tidak pernah melihat dokter. Dokter ini dokter baru ya?"tanya wanita itu. "Iya saya dokter baru. Suster catat semua kondisinya" ucap Tyas menjawab wanita itu dan juga bicara kepada suster Helen. "Baik Dok... " ujar suster Helen. "Kondisinya stabil. Anda jangan lupa obat minum ya," ucap Tyas. "Saya sudah bosen dok dengan obat..." wanita itu berkata. "Anda harus sembuh. Anda mau sembuh kan? Jadi harus minum obat. Kita gak boleh putus asa," ucap Tyas. Wanita itu tersenyum. "Saya mana bisa sembuh dok. Saya cuma menunggu ajal jemput saya," balas wanita itu meski tersenyum. Tapi Tyas bisa melihat dari matanya bahwa wanita itu sangat sedih dengan keadaannya. "Anda jangan pernah putus asa. Mukjizat Tuhan itu nyata..." ucap Tyas seraya memegang bahu wanita di depannya. "Kata-kata dokter membuat saya tenang. Boleh saya tau nama dokter?" tanya Wanita itu. Tyas mengangguk. "Nama saya Tyas. Tyas Jovanka Lydyana..." ucap Tyas. "Boleh saya panggil dokter dengan sebutan dokter bidadari?" tanya Wanita itu lagi. "Iya terserah anda..." balas Tyas tersenyum. "Terimakasih dokter..."sahut wanita itu tersenyum manis. "Baiklah saya permisi dulu," ujar Tyas lalu pergi dari kamar itu. Kembali suster Helen dan juga Tyas berjalan di koridor. "Saya kadang kasihan dok sama Mbak Sherena..." ucap Suster Helen. "Mbak Sherena itu yang tadi ya Sus? memang dia memiliki penyakit apa?" Tanya Tyas karena dia tak sempat membaca riwayat penyakit pasiennya tadi. "Mbak Sherena memiliki penyakit Lupus Jenis Systemic Lupus Erythematomsus (SLE)" jelas suster Helen bola mata Tyas melebar ketika mendengar perkataan Suster Helen mengenai penyakit yang di derita oleh Wanita itu. Tyas tau betul apa itu penyakit Lupus dengan jenis (SLE). Penyakit yang cukup berbahaya sekelas dengan kanker. Lupus adalah penyakit peradangan kronis yang di sebabkan oleh sistem imun atau kekebalan tubuh yang menyerang sel jaringan dan organ tubuh sendiri. Penyebaran penyakit Lupus di indonesia meningkat setiap tahunnya. Kebanyakan yang menderita penyakit Lupus itu orang yang memasuki usia produktif atau sekitar 15-64 tahun. "Sudah berapa lama sus, mbak Sherena terkana penyakit Lupus?" ucap Tyas bertanya kepada Suster Helen. "Sudah sekitar 2 tahun mbak Sherena menderita penyakit Lupus. Tapi saya itu salut dok sama suami mbak Sherena. Setianya itu loh. Pagi siang malem nungguin mbak Sherena. Dan kelihatan sayang banget sama Mbak Sherena," ucap Suster Helen. "Syukurlah kalau mbak Sherena masih mempunyai orang yang mau menerima kekurangannya, " sahut Tyas membuat Suster Helen mengangguk. "Sudah, ayo kita lanjutkan lagi perkerjaan kita," ujar Tyas membuat Suster Helen tersenyum dan mengangguk. *** Sementara itu, Sherena sedang berbaring di ranjangnya. Tak berapa lama pintu ruangannya terbuka menampilkan sosok Suami nya. "Aku kira mas gak kesini.." lirih Sherena kepada lelaki berjas hitam itu. "Tadi itu mas udah kesini. Tapi ada dari restoran mas nelpon katanya ada meeting mendadak. Ya udah mas ke restoran lagi," jelas Suami Sherena. Sherena hanya mengangguk ia mengambil tangan suaminya dan menggenggamnya. "Mas maafkan aku. Karena sampai saat ini aku belum menjadi istri yang baik buat kamu. Aku belum becus jadi istri kamu.." ucap Sherena. "Ren jangan bilang begitu. Aku tau kondisi kamu seperti apa," balas Suami Sherena. "Mas, sebelum aku benar-benar gak ada. Aku pengen liat kamu nikah lagi.." ujar Sherena. "Ren kenapa omongan kamu jadi ngelantur gini aku gak suka. Kita fokus sama kondisi kamu dulu," balas lelaki itu kesal dengan omongan Istrinya. Sherena tersenyum, mendengar ucapan suaminya. Tiba-tiba seyum Sherena pudar. Ketika mengingat satu hal. "Mas aku mau tanya sesuatu sama kamu. Selama kamu nikah sama aku, apa kamu punya rasa sama aku?" tanya Sherena. Lelaki itu terdiam. Menatap wanita yang satu tahun lalu ia nikahi. "Mas, nikah sama aku karena kasihan sama aku 'kan? Karena kondisi aku yang seperti ini 'kan?" tanya Sherena. Lelaki itu tetap diam. "Mas jika Tuhan memberi aku umur panjang. Apa kamu mau belajar mencintai aku?" tanya Sherena. Lelaki itu mengangguk ragu. "Semoga Tuhan selalu memberkatimu mas..." lirih Sherena tersenyum kepada suaminya. Sementara lelaki itu hanya diam. Ia ingat kejadian satu tahun lalu dimana di di paksa oleh orang tuanya untuk menikah dengan Sherena. 'Pokoknya papa gak mau tau kamu harus nikah sama dia.' ucap pria yang tak muda lagi, beberapa rambutnya sudah mulai berwarna putih. 'Paah, sudah cukup selama ini papa selalu ngekang Damar. Papa selalu jadikan Damar robot Papa. Damar gak mau menikah dengan wanita itu' bantah Lelaki itu. Yah lelaki itu adalah Damar Prastya dan yang sedang berdebat dengannya adalah Willy Prastya ayah kandung Damar. 'Damar kamu mau melawan Papa iya?' Tuan Willy menaikan Satu oktaf suaranya. Damar memejamkan matanya."Oke, Damar akan pertimbangkan tapi Damar perlu ketemu dengan wanita itu.." ucap Damar kepada Tuan Willy. 'Baiklah besok kamu akan bertemu dengan Sherena.' ucap Tuan Willy. Tadinya Damar akan menolak Perjodohan itu. Namun, ketika melihat wanita lemah itu berbaring di ranjang rumah sakit. Dengan menyandang penyakit Lupus Jenis SLE. Membuatnya iba, dan akhirnya Damar menerima perjodohan itu. "Mas?" Panggilan Sherena membuat Damar tersadar dari lamunannya. "Hem Iya, apa?" tanya Damar kepada Sherena. "Kalau aku berharap untuk sembuh. Karena mas udah janji sama aku kalau aku sembuh mas mau belajar mencintai aku. Boleh gak?" tanya Sherena. Damar mengelus puncak kepala Sherena, dan mencium puncak kepalanya. "Boleh dong. Aku seneng kalau kamu mau sembuh.." ujar Damar tersenyum kearah Sherena. Bagi Damar Sherena memiliki tempat tersendiri, bukan seorang special atau semacamnya. Melainkan adik yang harus dia jaga, yah hanya adik. Sherena semakin mengeratkan pelukannya pada Damar. Menurut Sherena ia sangat beruntung karena bisa memiliki suami yang mau menerima segala kekurangannya seperti Damar. Meski Sherena tak pernah tau bahwa rasa yang dimiliki oleh Damar hanya karena rasa iba. Damar yang hanya mencintai satu gadis di hidupnya. Satu gadis yang tidak pernah ia lupakan, sampai sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN